"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

nggak usah dianggep Rempong deh

Sometimes nih ya.
Mahasiswa yang masih berproses kayak saya suka berpikir konyol.
Hanya masalah menentukan tempat pas untuk membangun mood yang oke saat ngerjain tugas or something else.

"enaknya dimana ya?"
Biasanya pilihannya nggak jauh-jauh. Kalo nggak perpus fakultas, perpus pusat UGM atau perpus kota. Yang terakhir agaknya jarang terpilih. Mau milih rumah makan, eman. Indomaret point? That's not my style at all. Sebenarnya lebih ke gaung musik yang nggak pas untuk telinga. *hehe

Nah, ini yang parah.
Karang milih tempat yang nggak musti nitipin tas kura-kura (ransel.red) yang berat nggak pake bingit.
Alasannya apa? Biar nggak rempong nitipin barang, ngerluarin dipindah tas cangklong dengan tetek bengeknya (jelek banget yak bahasanya), lalu masukin si kura-kura ke loker, masuk, selesai, ngambil lagi, mindahin lagi si isi ke si empu kura-kura. Ah, mana ya yang nggak rempong. Gesit-gesit gitu.

Eh, eh eh.
Alhamdulillah logika saya sore ini Allah izinkan berpikir supaya bersyukur.
Lah fah ! Ngurus diri sendiri aja nggak mau rempong. Masalah secuil yang cuma mindahin barang sendiri untuk keperluan sendiri aja dianggep rempong. Sebenarnya di benakmu isinya apa? Visioner dong, katanya mau ngurus umat. Ngurus orang banyak jauh lebih rempong jeng.

Iya kan ya?
Yang namanya orang berpikir besar, pasti nggak akan sibuk dengan urusan secuil dan remeh-temeh.
Duh Gusti, ya Allah. Ampuni hamba, dan orang-orang yang mencintai-Mu serta Engkau cintai untuk sanggup menata diri menjadi hamba yang lebih anfa', bermanfaat untuk banyak makhluk-Mu. 

17 : 04 
18112014

Di sela komitmen, hanya boleh istirahat setelah fully focus selama 2 jam.
Oke, on fire !

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah atas perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau merasa lemah. Kemudian jika ditimpa satu musibah, janganlah engkau mengatakan ‘seandainya saja aku melakukan hal ini dan itu niscaya akan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah, ‘semua sudah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Allah kehendaki telah Dia kerjakan. Sebab perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan.”(HR. Muslim)

IP, IPK, Prestasi

Menurut saya IP itu akumulasi nilai #yaEmang

Tapi akumulasi berapa nilai investasi Al-Qur'an dan perjuangan untuk agama Allah untuk semester yang bersangkutan.

Sedangkan IPK itu akumulasi IP #tentu

Tentu saja akumulasi amal dakwah dan waktu spesial kita untuk mengaji dan mengkaji kalamullah selama bilangan semeser terlampaui.

dan prestasi itu bonus semata di sela prosesnya :)
Substansinya adalah, beramal yang Allah ridhoi saja. Yang membuat Ia semakin sayang dengan kita ^^

14 : 53 p.m
02022014

years pass away

Bismillah..

I'm was 21th years old right now.
Maybe the past reflection of my life can indicate how productive my time last year, two years ago or many years accumulation.

residual time, limited occasion.
struggling ! :)

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Cantikmu, Pahalamu :)



“Kecantikan itu ada dua. Yang pertama cantik yang ketika orang memandang membuat makhluk lain berkeinginan yang tak semestinya. Yang kedua cantik yang ketika memandangnya mengingatkan kita kepada Allah.”

Kita yang mana?

Suatu ketika ada seorang jamaah bertanya kepada seorang ustadz.

“Wanita yang berprestasi itu seperti apa?”

Sebuah jawaban yang membanting pola pikir kacau balau yang mendarah daging di benak para penginjak bumi Allah pada umumnya.

