"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label Berbagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi. Tampilkan semua postingan

Tabayyun

Mungkin akan ada beberapa postingan sebelumnya yang dihapus dan tidak ditemukan di blog saya.
Sesuai dengan masukan dari sohib, beberapa postingan yang tampak serius dan tidak senada dengan refleksi, sengaja kembali saya tiadakan. Semoga tidak mengurangi esensi hikmah :)

Sekian, terima kasih :)
12 : 53 a.m
4/2/2016

Suara Kecil Praktikan Junior

2 pekan lebih terlampaui di stase keperawatan jiwa.

Maka dengan alamiahnya peristiwa ditendang pasien, dicium tangannya, disembur susu waktu nyuapin menjadi cermin masih banyaknya kerja-kerja alamiah di muka bumi.
Kerja alamiah yang berasas kemanusiaan. Yang tak akan terpikir memakan harta orang. Mana ada celah? Jika ada pun kebangetan punya naluri luhur sang manusia.

Sekali-kali visit ke RSJ atau bangsal perawatan yang merakyat juga boleh Pak, Bu :)

Ah, Bapak dan Ibu mah yang dipilih Allah untuk kami pastinya. Kami hanya ingin berbagi rasa syukur, yang sering kami rasakan sebagai praktikan junior. Supaya Bapak, Ibu sekalian makin semangat bekerja untuk rakyat. Karena setiap bilangan individu pasti meniriskan rasa harap, untuk kualitas setiap sector kehidupan.

Ada secercah keinginan perbaikan kualitas hidup, pasitinya, pada mereka, yang dapat diperjuangkan dengan peningkatan penjaminan kesehatan yang optimal untuk setiap individu di masyarakat dari segala golongan.


#SpontanPikir

Pesan sang Guru

Suatu Kamis malam selepas Isya,

"Dalam suatu pertemuan saya pernah mengatakan, saya ingin kalian semua berjanji atas nama Allah, bahwa dari rahim kalian akan lahir anak-anak yang akan menjadi bagian dari pewaris dakwah Rasulullah.." 

Tidak tahu bagaimana persis mimik wajah guru kami, saat itu. Tatapanku lurus, nampak kosong dalam tembusan alam pikir.

Di tengah wajah tunduk duha kala itu, nasihat itu terlintas dan menggemuruh. Aku menghela nafas.
Ia begitu menyayangi kami, kami berhutang banyak dengan agama ini.

12122015
5 : 27 p.m

Cerdas dalam Bahasa Kaum

Sebagai seorang kakak, normally selalu muncul tendensi buat menanamkan nilai-nilai positif buat sang adek. Barusan gw diingatkan dengan sebuah sentilan buat terus belajar.

Singkat cerita pas buka line di hp adek gw (yang duduk di bangku SMP) nemu jejak di timeline tentang perjuangan dokter di Indonesia yang isinya 4 buah video bersambung refleksi perjuangan seorang dokter. Perjalanan panjang yang memang belakangan juga gw sadari dengan dalam live report di depan mata semasa profesi.

Niatnya mau meneteskan sisi-sisi perjuangan dalam kehidupan pada si adek, ternyata disentil dengan pernyataan yang menyadarkan bahwa si adek sudah cukup kritis untuk berpikir.
“Eh, dek mau aku liatin video ga? Tentang perjuangan seorang dokter”
“Ngga mau ah, itu buat orang-orang gede kok mesti. Anak kecil bukan kayak gitu tontonannya.”
“???? Ha? Iya yaa? Haha”

Well, sometimes kita nggak nyadar kalau apa yang pengen kita sampaikan ke orang lain itu kurang tepat sasaran #notetomyself. That’s oke purposenya baik, tapi musti tepat. Sering kali setiap kesempatan di jogja dapet free wifi access gw nyempetin nge-yutub buat download video edukasi buat anak-anak kecil, itung-itung bawa bekal ke rumah. Tapi pekan-pekan lalu entah kenapa nge-yutub nya lagi suka sama beberapa hal khusus, jadi ga kepikiran juga buat donwload something new buat adek.

At least dengan pernyataan si adek gw jadi seneng dan tertohok juga sebenarnya. Jarang-jarang si adek mengungkapkan isi hatinya (termasuk kekecewaannya nunggu lama di jemput karena gw ketiduran.haha). Pernyataan itu sebuah reminding buat gw kalau bisa jadi ternyata preparedness gw buat menyampaikan sebuah dakwah *cieh*, or mean simply sebuah value kebaikan bisa jadi kadang kurang tepat buat objek sasaran. 

Selama ini mungkin beberapa kali diamanahkan ummi di sanlat SMA sewaktu di DS. Artinya beberapa metode pendekatan ke anak SMA ‘seharusnya’ gw udah punya bekal. Belum merasa pantas dan easy going penuh juga (masih banyak harus belajar.red) ke anak SMA, malahan jadi lebih sadar lagi kalau pendekatan ke anak SMP juga nggak mudah. Sampe bener-bener si do’i ngerasa deket sama kita, cerita sepenuhnya, curhat dengan lapang and trust. Serius, nggak mudah. Karena urusan orang dewasa *sok banget* kadang begitu ribet di kepala kalo belum kelar kali ya. Padahal seusia puber mereka sangat butuh perhatian penuh.

Rasulullah menganjurkan kita buat menyampaikan dakwah sesuai dengan bahasa kaumnya. Hal ini penting untuk keterikatan yang lekat dengan hati objek penyampaian, cerdas dalam bahasa kaum. Nasihat itu baik, maka penyampaiannya pun juga harus dengan cara yang baik.

Dan yang terpenting lagi, seorang agen penyampainya (agen dakwah.red) yang harus lebih-lebih memiliki cara yang baik untuk terus mendengar, belajar dan berlomba terhadap amal-amal baik, yang Allah suka. Supaya makin deket hatinya sama Allah, kemudian Allah bikin keterikatan dengan mereka objek dakwah yang Allah dan kita sayangi :)

#ntms
Bagi anak gaul jaman sekarang, orang dewasa yang serius itu ngebosenin kali ya. Haha
Ditulis H2 kedatangan sahabat hebat Bekasi, yang masih terngiang cara ia bercerita :)

Skh, 13112015

Inspiring

Yeah, someone inspiring me for now is my little brader :)

"itu hari senin kemarin mba.. penyematan wing (tanda) naik pangkat dan rangking 1 :')"

lalu, setahun ini apa karyaku?

