"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Episode Epridai is Sandai

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Diberi kesempatan Allah sedang berjalan di stase yang serasa ‘epridai is sandai’. Berketepatan dengan beriringnya bulan mendekat jarak dengan Ramadhan Mubarak.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk bercengkerama dengan kehidupan Jogja, setelah itu belum lagi full sambut dan menjalani Ramadhan di kampung halaman.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk mengais jalan keberkahan ortu di Jogja lewat ilmu, setelah itu belum lagi bisa full berhari-hari dialog dan berbanyak quality time dengan orang tua.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk akhirnya tertaktdirkan belajar banyak hal di DS, setelah itu belum lagi bisa berurutan hari nagih adek setoran hafalan.

Rasa-rasanya, memang ini jalan terbaik yang Allah kasih atas bagian dari fase hidupku.

Agar kemudian aku berusaha bertahan baik dengan rasa syukur dan tak lengah dalam bersimpuh.

Agar kemudian, lagi-lagi aku selalu senyum dan terngiang, fabiayyi aalaa’I rabbikuma tukadzibaan :)

Rabu, 11052016

10:58 pm

Dapat Penawar Futur


Lagi seneng sama Bu Dewi. Sukaaa deh. Peri bangeet.
Sama juga kayak sahabat terbaik yang lain. Setiap kali ngobrol sering kali Allah turunkan keringanan untuk muncul endorphin. Jadi sukaa gitu senyum denger ceritanyaaa. Ah Ibu, idaman bangeeet.

Alhamdulillah, malam ini direlain, diringan-ringanin buat berangkat ke Rumah Sakit yang sebenarnya sedang turun jaga. Konsultasi sekitar jam 20.00 dan berakhir hampir jam 21.00 an. Alhamdulillah, jadi mikir hal yang bermanfaat lagi ini otak. Setelah beberapa waktu cukup sirkumtansial.

Qadarullahnya, Allah mempertemukan saya dengan Bu Dewi yang beliau begitu telaten membimbing stase manajemen kami. Ceritanya saya dapet bagian pembuatan SPO (Standar Prosedur Operasional) tindakan-tindakan keperawatan di bangsal THT dan Bedah Mulut RS Sardjito. Walhasil, setelah usai konsultasi sukalah saya kalau disuruh denger cerita inspiring gitu. Singkatnya, beliau yang lulusan Vokasi dan diamanahkan sebagai seroang ketua KFK (Semacam ketua penyusun beberapa draft SPO/SAK Rumah Sakit berdasarkan kategori keilmuwan yang khusus, duuuh lupaaa kepanjangannyaah) gitu cukup menjadi hal baru dan membuat beliau denial. Secara untuk keilmuwan Vokasional pastinya tidak lebih mendalam dibandingkan dengan S1. Namun penyusunan draft tersebut merupakan kinerja-kinerja teoritis banget. Alhasil beliau merupakan anggota tim termuda, dengan background pendidikan vokasional dan yang lain (mungkin) mayoritas S1. Terlebih pula beliau masih dalam posisi belum pegawai tetap/THL (Tenaga Harian Lepas. CMIIW)

Oooh maan, itu mirip-mirip dikit sama posisi saya di kadep media dulu :D berasa senasib Ibuu. Meski nggak segitunya siih. Yah, sama-sama harus belajar banyak gitu, kalau saya belajar dari awal bingits. Alasannya pun ya agak-agak mirip, karena nggak ada yang mau. Haha, entahlah, mirip atau samaa karena nggak ada yang lain. Yang jelas hal tersebut membuat beliau kuat, makin tangguh, dan makin berenergi buat belajar. Ah, seneng deh belajar dan dibimbing oleh Ibu. Udah murah senyum, telaten, rajin, baik, bersahabat, lembut yang tetap berkarakter.
Jadi pengen belajar juga, jadi orang yang berdedikasi dan lapang banget menerima masukaaan. Zzz, gregetan :D
*Saya berharap Ibu Dewi nggak baca tulisan di blog saya bagian postingan ini. Hehe

Semoga Allah kuatkan ya Ibu, In syaa Allah Ulfa ikhtiar buat bantuin Ibu dan belajar sama Ibu sepenuhnya. Nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih, buat mengerjakan yang terbaik buat bantuin Ibu, buat RS Sardjito. *cieeh

Stase manajemen kayak stase dewa, aduh berlebihan mungkin yak (keikut istilah yang sering di denger sih). Tapi Alhamdulillah jadi belajar berhubungan dan belajar dengan orang-orang penting di Sardjito. Dan awesomenyaaah, nyusun standar tindakan keperawatan buat bangsal buat dibukuiiin. Berasa expert -__- yang aaamiiin, semoga terus berbenah makin baik dan makin beneran expert.

