"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label Mata Cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mata Cahaya. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pinta

H : Trs kenapa si X pengen balikan lagi sama Y?
U : Uhm.. Ga tahu, mungkin dia sdh mulai merasa kehilangan.

Ia tampak berpikir, menghela nafas, lalu melanjutkan perbincangan.

H : Laki-laki itu fitrahnya memang bosenan. Dalam hal apapun. Misal saat dia suka dengan mobil X, lambat laun dia bakal bosen, ganti lagi ke mobil Y. Ya memang begitu fitrahnya bosenan.

Aku memandangnya..
Jika sudah fitrah, artinya, sebuah keniscayaan akan kamu alami, bukan? :"

H : Tapi masak iya itu akan dilakukan dalam sebuah pernikahan? Terus apa gunanya syariat? Ya kalau dalam sebuah pernikahan ga bisa seperti itu..

Sepertinya ia sedikit menggeleng.
Aku lega dengan closingnya.

H : Semoga Allah berikan ia hidayah.
U : Aamiin :)

Bincang sederhana soal sekelumit kasus sebuah rumah tangga, oleh sepasang suami istri newbie yg penuh harap dalam penjagaan-Nya.

Ya Rabb, jika ada sekian banyak skenario yg Engkau takdirkan dan ketahui dalam sebuah kehidupan berumah tangga, izinkan kami menjadi salah satu pembelajar di dalamnya, yg Engkau tunjukkan apa-apa yang mendekatkan bekal untuk akhirat kami ke depannya. Lalu bimbing kami dalam alpa, lapangkan kami dalam maaf lagi memaafkan, ringankan kami dalam memulai amal-amal kebaikan lagi semakin baik di dalamnya.

Jadikan kami insan yang makin saling mencinta, dan Engkau limpahkan semakin banyak pandangan2 baik nan indah antar kami.. Yang Engkau lindungi masing2 kelemahan kami dgn kelebihan dari sisi yang Engkau karuniakan.

Ya Allah, Rabbi. Jika Engkau izinkan kami meminta, jatuh cintakan kami berulang dan sering kali pada hamba-Mu yang sama.
Aku pada Ia suamiku, dan
Ia, suamiku kepadaku.

Kenapa, Ibu?

Aku baru sadar bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan lazim yang alamiyah terlontar dari lisan seorang anak gadis kepada Ibunya.

Seperti ketika itu, sebelum sholat berjama’ah di rumah dimulai. Seresah hati, seserasa itu pertanyaan yang harus turut aku klarifikasi.

Aku tertunduk, lalu memandang beliau di samping serasa tertuntun melisankan, “Ibu, kenapa dulu mau nikah sama Bapak?” Masih memandangnya setengah menanti jawaban.

Beliau memandangku seraya menjawab, “Ya panggilan hati..”

Terdengar adekku di ruang makan yang sedikit merespon jawaban Ibu, tapi aku tak peduli.

“Panggilan hati..” gumamku sembari mengalihkan pandangan ke depan gambar ka’bah.

“Ya Bapak agamanya bagus, orangnya sabar, sholatnya khusyu..” Ibu menguatkan alasannya.

“Lah, gimana bisa tau?” Masih saja aku penasaran seolah cari celah yang cukup meyakinkan.

“Ya kan dulu ngajarnya bareng.”

Tak lama Bapak datang, duduk di kursi, lalu sholat dimulai.


Panggilan Hati…

Lalu, bagaimana rasanya saat Allah karuniakan panggilan hati itu, Bu? Di Ulfa.

Skh, 17102016
06.49 p.m


Cinta dan Alasan

Aku yakin, karena cinta selalu butuh alasan.

Termasuk dalam detail hal yang harus kamu tahu tentang ia, yang ingin kamu cintai.

Bukankah cinta itu salah satu bentuk rizki?
Maka dengannya butuh ikhtiar penjemputan tersendiri.
Termasuk bagaimana memunculkan segala bentuk kelapangan diri dan cahaya hati, agar setiap kebaikan menjadi alasan yang layak untuk kita lebih mudah mencintai.

Alasan yang layak disaksikan Allah sebagai cinta yang terlegalisasi atas-Nya. 

