"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label Proud of Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proud of Islam. Tampilkan semua postingan

Dapat Penawar Futur


Lagi seneng sama Bu Dewi. Sukaaa deh. Peri bangeet.
Sama juga kayak sahabat terbaik yang lain. Setiap kali ngobrol sering kali Allah turunkan keringanan untuk muncul endorphin. Jadi sukaa gitu senyum denger ceritanyaaa. Ah Ibu, idaman bangeeet.

Alhamdulillah, malam ini direlain, diringan-ringanin buat berangkat ke Rumah Sakit yang sebenarnya sedang turun jaga. Konsultasi sekitar jam 20.00 dan berakhir hampir jam 21.00 an. Alhamdulillah, jadi mikir hal yang bermanfaat lagi ini otak. Setelah beberapa waktu cukup sirkumtansial.

Qadarullahnya, Allah mempertemukan saya dengan Bu Dewi yang beliau begitu telaten membimbing stase manajemen kami. Ceritanya saya dapet bagian pembuatan SPO (Standar Prosedur Operasional) tindakan-tindakan keperawatan di bangsal THT dan Bedah Mulut RS Sardjito. Walhasil, setelah usai konsultasi sukalah saya kalau disuruh denger cerita inspiring gitu. Singkatnya, beliau yang lulusan Vokasi dan diamanahkan sebagai seroang ketua KFK (Semacam ketua penyusun beberapa draft SPO/SAK Rumah Sakit berdasarkan kategori keilmuwan yang khusus, duuuh lupaaa kepanjangannyaah) gitu cukup menjadi hal baru dan membuat beliau denial. Secara untuk keilmuwan Vokasional pastinya tidak lebih mendalam dibandingkan dengan S1. Namun penyusunan draft tersebut merupakan kinerja-kinerja teoritis banget. Alhasil beliau merupakan anggota tim termuda, dengan background pendidikan vokasional dan yang lain (mungkin) mayoritas S1. Terlebih pula beliau masih dalam posisi belum pegawai tetap/THL (Tenaga Harian Lepas. CMIIW)

Oooh maan, itu mirip-mirip dikit sama posisi saya di kadep media dulu :D berasa senasib Ibuu. Meski nggak segitunya siih. Yah, sama-sama harus belajar banyak gitu, kalau saya belajar dari awal bingits. Alasannya pun ya agak-agak mirip, karena nggak ada yang mau. Haha, entahlah, mirip atau samaa karena nggak ada yang lain. Yang jelas hal tersebut membuat beliau kuat, makin tangguh, dan makin berenergi buat belajar. Ah, seneng deh belajar dan dibimbing oleh Ibu. Udah murah senyum, telaten, rajin, baik, bersahabat, lembut yang tetap berkarakter.
Jadi pengen belajar juga, jadi orang yang berdedikasi dan lapang banget menerima masukaaan. Zzz, gregetan :D
*Saya berharap Ibu Dewi nggak baca tulisan di blog saya bagian postingan ini. Hehe

Semoga Allah kuatkan ya Ibu, In syaa Allah Ulfa ikhtiar buat bantuin Ibu dan belajar sama Ibu sepenuhnya. Nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih, buat mengerjakan yang terbaik buat bantuin Ibu, buat RS Sardjito. *cieeh

Stase manajemen kayak stase dewa, aduh berlebihan mungkin yak (keikut istilah yang sering di denger sih). Tapi Alhamdulillah jadi belajar berhubungan dan belajar dengan orang-orang penting di Sardjito. Dan awesomenyaaah, nyusun standar tindakan keperawatan buat bangsal buat dibukuiiin. Berasa expert -__- yang aaamiiin, semoga terus berbenah makin baik dan makin beneran expert.

Jadi sukaaa, karena jadi inget jaman-jaman semangat lomba, buat nyusun something new or innovation that make easier to others. Sukaa, karena musti nyari gimana caranya nyusun, dimana referensinya, mana aja yang dimasukin. *Padahal sebenernya dalam hati berkecamuk (aaaak. Gimana ini??? :D)
Semoga Allah mudahkan dan ringankan kerjanya. Aamiin

Finally, I’m fine :) Alhamdulillah..

Setelah beberapa saat pikiran sirkumtansial soal beberapa hal. Cenderung butuh asupan biar semangat. Alhamdulillah berkah waktu 1 jam konsultasi barusan membuahkan hasil. Utamanya soal kondisi ruh diri.

Yang jelas hal yang senantiasa terekam sebelum berangkat adalah, saat-saat dimana saya sesekali menjawab pertanyaan soal tips mengatasi semangat yang fluktuatif atau kondisi ruh yang futur. Baik saat ngisi acara kecil-kecilan maupun curhatan antar teman.

“Semangat kan naik turun ya, Kak. Kadang kala kita futur. Gimana cara kakak mengatasi futur?”

Futur is masa depan dek. Eh, future yak :P

Heheh, jadi kalo sampai detik ini masih ada pertanyaan gitu, saya gini jawabnya :

“Bergerak aja terus. Jangan berputus asa atas rahmat Allah. Bergerak terus sampai lelah itu lelah mengejarmu. Hidayah itu dijemput. Termasuk kondisi diri yang sedang bersemangat, itu merupakan rahmat Allah. Cara biar Allah karuniakan Rahmat-Nya? Banyak-banyak amal shalih :)”

Merupakan saripati dari sebuah hadits, “Bersemangatlah atas apa-apa yang terbaik bagimu, mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim

Alhamdulillah, meski 1 jam, dengan kondisi sebelumnya yang harus mendorong gerakan raga, Allah tumbuhkan ruh yang baik, jiwa yang bersemangat, kan?
_Mari Berkarya _

10 : 25
04012016
@GoBST !

Reference :
https://rumaysho.com/265-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat.html

Cerdas dalam Bahasa Kaum

Sebagai seorang kakak, normally selalu muncul tendensi buat menanamkan nilai-nilai positif buat sang adek. Barusan gw diingatkan dengan sebuah sentilan buat terus belajar.