Thanks Allah for reminding :')

Ahsanul Lutfi
Jurusan Teknisi Pesawat Udara STPI 2013

nggak usah dianggep Rempong deh

Sometimes nih ya.
Mahasiswa yang masih berproses kayak saya suka berpikir konyol.
Hanya masalah menentukan tempat pas untuk membangun mood yang oke saat ngerjain tugas or something else.

"enaknya dimana ya?"
Biasanya pilihannya nggak jauh-jauh. Kalo nggak perpus fakultas, perpus pusat UGM atau perpus kota. Yang terakhir agaknya jarang terpilih. Mau milih rumah makan, eman. Indomaret point? That's not my style at all. Sebenarnya lebih ke gaung musik yang nggak pas untuk telinga. *hehe

Nah, ini yang parah.
Karang milih tempat yang nggak musti nitipin tas kura-kura (ransel.red) yang berat nggak pake bingit.
Alasannya apa? Biar nggak rempong nitipin barang, ngerluarin dipindah tas cangklong dengan tetek bengeknya (jelek banget yak bahasanya), lalu masukin si kura-kura ke loker, masuk, selesai, ngambil lagi, mindahin lagi si isi ke si empu kura-kura. Ah, mana ya yang nggak rempong. Gesit-gesit gitu.

Eh, eh eh.
Alhamdulillah logika saya sore ini Allah izinkan berpikir supaya bersyukur.
Lah fah ! Ngurus diri sendiri aja nggak mau rempong. Masalah secuil yang cuma mindahin barang sendiri untuk keperluan sendiri aja dianggep rempong. Sebenarnya di benakmu isinya apa? Visioner dong, katanya mau ngurus umat. Ngurus orang banyak jauh lebih rempong jeng.

Iya kan ya?
Yang namanya orang berpikir besar, pasti nggak akan sibuk dengan urusan secuil dan remeh-temeh.
Duh Gusti, ya Allah. Ampuni hamba, dan orang-orang yang mencintai-Mu serta Engkau cintai untuk sanggup menata diri menjadi hamba yang lebih anfa', bermanfaat untuk banyak makhluk-Mu. 

17 : 04 
18112014

Di sela komitmen, hanya boleh istirahat setelah fully focus selama 2 jam.
Oke, on fire !

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah atas perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau merasa lemah. Kemudian jika ditimpa satu musibah, janganlah engkau mengatakan ‘seandainya saja aku melakukan hal ini dan itu niscaya akan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah, ‘semua sudah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang Allah kehendaki telah Dia kerjakan. Sebab perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan.”(HR. Muslim)

Kehidupan yang Sempat Hilang

“emaaak... “
Gerubuk.. dua bocil mungil nan dewasa dan shalihat mengerubung.
“apaa? Emak gue..”
Lalu mereka saling sinis.
“kan panggilannya beda-beda, satunya emak, satunyaaa... apa mah? Hehe”
-------
“pinjem pensil” senyum merekah
“iya pake aja” balas senyum
“itu senjata ‘ammah”
“iya mah, aku juga pake ini kalo ngafal. Nggak tahu kenapa ya.” Sedari tadi memang buletin beberapa similar kata di QS Al Baqarah
“yaudah beli aja”
“iya ni, kok enak pensilnya”
--------
“wannajmi idzaa hawa.. maa dholla shaahibukum wamaa ghawaa.. wamaa yantiqu ‘anil hawa.. in huwa illaa wahyuyyuhaa.. iya kan mah? :D” menirukan saat yang duduk di depan setoran
“Uhm.. iyaa.. iyaa.. :D” sahutnya sembari acting mikir
“kenapa mah manggil-manggil?”
“nggak papa, kangen aja :D”

Malam ini alhamdulillah, Allah berkahi waktu kami (lagi) untuk syuro. Masyaa Allah, berkah. Efektif menurut kaca mata kami. Tentunya berimbang dengan ikhtiar beberapa dari teman-teman yang mempersiapkan bahasan dengan matang. Tepat selesai sesuai prioritas bahasan, 3 dari 7 list to discuss. Jam 10 kholas-kholas.red- (selesai).

Bahagia, Allah.. terima kasih. Tadzkirah yang begitu jitu sedari tadi siang. Beralur, lembut, menusuk dan membuncahkan energi (lagi). Beberapa penggalan humanis malam ini terekam dengan penuh syukur.

Ummiya menyisipkan dinamika syuro dengan penggalan suplemen.

“ammah udah tahu kitab Al Muwwatha’?”
“Beluuum miii...”  spontan seruan kompak
“Ya, ummi ambilin yaa...”

Lalu kitab itu dikelilingkan diantara kami.

“Udah, pengang aja, sambil dibuka, terus bergeser”

Beragam ekspresi diantara kami, ada yang kemudian mencium, memeluk, berdecak ingin sanggup membacanya, dan ada yang monolong, “mari kita mulakan majelis ini dengan...” sambil membuka kitab lalu teriring renyah tawa yang lain. “aamiiin....” (berharap kelak mampu mengkaji langsung dari sang ustadz dengan arab gundulnya).
Kemudian Ummi menegaskan maksud mengeluarkan kitab tersebut beserta salah satu buku biografi Imam Malik.

“Makanya naaak, kita masih jauh (Qur’an masih jauh, baca kitab belum bisa *sedih)... Tiga hari itu harus ada targetan (dalam sebuah agenda yang kami rancang). Ketika Ummi baca buku tentang Imam Malik, beliau bilang bahwa nikmat itu harus dinampakkan mah (memotivasi termasuk target qur’an kalau yang saya tangkap). Makanya kalau beliau memakai pakaian yang bagus-bagus. Kalian orang-orang cerdas. Orang bisa kok skripsi sampai selesai, bisa kuliah. Udah, dibuat target mah... Kita ini masih jauh. Kisah di dalam buku ini sudah menjadi cerita menjelang tidurnya Hamas (putra ummi yang terakhir yang duduk di bangku kelas 3 SD). Artinya ammah sudah harus khatam kisah-kisah ini dari sekarang..” seru ummi dengan penuh ekspresi seperti biasanya. *redaksi tidak sama persis

Aaaaah... ummiiii. Plak plak T.T

Alhamdulillah rundown, kontrak kegiatan, jadwal aktivasi syuro sampai terpilihnya korlap oprec DS 9 khalas. Ah, masyaa Allah. Belajar banyak. Amanah memang akan sampai pada pundak yang Allah karuniakan kekuatan. Kuat ruhiyah, kapasitas dan jenjang kesesuaian.