Rumit?
Sederhana. Cinta memang butuh alasan.

04/02/2016
1:08 a.m

Ukhuwah. Cinta. Pernikahan

Ukhuwah memang sesederhana cinta. Tapi pernikahan tidaklah sesederhana pengejawantahan atas nama cinta.

#AkumulasiKontemplasi

3/2/2016

Dapat Penawar Futur


Lagi seneng sama Bu Dewi. Sukaaa deh. Peri bangeet.
Sama juga kayak sahabat terbaik yang lain. Setiap kali ngobrol sering kali Allah turunkan keringanan untuk muncul endorphin. Jadi sukaa gitu senyum denger ceritanyaaa. Ah Ibu, idaman bangeeet.

Alhamdulillah, malam ini direlain, diringan-ringanin buat berangkat ke Rumah Sakit yang sebenarnya sedang turun jaga. Konsultasi sekitar jam 20.00 dan berakhir hampir jam 21.00 an. Alhamdulillah, jadi mikir hal yang bermanfaat lagi ini otak. Setelah beberapa waktu cukup sirkumtansial.

Qadarullahnya, Allah mempertemukan saya dengan Bu Dewi yang beliau begitu telaten membimbing stase manajemen kami. Ceritanya saya dapet bagian pembuatan SPO (Standar Prosedur Operasional) tindakan-tindakan keperawatan di bangsal THT dan Bedah Mulut RS Sardjito. Walhasil, setelah usai konsultasi sukalah saya kalau disuruh denger cerita inspiring gitu. Singkatnya, beliau yang lulusan Vokasi dan diamanahkan sebagai seroang ketua KFK (Semacam ketua penyusun beberapa draft SPO/SAK Rumah Sakit berdasarkan kategori keilmuwan yang khusus, duuuh lupaaa kepanjangannyaah) gitu cukup menjadi hal baru dan membuat beliau denial. Secara untuk keilmuwan Vokasional pastinya tidak lebih mendalam dibandingkan dengan S1. Namun penyusunan draft tersebut merupakan kinerja-kinerja teoritis banget. Alhasil beliau merupakan anggota tim termuda, dengan background pendidikan vokasional dan yang lain (mungkin) mayoritas S1. Terlebih pula beliau masih dalam posisi belum pegawai tetap/THL (Tenaga Harian Lepas. CMIIW)

Oooh maan, itu mirip-mirip dikit sama posisi saya di kadep media dulu :D berasa senasib Ibuu. Meski nggak segitunya siih. Yah, sama-sama harus belajar banyak gitu, kalau saya belajar dari awal bingits. Alasannya pun ya agak-agak mirip, karena nggak ada yang mau. Haha, entahlah, mirip atau samaa karena nggak ada yang lain. Yang jelas hal tersebut membuat beliau kuat, makin tangguh, dan makin berenergi buat belajar. Ah, seneng deh belajar dan dibimbing oleh Ibu. Udah murah senyum, telaten, rajin, baik, bersahabat, lembut yang tetap berkarakter.
Jadi pengen belajar juga, jadi orang yang berdedikasi dan lapang banget menerima masukaaan. Zzz, gregetan :D
*Saya berharap Ibu Dewi nggak baca tulisan di blog saya bagian postingan ini. Hehe

Semoga Allah kuatkan ya Ibu, In syaa Allah Ulfa ikhtiar buat bantuin Ibu dan belajar sama Ibu sepenuhnya. Nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih, buat mengerjakan yang terbaik buat bantuin Ibu, buat RS Sardjito. *cieeh

Stase manajemen kayak stase dewa, aduh berlebihan mungkin yak (keikut istilah yang sering di denger sih). Tapi Alhamdulillah jadi belajar berhubungan dan belajar dengan orang-orang penting di Sardjito. Dan awesomenyaaah, nyusun standar tindakan keperawatan buat bangsal buat dibukuiiin. Berasa expert -__- yang aaamiiin, semoga terus berbenah makin baik dan makin beneran expert.