Singkat cerita pas buka line di hp adek gw (yang duduk di bangku SMP) nemu jejak di timeline tentang perjuangan dokter di Indonesia yang isinya 4 buah video bersambung refleksi perjuangan seorang dokter. Perjalanan panjang yang memang belakangan juga gw sadari dengan dalam live report di depan mata semasa profesi.

Niatnya mau meneteskan sisi-sisi perjuangan dalam kehidupan pada si adek, ternyata disentil dengan pernyataan yang menyadarkan bahwa si adek sudah cukup kritis untuk berpikir.
“Eh, dek mau aku liatin video ga? Tentang perjuangan seorang dokter”
“Ngga mau ah, itu buat orang-orang gede kok mesti. Anak kecil bukan kayak gitu tontonannya.”
“???? Ha? Iya yaa? Haha”

Well, sometimes kita nggak nyadar kalau apa yang pengen kita sampaikan ke orang lain itu kurang tepat sasaran #notetomyself. That’s oke purposenya baik, tapi musti tepat. Sering kali setiap kesempatan di jogja dapet free wifi access gw nyempetin nge-yutub buat download video edukasi buat anak-anak kecil, itung-itung bawa bekal ke rumah. Tapi pekan-pekan lalu entah kenapa nge-yutub nya lagi suka sama beberapa hal khusus, jadi ga kepikiran juga buat donwload something new buat adek.

At least dengan pernyataan si adek gw jadi seneng dan tertohok juga sebenarnya. Jarang-jarang si adek mengungkapkan isi hatinya (termasuk kekecewaannya nunggu lama di jemput karena gw ketiduran.haha). Pernyataan itu sebuah reminding buat gw kalau bisa jadi ternyata preparedness gw buat menyampaikan sebuah dakwah *cieh*, or mean simply sebuah value kebaikan bisa jadi kadang kurang tepat buat objek sasaran. 

Selama ini mungkin beberapa kali diamanahkan ummi di sanlat SMA sewaktu di DS. Artinya beberapa metode pendekatan ke anak SMA ‘seharusnya’ gw udah punya bekal. Belum merasa pantas dan easy going penuh juga (masih banyak harus belajar.red) ke anak SMA, malahan jadi lebih sadar lagi kalau pendekatan ke anak SMP juga nggak mudah. Sampe bener-bener si do’i ngerasa deket sama kita, cerita sepenuhnya, curhat dengan lapang and trust. Serius, nggak mudah. Karena urusan orang dewasa *sok banget* kadang begitu ribet di kepala kalo belum kelar kali ya. Padahal seusia puber mereka sangat butuh perhatian penuh.

Rasulullah menganjurkan kita buat menyampaikan dakwah sesuai dengan bahasa kaumnya. Hal ini penting untuk keterikatan yang lekat dengan hati objek penyampaian, cerdas dalam bahasa kaum. Nasihat itu baik, maka penyampaiannya pun juga harus dengan cara yang baik.

Dan yang terpenting lagi, seorang agen penyampainya (agen dakwah.red) yang harus lebih-lebih memiliki cara yang baik untuk terus mendengar, belajar dan berlomba terhadap amal-amal baik, yang Allah suka. Supaya makin deket hatinya sama Allah, kemudian Allah bikin keterikatan dengan mereka objek dakwah yang Allah dan kita sayangi :)

#ntms
Bagi anak gaul jaman sekarang, orang dewasa yang serius itu ngebosenin kali ya. Haha
Ditulis H2 kedatangan sahabat hebat Bekasi, yang masih terngiang cara ia bercerita :)

Skh, 13112015

Cantikmu, Pahalamu :)



“Kecantikan itu ada dua. Yang pertama cantik yang ketika orang memandang membuat makhluk lain berkeinginan yang tak semestinya. Yang kedua cantik yang ketika memandangnya mengingatkan kita kepada Allah.”

Kita yang mana?

Suatu ketika ada seorang jamaah bertanya kepada seorang ustadz.

“Wanita yang berprestasi itu seperti apa?”

Sebuah jawaban yang membanting pola pikir kacau balau yang mendarah daging di benak para penginjak bumi Allah pada umumnya.

“Bagi saya, wanita yang berprestasi adalah wanita yang hanya suaminya lah satu-satunya yang pernah mengungkapkan sayang kepadanya setelah menikah. Dan tidak ada yang lain. Karena ia telah sanggup membuat dirinya tidak mengundang seorang lelaki tertarik dan mengungkapkan hal yang tidak dihalalkan (persepsi saya, sama artinya membuat orang lain berpeluang berbuat dosa). Laki-laki yang menge’tag’ wanita atau meminta untuk ditunggu artinya sama hal nya dengan berkata, ‘aku bernafsu padamu’..”

Na’udzubillahimindzalik...

Mari merenung, berefleksi diri, mari perkuat Qur’an, mari bersemangat menimba ilmu, mari lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dan mari mendekat dan terus merapat dengan-Nya untuk senantiasa dikuatkan.

Ini hanya sekedar menumpahkan diskusi ringan nasihat ustadz dari dua asrama akhwat yang berbeda, di sisi Taman Medika tempo hari. Yang menyadarkan saya bahwa justru saat ini di benak ini masih dipenuhi dengan urusan-urusan jangka pendek. Entah ungkapan, “Masih ingin banyak berkarya, masih ingin belajar membina banyak mutiara, masih ingin menopang bahu lembut adek-adek, masih ingin belajar banyak ilmu, masih ingin banyak ngafalin dulu, masih ingin meringankan beban Ayah untuk adek, masih ingin berbuat banyak buat yang di rumah, masih ingin hal banyak yang belum mensyaratkan kapasitas ideal seorang muslimah.”