“Bagi saya, wanita yang berprestasi adalah wanita yang hanya suaminya lah satu-satunya yang pernah mengungkapkan sayang kepadanya setelah menikah. Dan tidak ada yang lain. Karena ia telah sanggup membuat dirinya tidak mengundang seorang lelaki tertarik dan mengungkapkan hal yang tidak dihalalkan (persepsi saya, sama artinya membuat orang lain berpeluang berbuat dosa). Laki-laki yang menge’tag’ wanita atau meminta untuk ditunggu artinya sama hal nya dengan berkata, ‘aku bernafsu padamu’..”

Na’udzubillahimindzalik...

Mari merenung, berefleksi diri, mari perkuat Qur’an, mari bersemangat menimba ilmu, mari lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dan mari mendekat dan terus merapat dengan-Nya untuk senantiasa dikuatkan.

Ini hanya sekedar menumpahkan diskusi ringan nasihat ustadz dari dua asrama akhwat yang berbeda, di sisi Taman Medika tempo hari. Yang menyadarkan saya bahwa justru saat ini di benak ini masih dipenuhi dengan urusan-urusan jangka pendek. Entah ungkapan, “Masih ingin banyak berkarya, masih ingin belajar membina banyak mutiara, masih ingin menopang bahu lembut adek-adek, masih ingin belajar banyak ilmu, masih ingin banyak ngafalin dulu, masih ingin meringankan beban Ayah untuk adek, masih ingin berbuat banyak buat yang di rumah, masih ingin hal banyak yang belum mensyaratkan kapasitas ideal seorang muslimah.”

Di tambah lagi justru rasa-rasa risih dan males membahas tentang itu sering kali termunculkan karena terbiasa dengan suasana yang membentengi menelisik masalah ini lebih dalam. Karena kecenderungan yang biasa muncul lebih ke arah superfisial ikatan, bukan makna seutuhnya yang mendalami ke arah pembinaan di lingkup madrasah terkecil. Tidak salah kan, toh juga nanti Allah menumpahkan kebahagiaan tiada tara di penghujungnya. Menikmati proses menguras kotornya hati dan berpentas di panggung biah sholihah rasanya lebih menarik untuk dinikmati. Yang jelas PR kita masih banyak, beresin dulu lah urusan kita, penuhi dulu kewajiban kita, telisik lagi list-list hak sekitar yang belum terpenuhi dan segera berbenah. 

Kemudian sekelumit tadi membuat saya lebih terlintas kata ‘bodho amat’ sama hal-hal yang beresonansi dengan hal itu. Atau bahkan sedikit banyak menunjukkan afek acuh yang berhubungan dengan setiap sikap diri. Karena idealisme di titik dalam yang terungkap terekam ‘cukup berbuat yang terbaik untuk Allah, jaga diri, jaga hati, ingat Allah, dan lupakan apa yang akan terjadi pasca skenario telah terputar di pentas ini.'

Yang jelas justru kali ini saya malah diingatkan untuk kembali memfokuskan penjagaan tentang hal itu. Yang akhir-akhir ini justru enggan melirik masalah koridor. Karena saya lebih tertarik membahas mengenai pembinaan calon penghuni rahim. Fokus ini membuat saya menafikkan hal yang memang itu bukan ranah saya.

Awalnya saya hanya sering iseng membentengi sohib-sohib saya yang ‘enticing’ alias ‘nice-looking’. Yang lebih cantik pake slayer atau pakai pakaian yang tak membuat silau. Dan bahkan iseng nyaranin buat cepet nikah dengan dalih kasihan. Tapi kalau di pikir saya kasihan juga ya, sedangkan sekarang anginnya lebih kencang berhembus dari segala sumber. Bersyukurnya, DS selalu mampu menjadi humus dan pupuk yang terus mengokohkan akar-akar pohon dalam proses tumbuh kembangnya. Banyak guru, banyak alarm, banyak benteng, banyak tongkat buat mukul diri sendiri saat lalai atau bandel dari marka jalan. 

Semoga Allah menjaga kita, dengan penjagaan-Nya yang tak pernah runtuh dari kasih sayang. Semoga hati kita tetap murni dengan rasa cinta terhadap-Nya yang menciutkan rasa-rasa aneh yang kadarnya cukup sepele dan memalukan untuk ukuran hamba yang dhaif ini. 