Jadi sukaaa, karena jadi inget jaman-jaman semangat lomba, buat nyusun something new or innovation that make easier to others. Sukaa, karena musti nyari gimana caranya nyusun, dimana referensinya, mana aja yang dimasukin. *Padahal sebenernya dalam hati berkecamuk (aaaak. Gimana ini??? :D)
Semoga Allah mudahkan dan ringankan kerjanya. Aamiin

Finally, I’m fine :) Alhamdulillah..

Setelah beberapa saat pikiran sirkumtansial soal beberapa hal. Cenderung butuh asupan biar semangat. Alhamdulillah berkah waktu 1 jam konsultasi barusan membuahkan hasil. Utamanya soal kondisi ruh diri.

Yang jelas hal yang senantiasa terekam sebelum berangkat adalah, saat-saat dimana saya sesekali menjawab pertanyaan soal tips mengatasi semangat yang fluktuatif atau kondisi ruh yang futur. Baik saat ngisi acara kecil-kecilan maupun curhatan antar teman.

“Semangat kan naik turun ya, Kak. Kadang kala kita futur. Gimana cara kakak mengatasi futur?”

Futur is masa depan dek. Eh, future yak :P

Heheh, jadi kalo sampai detik ini masih ada pertanyaan gitu, saya gini jawabnya :

“Bergerak aja terus. Jangan berputus asa atas rahmat Allah. Bergerak terus sampai lelah itu lelah mengejarmu. Hidayah itu dijemput. Termasuk kondisi diri yang sedang bersemangat, itu merupakan rahmat Allah. Cara biar Allah karuniakan Rahmat-Nya? Banyak-banyak amal shalih :)”

Merupakan saripati dari sebuah hadits, “Bersemangatlah atas apa-apa yang terbaik bagimu, mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim

Alhamdulillah, meski 1 jam, dengan kondisi sebelumnya yang harus mendorong gerakan raga, Allah tumbuhkan ruh yang baik, jiwa yang bersemangat, kan?
_Mari Berkarya _

10 : 25
04012016
@GoBST !

Reference :
https://rumaysho.com/265-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat.html

Terminasi Adek Terbaik 1


Ia duduk di kursi tengah, tepat di sampingku.


"Tadi bangun jam berapa?" Tanyaku sambil memiringkan sandaran kepala. Sudah senja, cahaya di dalam mobil sudah mulai remang kegelapan.


"Jam setengah 6" Jawabnya masih sambil bersandar di kursi menatap ke depan.

"Sekarang waktu syuruk setengah 6. Tanda bahwa matahari sudah mulai terbit" Jelasku, masih sambil menatapnya.

Seperti biasa, nampak mimiknya tetap bertahan yang dulu-dulu, selalu itu yang dinasehatkan.

"Aku hari ini bangun telat, jam 4 baru bangun.. Harusnya sebelum subuh" sekilas aku lihat bibirnya tertahan, entahlah..

"Habis itu ikut kajian habis subuh, terus basket sama temen, pulang nyuci baju, berangkat jaga, selesai setengah 3, beres-beres, terus langsung balik"

Ia mengangguk beberapa kali, dengan ekspresi senyum tahanan bibir seraya berkata, "siip.. kuat, strong"

"Habis bangun setengah 6 tidur lagi?"

"Bangun lagi jam 6"

Tampaknya fisikku mulai lelah, hingga tak banyak merespon percakapan kala itu.. Hanya sekilas lalu hingga mendengar "Terus bangun lagi jam 10"

Kemudian terbersit dalam do'a, semoga kamu lebih baik dek. Mungkin ini masih dalam jalan proses menjadi baik. Terlalu akselerasi jika aku tautkan dengan kelak kau akan jadi imam. 

Lagi pula aku percaya di barak setidaknya kamu terbiasa bangun lebih pagi lagi.
Malam tadi hampir terlupa, aku tidur jam 1 dini hari karena keasikan baca-baca. 

Sebenernya ruh masih tumbuh, namun tersadar baru setelah nampak tak kuasa dan tak secerah suasana sebelumnya di percakapan sore ini, saat nganter kepulangan adek ke Jakarta, Tangerang sih tepatnya.


Sebenarnya muncul pula rasa 'gimana' karena bakal kembali lama tak bersua.