Di tambah lagi justru rasa-rasa risih dan males membahas tentang itu sering kali termunculkan karena terbiasa dengan suasana yang membentengi menelisik masalah ini lebih dalam. Karena kecenderungan yang biasa muncul lebih ke arah superfisial ikatan, bukan makna seutuhnya yang mendalami ke arah pembinaan di lingkup madrasah terkecil. Tidak salah kan, toh juga nanti Allah menumpahkan kebahagiaan tiada tara di penghujungnya. Menikmati proses menguras kotornya hati dan berpentas di panggung biah sholihah rasanya lebih menarik untuk dinikmati. Yang jelas PR kita masih banyak, beresin dulu lah urusan kita, penuhi dulu kewajiban kita, telisik lagi list-list hak sekitar yang belum terpenuhi dan segera berbenah. 

Kemudian sekelumit tadi membuat saya lebih terlintas kata ‘bodho amat’ sama hal-hal yang beresonansi dengan hal itu. Atau bahkan sedikit banyak menunjukkan afek acuh yang berhubungan dengan setiap sikap diri. Karena idealisme di titik dalam yang terungkap terekam ‘cukup berbuat yang terbaik untuk Allah, jaga diri, jaga hati, ingat Allah, dan lupakan apa yang akan terjadi pasca skenario telah terputar di pentas ini.'

Yang jelas justru kali ini saya malah diingatkan untuk kembali memfokuskan penjagaan tentang hal itu. Yang akhir-akhir ini justru enggan melirik masalah koridor. Karena saya lebih tertarik membahas mengenai pembinaan calon penghuni rahim. Fokus ini membuat saya menafikkan hal yang memang itu bukan ranah saya.

Awalnya saya hanya sering iseng membentengi sohib-sohib saya yang ‘enticing’ alias ‘nice-looking’. Yang lebih cantik pake slayer atau pakai pakaian yang tak membuat silau. Dan bahkan iseng nyaranin buat cepet nikah dengan dalih kasihan. Tapi kalau di pikir saya kasihan juga ya, sedangkan sekarang anginnya lebih kencang berhembus dari segala sumber. Bersyukurnya, DS selalu mampu menjadi humus dan pupuk yang terus mengokohkan akar-akar pohon dalam proses tumbuh kembangnya. Banyak guru, banyak alarm, banyak benteng, banyak tongkat buat mukul diri sendiri saat lalai atau bandel dari marka jalan. 

Semoga Allah menjaga kita, dengan penjagaan-Nya yang tak pernah runtuh dari kasih sayang. Semoga hati kita tetap murni dengan rasa cinta terhadap-Nya yang menciutkan rasa-rasa aneh yang kadarnya cukup sepele dan memalukan untuk ukuran hamba yang dhaif ini. 

Jadikan cantikmu sebagai pahalamu yang tiada habisnya, hingga Allah mengizinkan engkau dengan lapang hati secara halal mempersembahkan dengan rasa syukur karunia keindahan yang Ia berikan untukmu :)

Ma’annajah ukhty, semoga barokah cantiknya. Jadikan cantik berpahala, jadikan aktivitas menjadi penguat iman. Cantikmu, pahalamu dengan cara penjagaanmu. 

Selamat dan semangat berjuang, dimanapun berada, di bumi Allah yang hangat dengan Rahman dan Rahim-Nya :)

_Atas nama ukhuwah yang tertegur untuk saling bercermin_
Kamis Mubarak, 180412013
11 : 05 a.m
picture here

Masih Terlena Menikmati Tidur?

from here


Kalkulasi waktu yang sederhana ini cukuplah membuat saya merenung. Jika kita sering mendengar kata, “Kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”, kali ini mencoba melakukan kalkulasi waktu sederhana. Membuat geleng-geleng dan menghela nafas :)

Saat dengan lantang seseorang menegaskan idealnya seorang muslim dengan beberapa syarat ideal, coba kita hitung jika syarat ideal itu kita masukkan ke dalam list mutabaah yaumiyah/targetan harian kita :

_ini untuk kondisi aktivitas saya_

Waktu 1 hari = 24 jam
Kuliah (rata-rata dari jam 08.00-15.00)                    = 7 jam
Jam DS (dari jam 18.00-21.00 + 04.00-06.00)        =  5 jam
Belajar materi kuliah *                                              = 2 jam
Membaca buku diluar materi kuliah *                        = 2 jam
Menulis                *                                                   = 1 jam
Tilawah (idealnya minim 1 juz/hr) *                            = 1 jam
Sholat (30 menit x 5) *                                              = 2,5 jam
Kebutuhan pribadi (mandi, makan, dll)  *                   = 0,5 jam

Note : * idealnya minimal
TOTAL = 21 jam
SISA = 3 jam

Ini belum dimasukkan agenda rapat, syuro, ada acara makan bareng, servis motor, servis laptop, tambal ban yang bocor di jalan, dengerin temen curhat, ada jadwal pengganti kuliah, ngerjain tugas kuliah lain, ngerjain skripsi, kumpul kelompok PKM, hadir di undangan walimahan, beli sayuran di warung, datang di majelis ilmu luar asrama, perjalanan johja-solo, nyuci baju, piket asrama, de el el.. eh, semua bisa saja, dan sangat mungkin terjadi.

Sedangkan, IDEAL nya, segala urusan yang terlist di atas terpenuhi dulu, itu kebutuhan pribadi sebelum bergerak untuk mengurusi hal yang lebih besar di luar diri kita.

Wallahu’alam, manusia setidaknya merencanakan, tapi segala yang ideal itu milik Allah. Focus point yang ditekankan disini adalah, yang terpenting kita mencatatkan dalam benak kita ikhtiar ideal yang kita mampu untuk dapat disebut hamba ideal dalam list kecintaan-Nya. Supaya nanti kita dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya di dunia untuk bekal akhirat.