Untuk teman sekamar :

Barakallah ukht, semoga Allah senantiasa memberkahi waktu kita. Semoga Allah memilih kita sebagai hamba yang pantas menikmati peningkatan amal lewat amanah yang Ia karuniakan. Kerja besar ini insyaa Allah menjadi pemberat amal kelak di akhirat. Sangat. Kamu sudah tahu lebih banyak ya. Hehe. Tapi sungguh, aku iri :’) Jiddiyahmu menginspirasi. Ubbudiyyah yang terlihat ringan setiap malamnya, kelapangan, etos kerja, dan segala halnya. Ah, ya Allah, pertemukan kami di syurga.

Aku tahu, mungkin ini pengejawantahan rasa khauf mu di hadapan Allah, “Nggak mau, aku nggak mau jadi imam. Kalo nggak aku mau sholat sendiri aja” spontan aku tertawa lucu

“Nanti kamu bakalan jadi imam di Riau (Kepulauan Riau sebenarnya). Kan persiapan pulang.”
“Itu beda ceritaaa.. pokoknya aku nggak mau..” muka ngambek nggak serius amat
Hingga akhirnya,
“Udah.. nggak usah cari-cari alasan..”
Terlihat berpikir dalam
“ammah mau melanjutkan S2 kan? Bisa sambil persiapan belajar”
“Uhm.. insyaa Allah kalau wisuda februari ya disuruh pulang.. hehe”
“Tuh kan.. karena ada amanah, biar bisa ada alasan untuk tetap disini :D”
“Iya lho mah... nanti kalo di Riau orang-orang yang bakalan ngaji ke kamu.”
“Aah.. yaudahlah.. nggak usah ngomongin itu. Iya, nggak papa.” Ngelus dada
Alhamdulillah... lalu tauris tertulispun tersampaikan.

Barakallah untuk teman sekamar yang guru saya :)

Ya Allah, izinkan kami menjadi hamba yang pandai memperbaiki diri dalam setiap mengemban amanah. Menjadi hamba yang terus meningkatkan kapasitas taqwa dan iman. Menjadikan diri terus ihsan dalam professionalitas dan tanggung jawab.

Pasca syuro

“Subhanallah ya.. ternyata kita satu kamar sama orang hebat. Korlap PSB DS 9 :D”
“Iyaa... korlap PSB DS 9 dan Koordinator Pemandu..”
“Eeeeh.. Koordinator tahsin juga kan ‘ammah...”

Masyaa Allah. Saat Allah turunkan nikmat belajar itu begitu dekat. Dari mereka yang banyak mencurahkan waktunya untuk umat. Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzibaan...

Seringnya menjadi apa kita tidaklah penting. Karena amalan besar mampu rusak karena niat, dan amalan kecil mampu besar karena niat. Karena seringnya amanah bikin galau saat stagnan divacumin alias lama didiemin (kayak skripsi.heheh). Dan itu sakitnya dimana-mana, bukan hanya *disini. Gregetan. Karenanya bekerjalah, supaya Allah saja yang melihat pekerjaan kita :)

Alhamdulillah..

Kehidupan sakinah ini Allah karuniakan kembali. Setelah sekian lama berhibernasi. Bahkan sempat terpikir jadi orang terasing di belahan bumi (lebai sekali).

23 : 26 p.m
Selasa, 04112014
Allahumma shayyiban naafi’an
Hujan turun di Jogja, setelah sekian lama

Menulis

Simple reason yang saya sadari akhir ini -masa dimana tak berhias lagi dunia kampus dan pernik akademik, kecuali cinta (skripsi.red)- hidup menjadi sungguh dinamis setiap waktunya.

Satu hal yang terlewat -setelah mendelete kuota modem atas dasar pengiritan, dan berkutat dengan Sardjito, Kuesoner, Ethical Clearance dan lain hal- yaitu : menulis ternyata menghidupkan !

jadi selama ini kurang hidup?

Akhirnya terpaksa terejawantahkan di note facebook, which is not to satisfied written there. 

Ya, menulis menghidupkan. Menyegarkan. Dan menggairahkan suasana hidup dengan ketetapan-Nya. Menandakan otak berfikir, menikmati, menghayati, dan bahkan bentuk simplenya rasa syukur. 

Meskipun hanya sebuah rasa refleksi hidup dan kehidupan.

*Jazakillah mba Eli, yang sudah menagih :)

Reminder by Accident

Bismillah..
Malam ini secara tidak sengaja, entah kronologinya seperti apa, newtab saat berselancar automatically masuk ke dalam sebuah hasil searching Mariana Ulfa di Yahoo.
Sesaat pandangan tertuju terhadap sebuah tulisan berbahasa inggris yang tertoreh nama Mariana Ulfa dan disandingkan dengan beberapa nama yang tak asing dikenal. Belum lama, satu pekan yang lalu.

Allahu Rabbi.. sesaat menunggu loading untuk masuk ke persinggahan sang pemilik tulisan, tak lain de Aya yang nulis. Actually, it's too pleonastic adek :'D
But highly aamiin to hear that. Thanks a lot for the lighter spirit. Instantly reminded with a big dream. Trying to strengthen myself that young soul should always be there :D



Printscreen terakhir belum bisa di upload.
Kelihatan kan adek ini oke gaya bahasanya :)
Setiap orang pasti punya karakteristik masing-masing. Adek tahsin selama beberapa periode nggak ganti-ganti pemandunya :D
Ukhuwah memang dahsyat ya, punya misteri dibalik saling mencintainya saudara seiman.

23 : 39
04092014
Sukoharjo

Kita, berbeda tapi satu!

This story is documented by Atika, my new little sister in KKN program.
Lets see, what lesson can be drawn from this notes?
This testimonial directly sounds from each one of us.
And what i have drawn is, everyone always have a positive side we can learned.
Seriously guys, a big thanksgiving to Allah that have given to me an opportunity in establishing brotherhood with u all.