Kamu libur lagi kapan ya dek?


Seingetku libur lebaran. Sepertinya kita bakalan.udah sama-sama diwisuda. Aamiin, in syaa Allah.

Fii amanillah,  sholih :)

Makasih looh pekan lalu, yang udah nawarin mau kemana besok saat aku baru aja dijemput di stasiun, udah terdepan.bayarin tiket ke air terjun, jadi fotografer sukarela, bolak-balik jadi sopir sampe mobil mogok dan meski aku musti dorong -__-, dan masih nganter stasiun sorenya. Terbaik.


Baru nyadar bertiga pada kompak biru :D

21:07 pm
02012016

@BaitiJannati



Cinta itu Fluktuatif

Bismillah..

Alhamdulillah jika cinta itu fluktuatif,
Karena sebanding dengan istiqomah yang jelas berpahala secara kualitatif.

Alhamdulillah :)

9:21 p.m
30122015

Suara Kecil Praktikan Junior

2 pekan lebih terlampaui di stase keperawatan jiwa.

Maka dengan alamiahnya peristiwa ditendang pasien, dicium tangannya, disembur susu waktu nyuapin menjadi cermin masih banyaknya kerja-kerja alamiah di muka bumi.
Kerja alamiah yang berasas kemanusiaan. Yang tak akan terpikir memakan harta orang. Mana ada celah? Jika ada pun kebangetan punya naluri luhur sang manusia.

Sekali-kali visit ke RSJ atau bangsal perawatan yang merakyat juga boleh Pak, Bu :)

Ah, Bapak dan Ibu mah yang dipilih Allah untuk kami pastinya. Kami hanya ingin berbagi rasa syukur, yang sering kami rasakan sebagai praktikan junior. Supaya Bapak, Ibu sekalian makin semangat bekerja untuk rakyat. Karena setiap bilangan individu pasti meniriskan rasa harap, untuk kualitas setiap sector kehidupan.

Ada secercah keinginan perbaikan kualitas hidup, pasitinya, pada mereka, yang dapat diperjuangkan dengan peningkatan penjaminan kesehatan yang optimal untuk setiap individu di masyarakat dari segala golongan.


#SpontanPikir

Pesan sang Guru

Suatu Kamis malam selepas Isya,

"Dalam suatu pertemuan saya pernah mengatakan, saya ingin kalian semua berjanji atas nama Allah, bahwa dari rahim kalian akan lahir anak-anak yang akan menjadi bagian dari pewaris dakwah Rasulullah.." 

Tidak tahu bagaimana persis mimik wajah guru kami, saat itu. Tatapanku lurus, nampak kosong dalam tembusan alam pikir.

Di tengah wajah tunduk duha kala itu, nasihat itu terlintas dan menggemuruh. Aku menghela nafas.
Ia begitu menyayangi kami, kami berhutang banyak dengan agama ini.

12122015
5 : 27 p.m

Terminasi sahabat terbaik

“Ke DS kan pekan depan? Soalnya Ulfa ke Banyumas pekan depan, jadi ya pas lah.”
Mendongak wajahnya ke arahku, terkejut nampaknya
“hah? Kapan?”
“mi minggu depan :)”
“berapa lama?”
“Satu minggu. Itu udah waktu paling pendek diantara stase yang lain :)”
Ia spontan menempelkan tangannya ke dada,
“kok aku merasa kehilangan tiba-tiba. Yaudah aku segera ke DS biar nggak kesepian nggak ada Ulfa” tampak senyum sedih keterpaksaan
“ :’) aku jugaa kookk..”
“Nanti nggak papa ya kalo sering aku telfon”
“iyaaa :’) dengan senang hati”
-sesekali pun sebenarnya merasakan hal yang sama, bahkan saat cuma ditinggal ke kantor-
Semoga rindu kita, rindu-rindu yang terpaut ke jannah.