Ada SMS masuk dari si sholihah saat saya lagi nyuci tengah malam di lantai 3 DS ketika itu :)

Semangat ulfa!..Dahulukan memperbaiki urusan dg Nya..I.Allah..urusan lain..otomatis,,meski kadang....tanpa logika..Mencintaimu-

Rasanya dalam ruh-ruh seperti ini memang tak terbersit untuk terlena menikmati tidur, mencabut lelah di pelupuk mata, dan ingin terus bergerak banyak membereskan segala urusan kanan kiri dan diri sendiri dengan segera.

Tapi malam Ahad, 23 Maret 2013 ketika itu saya gagal (kembali) untuk tidak tidur. #aksi sok-sokan :D
Tertidur jam setengah empatan (sepertinya) sampai subuh. Tapi bahagia rasanyaa :))

Ya, menjadikan bahagia yang sederhana, ketika bisa banyak berpeluh di malam hari (biidznillah) saat -mungkin- yang lain terlenakan.

Herannya, di asrama ini selalu ada saja kehidupan di setiap waktunya. Mau bangun jam berapa? InsyaAllah ada orang yang terjaga. Bersyukur, karena menjadikan kita tidak ada setitik kebanggan satupun, karena masing-masing sekeliling yang ada senantiasa mengabdikan diri dalam berfastabiqul khairat..

Quotes penguat lain yang terus melatih keimanan saat ini adalah :

“Barangsiapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”(HR.Tirmidzi)

23 : 36 p.m
Selasa, 25032013
_al haqqu mirrabbik_ :)

Refleksi Jalan Juang


Dulu masa kita banyak ya, sepertinya kanan kiri semuanya ada di rumah kita :)

Bulan berlalu.. tahun berlalu.. satu tahun.. dua tahun.. dan sekarang tahun ke tiga...

Ternyata bisa dihitung jari siapa saja yang masih tetap tinggal di rumah ini. Akankah yang sedikit ini bisa bertahan sampai akhir? Akhir kapan? Tentu saja semua orang yang sadar akan janji di jalan ini berharap untuk bertahan istiqomah sampai husnul khatimah.

Di sini ketemunya dia, di sana ketemunya dia, di situ mereka, di sono mereka lagi. Semoga diteguhkan, kawan :)

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cinta-Mu.. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan... menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya, tegakkanlah cintanya... lindungilah jalan-jalannya... terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pernah padam, ya Rabbi bimbinglah kami... ya Rabbi bimbinglah kami...

13 : 13 p.m
Rabu, 21032013
_refleksi jalan juang_

Al Qur'an, Al Kariim, dan Ibu


Berusaha merekahkan senyum, harus, nggak boleh kelihatan cape’.. >.<

Untuk kali ini, hal yang jarang saya rasakan, merasa ngantuk saat mengajar ibu TPA di Masjid Al Karim Pogung Lor. Bukan, ini bukan lelah kok, hanya butuh kesungguhan sedikit lagi :)

Alhamdulillah dengan sedikit menutupi kejujuran jasad yang ingin bermanja dengan lantai -barangkali-, walhasil waktu yang telah lewat dari pukul 09.00 p.m tersebut dengan lancar sayu saya nikmati saat menyimak Ibu Tini melantunkan bagian dari senandung cinta An Nisa.  Biasanya saya dengan Ibu Saminem, yang tempo akhir ini sedang berpeluh untuk menuntaskan jilid 6 nya. Beliau yang sering mengucapkan kata “Maaf mbak, saya itu sering lupa...” padahal jika beliau tahu, saya selalu iri dengan semangat beliau setiap kali belajar. “ :) nggak papa ibu, yang penting terus semangat, insyaAllah nanti lama-lama bisa. Terus rutin dibaca saja ketika di rumah..”

-beberapa waktu lampau, malam ini tak seramai ini :)-
Malam ini saya hanya melihat beberapa gelintir jamaah saja yang datang ke TPA. Mungkin karena hujan. Dan akhirnya saya bersama dengan Ibu Tini, yang kali ini ternyata beliau sudah cukup lancar dalam melafadzkan setiap ayat Al Qur’an. Mungkin hanya cukup membernarkan beberapa mad atau panjang-pendek dan tajwidnya -yang masih harus berlatih untuk dengung, samar, dan sebagainya-. Sedangkan untuk makhraj, dengan beberapa pertimbangan memang harus bertahap, agak sedikit berproses membenarkan satu per satu bagaimana keluarnya huruf dengan tepat karena sudah terbawa sejak awal belajar. Ya barangkali sama juga dengan saya ketika awal belajar tahsin dulu. Namun hebatnya ibu Tini, beliau belajar Al Qur’an dalam jangka waktu 2 tahun akan tetapi biidznillah, Allah memudahkan lidah dan bibirnya begitu lunak untuk melafadzkannya. Kalem, sungguh-sungguh, tekun, itu yang terpancar ketika saya di depannya.

Mungkin rasa agak lelahnya malam ini Allah menutupi dengan kelancaran Ibu Tini membaca Al Qur’an, sehingga kuantitas kesalahannya tidak terlalu banyak dan selaras dengan redupnya mata kali ini. Sesekali mata saya terpejam. Khawatir terlewatkan ada peluang pahala untuk mengingatkan kesalahan yang nantinya jadi amal jariyah, tak hanya sekali dua kali saya berusaha membuncahkan semangat untuk terus terjaga dengan lapangnya.

Semoga lekas dikaruniai putra/i ibu Tini, semoga barokah atas semangat juangnya belajar surat cinta-Nya, semoga terus istiqomah dalam membaca dan mempelajari Al Qur’an :’)
Satu dua atau banyak percakapan ketika pulang, kembali menceritakan semangat ibu-ibu di sini. Belum tentu ketika nanti kita sudah berusia layaknya mereka, semangat kita masih sama seperti sekarang.