Dua Bulan, demi satu hari, satu malam dan satu tujuan!


Agri : sangat efisien, enak diajak ngobrol, beruang kutub yang kesangkut disini, baik, “ngajarin ngrokok mas eksan”, pandangan pertama serem, lucu, politik banget, bikin cair suasana dikamar, sring jepit mas eksan saat tidur, sering ambil bantal mas eksan, sulit bangun pagi, analisisnya bagus banget, pintar, kritis, kooperatif, awalnya ngeselin tapi setelah ketemu nakutin (tampang preman)wkwkw, 


Firman : asik, dewasa, mengakomodasi, lebih carring,  slengekkan, temen yang bisa diandalkan dalam minta bantuan, teman yang baik, santai tapi pasti, enak diajak krompomi, jantan, tampang preman tapi hati selembut kapas, semuanya dibuat mudah, 


Ekhsan : bisa diajak kerjasama, carring, sensitive terhadap cewe, bisa diajak curhat, bisa memeltingkan hati wanita, orang yang paling bisa direngek-rengekin untuk minta tolong, sosok teman yang baik, jangan ngrokok lagi!, mengormati wanita, “gaya bicaranya”, santai jk dibully,  ga banyak omong, tapi sekali ngomong bermakna semua, PHP, 


Bundo : ribet, idealis atau totalitas beda tipis, susah dihubungi, disiplin, terstruktur, professional, pengingat, teman yang miliki kerja planner, organisatoris, alarm nya itu loh berisiik!,  


Nicha : ribet, sangat santai, tidak memaksakan kehendak, nampung semua, diluar kesan pertama, santai tapi pasti, vocal, baik, heboh sendiri, gampang geer, gampng jealous, gampang nyaman, gampang “hectic (ga tau artinya)wkwkw”


Mba ulfa: pengingat, pembawa perubahan baik, rolle mode, total, penengah, religus banget, sosial nya tinggi, sosok kaka yang merangkul, 


Mba febbi: ibu2 gaul, baik, dewasa, religious banget, keibu-ibuan, nekad “matahin rokok” mas eksan, segala hal tercurah, mengajarkan total dan optimal, kaka yang baik, 


Yaya :  pada dasarnya baik, sangat patuh peraturan (saklak), sangat sensitive (care,), lucu, usil jail, unik, perkasa (naik genteng), enak di ajak ngobrol,  ada sisi sisi tertentu yang tidak kita ketahui dari yaya, ribet, pintar masak, 


Pipin : diajak ngobrol enak, flexible, baik, cewe yang paling santai, diajak curhat enak, pengetahuanya luas, social nya bagus, orangnya ga mau blak-blakan, deadliner, komunikatif, responya bagus, idealis tapi menampakkan, 


Pita : Orangnya seru, solutif, kocak, terlihat bahagia, orang yang paling bisa jaga mood, baik, sedikit sensitive, candaan nya selalu nyambung, easy going, asyik dan tidak membosankan, 


Kita berbeda! bagaikan Negara tercinta ini, Indonesia. Yang dihamparkan pulau-pulau dengan keanekaragaman suku budayanya. Namun semua itu tetep satu, bhineka tunnggal ika. Itulah kita, karakter yang berbeda, pola fikir yang berbeda, dan idealisme yang berbeda pula. Namun, semua itu jadi satu karna kita di sini saling memahami, saling menerima dan saling mengerti. Terimakasih keluargaku, atas waktu dimalam ini yang sangat berarti.

Dari atas kanan : Nicha, Pipin, Yaya, dek Nilna, Atika (Bundo) di depannya ada dek Aufa, Pita
Dari bawah kanan : ulfa, agri, firman, ekhsan, mba febi dan dek ejaz



Happy Family ! :)

Notes ditulis 28082014
Documented in this blog 03092014
23 : 37 wib
Sukoharjo

Saya dan Aku

Antara saya dan aku.
Actually not too different. Even they have a same meaning.
But i prefer use saya than aku in this blog.
U know why?
Just because sometimes i feel someone directly talk to me when i read what they have written in their blog.
Just to me. haha. Greatly exaggerate, isn't it? :D

So, for some of theme or maybe almost all, i just  want to prevent an undesirable things happen. hehe

Yeah, it just about a choice. And ourselves determining the choice.


Pict here



Rabu Mubarak

Subhanallah wal hamdulillah..

Kita patut bersyukur ketika alur pikir kita masih bekerja untuk meruntutkan hikmah atas segala peristiwa yang kita lewati dalam keseharian.

Hari ini aku luput dari salah satu amalan yang utama. Alhamdulillah Allah masih mengkaruniakan kemudahan menambal di lain sisi. Yang jelas amalanku biasa saja hari ini. Mungkin jiddiyahnya yang menjadi nilai dan menambah keberkahan.

Sometimes we are not prepared enough for a much time will we have later. Dan benar adanya, “Ujian itu sesungguhnya ketika di waktu luang”. Di saat sudah tidak dipadatkan dengan kuliah, u must be a strategic person who have to professional managing ur overabundance time. Yeah, actually we know that exactly it will be a good chance to optimize our focus responsbility (eg. Our minithesis) for now. But, for people who habitually must execute more than one or two work all at once, it just like tasteless. Hehe

Maybe today Mubarok is about jiddiyah. Betapa butuh kesungguhan untuk mengangkat butir-butir kelambanan di waktu luang. Saat bayang-bayang persiapan Ramadhan terngiang di sudut pandangan tapi tak diimbangi dengan gerak raga yang menyambut. Qadarullah dengan kemurahan-Nya, jasad berikhtiar paksa dan membaca surat cinta dari-Nya, sebagaimanapun rasanya, dan akhirnya mengalir begitu saja. Tilawah hari ini melampaui target. Meskipun targetku masih jauh sangat, ah sangat, dari para salafush shalih.

Syukur atas aktivitas hari ini, yang semoga berkah.

Meeting morning alias syuro pagi (:p)
silaturrahim ke ‘ammah sari alias menghadiri undangan makan burjo yang masyaa Allah (:D)
nyicil target tilawah (baru nyicil)
istirahat sejenak
mencicil cinta (lagi)
dhuhur
kembali dengan cinta
dan puncak jiddiyah menebus kealpaan
ashar
rapat KKN
tuntas membeli perlengkapan saat ini
maghrib
makan dan dipertemukan dengan seseorang yang bercerita banyak mengenai hikmah hidup sebagai seorang muslim
isya
rapat KKN
kembali dengan firman-Nya
 menyapa saudari dengan ruh yang mumpuni insyaa Allah
sampai detik ini.