Sebulan berlalu, tampak seperti akumulasi perkuliahan beberapa tahun kedekatan dengan sahabat terbaik.
Hanya terkadang saat hari itu semakin dekat, apakah aku masih berkesempatan berkhidmat dengan hikmah atas kebersamaan denganmu, yang bukan hanya secara virtual?
Sedih, tapi aku berdo’a untuk yang terbaik atas kalian. Aku bahagia, sungguh.
Saling member syafaat ya, kelak :)

11122015

12:59 p.m

Tafaqquh Fiddin

Masyaa Allah. Sedang spontan-spontan terbersit.

Kadang sepintas gemuruh untuk tafaqquh fiddin mengalami ekskalasi.
Melihat, merasakan, merasuklah perlahan kegigihan imam syafi'i, perjuangan imam ahmad, dan kewibawaan ilmu dari seorang imam maliki. Baru sebatas itu, dari yang hidup ribuan tahun setelah beliau.

Masyaa Allah. Sedang spontan-spontan terbersit.
Kadang gemuruh untuk tafaqquh fiddin mengalami ekskalasi.
Saat Allah merahmati, menyelami ilmu fiqh. meskipun masih mubtadiin.
Sedih. banyak nuansa ibadah yang masih kosong. Banyak amalan yang masih meraba ilmunya. Saat sadar ikhtiar ketidaktahuan di masa lampau tak terimbangi dengan gigihnya mencari dan mencari, hingga mantap terus terpatri.

tafaqquh fiddin terus berekskalasi, saat ruh ekspansi di luar diri melambai dan meninggi.
Di luar sana, terus berkembang, menumbuh ke negeri seberang.
Tapi aku tak ingin, sungguh, tidak ya Rabb. Sebelum Engkau mengizinkan, aku sanggup memikulnya, aku kuat mengembannya, sarat keberkahan dan manfaat.

Semoga tafaqquh fiddin terus berekskalasi, agar bersemayam rasa-rasa bodohnya diri.
Agar aku ya Rabb, semakin dekat dengan-Mu untuk memohon. Agar aku ya Rabb, semakin rindu mendekati-Mu.

Inspired by QS At Taubah : 122
17112014
16:26

Kembali menyelami Hasil dan Pembahasan
Bismillah, berkah :)

Buku Biografi 4 Imam Mazhab
from here

Kitab Fiqih Kehidupan
from here

Kehidupan yang Sempat Hilang

“emaaak... “
Gerubuk.. dua bocil mungil nan dewasa dan shalihat mengerubung.
“apaa? Emak gue..”
Lalu mereka saling sinis.
“kan panggilannya beda-beda, satunya emak, satunyaaa... apa mah? Hehe”
-------
“pinjem pensil” senyum merekah
“iya pake aja” balas senyum
“itu senjata ‘ammah”
“iya mah, aku juga pake ini kalo ngafal. Nggak tahu kenapa ya.” Sedari tadi memang buletin beberapa similar kata di QS Al Baqarah
“yaudah beli aja”
“iya ni, kok enak pensilnya”
--------
“wannajmi idzaa hawa.. maa dholla shaahibukum wamaa ghawaa.. wamaa yantiqu ‘anil hawa.. in huwa illaa wahyuyyuhaa.. iya kan mah? :D” menirukan saat yang duduk di depan setoran
“Uhm.. iyaa.. iyaa.. :D” sahutnya sembari acting mikir
“kenapa mah manggil-manggil?”
“nggak papa, kangen aja :D”

Malam ini alhamdulillah, Allah berkahi waktu kami (lagi) untuk syuro. Masyaa Allah, berkah. Efektif menurut kaca mata kami. Tentunya berimbang dengan ikhtiar beberapa dari teman-teman yang mempersiapkan bahasan dengan matang. Tepat selesai sesuai prioritas bahasan, 3 dari 7 list to discuss. Jam 10 kholas-kholas.red- (selesai).

Bahagia, Allah.. terima kasih. Tadzkirah yang begitu jitu sedari tadi siang. Beralur, lembut, menusuk dan membuncahkan energi (lagi). Beberapa penggalan humanis malam ini terekam dengan penuh syukur.

Ummiya menyisipkan dinamika syuro dengan penggalan suplemen.

“ammah udah tahu kitab Al Muwwatha’?”
“Beluuum miii...”  spontan seruan kompak
“Ya, ummi ambilin yaa...”