Lalu ingat ibu di rumah, yang setiap kali mengajar ibu-ibu disini... Berharap Allah menjaga beliau dan menuntun beliau dengan penuh kekuatan dan kemudahan melantunkan ayat-ayat suci-Nya. Ibu... semoga ibu kuat, dengan keterbatasan Ulfa di sini yang belum bisa banyak berbuat untuk senyum merekah kebanggaan. Ibu... yang Ulfa tahu, setiap apa-apa yang Ulfa lakukan di sini jika itu kebaikan, maka pahala itu akan mengalir langsung ke Ibu... Hanya memohon kekuatan dari do’a Ibu, supaya terus istiqomah berpijak dalam kebaikan dalam kebermanfaatan, dalam amal jariyah untuk investasi kita, dan keluarga kita. Ibu... maaf... maaf atas segala keterbatasan... :’)

Kaca diri : Nggak boleh males-malesan fah kalau ngajar ibu-ibu Al Karim. Saat tanganmu belum mampu merengkuh sampai di rumah untuk Ibu, disini jalan perantara untuk Allah menjagakan Ibu lewat amalmu :)

Selasa, 19032013
23:00 p.m
-Dalam sinkronisasi ruh, jasad dan segala asa-

Biah Sholihah #3


Perkuliahan tempo hari, Selasa, 27 Februari 2013 nampak berbeda. Sampai jemari ini mampu menghitung berapa mahasiswa yang bertahan setia mendengar perkuliahan sore itu sampai sekitar pukul 16.30 WIB. Dari 109an mahasiswa tersisa tidak ada separuh. Kuliah seminar proposal development barokah :)

Serasa jadi santri yang rajin, walhasil, saya bisa menikmati senja di DS. Dan ini lama saya nantikan.

Parkir motor, dan kemudian terbersit seketika itu untuk menuju masjid asrama –sebenarnya saya tinggal di pesantren, tapi lebih nyaman menyebutnya dengan asrama-. Ke kamar pemandu di Jabal Masjid. Senyum merekah ketika itu, saat berpapasan dengan Umi usai dari tempat wudhu (sepertinya).

Entah dengan salam atau tidak, tersenyum, meraih tangan beliau, dan menempelkannya ke pipi.

“Amah sudah pulang?”
“Iya Umi... :)”
Dengan kelembutannya, Umi melangkahkan kaki menuju kamar pemandu. Teriring langkah mengikuti beliau...
“Em.. Umi.. apakah ada amah pemandu?”
“Ada apa amah?”
“Mau menanyakan umi, apakah ada kiriman paket?”

“Oh iya, ada...” sembari berjalan mengambilkan paket yang dimaksud, tertutup hijab.

Kemudian umi bertanya di balik kamar pemandu –yang kami tidak diperkenankan untuk menjangkau ranah ini-

“Amah, kok ada tulisannya ikhwan gaul?”
(deg... mengernyitkan dahi sembari berpikir ketika itu)
“Oh... itu ikhwa’H’ gaul umi... komunitas muslim se Indonesia”

Sedikit bertele-tele memang jika saya menjelaskan bahwa itu adalah komunitas/organisasi terbuka untuk umat muslim manapun yang mau bergabung dengan fikrah yang sama, biasanya followernya pemuda/i atau mahasiswa/i, yang ketika itu atau mungkin tidak sengaja sudah ter-friendlist di facebook saya.

Ya, sepertinya Umi sekilas melihat huruf H layaknya huruf N. Karena kemudian mengulang kembali, dan sejelas saya mendengar tetap mengucapkan...

“Ikhwan gaul...”

Namun saya lupa beliau kembali bertanya terkait apa, yang jelas kembali sedikit menegaskan akhiran H dibelakangnya.

 Tetap dengan ketundukan kepada beliau...

“Iya Umi, itu komunitas muslim se Indonesia. Kebetulan buat kalender, setelah itu Ulfa pesen dan dikirim via paket.. :) “
Sambil menyerahkan paket kalender ke saya “Oh, jadi bukan dari personal ya amah? :) “
“Bukan Umi... :’) Jazakillah khair...”

Berbalik arah dan kemudian menahan sisa-sisa perasaan yang mengharu biru.

Allah.. betapa Engkau sayang kepada hamba, hingga orang-orang di dekat kami merupakan insan yang senantiasa menjadi ‘alarm’ koridor syariatmu :’)

Sambil kembali melihat-lihat tulisan, DARI : IKHWAH GAUL.. “Oh, ya... bisa saja hanya sekilas melihatnya” dalam hati

Saya tidak tahu apakah Umi sampai sekarang masih mempersepsikan samarnya huruf H itu sebagai huruf N. Karena ini tidaklah lebih penting dari segala hal yang menghiasi pusat pikir beliau sekarang, kesehatan beliau, adek-adek (putra/i Umi), abi, santri, umat... dan segala hal yang menguatkan kehidupan beliau...

Namun yang jelas, sepadat apapun yang menjadi tanggung jawab beliau, masih sempat memikirkan hal-hal kecil dari kami, santri binaannya. Oh, bukan. Sepertinya suatu hal yang besar, karena beliau lebih jauh arah pandangnya ke depan.

Saya hanya teringat ketika itu, Abi dan Umi sempat menerima paket untuk santri yang isinya boneka. Kiriman paket itu dari ikhwan (parah ! geleng-gelengà sepertinya belum baca tulisan plakat gedhe di atas gedung “Pesantren Mahasisw’i’ Darush ‘Shalihat’ :D, khusnudzan saja, khilaf, salah alamat). Dan jelas, walhasil... tidak akan pernah sampai kepada yang semestinya menerima. –cerita pemandu atau siapa lupa-
Dan terbersit ketika ini, sesekali tertegun dengan soal-soal ujian akhlak yang selalu membuat tergetar saat mengerjakan...

Bagaimana pendapat anti tentang parkir motor yang tidak rapih?
Bagaimana jika anti mendapat hadiah boneka dari ikhwan? –soal zaman dahulu kala, katanya pemandu-
Bagaimana pendapat anti tentang piket?
Bagaimana pendapat anti jika sandal tidak rapi?