Jadi sukaaa, karena jadi inget jaman-jaman semangat lomba, buat nyusun something new or innovation that make easier to others. Sukaa, karena musti nyari gimana caranya nyusun, dimana referensinya, mana aja yang dimasukin. *Padahal sebenernya dalam hati berkecamuk (aaaak. Gimana ini??? :D)
Semoga Allah mudahkan dan ringankan kerjanya. Aamiin

Finally, I’m fine :) Alhamdulillah..

Setelah beberapa saat pikiran sirkumtansial soal beberapa hal. Cenderung butuh asupan biar semangat. Alhamdulillah berkah waktu 1 jam konsultasi barusan membuahkan hasil. Utamanya soal kondisi ruh diri.

Yang jelas hal yang senantiasa terekam sebelum berangkat adalah, saat-saat dimana saya sesekali menjawab pertanyaan soal tips mengatasi semangat yang fluktuatif atau kondisi ruh yang futur. Baik saat ngisi acara kecil-kecilan maupun curhatan antar teman.

“Semangat kan naik turun ya, Kak. Kadang kala kita futur. Gimana cara kakak mengatasi futur?”

Futur is masa depan dek. Eh, future yak :P

Heheh, jadi kalo sampai detik ini masih ada pertanyaan gitu, saya gini jawabnya :

“Bergerak aja terus. Jangan berputus asa atas rahmat Allah. Bergerak terus sampai lelah itu lelah mengejarmu. Hidayah itu dijemput. Termasuk kondisi diri yang sedang bersemangat, itu merupakan rahmat Allah. Cara biar Allah karuniakan Rahmat-Nya? Banyak-banyak amal shalih :)”

Merupakan saripati dari sebuah hadits, “Bersemangatlah atas apa-apa yang terbaik bagimu, mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim

Alhamdulillah, meski 1 jam, dengan kondisi sebelumnya yang harus mendorong gerakan raga, Allah tumbuhkan ruh yang baik, jiwa yang bersemangat, kan?
_Mari Berkarya _

10 : 25
04012016
@GoBST !

Reference :
https://rumaysho.com/265-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat.html

Rabu Mubarak

Subhanallah wal hamdulillah..

Kita patut bersyukur ketika alur pikir kita masih bekerja untuk meruntutkan hikmah atas segala peristiwa yang kita lewati dalam keseharian.

Hari ini aku luput dari salah satu amalan yang utama. Alhamdulillah Allah masih mengkaruniakan kemudahan menambal di lain sisi. Yang jelas amalanku biasa saja hari ini. Mungkin jiddiyahnya yang menjadi nilai dan menambah keberkahan.

Sometimes we are not prepared enough for a much time will we have later. Dan benar adanya, “Ujian itu sesungguhnya ketika di waktu luang”. Di saat sudah tidak dipadatkan dengan kuliah, u must be a strategic person who have to professional managing ur overabundance time. Yeah, actually we know that exactly it will be a good chance to optimize our focus responsbility (eg. Our minithesis) for now. But, for people who habitually must execute more than one or two work all at once, it just like tasteless. Hehe

Maybe today Mubarok is about jiddiyah. Betapa butuh kesungguhan untuk mengangkat butir-butir kelambanan di waktu luang. Saat bayang-bayang persiapan Ramadhan terngiang di sudut pandangan tapi tak diimbangi dengan gerak raga yang menyambut. Qadarullah dengan kemurahan-Nya, jasad berikhtiar paksa dan membaca surat cinta dari-Nya, sebagaimanapun rasanya, dan akhirnya mengalir begitu saja. Tilawah hari ini melampaui target. Meskipun targetku masih jauh sangat, ah sangat, dari para salafush shalih.

Syukur atas aktivitas hari ini, yang semoga berkah.

Meeting morning alias syuro pagi (:p)
silaturrahim ke ‘ammah sari alias menghadiri undangan makan burjo yang masyaa Allah (:D)
nyicil target tilawah (baru nyicil)
istirahat sejenak
mencicil cinta (lagi)
dhuhur
kembali dengan cinta
dan puncak jiddiyah menebus kealpaan
ashar
rapat KKN
tuntas membeli perlengkapan saat ini
maghrib
makan dan dipertemukan dengan seseorang yang bercerita banyak mengenai hikmah hidup sebagai seorang muslim
isya
rapat KKN
kembali dengan firman-Nya
 menyapa saudari dengan ruh yang mumpuni insyaa Allah
sampai detik ini.