Lalu kitab itu dikelilingkan diantara kami.

“Udah, pengang aja, sambil dibuka, terus bergeser”

Beragam ekspresi diantara kami, ada yang kemudian mencium, memeluk, berdecak ingin sanggup membacanya, dan ada yang monolong, “mari kita mulakan majelis ini dengan...” sambil membuka kitab lalu teriring renyah tawa yang lain. “aamiiin....” (berharap kelak mampu mengkaji langsung dari sang ustadz dengan arab gundulnya).
Kemudian Ummi menegaskan maksud mengeluarkan kitab tersebut beserta salah satu buku biografi Imam Malik.

“Makanya naaak, kita masih jauh (Qur’an masih jauh, baca kitab belum bisa *sedih)... Tiga hari itu harus ada targetan (dalam sebuah agenda yang kami rancang). Ketika Ummi baca buku tentang Imam Malik, beliau bilang bahwa nikmat itu harus dinampakkan mah (memotivasi termasuk target qur’an kalau yang saya tangkap). Makanya kalau beliau memakai pakaian yang bagus-bagus. Kalian orang-orang cerdas. Orang bisa kok skripsi sampai selesai, bisa kuliah. Udah, dibuat target mah... Kita ini masih jauh. Kisah di dalam buku ini sudah menjadi cerita menjelang tidurnya Hamas (putra ummi yang terakhir yang duduk di bangku kelas 3 SD). Artinya ammah sudah harus khatam kisah-kisah ini dari sekarang..” seru ummi dengan penuh ekspresi seperti biasanya. *redaksi tidak sama persis

Aaaaah... ummiiii. Plak plak T.T

Alhamdulillah rundown, kontrak kegiatan, jadwal aktivasi syuro sampai terpilihnya korlap oprec DS 9 khalas. Ah, masyaa Allah. Belajar banyak. Amanah memang akan sampai pada pundak yang Allah karuniakan kekuatan. Kuat ruhiyah, kapasitas dan jenjang kesesuaian.

Untuk teman sekamar :

Barakallah ukht, semoga Allah senantiasa memberkahi waktu kita. Semoga Allah memilih kita sebagai hamba yang pantas menikmati peningkatan amal lewat amanah yang Ia karuniakan. Kerja besar ini insyaa Allah menjadi pemberat amal kelak di akhirat. Sangat. Kamu sudah tahu lebih banyak ya. Hehe. Tapi sungguh, aku iri :’) Jiddiyahmu menginspirasi. Ubbudiyyah yang terlihat ringan setiap malamnya, kelapangan, etos kerja, dan segala halnya. Ah, ya Allah, pertemukan kami di syurga.

Aku tahu, mungkin ini pengejawantahan rasa khauf mu di hadapan Allah, “Nggak mau, aku nggak mau jadi imam. Kalo nggak aku mau sholat sendiri aja” spontan aku tertawa lucu

“Nanti kamu bakalan jadi imam di Riau (Kepulauan Riau sebenarnya). Kan persiapan pulang.”
“Itu beda ceritaaa.. pokoknya aku nggak mau..” muka ngambek nggak serius amat
Hingga akhirnya,
“Udah.. nggak usah cari-cari alasan..”
Terlihat berpikir dalam
“ammah mau melanjutkan S2 kan? Bisa sambil persiapan belajar”
“Uhm.. insyaa Allah kalau wisuda februari ya disuruh pulang.. hehe”
“Tuh kan.. karena ada amanah, biar bisa ada alasan untuk tetap disini :D”
“Iya lho mah... nanti kalo di Riau orang-orang yang bakalan ngaji ke kamu.”
“Aah.. yaudahlah.. nggak usah ngomongin itu. Iya, nggak papa.” Ngelus dada
Alhamdulillah... lalu tauris tertulispun tersampaikan.

Barakallah untuk teman sekamar yang guru saya :)

Ya Allah, izinkan kami menjadi hamba yang pandai memperbaiki diri dalam setiap mengemban amanah. Menjadi hamba yang terus meningkatkan kapasitas taqwa dan iman. Menjadikan diri terus ihsan dalam professionalitas dan tanggung jawab.