Jadikan cantikmu sebagai pahalamu yang tiada habisnya, hingga Allah mengizinkan engkau dengan lapang hati secara halal mempersembahkan dengan rasa syukur karunia keindahan yang Ia berikan untukmu :)

Ma’annajah ukhty, semoga barokah cantiknya. Jadikan cantik berpahala, jadikan aktivitas menjadi penguat iman. Cantikmu, pahalamu dengan cara penjagaanmu. 

Selamat dan semangat berjuang, dimanapun berada, di bumi Allah yang hangat dengan Rahman dan Rahim-Nya :)

_Atas nama ukhuwah yang tertegur untuk saling bercermin_
Kamis Mubarak, 180412013
11 : 05 a.m
picture here

Tsunami Caring di Salto Absurd dan Ajang Kontemplasi



“ulfaa... kamuu... kenapa jempalitan di jalan???”
“(hah???) Bahasanyaaa... -.- iya yaaa :))”
“Mana aja yang sakit?”
“nggak kok cuma ini, ini, sama memar sini, terus bagian sini agak nahan... ada yang...” (nggak tahu ini rasa apa)
“nahan helm ya?”
“iya mungkin :D”

Berlangsunglah cerita seru salto di jalan pakem siang kemarin di selasar Jetsu (Jabal Tsur). Yah, jurus ketidaksadaran telah dikeluarkan untuk mencium ekor mobil absurd (karena nggak jelas nabrak mobil apa, warna apa, plat nomer berapa -___-). Akhirnya tangan kiri dan kanan saya kembali dihiasi dengan nuansa ‘pink’ penuh sensasi ketika tersentuh air :D

Oh Allah, cantik sekali kejadian ini. Field Trip kali ini terhiasi dengan suasana mengharu biru. Bukan karena saya menggelinding di jalan, tapi merasakan tsunami caring yang luar biasa :’)
Beberapa detik sebelum kejadian saya rasa masih “on” dengan diri saya sendiri. Bahkan masih sempat memikirkan suatu hal namun entahlah lupa. Nah, takdinyana, beberapa detik kemudian dikejutkan dengan suara benturan keras. 

“Innalillahi...”

Saya merasakan beberapa kali benturan di kepala, kaki saya tertindih motor dan tangan tertindih badan. Rasanya berat untuk bangkit, namun secara kesadaran bisalah dikatakan composmentis.
---“Oh aku jatuh ya...(hehe) tangan kananku...? (dulu sempat patah tulang)... insyaAllah nggak papa, tadi nggak buat menopang :) tunggu dulu, masih belum sadar penuh dan terasa berat”----
(ini jawaban kenapa saya tak langsung bangkit ketika itu)

Sementara riuhnya jalan mengkhawatirkan posisi saya sebagai korban yang tak kunjung berdiri. -mungkin dikira pingsan-.

Dengan bantuan Mei, “fa, bisa berdiri?”

Keadaan saya masih shock, hanya menahan ada suatu yang memberatkan di kepala. Barangkali karena tas, helm dan motor yang masih sama-sama tersentuh di badan. Akhirnya mampu duduk, dengan tetap tak sanggup bersuara. Tertunduk kemudian, lalu teman-teman menyarankan agar kaki diluruskan.

“Kaki lurusin fa.. “
“Ke pinggir aja, ke pinggir....”
“fa, bisa berdiri?”

Dengan sedikit dibantu oleh salah satu teman, akhirnya saya terduduk di bahu jalan dengan kebanjiran care dari teman-teman PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan), atau bahkan tsunami caring kali ya. :D

“fa, mana yang sakit?”
“hm? Paling ini sih, sama bagian sini... (sedikit menahan)”
“Bentar ya fa... disiram dulu pakai air, biar kotorannya hilang...”
“iya Mei...”
“tahan ya fa...” tambah Ayu

Sementara saya masih berusaha menstabilkan shock dan tak tahu bagaimana bisa terjadi, sedikit banyak tergelitik dengan seruan teman-teman.