“Rabbii auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa wa lidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihli fii dzurriyyati innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin”

Ruang menjamu tamu Rumah Cahaya, 22 : 08 p.m

Rabu Mubarak, 04062014

a Little Encouragement

Bismillah.. percakapan tadi masih terasa.
Saat ini saya di Perpus, kembali ingin meneteskan embun-embun ikhtiar yang semoga berkah untuk pengakhiran studi saya di S1. Bachelor Degree, that i hope will recorded inspiring story later.

F : Fulanah
U : Ulfa

-------

F : Heiii Ulfaaa... :’) Gimana ini.. lama nggak ketemu..

Sembari kami bersalaman, as usual.

(Ya, memang intensitas mahasiswa tingkat akhir untuk bertemu semakin tereduksi dengan kesibukan mengurus ‘percintaan’ masing-masing, meskipun beberapa teman dan adik kelas ada yang melabuhkan cinta beneran #apasihsungguhnggakpenting)

U : :) iya fulanah...

Kemudian singkat cerita kami berbincang soal probabilitas bisa wisuda Agustus.
Konon katanya di Nursing Science Program ini masih dengan rumor bahwa tidak ada yang diikutkan bulan November, so, if u still not finished yet u must follow the next section graduation ceremony in February the next year.

F : Gimana yaa? Bisa nggak ya kira-kira? :’)
U : Bisa, bisa Insyaa Allah.. Kita ikhtiar aja terus, pertolongan Allah ada di puncak ikhtiar kita :)
F : iya ya, insyaa Allah bisa lah ya, nanti sambil KKN ngerjain pembahasan.
U : Iya iya fulanah :’D

Saudariku Fulanah, actually what u say i’v been thinking in previous day. I also still don’t know why i’m too optimistic. Maybe i including some people who have optimistic-isme or closer with husnudzon-isme :D

But, if i may tell to u, it will give encouragement for me :)

We still have Allah. Allah. Allah. We always say that, “Allah Tuhan Semesta Alam.”
Yep, semesta saja dikuasai oleh Allah. Apalagi skripsi yang notabene hanya sebagian kecil dari potongan hidup kita. Mudah saja bagi Allah untuk dijadikan. Believe it, sister ^^

---Allah, sesungguhnya ini merupakan bentuk kami hanya sanggup bergantung penuh pada-Mu atas segala hal yang menjadi urusan kami. ---

Singkat alam pikir ini mengejawantahkan sebuah pemahaman yang saat akhir-akhir ini terngiang.

“Wa maa yattaqillaha yaj’allau makhraja”
“wamanyatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh”

Dan masih banyak lagi janji-janji Allah untuk orang yang bertaqwa. We can see that at surah at Taalaq (65) especially in the end of ayat or others surah. Banyak lagi kemurahan Allah untuk orang mu’min that we can learn from Surah Al-Mu’minun.

Sometime we just need enrich our taqwa and iman quality to do all of our duty and responsibility in life. So that Allah will give full of Ridho, so that our life will like a flying and very easy to live.

17 : 21 WIB
03/06/2014

Bismillah ikhtiar tanpa jeda. Hope will be barokah ever after :)


Pagi yang Hangat

Pagi ini hangat, sangat hangat.

Sangat terekam ketika itu, beberapa tahun silam.
Saat pagi begitu riuh dengan suara sana-sini. Sebelas dua belas dengan suasana adek-adek putra-putri umi yang kecil.

Bedanya mungkin di konflik dalam kasusnya.

Beberapa tahun yang telah lampau, saat yang satu ngantri kamar mandi dan nggak ada yang mau mengalah. Satunya lagi menyegerakan supaya nggak telat berangkat sekolah. Satu lagi dengan kata klisenya, “sudah berulang kali dikasih tahu, diulang lagi, di ulang lagi..”

Riweuh. Gedebag. Gedebug.

Ah.. ya Rabb.. ya Rabb..

Pagi ini, Allah dengan perantara waktu, alam, dan segala kehidupan yang dengan prosesnya kami lalui, menegaskan bahwa, segala hal ada masanya.

Saat dimana pagi ini begitu hangat, duduk membicarakan beberapa hal dengan babe selepas tilawah di ruang tamu, berbagi tugas dengan ibu, mencanangkan strategi ke depan, dan ternyata kamipun berada dalam lini yang sama. Menguatkan bawa negeri ini butuh renovasi dalam jiwa generasinya. Sebelum sistem terlanjur meremukredamkan cita-cita besar kemajuan. Pendidikan agama, sejak dini yang mengeruh dalam sanubari, kemudian terhujam dalam moral pelaku arah gerak bangsa.

Keluarga ini hangat, sangat hangat.

Saat kemudian terdengar damai lantunan bacaan Al Qur’an Muri Q* yang selalu terputar di sela istirahat di sekolah sebelah, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, yang dulu menjadi samudra ilmu yang sarat makna sewaktu kecil dulu. Terhitung sepuluhan lebih tahun silam.

Hingga aku tak sanggup lagi bertutur, kecuali.. “Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadziibaan..”

Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alallya wa’alaa wa lidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fii dzurriyyatii innii tubdu ilaika wa innii minal muslimiin..

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Al Ahqaf (46) : 15)

Baiti jannati :)
07 : 13 a.m
03022014

* Muri Q adalah sebuah terobosan pembelajaran membaca Al Qur’an dengan irama yang dibuat oleh Ustadz Muhammad Dzikron Al Hafidz (Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Ibdaurrahman Surakarta). Irama Al Qur’an ini yang kemudian sering di putar di sekolah adek saya, mantan sekolah saya dulu dan akhirnya cukup membuat para siswa-siswi MI ternuansa dengan tartil Al Qur’an di sela istirahatnya. Bahkan ketika di waktu luang pun, sesekali terdengar spontanitas melafadzkan sesuai dengan iramanya. Subhanallah.. semoga menjadi amal bagi beliau yang menggagas :)

Just information,
Dulu ketika zaman saya bersekolah di sini belum ada, bahkan saat sekolah di MI dulu gedungnya memprihatinkan. Pernah sesekali orang tua teman saya melarang putrinya untuk TPA sore hari yang saat itu hujan deras. Alasannya.. "takut bangunannya roboh" masyaa Allah..