Redaksinya tidak sama persis sebenarnya... dan seterusnya, dan seterusnya, dan sudah cukup saya dibuat tenggelam dalam rasa malu yang mendalam... -.-

Mau mewariskan apa pasca DS fah? :’)

Ini untuk dek Lutfi :) semoga barokah...


23:38 p.m
-Di penghujung Februari Mubarok-

Biah Sholihah #2


Ditengah kepadatan targetan malam ini, si sholihah tiba-tiba menyusup ke kamar saya.

U : Kok kamu kesini sih? Aku lagi pengen baca ini nih... -.- (di depan laptop)
A : Ya udah, baca aja. Nggak kelihatan kok dari sini. (suka usil)
U : -___- ni aku ada targetan banyak malam ini. Kamu kerjain yang lain sana..
A :  iya, aku mau nyetrika habis ini.. (namun tetap dengan posisi yang sama)
U : eh, aku sayang banget sama temen-temen di sini.. :D
A : apa lagi sama aku ya fa? :D
U : zzz..
A : hehe
U : Nih, al.. ni aku di mention sama adek. Dibales apa ya? :D
A : Apa? Oooh.. nggak usah dibales juga nggak papa kok..
U : iih.. ditanya dibales apa malah..
A : hihi.. iya, iya deh.. ditimbang dulu, kalo dibales manfaatnya apa, kalo enggak apa.. min husni    islamil mar i tarkuhu maa laa ya’nihi
U : Artinya??
A : Itu ada di hadits arbain.. :D
U : Artinyaaa? Ditanya artinya juga -__-
A : hehehehe.. Intinya.. ini terjemahan bebas ya, tanda sempurnanya iman seseorang itu (sampe sini udah mak jleeeb) ketika ia meninggalkan hal yang sia-sia.
U : MasyaAllah Al.. kalo gini aja ditimbang, nih liat, aku di twitter aja kayak gini.. -.-a
A : :D itu sih ulfa aja yang mempertimbangkan, barang kali itu cara ulfa sendiri.. :)
U : iyah sih al, kalo kamu tahu aku di kampus, emang udah beda banget sama dulu.. -.-a

Dan akhirnya.. setelah negosiasi, beliau meninggalkan saya :D

Rabbi.. terimakasih telah mengirimkan peri penasehat (lagi) malam ini.. :’)
_merasakan nikmatnya berteman dengan orang yang senantiasa meniupkan atmosfir kedekatan dengan Allah, kedekatan dengan Qur'an dan semangat saling menasehati_

Kutipan hadits Arbain Ke-12 tentang Tanda Kesempurnaan Iman

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. (Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Qurrah bin ‘abdurrahman dari Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dan sanad-sanadnya ia nyatakan shahih. Tentang Hadits ini ia berkata : “Hadits ini kalim atnya pendek tetapi padat berisi”. Semakna dengan Hadits ini adalah ucapan Abu Dzar pada beberapa riwayatnya: “Barang siapa yang menilai ucapan dengan perbuatannya, maka dia akan sedikit bicara dalam hal yang tidak berguna bagi dirinya”.
Imam Malik menyebutkan bahwa sampai kepadanya keterangan bahwa seseorang berkata kepada Luqman : “Apa yang menjadikan engkau mencapai derajat yang kami saksikan sekarang?” Jawabnya : “Berkata benar, menunaikan amanat dan meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi diriku”.
Diriwayatkan dari Imam Al Hasan, ia berkata : “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya”. Ia berkata bahwa Abu Dawud berkata : “Ada 4 Hadits yang menjadi dasar bagi tiap-tiap perbuatan, salah satunya adalah Hadits ini”.
 dikutip dari sini :)

#BikinJlebLagi

Jazakillah khoir :’)
-Seseorang yang seringkali membuat saya teriris hatinya karena ingat khilafnya diri yang terlalaikan, seseorang yang saya kutip katanya untuk blog ini, "Memilih sikap terbaik, untuk hidup setelah kematian" -

23 : 14 p.m
14/02/2013

Terima Kasih #2


Qurrata ‘Ayyun nan teduh :’)

Atas segala hal yang selalu mebuat terisak di hadapan-Nya usai bercermin dari kalian. Dari nooool besar ketika itu. Sampai ulfa pelan-pelan merangkak dan berproses untuk tumbuh jadi muslimah yang lebih qowy :D -sedangkan sampai sekarang masih dalam proses-

Terima kasih atas makna indah dekat dengan Allah, hati yang bersih, beramal karena Allah, belajar Qur’an, tahsin, menjaga diri, menjaga hati, ukhuwah karena Allah, saling mengingatkan, saling menasehati, ikhlas, khusnudzon, tabayyun, rindu karena Allah, mencintai saudara karena cintanya pada Allah, bergetarnya jiwa karena akhlak, bergetarnya hati karena Qur’an dan teririsnya hati karena bercermin dari amalan kalian.

Terima kasih karena telah membuat ulfa memutar setir setelah jauh berbelok dari jalan yang nyaman namun melalaikan. Setidaknya, tertoreh kembali buncahan semangat perbaikan kualitas diri, sebelum akhirnya ikut berlari tergopoh merangkul umat setelah panjang berproses ketika itu...