“Fa, ke rumah sakit dulu aja ya?”
“Hm? Mm.. bentar deh, coba istirahat dulu... (saya belum merasa tenang)”
“Fa, ke Grasia nggak papa?”
“(haha) :D ke Ghrasia...?”
Kemudian melihat dua sosok polisi datang menghampiri dan menanyakan keadaan saya.
“Gimana mbak tadi kejadiannya”
“Nggak tahu saya pak :D” jawab saya dengan entengnya
“Oh.. terus bagaimana keadaanya?”
“Nggak papa kok pak :)”
“Oh ya sudah kalau nggak papa.. di bawa ke tempat yang teduh..”

Rasanya masih ingin bertanya kepada diri sendiri, “kok bisa ya? Nggak sadar, tadi gimana bisa terjadi?”

“Ngantuk apa gimana sih fa?” tanya adis -yang saya bonceng- dengan spontan.

Saya tidak menjawab karena sedikit tidak fokus, akan tetapi seolah-olah saya menemukan kata kunci yang dahsyat, yah, sebelumnya saya sempat NGANTUK. Oh tidaaak... jangan-jangan saya tak tersadar karena sudah di alam lain sebelum jurus salto misterius itu terjadi -__-

“Mana fa yang sakit, coba dilihat..”
“Ulfa bisa duduk?”
“Minum dulu Fa..”
“Ulfa ke Puskesmas dulu aja po?”
Ayu masih dengan senyumnya mengurusi keadaan saya.
Dan yang lain terpikir bagaimana mobilisasi saya selanjutnya...
“Fa, kamu tak boncengin aja po?” Ternyata ada Agus juga di sini
“Kamu tak anter aja fa, mau lanjut atau ke rumah sakit?” Andre menawarkan solusi
“Udah Ulfa sama aku aja, biar nanti yang nungguin nggak papa..” Solusi bijak yang tersepakati muncul dari sohib sekaligus penasehat bagi saya, mbak Adin :D

-Percakapan ini mungkin redaksinya tidak persis, hanya gambaran umum seingat saya-

Entahlah, siapa saja yang ada pada waktu itu, banyak tangan-tangan malaikat dari calon garda pelayanan kesehatan terdepan untuk masyarakat kelak. Saya merasakan tsunami caring yang luar biasa dari temen-temen PSIK 2010. 

Banyak wajah-wajah yang saya saksikan ketika itu, adin-andre-muss-ayu-mei-nana-agus-angga-adis dan semua temen-temen PSIK yang sayang sekali saya tak dapat mendikte satu per satu saat itu karena keterbatasan fokus.

Ending point dari kisah ini pada saat saya dibawa ke RS Panti Nugroho Jl. Kaliurang KM 17. Sedikit lama saya ditangani di UGD -mungkin karena prioritas penanganan- ini. Justru dalam penantian ini ruang kontemplasi saya mulai terpancing. Pagi ini begitu unik, keterlambatan 15 menit di tutorial masih saja membuat saya tersenyum meskipun mendegradasi angka 92, 94 menjadi batas garis 75. Allah selalu punya cara untuk menyegarkan hati hamba-Nya dengan matematis alam, dari hanya sekedar eksakta logika. Wallahu'alam, feedback  maladaptif terhadap diri sendiri untuk melihat senyum sohib terdekat sebelumnya malah lebih saya sukai meski menyusutkan angka-angka menggiurkan itu. Hanya saja saya yang harus mengatur komponen fikriyah agar tak terkungkung dalam sesal yang juga absurd.

Lukisan kecantikan yang tergores pagi itu pula...