Alhamdulillah sekarang sudah dirombak total semenjak beberapa tahun yang lalu. Tetap dengan kesederhanaannya, tidak lebih dari bangunan sekolah kota di kabupaten, atau bahkan di tingkat desa. Tidak lebih bagus, karena sekolah ini memang terletak di sebuah Dukuh. Dukuh Tanjung, Desa Bakalan, yang tidak banyak orang yang mengenalnya. Bahkan, saya pun termasuk orang yang bisa disebut orang desa di saat berada di ranah kabupaten.


  

     Belakangan, saya menyadari, sangat bersyukur dan bahkan tidak ada rasa kecil hati sedikitpun, ketika harus mengatakan saya dulu bersekolah di MI Muhammadiyyah Tanjung, yang bukan sekolah taraf anak kota, yang saat itu siswa di kelas saya awalanya 13 orang dan yang bertahan sampai kelas 6 hanya 11 orang. Perhatikan, 11 orang kawan, karena 1 orang berpindah ke daerah lain dan 1 lagi tidak naik kelas di tengah perjalanan pendidikan ketika itu. 

Saya ingat, Bapak selalu mengatakan kepada masyarakat ketika memberikan sambutan entah di pengajian akbar atau di forum lainnya, untuk tetap menyekolahkan putra-putrinya di MI saat itu. Bapak benar-benar menegaskan bahwa pendidikan agama itu mutlak pentingnya bagi anak semenjak kecil. Biasanya diperkuat dengan beberapa prestasi beberapa muridnya ketika itu yang tak kalah dengan SD Negeri.

Sekali lagi, sekarang saya benar-benar menyadari. Bahwa, iya. Benar-benar bekal yang saya miliki saat bersekolah di MI lah yang justru mengantarkan saya hingga sekarang (masih baru seperti ini memang). Ilmu-ilmu yang mengajarkan tentang Baca Tulis Al Qur'an, yang saat kelas 4 dulu saya pernah dapat nilai 4, camkan, nilai 4 kawan. Karena benar-benar kesulitan menghafal belasan hukum mad, macam hurufnya, panjang bacaannya, entah mad wajib mutsaqal kalimi, mad iwad, mad harfi, mad silah thawilah, silah khasirah, dan lain sebagainya itu. Tapi justru itu, justru itu yang ternyata ketika keluar dari MI membekas di hati saya karena setidaknya telah mencicipi manisnya belajar ilmu agama. Rasa-rasanya pun selalu rindu untuk terus tahu lebih banyak di sela keterbatasan pelajaran agama ketika di SMP dan SMA Negeri. Belum lagi pelajaran fiqh, sejarah kebudayaan islam, al qur'an hadits, bahasa arab, dan lainnya lagi yang masih membekas hingga sekarang. Alhamdulillah positifnya terbawa pada semangat saya di pelajaran dan ulangan agama sewaktu SMP dan SMA (meskipun SMA sedikit tereduksi karena tidak terdukung dengan situasi pembelajaran yang kurang kondusif *seringKosong.red).

Ah, saat itu.. yang saya hanya terus bisa merindu, dan mengejar ketertinggalan selama sekian tahun dengan mereka yang terus menggeluti ilmu manis ini. Yang saya hanya mampu untuk memotivasi adek saya dan kelak mempersiapkan anak saya untuk bekal yang lebih baik dari saya. jauh lebih baik, jauh lebih sholih dan sholihah, jauh lebih dicintai Allah, jauh lebih bermanfaat dengan ilmunya, jauh lebih arif, lebih berakhlak mulia, lebih segalanya yang lebih membuat keridhoaan Allah melekat pada setiap tingkah laku kita.

   
    Tadi malam saya sempat memperlihatkan video profil Insan Cendekia Serpong ke adek saya yang kelas 5 SD. Alhamdulillah a little interest sudah tergambar. Semoga Allah ridho dengan yang kita ikhtiarkan untuk mencetak generasi sholih-sholihah di masa depan.. :) 

Betapa antusiasnya saya ketika tadi malam saya mendengarkan langsung, live dari tutur kata adek saya, melafadzkan hadits tentang taqwa dan diingatkan tentang hadits menyantuni anak yatim. Benar-benar seolah sedang mendengarkan ustadzah menyerukan hadits dan artinya dengan semangat membara. 

Ya Rabb.. kuatkan kami untuk senantiasa mencintai-Mu.. lebih dari semesta apapun ilusi di dunia ini... :')

MI Muhammadiyah Tanjung
it's mean, how close that school from my home :)

'BONUS' Bertubi-tubi


Beberapa waktu yang lalu, tepat hari Kamis, 22 Juni 2013 adalah hari keberangkatan saya, mbak Adin dan mbak Birrul (keduanya teman sekelas saya di PSIK) ke FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI untuk mengikuti sebuah lomba.


Sepekan di tanah orang, yang tersuasanakan saat itu seolah saya berada di negeri dongeng. Yang tiba-tiba diterbangkan pada suatu situasi dan kondisi yang jauh dari prediksi. Meskipun alhasil tetap saja ada beberapa urusan yang terlewatkan di Jogja, namun lagi-lagi niat baik itu selalu terbayar dengan hadiah yang tak terekam oleh logika.

Kisahnya readers :

Pekan sebelum keberangkatan adalah masa-masa padat merekonstruksi jadwal supaya tertata. Dengan peluang amal yang ada saat itu : Ujian blok, persiapan penyambutan GAMADA, deadline PKM, dan lain hal ternyata cukup membuat saya kewalahan. Jeleknya akhirnya menjadi dalih untuk belum sempat mengerjakan persyaratan lomba (essay, karya tulis, dan lainnya). Baiknya Allah, starting ‘bonus’ yang terwujud saat itu adalah ketika ‘the power of kefefet’ memampukan jari dan otak saya bersinergi untuk mengeluarkan kekuatan super. DONE. Ngetik essay 5 halaman dalam 1 jam. The first golden acievement ! tapi saya siap dikritik habis-habisan. Hehe

The second ‘bonus’ yang lancir meluncur saat itu : Alhamdulillah, saya masih punya essay SWOT diri tahun kemarin yang cukup panjang. Tinggal di edit weakness yang mulai tertutup, dan menambah beberapa poin streght (mungkin). Dan ternyata masih banyak yang sesuai dengan kondisi sekarang. CV tinggal nambah dikit, bukti sertifikat tinggal di potret and send.
Ternyata ‘bonus2’ tadi menjadi jalan di sms panitia untuk lagi-lagi bersua di kampus perjuangan itu. 
(Saya kangen UI dan segala ruh inspirasinya di sana :’))

NEKAT. OPTIMISTIC. ACAK KONKRIT.