Pasca syuro

“Subhanallah ya.. ternyata kita satu kamar sama orang hebat. Korlap PSB DS 9 :D”
“Iyaa... korlap PSB DS 9 dan Koordinator Pemandu..”
“Eeeeh.. Koordinator tahsin juga kan ‘ammah...”

Masyaa Allah. Saat Allah turunkan nikmat belajar itu begitu dekat. Dari mereka yang banyak mencurahkan waktunya untuk umat. Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzibaan...

Seringnya menjadi apa kita tidaklah penting. Karena amalan besar mampu rusak karena niat, dan amalan kecil mampu besar karena niat. Karena seringnya amanah bikin galau saat stagnan divacumin alias lama didiemin (kayak skripsi.heheh). Dan itu sakitnya dimana-mana, bukan hanya *disini. Gregetan. Karenanya bekerjalah, supaya Allah saja yang melihat pekerjaan kita :)

Alhamdulillah..

Kehidupan sakinah ini Allah karuniakan kembali. Setelah sekian lama berhibernasi. Bahkan sempat terpikir jadi orang terasing di belahan bumi (lebai sekali).

23 : 26 p.m
Selasa, 04112014
Allahumma shayyiban naafi’an
Hujan turun di Jogja, setelah sekian lama

Menulis

Simple reason yang saya sadari akhir ini -masa dimana tak berhias lagi dunia kampus dan pernik akademik, kecuali cinta (skripsi.red)- hidup menjadi sungguh dinamis setiap waktunya.

Satu hal yang terlewat -setelah mendelete kuota modem atas dasar pengiritan, dan berkutat dengan Sardjito, Kuesoner, Ethical Clearance dan lain hal- yaitu : menulis ternyata menghidupkan !

jadi selama ini kurang hidup?

Akhirnya terpaksa terejawantahkan di note facebook, which is not to satisfied written there. 

Ya, menulis menghidupkan. Menyegarkan. Dan menggairahkan suasana hidup dengan ketetapan-Nya. Menandakan otak berfikir, menikmati, menghayati, dan bahkan bentuk simplenya rasa syukur. 

Meskipun hanya sebuah rasa refleksi hidup dan kehidupan.

*Jazakillah mba Eli, yang sudah menagih :)

Mbak Nggak Harus Tahu

U : "Ni, mbak semakin ngefans kan sama beliau.. tadi habis dapet cerita dari umi Nunung tuh"
M : (dengan gaya uniknya) "eh, enggak.. sekarang aku ngefansnya sama ammah anis :D"
A : "Plis deh, kayak nggak ada yang di atas aja di dunia ini.. :D"
U : " :D "
M : "hehe.. banyak kok yang aku fans. Ulfa juga, aku juga ngefans sama Ulfa. Jadi apa ya istilahnya ya? ngefans---in? :D" (dengan senyum antusias)
U : "apa mbak? ngefansnin?" #asal

Mbak, plis, meskipun aku tahu kalo ini bercanda, tapi Ulfa rasa mbak nggak harus tahu kalo setiap kata-kata mbak seringnya ngaruh banget buat hidup Ulfa. Refleksi dari akhlak mbak aja Ulfa udah ngerasa jauh banget. Allah sayang banget sama mbak :)

ulfa juga, sayang sama mbak.
dengan segala pengejawantahan laku dan sikap.
semoga tetap terus istiqomah karena Allah saja, sebagai bekal bertemu di syurga-Nya :')


semoga menjadi sunnah hasanah saja, biar pahalanya terus ngalir buat mbak.
Allah, sayangi ia, berkahi hidupnya, istiqomahkan ia, cukupkan ia mesra dengan-Mu saja ya Rabb, sudah cukup bahagia itu menjadi ringan terasa.

#quotes

"Jika belajar adalah ibadah maka prestasi adalah dakwah"

*thanks for reminder :)
_may Allah bless u forever_

do'a malam

Malam ini, ya Rabb..
izinkan hamba mengasah kecintaan.
menebus keacuhan.

dan berlatih mendekat dengan-Mu,
dengan ilmu tentang sekilas bahasa lisan negeri sakura.
kami hanya ingin menumpas kebodohan dalam diri.