“Rabbii auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa wa lidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihli fii dzurriyyati innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin”

Ruang menjamu tamu Rumah Cahaya, 22 : 08 p.m

Rabu Mubarak, 04062014

a Little Encouragement

Bismillah.. percakapan tadi masih terasa.
Saat ini saya di Perpus, kembali ingin meneteskan embun-embun ikhtiar yang semoga berkah untuk pengakhiran studi saya di S1. Bachelor Degree, that i hope will recorded inspiring story later.

F : Fulanah
U : Ulfa

-------

F : Heiii Ulfaaa... :’) Gimana ini.. lama nggak ketemu..

Sembari kami bersalaman, as usual.

(Ya, memang intensitas mahasiswa tingkat akhir untuk bertemu semakin tereduksi dengan kesibukan mengurus ‘percintaan’ masing-masing, meskipun beberapa teman dan adik kelas ada yang melabuhkan cinta beneran #apasihsungguhnggakpenting)

U : :) iya fulanah...

Kemudian singkat cerita kami berbincang soal probabilitas bisa wisuda Agustus.
Konon katanya di Nursing Science Program ini masih dengan rumor bahwa tidak ada yang diikutkan bulan November, so, if u still not finished yet u must follow the next section graduation ceremony in February the next year.

F : Gimana yaa? Bisa nggak ya kira-kira? :’)
U : Bisa, bisa Insyaa Allah.. Kita ikhtiar aja terus, pertolongan Allah ada di puncak ikhtiar kita :)
F : iya ya, insyaa Allah bisa lah ya, nanti sambil KKN ngerjain pembahasan.
U : Iya iya fulanah :’D

Saudariku Fulanah, actually what u say i’v been thinking in previous day. I also still don’t know why i’m too optimistic. Maybe i including some people who have optimistic-isme or closer with husnudzon-isme :D

But, if i may tell to u, it will give encouragement for me :)

We still have Allah. Allah. Allah. We always say that, “Allah Tuhan Semesta Alam.”
Yep, semesta saja dikuasai oleh Allah. Apalagi skripsi yang notabene hanya sebagian kecil dari potongan hidup kita. Mudah saja bagi Allah untuk dijadikan. Believe it, sister ^^

---Allah, sesungguhnya ini merupakan bentuk kami hanya sanggup bergantung penuh pada-Mu atas segala hal yang menjadi urusan kami. ---

Singkat alam pikir ini mengejawantahkan sebuah pemahaman yang saat akhir-akhir ini terngiang.

“Wa maa yattaqillaha yaj’allau makhraja”
“wamanyatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh”

Dan masih banyak lagi janji-janji Allah untuk orang yang bertaqwa. We can see that at surah at Taalaq (65) especially in the end of ayat or others surah. Banyak lagi kemurahan Allah untuk orang mu’min that we can learn from Surah Al-Mu’minun.

Sometime we just need enrich our taqwa and iman quality to do all of our duty and responsibility in life. So that Allah will give full of Ridho, so that our life will like a flying and very easy to live.

17 : 21 WIB
03/06/2014

Bismillah ikhtiar tanpa jeda. Hope will be barokah ever after :)


Bersyukur

Astaghfirullah.. belakangan sempet terbersit di benak saya serpihan rasa 'aneh' tak diundang.
Tapi alhamdulillah, pagi ini juga saya bisa bilang ke Umi saat ditanya di sebuah forum kecil.
"Ammah, apa yang akan diucapkan di pagi ini?" tanya Umi dengan penuh semangat haru
"Syukur Umi :) "
"Nah.. syukur kenapa? :) Silakan jelaskan.."
Dengan penuh berat hati dan rasa malu akhirnya harus tertuang juga dari lisan.
"(dengan prolog kecil).. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk di DS Mi, meskipun dalam keadaan menjurus ke futur sekecil apapun, setidaknya akan lekas kembali, karena berada dalam lingkungan temen-temen yang sama-sama berjuang untuk menjadi pribadi yang  lebih baik setiap waktunya :)"
#Redaksi tidak sama persis karena lupa.

Mungkin kalau nggak di sini, masih tersisip celah waktu untuk tersia-siakan.