Dengan modal kiriman uang dari bapak yang bikin sesek (karena lagi-lagi diizinkan dengan mudahnya), KTI yang baru latar belakang 80% koheren, daftar pustaka yang belum di ketik, bab III dan IV yang belum sama sekali, dan analisis-sintesis yang masih dalam bayang-bayang untuk tersusun rapih, apalagi ppt untuk presentasi yang masih nol besar, SAYA BERANGKAT. Saudara, saya mengerjakan di kereta, di sebuah ruangan yang sempit sangat, banyak laki-laki yang mengharuskan muka saya ditebalkan, tak berani banyak ulah dan tengok kanan kiri, berjongkok ria sambil mengetik, dan akhirnya merasa harus mengistirahatkan diri karena tak terasa mulai sayu. (bagi Anda yang pernah nge-charger HP di kerete sejenis ekonomi AC Jogja-Jakarta pasti dapat membayangkan di ruang sempit itu)
“Asik ya mbak..”
“Asik apanya mas?”
“Di kereta ngerjain tugas. Asik aja.”
“Harusnya udah selesai sih”
Mungkin terkesan asik. Tapi memang ASLI ASIK :D

Sesampai di sana dengan cerita panjang, lalu mengikuti rangkaian acara dengan ‘sok tenang’ nya :p
Tes tsaqofah, tes tahfidz (yang MJJ-mak jleb jleb-), dan akhirnya saya baru bisa mengumpulkan KTI esok harinya dengan konsekwensi pengurangan nilai. Its ok :)

Then, tes wawancara. 3 interviewer : yang tahun lalu juara 1 (Hilda), dosen muda FIK, mas’ul Salam UI. Allah... T.T pengen nangis saat wawancara isu umat. Kikuk dan semua jawaban tak memuaskan. Saya berhasil mencapai goal yang saya canangkan, ‘kapasitas diri saya mulai terlihat di tangga mana dan setidaknya start dari mana’

Beliau memperkenalkan sebagai ketua SALAM UI, yang diberi kewenangan menanyakan tsaqafah keislaman yang berhubungan dengan isu umat. (udah lemes -.-)

Awal mula yang ringan dan santai, menanyakan hal yang klise, niat mengikuti lomba ini.
Same the answer before, “Untuk berlomba dalam kebaikan dan mengukur kapasitas diri. Bukan untuk sebuah label juara” dan seterusnya...

Ternyata sang kakak ini berhasil menjadi wasilah untuk saya menyadari kapasitas diri saya.
“Sejauh pengetahuan Ulfa, seberapa besar Ulfa tahu tentang isu-isu yang ada di Palestina, Suriah dan Turki?”
“Kenapa kita harus membela saudara kita yang ada di Palestina dengan masa yang sangat panjang. Isu itu sudah bertahun-tahun. Kenapa kita tetap harus membela mereka?”
“Seberapa jauh Ulfa tahu perkembangannya? Apakah sejak tahun sekian, tahun sekian, semasa zamannya nabi Muhammad, atau lebih jauh lagi, Nabi ..., tau semasa ....”
“Apa kontribusi Ulfa untuk saudara yang di Palestina selama ini?”
“Sebenarnya mereka membutuhkan apa sih dari kita? Ada yang lain mungkin?”

Pertanyaan dengan redaksi yang tidak sama persis itu bertubi-tubi menjadi cambuk yang dahsyat bagi saya. Ternyata pertanyaan dengan nada santun dan lembut itu semakin membuat tenggelam dalam kelemahan. Rabbi, semua pertanyaan yang diberikan kakak ini tidak mampu saya jawab dengan memuaskan. SAMA SEKALI TIDAK.

Usut punya usut, ternyata sama halnya dengan teman yang lain. Tapi mungkin nggak separah saya kali ya.

Di tambah lagi, yang ini..

“Kalau Ulfa tidak tahu tentang isu keumatan, apakah itu tidak bertentangan dengan motto hidup yang tadi disebutkan?
Jlebbbbb...
“Setahu saya, ketika kita ingin bermanfaat untuk orang lain salah satunya artinya kita harus tahu isu tentang saudara kita. Sehingga kita bisa bermanfaat banyak untuk umat...”

Yaaa. Pernyataan ini tidak saya sangkal sama sekali. Dengan sedikit penguatan yang lain.

“Kalau Ulfa lebih sering belajarnya tentang ilmu fiqh, (atau yang sebelumnya saya sebutkan) bukankah itu masalah ibadah pribadi?”

Tak berdalih lagi. Meskpun dengan sedikit pembelaan.

Oh Allah... akhirnya perang tertawa miris kepada diri sendiri ini finish juga. Ending permohonan maaf dari beliau atas khilaf ternyata lebih menyesakkan. Time is over. Keluar dengan gontai dan senyuman aneh.

Semua rangkaian terlewati termasuk presentasi KTI yang berbonus finish husnul khatimah dari segi tempo itu.

Untuk sebuah ukuran pengumpulan tugas essay yang terpaksa terlambat, dan KTI yang seolah harus mulai dari awal lagi (meskipun tidak semua) ketika di kereta karena dirombak ulang konsepnya oleh nasihat dosen (yang keduanya berdampak pengurangan nilai), wawancara yang apa adanya saya, perjuangan membunuh rasa pasrah dan pesimis, berusaha memegang prinsip berjuang mastatha’tum, ukuran JUARA 3 yang tersemat cukup termanifestasikan dengan senyum terbayang bahwa lagi-lagi Allah meringankan saya untuk merasakan nikmat BONUS BERTUBI-TUBI.