Setengah tahun lebih di tengah kalian, bertahun dampaknya untuk orientasi hidup seorang ulfa :)

__Mb Yuntari-Azizatul Ulfa-Mb Trie-Mb Nurul-Mb Matul-Lina-Mb Nisa-Mb Cho-Teh Ida-Mb Eka-Mb Ida-Mb Devi-Mb Peni-Tata__

Semoga Allah meneguhkan langkah kita, untuk terus berada di jalan yang terjanjikan syurga oleh-Nya ^^

Hangatnya Biru Cat Qurrata 'Ayyun
@Hokben, ceritanya pamitan :( hiks


12/02/2013
23 : 16 p.m

Tentang si L



U : Assalamu’alaykum.. Lagi apa dek Lutfi? :D
L : Wa’alaykumsalam. Ki neng dr Oen tilik istrine pak Lurah babaran mbak
U : Wa’alaykum(us)salam fi sebenarnya yang tepat.. hehe ^^V Bareng sp?
L : Hahaha yowes ngono kui naknu. Haha. Babe pakde om
U : Ciee.. yang besok bertambah usia (sedih ya, uda tua) Mau hadiah apa dek? :)
L : Hehehe pengen tambah sholeh wae mbak :D Berbuat yang lebih baik
U : :’) Aamiin ya Rabb.. Semoga dikuatkan, adek..^^
L : Iya kakak :D

Menarik nafas panjang ketika itu, lalu tersenyum haru, karena adek berhasil membuat air mata saya tertetes sebelum berangkat ke Masjid Al Kariim malam ini :’)

12/12/2013
22 : 20 p.m

Dari Konspirasi Usil sampai Stereotipe Anak Kecil



Kala itu hari Selasa, 4 Februari 2013 sekitar pukul 15.00-17.30 WIB di daerah mana saya lupa namanya, masih sekitar Solo, di sebuah bengkel.

Cukup lama keluarga kami menunggu si tunggangan keluarga beres dari sakitnya. Baca buku, break sholat, bercengkerama dengan adek-adek rasanya cukup variatif untuk mengisi waktu ketika itu.

Seperti biasa, kembali kami (saya, bapak dan ibu) digeramkan dengan ulah si tengah, Lutfi, yang usil sama si bungsu, Conny. Candaan terus bergulir, dan tibalah suatu moment dimana di ruang tunggu hanya ada saya, dek Conny dan Ibu yang ada di kursi seberang.

Kembali saya meluncurkan amunisi untuk menggiring dek Conny supaya masuk pesantren :D
U : Saya, Ulfa
C : Conny
L : Lutfi
B : Bapak

U : Dek, suk mben neng pondok Gontor wae ya.. :D
(Dek, besok ke Pondok Gontor aja ya..)
C : Ah, mbuh mbak-mbak, kat mbiyen kok ngono kuwi terus..
(Ah, mbuh mbak-mbak, dari dulu kok kayak gitu terus)
U : Eh, nggak papa. Tempatnya di Jawa Timur. Nanti kamu bisa pinter bahasa Inggris sama bahasa Arab.. (Senyum merayu ^^)
C : (Terlihat berpikir, tak berkata-kata, sambil sedikit memalingkan muka)
U : Iya lho dek, wis didaftarke bapak :D (mana ada? Padahal masih kelas 4 MI/SD.haha)
C : He.. Po iyo mbak? Ra mungkin.. (Keheranan)
U : Eh, beneran dek. Coba tanya sama bapak. Bapak rasa dek Conny itu udah rajin, semangat belajar bahasa Inggris, terus juga udah dapet bahasa Arab. Makanya terus langsung didaftakan. :p Jadi persiapan aja ya tesnya, disiapkan bahasa arabnya.. :)
(Senyum membujuk, menyemangati)
C : He.. Mosok mbak? Kan masih 2 tahun??? (tambah heran)
U : Oh iya dek bisa.. :p Dulu mbak juga pengen di pesantren lho, tapi nggak jadi, jadinya sekarang pas udah kuliah :D
C : Jadi nggak boleh ke SMP 1? Kok mbak ulfa ke SMP 1?
U : SMP 1 juga bagus dek, tapi nanti ilmu agamanya kurang. Kalau di pondok bisa pinter bahasa arab, terus temennya baik-baik.. :)
C : Mana mbak tadi? Gorontalo?
U : Gontor dek.. -__-
C : Hehe, kayak Gorontalo. Kok jauh mbak? Nggak usah jauh-jauh sekolah. Nanti aku nggak pulang, terus nggak bisa main.
U : jangan salah dek, nanti banyak pikniknya juga. Mbak juga ada mainnya sama teman-teman pesantren kok, ke pantai, ke masjid tidur disana sambil gapalin qur'an :D
C : he.. Emang ada tempat tidurnya mbak?
U : Ada lah pokoknya :D
C : Iya, kata mbak ipah kalau di pondok banyak pikniknya, piknik pesantren dewe, piknik sekolah dewe, dewe-dewe mbak..
U : Tuh.. Enak kan? ;)

Kemudian ada bapak di samping dek Conny.

U : Nah, tanya bapak dek, lak wis didaftarke :D
C : Apa iya pak?
B : Apa?
C : Apa aku udah di daftarkan di pondok... Apa mbak tadi?
U : Gontor dek..
C : nah, iya.. Gontor pak?
B : (tanpa kode sebelumnya) iya.. Lha kamu mau nggak?
C : Hee... Mosok mbak? Emoh..
U : :D (Tersenyum bangga) tuh kan beneeer.. Udah, siapin aja tesnya, bahasa arab sama bahasa inggrisnya :D
C : Ah mbuh mbak, apa udah pernah kesana?
U : Udah, mbak dulu kesana.. Bagus lho, gedhe dek. :D
C : tingkat mbak?
U : haha, iyaa..
C : nggak mau mbak, nanti aku nggak mulih-mulih.
U : lho, ya nanti kayak mbak ini. Kadang pulang, ada waktunya lah dek..
C : naik apa? Kereta bisa?
U : -.-a (gontor, kereta?) uhm.. Bisa2.. :p
C : Lha bapak kapan ke jawa timur?
U : rahasia.. Pokoknya udah didaftarin :p
Oh iya, kalau nggak di gontor udah di daftarin juga di SMP, tapi SMP As Salam atau Al Islam. Kalau ini lebih deket, di Solo dek. Banyak lho yang masuk UGM juga, jadi nggak kalah :D
C : emang bisaa???
U : Bisaa.. Mbak dulu juga daftarnya dobel-dobel pas kuliah (yah, kalau ini mah beda fa.. :p)
C : iya po? Mana aja??
U : UGM, UNDIP, UNS, UNAIR, POLTEKES SEMARANG, banyaaak pokoknya (yang ini jujur)
C : iya to mbak?
U : tuh kan dek.. Tanya aja sama mas lutfi..
C : Mas, apa aku didaftarke 3? Gontor, As Salam karo Al Islam?
L : iyo.. :D
(kembali berbangga dengan jawabannya :D)
C : hee.. Kok bisa tho mbak? Kok mas lutfi, mbak ulfa, bapak, kok bisa ngomong sama?
U : Oh ya jelaas.. Ini namanya syuro rahasia dek, rapat rahasiaaa :p
C : opo iyo? Kapan mbak? Mesti pas aku dolan nenge Ila..
U : ya rahasia.. :p