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Notes

Cepatlah pulang, anak muda. Jika dirasa silaturrahim akan tersambung via sapaan di jalanan, percayalah, keberkahan do'a yang terkasih di rumah akan jauh lebih hakiki kenikmatannya, bahkan tanpa batas, bahkan hingga ujung usia kita.

Percayalah, bukan itu cara kita menikmati hidup. Tapi keridhoan merekalah yang membuat hidup kita nikmat.

Cobalah berpikir ulang, berpikir ulang, dan terus ditimbang keberadaan manfaat dan mudharatnya. Terus diulang, setiap kali memutuskan. Perlahan dewasa menghampiri dengan sendirinya, lembut menyapa.

Terkadang menjadi muda itu memang menghanyutkan. Semoga dayungnya kokoh untuk diajak mengayuh ketertinggalan :)

Esensi Menghafal Qur'an

"Karena sesungguhnya bukan untuk gelar hafidzah kita menghafal, bukan agar kita disebut banyak hafalannya, bukan 'ammah... bukan.. tapi bagaimana bisa setiap bertambahnya 1 juz, 2 juz, 3 juz kita... semakin membuat kita dekat dengan Allah.. :') iya.. semakin bertambah taqarrub ilallah dalam setiap bertambahnya hafalan kita.."

suara lembut menggetarkan di depan kelas ketika itu,
kemudian membuat tahanan isak tangis hingga sesak,
di balik kegengsian teriakan perihnya hati yang teriris-iris.

Semoga hati kita kuat setegar karang. Pantang rapuh atas terpaan ombak permainan dunia. Aamiin yaa Rabb :')

0:04 a.m
08122013
JM

Istirahatku

Apa yang salah dari sistem?
Jika banyak yang rancu, ya kita yang harus beres.
Jika terlalu rumit dan berkelit, ya kita yang sabar.
Segalanya tak bisa di tuntut ideal, makanya bersabarlah.
Apalagi kekeuh idealis, ya nggak bisa. Makanya jangan berlebihan. Noted !

Memang salah kalau diambil alih?
Tidak, hanya saja mungkin lebih sedikit telaten lagi.
Komunikasi, pemahaman, kerja nyata, terus kerjakan, terus kerjakan, terus kerjakan...
terus saja, terus, terus kerjakan, beralih, dan kerjakan lagi...
apapun.. apapun kerjakan itu.. mana yang belum..

nampaknya asal tubruk.

bukan.. bukan seperti itu juga..

itulah kenapa, manusia bukan mesin !
asal pakai saja, sampai usang, sampai kering tak berasap.
Tapi rasa, jiwa, energi yang membuncah jiwa.
Di sini ada pundi, pundi-pundi ruh yang melucutkan gempuran peluru amal.

yah, amal... amal ya Allah... amalan...
tapi sudahkah ini bertuan?
Bertuan?
Iya, hanya untuk-Nya..
bukti menjadi hamba, hamba dina, tak berdaya tanpa sentuh rahman dan rahim-Nya

ya, prioritas amal !
Belajar lagi, terus belajar terus, terus...
sampai lelah.. terus lelah.. dan belajar lagi..
terus...
sampai semua nikmat..
sampai semua tak terasa..
kapan waktu berjalan..
hingga semua terasa..
semua begitu masuk merasuk terfahamkan.
akan hakikat hidup dan kehidupan.

itu.. yang dicari.. keridhoan..
yang murni setiap langkah
yang teduh mengiringi
yang basah menghujam ke sanubari

terefleksi dalam akhlak
tertuangkan dalam kerja nyata
lillah fillah billah...
Allahu akbar !

Allahu ghayyatuna..

belum sanggup berjihad di medan nyata
sekarang, cukupkan tabungan dulu saja di medan juang yang ada.
sambil berpeluh, bedo'a, memohon yang benar-benar benar di mata-Nya.
untuk sebuah titian jalan..
kemudahan ikhtiar hingga shiratal mustaqim.

jannah..

-Refleksi cinta-
Jabal Masjid, 22:16 p.m
22102013

 alhamdulillah sedikit bernafas.
next, skenario komik !

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..