Oh Allah... :')
Saya sempat berdo'a sebelum tidur di motor. Mungkin sebagian orang berkata bahwa ini konyol. Tapi ilmu ini saya dapat dari sebuah dauroh.
Kesimpulan praktis yang bermakna saya resume dari nasihat seorang trainer, "Ketika bepergian dengan kendaraan, bacalah do'a bepergian dan do'a mau tidur. Karena jika kita nanti ngantuk di jalan, kemudian Allah berkehendak mencabut nyawa kita saat itu, entah dengan kecelakaan atau hal yang tidak kita sadari, setidaknya kita meninggal dalam keadaan baik, husnul khatimah..."
"Mbak adin, aku sempat baca do'a mau tidur di jalan tadi sepertinya... :') Ilmu waktu dauroh.."
":)"
"Qadarullah..."

Jika qadarullah saya memang harus kecelakaan saat itu, menidurkan adalah cara termanis yang Allah ulurkan agar saya cukup merasakan layaknya jatuh dari kasur. Betapa nikmatnya :)
Pantas saja seorang dengan ringan tersenyum saat ajal menyapa, padahal sakitnya tergambar begitu menggetarkan. Pasti hati, raga dan fikriyahnya sangat banyak tersayat demi kecintaan-Nya. Sedangkan merasakan terseok di jalan saat tak sadar, dan dalam keaadaan masih ada wudhu saja seperti tersiram kesegaran dari kemurahan-Nya. Selalu ada rasa untuk sedekah ringan yang merekah, senyum penuh menelisik segala hikmah kehidupan.

Setelah perawat datang, seperti pada umumnya -yang juga kami praktekkan-, menikmati cek nadi, tekanan darah, pernafasan, dan alhamdulillah normal. Kalau dilihat masih sedikit takikardi mungkin. Dilanjutkan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan penanganan luka oleh suster yang lain.

Di UGD tersebut saya merasa senang karena ada peluang untuk berkontlemplasi. Mulai dari rona peristiwa yang sarat hikmah hingga menerawang keprofesian ini lebih dalam, meresapi keanggunan niatan setiap pelakunya, dan harapan masyarakat luas untuk keberadaan profesi kami.

Ya, saya merasakan bagaimana kehadiran perawat sangat dinanti oleh pasien. Bahkan senyum dan pertanyaan secuilpun akan sangat berharga untuk menambal hati harap cemas pada pasien. Belum lagi keramah-tamahan, sentuhan tulus dan nasihat teduh yang terlukis. Wah, ini saja yang dari tadi menunggu sedikit lama. Kalau saya membayangkan banyak pasien ditangani seperti halnya teman-teman memperlakukan saya tadi,  barangkali tidak akan banyak pasien yang bertahan dengan sakitnya dan penuh semangat untuk sembuh.

Terima kasih malaikat-malaikat salto absurd Ulfa, terima kasih atas tsunami caring yang membanjiri di terik siangnya... Semoga kelak kita akan menjadi pionir perubahan sistem kesehatan di negeri ini, dengan ketulusan yang jujur di hadapan-Nya, dan segenap ikhtiar yang teroptimalkan dari sekarang. Saya masih tak ada apa-apanya dibandingkan kalian semua, yang masih belum banyak berpeluh seperti apa yang kalian suguhkan demi perubahan yang terbaik nantinya. Saling mengingatkan ya, maaf atas segala khilaf. Terkadang saya terusik dengan ketidakmampuan mengungkapkan rasa sayang kepada kalian, calon perawat yang hebat.. Semoga Allah membalas dengan segala hal yang lebih baik... :’) Aamiin Ya Rabb...

NB : Pelajaran kali ini, jangan sok kuat bisa nyetir motor saat ngantuk menyerang. Akui kelemahan dan jangan menunggu salto di jalan :)

Gedung Radio Poetro FK UGM
Selasa, 2 April 2013
10 : 29 a.m
_Menikmati kekakuan badan dengan memar-memar yang mengharukan :D_

Masih Terlena Menikmati Tidur?

from here


Kalkulasi waktu yang sederhana ini cukuplah membuat saya merenung. Jika kita sering mendengar kata, “Kewajiban kita itu lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”, kali ini mencoba melakukan kalkulasi waktu sederhana. Membuat geleng-geleng dan menghela nafas :)