---o0o---

Sebenarnya ini hanya konspirasi usil untuk adek saya yang sebenarnya pula tanpa ada rapat sebelumnya :p
Hanya kebohongan baik yang spontan untuk membujuk adek saya tertarik ke pesantren, meskipun tidak ada unsur pemaksaan..

Readers, sesungguhnya yang saya lakukan ini adalah refleksi dari kehidupan lampau saya yang sempat minus dalam berpayah-payah untuk mengkaji ilmu agama. Dampaknya sekarang sedikit kewalahan mengatur waktu sembari kuliah, organisasi, dan mengaji. Saya tidak mau adek saya kelak kurang bekal kematangan di masa-masa ia harus sudah mantap dengan jati dirinya sebagai seorang muslim yang bermanfaat untuk umat. Setidaknya ia terbiasa dengan lingkungan yang sholih sejak kecil dan tersibghah dengan nafas keislaman dalam kesehariannya.

Di sela perbincangan ini pula, sebelumnya adek saya sempat menanyakan suatu hal yang berawal dari perbincangan saya tentang berdandan (tabarruj) saat pernikahan. Tentang 'mbak nggak mau kalau nanti begini-begini' dan adek saya menimpali 'ya nanti begini-begini lah mbak.. Kayak mbak ini dulu..'
Tiba-tiba adek bertanya..
C : Mbak, kalau nikah di masjid itu bayar nggak?
U : Nikah kok di masjid, di luar..
C : Ya maksudnya ijab (akad) mbak..
U : Ra ngerti dek, durung tahu nikah neng masjid :p :D hehe
C : ya iyaaa.. -__-
---
C : Eh mbak (sambil menghadapkan arah duduknya ke saya) mesti suami mbak ulfa nanti jenggotan.. (dengan polosnya)
U : -___-??? Kok bisa???
C : ya iya.. Biasane gitu og..
U : Kok biasane? Maksudnya? (Ni adek baru kelas 4 SD stereotipenya sejauh ini ya? -.-a)
C : ya ustadz-ustadz itu lho mbak, biasanya jenggotan..
U : Lho, apa iya? Maksudnya biasanya?
C : Lha mbak X punya suami pak Y (guru di MI nya adek) juga jenggotan, mbak Z punya suami pak A juga jenggotan.. Biasanya yang berjilbab suaminya jenggotan..
U : ya Allah dek, kesholihan itu bukan dari jenggotnya, tapi ibadahnya..
C : ya tapi biasanya kalau sholih ibadahnya bagus kan punya jenggot..
U : ckck.. Dek conny dek conny.. Wallahu'alam dek.. :)
Tuh tuh, ada mas lutfi.. coba tebak mas lutfi nanti jenggotan nggak? Dia udah punya jenggot tipis lho :D

---o0o---

saya tidak tahu bagaimana adek ini punya stereotipe seperti ini.
Artinya usia 10 tahun yang berada di hadits yang mengindikasikan seorang anak sudah mampu mandiri, bertanggung jawab atas dirinya sendiri itu termasuk di dalamnya untuk berpikir mengenai analisis kesimpulan yang terekam dalam pikirannya.

Rasa-rasanya akhir-akhir ini pembahasannya mengenai hal itu mulu. Agak terasa berat memproklamirkan realita bahwa saya telah hidup seperlima abad di dunia. Mengingat belum bisa menghasilkan karya-karya elegan yang bisa mengimbangi angka 10 berlipat dua ini.

Setidaknya, bermula dari Konspirasi Usil sampai Stereotipe Anak Kecil ini telah sedikit membuka wacana saya untuk kembali merefleksikan usia yang kian bertambah menjadi bulat 20 tahun 5 hari tepat hari ini.

Terima kasih atas penyegaran nasihat dari teman saya ketika itu,

"Tak akan tergelincir dua kaki anak adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara : usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan & kemana ia belanjakan, & ilmuny untuk apa ia perbuat dengan ilmu itu" (HR.Al Bazzar dan Al Thabrani)

Sebelum akhirnya ia mengucapkan selamat tambah tua. Sebenarnya yang diinginkan oleh hati kecil saya, saya merasa senang dan merindu diselamati tambah tua. Artinya semakin dekat pula pertanda bahwa saya akan segera mendekati hari bertemu dengan-Nya. Seperti halnya orang sholih yang senantiasa merindu untuk menghadap kekasihnya...

Selalu saja proses, minimal ada rasa prihatin di usia yang kian beranjak ini. Terus mengatakan 'sudah' untuk angka usia dan mengatakan 'masih' untuk setiap amal yang sedikit.

Terima kasih pula untuk do'a dari saudaraku ini,
Allahummatawwil umuran fii tha'atika watha'atik rasulik, waj'alna min ibadikashalihih..
Aamiin ya Rabb :')

#RabuOptimis
Dhuha @08:13 a.m
06/02/2013
__Merangkai perjalanan lembab kuyup dari Solo-Jogja, hijaunya trans jogja, hari bertambahnya usia adek bungsu dan dhuha sehat pasca menyapa GSP dengan ayuhan kaki__

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..