Manusia memang butuh partner sob, nggak bakal bisa hidup sendiri.
Seminimalnya kita, setidaknya jangan terus merasa nyaman saat ada sinyal 'nyaman' dalam kesendirian.
Karena bagaimanapun juga, yang namanya atmosfir akan terus mewarnai dan menjadi faktor kuat untuk kita sama-sama merasakan nuansanya.
Karena bagaimanapun juga, yang namanya hidup berjamaah akan membuat kita semakin produktif. Setidaknya akal kita akan terus terpantik untuk menelisik wacana baru di sekitar kita, yang nggak mungkin sanggup kita dapatkan semua di sisa-sisa waktu sedikit yang dipunya
Atau setidaknya pula, hati kita bakalan selalu peka, memekakan diri tepatnya, supaya terus bersabar, tekun dan ikhlas memanajemen hati dan memunculkan serpihan hikmah.
Karena mau nggak mau yang namanya hablum minannas akan menjadi urusan yang tidak lebih mudah dari sebatas hubungan dengan tugas, mesin, alat praktikum, ataupun skripsi #haha.
Karena manusia punya fitrah rasa yang berbeda, baik dari tingkat kelembutan, ketegasan, warna sikap dan perilaku, sensitifitas dan spesifisitas #eh, maupun background keluarga yang unik hingga sangat berpengaruh pada setiap karakter.
Ah, tapi itu semua maniiisss... bahkan manisnya tak sanggup terurai goresan tinta dengan makna yang seimbang dengan rasa.

Ah sudahlah, perjalanan masih pangjang. Sepelik apapun prahara, niscaya perlahan akan menjadi anugerah, hadapi saja tantangannya, sambut harinya dengan suka cita, toh setelah kesulitan rumusnya pasti kemudahan kan, mantepin ibadah dan do'a, cukuplah Allah saja jadi tumpuan harapan.

Nah, kutipan di akhir sebenarnya mixed from 3 nasheed lyrics :D
Daripada temen-temen turut berkontribusi naikin rating lagu-lagu sunyi senyap missing meaning, silakan aja cicip 3 top nasheed most played di WMP saya. Tapi ini the second choise after murottal yea :)
Anyway #hehe, don't overplay, just within measure, in order that we still have time to listening or reading Al Qur'an anymore ^^

1st : Meraih Sukses (Asy Syifa Nasyid Acapella)
2nd : Prahara Jadi Anugerah ( Shoutul Harokah)
3th : Hadapilah (Shoutul Harokah)

IP, IPK, Prestasi

Menurut saya IP itu akumulasi nilai #yaEmang

Tapi akumulasi berapa nilai investasi Al-Qur'an dan perjuangan untuk agama Allah untuk semester yang bersangkutan.

Sedangkan IPK itu akumulasi IP #tentu

Tentu saja akumulasi amal dakwah dan waktu spesial kita untuk mengaji dan mengkaji kalamullah selama bilangan semeser terlampaui.

dan prestasi itu bonus semata di sela prosesnya :)
Substansinya adalah, beramal yang Allah ridhoi saja. Yang membuat Ia semakin sayang dengan kita ^^

14 : 53 p.m
02022014

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Refleksi Hidup dari Si Abang Siomay

Gerobak seberang perlahan mulai surut secara kuantitas. Sudah mulai di ajak mengais rizki oleh tuannya. Si abang ternyata siaga selepas dhuhur. Kisaran lepas pukul dua belas siang, sudah rapih dengan pakaiannya untuk berkeliling luasan sinduadi, entah pogung lor, pogung baru, slokan mataram, atau yang lainnya. Tapi usik siapannya sedari pagi, terlihat samar dari balkon. Geraknya khusyu, sesekali berkomunikasi dengan rekan kerjanya. Sedangkan saya mencari posisi terstrategis untuk tetap menikmati slide materi tanpa gelisah terlihat insan lain dengan tidak menenangkan -hehe-.

Inilah hidup, segala hal memang penuh titian ikhtiar. Sekecil apapun. Dan pasti si abang tadi harus berjuang dengan banyak cabang, mentalitas, laba-rugi tiap harinya, belum lagi panas dan hujan. Pernah terbayangkan? Jika saja ia tersanding takdirnya dengan se usianya yang sekarang menikmati bangku kantor kemegahan. Gaji besar. Hidup mewah. Begelimang harta. Atau minimal wirausahawan muda. Sedangkan saat itu menguatkan diri untuk mengenalkan diri sebagai pedagang siomay kaki lima? Mungkin kita baru terkadang menyadari kemuliaannya. 'Yang penting halal', begitu mungkin ketika mengungkap niatannya. Atau 'daripada ngamen di jalan'.. Masyaa Allah, pasti ia terpatri untuk menjaga izzah diri dan keluarganya.

Kamu siapa kawan?
Mahasiswa?
Berapa minta duit dalam sebulan?
Habis untuk apa?
Ada beasiswa?
Apa?
Parent foundation?