Saat dengan lantang seseorang menegaskan idealnya seorang muslim dengan beberapa syarat ideal, coba kita hitung jika syarat ideal itu kita masukkan ke dalam list mutabaah yaumiyah/targetan harian kita :

_ini untuk kondisi aktivitas saya_

Waktu 1 hari = 24 jam
Kuliah (rata-rata dari jam 08.00-15.00)                    = 7 jam
Jam DS (dari jam 18.00-21.00 + 04.00-06.00)        =  5 jam
Belajar materi kuliah *                                              = 2 jam
Membaca buku diluar materi kuliah *                        = 2 jam
Menulis                *                                                   = 1 jam
Tilawah (idealnya minim 1 juz/hr) *                            = 1 jam
Sholat (30 menit x 5) *                                              = 2,5 jam
Kebutuhan pribadi (mandi, makan, dll)  *                   = 0,5 jam

Note : * idealnya minimal
TOTAL = 21 jam
SISA = 3 jam

Ini belum dimasukkan agenda rapat, syuro, ada acara makan bareng, servis motor, servis laptop, tambal ban yang bocor di jalan, dengerin temen curhat, ada jadwal pengganti kuliah, ngerjain tugas kuliah lain, ngerjain skripsi, kumpul kelompok PKM, hadir di undangan walimahan, beli sayuran di warung, datang di majelis ilmu luar asrama, perjalanan johja-solo, nyuci baju, piket asrama, de el el.. eh, semua bisa saja, dan sangat mungkin terjadi.

Sedangkan, IDEAL nya, segala urusan yang terlist di atas terpenuhi dulu, itu kebutuhan pribadi sebelum bergerak untuk mengurusi hal yang lebih besar di luar diri kita.

Wallahu’alam, manusia setidaknya merencanakan, tapi segala yang ideal itu milik Allah. Focus point yang ditekankan disini adalah, yang terpenting kita mencatatkan dalam benak kita ikhtiar ideal yang kita mampu untuk dapat disebut hamba ideal dalam list kecintaan-Nya. Supaya nanti kita dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya di dunia untuk bekal akhirat.

Ada SMS masuk dari si sholihah saat saya lagi nyuci tengah malam di lantai 3 DS ketika itu :)

Semangat ulfa!..Dahulukan memperbaiki urusan dg Nya..I.Allah..urusan lain..otomatis,,meski kadang....tanpa logika..Mencintaimu-

Rasanya dalam ruh-ruh seperti ini memang tak terbersit untuk terlena menikmati tidur, mencabut lelah di pelupuk mata, dan ingin terus bergerak banyak membereskan segala urusan kanan kiri dan diri sendiri dengan segera.

Tapi malam Ahad, 23 Maret 2013 ketika itu saya gagal (kembali) untuk tidak tidur. #aksi sok-sokan :D
Tertidur jam setengah empatan (sepertinya) sampai subuh. Tapi bahagia rasanyaa :))

Ya, menjadikan bahagia yang sederhana, ketika bisa banyak berpeluh di malam hari (biidznillah) saat -mungkin- yang lain terlenakan.

Herannya, di asrama ini selalu ada saja kehidupan di setiap waktunya. Mau bangun jam berapa? InsyaAllah ada orang yang terjaga. Bersyukur, karena menjadikan kita tidak ada setitik kebanggan satupun, karena masing-masing sekeliling yang ada senantiasa mengabdikan diri dalam berfastabiqul khairat..

Quotes penguat lain yang terus melatih keimanan saat ini adalah :

“Barangsiapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”(HR.Tirmidzi)

23 : 36 p.m
Selasa, 25032013
_al haqqu mirrabbik_ :)

Dzikrul Maut


Beberapa waktu yang lalu sempat saya berpikir, “Ini kenapa pikiran saya hanya sekelumit urusan lembaga, urusan pendek-pendek, singka-singkat, hal duniawi dan segala hal yang pencapaiannya cukup stagnan achievement dunia semata?” Ya memang InsyaAllah niatan dari awalnya bukan hanya semata-mata hal yang sepragmatis itu. Tapi rasanya otak saya cukup dipadatkan dengan sekelumit hal ini. Raga ini sudah mulai terpanting untuk mengurusi segala benang-benang yang menjerat untuk diluruskan kembali tentang hal ini. Alarm hati sudah mulai mengindikasikan kekeringan...