Karena dalam lomba Pemilihan Mahasiswa Muslim Keperawatan Teladan, menyandang juara bukanlah prestasi. Tapi bisa jadi rahmat, bisa jadi istidraj (wujud nikmat Allah yang sebenarnya menyindir atas kapasitas lemahnya amalan kita). Semoga barokah segala inspirasi dari temen-temen panitia di FIK UI. Saudara-saudariku, selalu tertinggal rindu dengan semangat dakwah dan senyuman hangat kalian setelah lepas pijakan dari kampus perjuangan. Semoga barokah, semoga istiqomah :)

#SabtuMubarak
22 : 17 p.m
29062013
_riuh packing KKN saudara se jabal_

Institutional Parenting


“Mau tidak mau, bisa tidak bisa, kaderisasi sebuah lembaga menjadi tanggung jawab setiap departemen. Bukan hanya menjadi beban-beban di bahu PSDM’ers yang tangguh.“
Jujur, hidup ini sungguh cantik skenarionya. Harus sejujur apa lagi saya ungkapkan ya, nampaknya tak cukup elok dilukiskan dengan kalimat maupun kata yang terucap. :)

Segala bentuk kesiapan fisik, jiwa, ruh, dan asa telah tersongsong dengan manisnya di awal pergantian tahun 2013 kala itu. Wallahu’alam, sesak, haru, berkaca, senyum, pikiran penuh strategi, bayangan orang tua dan adek di rumah, profesi ke depan, PKM, DS, AAI, akademik, skripsweet, dan pinangan yang tak pernah terbersit sebelumnya (Menjadi Kepala Departemen Media.Red). Oh Allah, Ulfa yakin Engkau sedang mempersiapkan suatu hal yang lebih agung di tahun ini. 

Mungkin yang masih separuh-separuh hati ini terikat untuk terus mengikis dosa di keheningan malam, yang masih terdistorsi alam bawah sadarnya ketika bertatap muka dengan-Nya, atau yang masih harus mengasah potensial diri untuk menebar kebermanfaatan. Sehingga qadarullah menggariskan memang harus sematan Kepala Departemen Media Gama Cendekia yang melekat di tahun ini untuk bantalan lompatan yang lebih jauh di tahun yang lebih mentriger sesudahnya. Baiklah, akhirnya termantapkan utuk memilih belajar menjalani semua, dengan segala kelemahan dan topangan kekuatan penuh dari-Nya. 

Satu bulan, dua bulan, dan berjalan tiga bulan kepengurusan...

Walhasil dengan segala keharuan, justru saya belajar banyak atas proses ini. Yang saya namakan “Institutional Parenting” :)

Menjadi seorang Kepala Departemen Media artinya saya menjadi seorang Bunda –ini panggilan yang  saya inginkan kelak, panggilan bersahabat :) hehe-. Belajar manajemen pola asuh anak yang tak dapat terelakkan dalam proses perjalanan di satu kepengurusan. Dalam hal ini, sebut saja kaderisasi, yang saya lebih memaknainya pengibaratan ‘institutional parenting’. Why? Karena memang bisa diibaratkan proses-proses penjagaan anggota -entah itu staff, staff ahli, staff magang- di sini sesungguhnya sama saja termaknai dengan menjaga dan memelihara seorang anak. Tidak layak ada satu pun yang luput dari perhatian dan penjagaan kita. Layaknya kita merawat anak, pastinya tak akan mungkin sanggup mengacuhkan satu pun ketika tak ada kabar padahal tidak hadir saat pertemuan keluarga besar. 

Rasa untuk terus ingin mengenal lebih dalam, menggali potensi optimal dan memperhatikan satu per satu tanpa ketimpangan sudah selayaknya tumbuh dan terpupuk dari hati yang terdalam. Segala manifestasinya tentu akan lebih hidup dan sampai pada setiap hati yang tersentuh atas ikhtiarnya. 

Institutional termaknai karena kita berada dalam sebuah lembaga. Artinya setiap bakat dan potensi anggota –yang diibaratkan anak- di sini harus teroptimalkan untuk kebermanfaatan di lembaga. Sebagaimana mampu potensi masing-masing individu tersebut menopang sendi-sendi untuk menegakkan tubuh visi dan misi lembaga kita. 

Dengan jujur, yang saya sadari sekarang, ternyata mempunyai anak banyak itu memang harus di rintis sejak belum terealisasikan. Salah satunya menjadi kadept lembaga :D
dulu ketika di MSC (Medical Science Club FK UGM), adek saya cukup 6 dan sungguh relatif sama. (sama-sama baiknya, sama-sama kompaknya, sama-sama alimnya, sama-sama jurusannya, sama-sama kompetensinya dikerahkan, dan mungkin hanya sedikit perbedaan). 

Sedangkan tantangan di posisi sekarang terasa lebih berwarna, mempunyai 1 staff ahli, 10 staff, dan 21 staff magang yang cukup variatif. (btw, pusing juga kalo punya banyak anak gini -.-) Dengan potensi yang berbeda, basic ilmu berbeda, peminatan spesifik media yang berbeda, dan semua harus mendapat perhatian ekstra optimal. Sebisa mungkin tak ada yang luput dari pemenuhan kompetensi di masing-masing ranahnya, dan harus kontribusi optimal dengan passionnya.
Pengakuan calon ibunda :D

Saya belum cukup kompeten mengurus banyak anak –untuk sekarang :p-. Karena masih saja keteteran balas sms saat situasi tertentu –entah di jalan, saat kuliah, rapat, kelas DS, dll. Yang akhirnya kelupaan-. Atau yang masih belum cukup banyak waktu mencurahkan sms satu per satu yang belum konfirmasi sms. Saya percaya, mungkin sedang sibuk, atau kelupaan, seperti saya. Sehingga menjadi penting untuk diingatkan atau di sapa satu per satu :)


Pasca 1st Meeting with 2012
Blue Print Media GC 2013
Menyayangi kalian adalah sebuah kelaziman yang bersumber dari Pemilik Muara Cinta, Allah ‘aza wajalla..

Semangat istiqomah untuk beramal di Media, hingga penghujung akhir husnul khatimah kawan semua ^^

Bergerak berkarya, untuk inspirasi dunia :)

Oh ya, satu lagi. Bersabarlah dengan triger deadline kerja sebentar lagi dari saya. :D haha
Semoga dikuatkan... :)

Ahad dini hari, dalam kesunyian Rumah Cahaya
14 April 2013
0 : 59 a.m

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..