Allah... kapan saya ingat mati? Kapan saya memikirkan bekal yang lebih banyak lagi?

Bukankah kematian itu dekat? Bukankah saya harus waspada setiap saat?
Bukankah hati saya harus selalu dalam basahnya dzikrullah? Bukankah nafas kita selamanya tak boleh terlepas dari ingatan pada Sang Pemilik Nyawa?

Belum tentu saya bisa hidup sampai titik dimana segala blueprint yang tersusun telah tercapai.
Belum tentu keinginan saya dan segala hal yang menjadi cita-cita sekarang untuk masa depan mampu mendahului ajal. Walaupun saya sangat mendambakan seorang anak yang sholih dan sholihah, yang menjadi tabungan binaan untuk negeri ini, yang menjadi aset dan investasi jariyah kelak. Namun siapa tahu? Siapa yang tahu apakah sampai melahirkan mujahid-mujahidah saya diberi jatah hidup? Siapa yang tahu? Allah... Allah yang tahu, dan hanya Allah...

Sedangkan, setiap waktu yang tercurah sekarang, nafas yang setiap nol koma sekian detik terhembus ini belumlah selamanya terekam ketenangan dalam dzikrullah. Masih harus terpantik untuk dzikrul maut. Hafalan masih ecek-ecek, murojaah terputus-putus, amalan masih banyak yang luput, hati masih harus banyak diistighfarin, taubat masih kalau inget, tilawah masih kejar-kejaran target, dan lain lainnya yang diri sendiri harus banyak memohon untuk lebih dikuatkan kembali.

Yang saya tahu, seorang hamba yang mencinta adalah yang setiap pikiran, jiwa dan hatinya terselimuti dalam ketenangan bersama-Nya, setiap saat, setiap peristiwa dan dalam kondisi apapun.
Hanya merenungi suatu peristiwa yang pernah saya alami ketika itu, yang barangkali cukup menjadi perenungan bagi saya, bagi siapapun yang ada...

Inikah yang dimaksud belum siap iman? Yang dimaksud belum siap mati? Kalau ketika itu saya sempat hampir tenggelam di kolam renang kedalaman sekitar 2,5 meter, lalu merasakan begitu sulit untuk mengingat Allah, membatin dalam hati kalimat tahlil, tahmid, dan tasbih? Suliit.. atau bahkan sulit terbayang. Yang dirasa sepertinya telah cukup berteriak tolong dan melambaikan tangan dengan sekuat tenga, namun ternyata tak cukup didengar oleh orang sekitar. Dengan begitu sayangnya Allah kepada saya, entah bagaimana saya bisa dengan sendirinya terselamatkan lalu mengabarkan ke saudara yang ada saat itu bahwa saya sempat hampir sungguh-sungguh tenggelam.

Betapa nafas ini tak layak untuk terhembus tanpa ingatan penuh pada-Mu ya Rabb.. Kuatkan kami, istiqomahkan kami dalam mencintai-Mu sampai husnul khatimah...

Karena kami tak tahu menahu kapan jatah waktu malaikat izrail Engkau jadwalkan menemui wajah kami... T.T

_Refleksi amalan dan kesiapan diri untuk ruh dan jasad atas berita meninggalnya mahasiswi UGM yang se usia, teringat atas meninggalnya mahasiswi UNDIP saat acara FULDFK, cerita kawan atas meninggalnya teman satu kos di kamar depannya, dan segala hal yang terbayang saat ini_

Bergetar, bermuhasabah, berharap istiqamah hingga ujung husnul khatimah :’)

_Dzikrul maut pra ujian blok, berpeluh untuk akhirat, terpompa nadi-nadi juang amalan_

21 : 54 p.m
Kamis, 21032013
JT2, Rumah Cahaya pasca Kelas Tahsin

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..