Berapa tetangga kos atau kontrakan yang telah kena dampak ilmu melangit yang kamu pelajari siang dan malam itu?
Atau jangan-jangan waktu luang saja dicukupkan untuk mengkhatamkan taman rekreasi, kuliner, atau menjamah tempat bermanjakan diri?

tertunduk merenunglah..

Ah, saya pun sama saja baru di ranah kampus, atau mungkin hidup pun masih dalam homogenitas yang terlalu sering. Terlalu nyaman. Telah banyak kaca bertebaran, tapi manusia jarang mau memakainya sembari lama menyapa siapa yang tergambar. Kaca kehidupan, yang dalam realitanya terlukis saksi hidup kerasnya hidup dan kehidupan. Tapi nampaknya baru sedikit yang terus tergerak, bahwa mentalitas juang harus terasah. Bak jemari yang kebal 'mengapal' karena terus tergores dengan senar gitar. Hingga masih ada saja yang tergelepak sendu dengan kemalasan.

Semoga jiwa-jiwa kita terkuatkan oleh-Nya. Berjihad besar dengan diri untuk melompat ke urusan umat dan kembali ke masyarakat dengan sejuta manfaat.

Kemudian mendongkrak kemajuan sampai sejahteralah bahtera rukun tetangga sekitar kita. Minimal. Sampai kelak untuk negeri kita tercinta.

12 : 58 p.m
Teduh balkon bersanding kamboja
-emergency learning-

Kehidupan Sesungguhnya

"Inilah kehidupan sesungguhnya fa :)"


Iya, na.. kampus terlalu nyaman dengan homogenitas pemikiran cendekiawan. Menjadi sebuah jihad tersendiri untuk menyampaikan sikap, perkataan, pesan dan sebuah ide dalam masyarakat.

Allah... thanksgiving over Ur admonition tonight :")

_Permata 14_
23 : 39 p.m

Institutional Parenting


“Mau tidak mau, bisa tidak bisa, kaderisasi sebuah lembaga menjadi tanggung jawab setiap departemen. Bukan hanya menjadi beban-beban di bahu PSDM’ers yang tangguh.“
Jujur, hidup ini sungguh cantik skenarionya. Harus sejujur apa lagi saya ungkapkan ya, nampaknya tak cukup elok dilukiskan dengan kalimat maupun kata yang terucap. :)

Segala bentuk kesiapan fisik, jiwa, ruh, dan asa telah tersongsong dengan manisnya di awal pergantian tahun 2013 kala itu. Wallahu’alam, sesak, haru, berkaca, senyum, pikiran penuh strategi, bayangan orang tua dan adek di rumah, profesi ke depan, PKM, DS, AAI, akademik, skripsweet, dan pinangan yang tak pernah terbersit sebelumnya (Menjadi Kepala Departemen Media.Red). Oh Allah, Ulfa yakin Engkau sedang mempersiapkan suatu hal yang lebih agung di tahun ini. 

Mungkin yang masih separuh-separuh hati ini terikat untuk terus mengikis dosa di keheningan malam, yang masih terdistorsi alam bawah sadarnya ketika bertatap muka dengan-Nya, atau yang masih harus mengasah potensial diri untuk menebar kebermanfaatan. Sehingga qadarullah menggariskan memang harus sematan Kepala Departemen Media Gama Cendekia yang melekat di tahun ini untuk bantalan lompatan yang lebih jauh di tahun yang lebih mentriger sesudahnya. Baiklah, akhirnya termantapkan utuk memilih belajar menjalani semua, dengan segala kelemahan dan topangan kekuatan penuh dari-Nya. 

Satu bulan, dua bulan, dan berjalan tiga bulan kepengurusan...

Walhasil dengan segala keharuan, justru saya belajar banyak atas proses ini. Yang saya namakan “Institutional Parenting” :)

Menjadi seorang Kepala Departemen Media artinya saya menjadi seorang Bunda –ini panggilan yang  saya inginkan kelak, panggilan bersahabat :) hehe-. Belajar manajemen pola asuh anak yang tak dapat terelakkan dalam proses perjalanan di satu kepengurusan. Dalam hal ini, sebut saja kaderisasi, yang saya lebih memaknainya pengibaratan ‘institutional parenting’. Why? Karena memang bisa diibaratkan proses-proses penjagaan anggota -entah itu staff, staff ahli, staff magang- di sini sesungguhnya sama saja termaknai dengan menjaga dan memelihara seorang anak. Tidak layak ada satu pun yang luput dari perhatian dan penjagaan kita. Layaknya kita merawat anak, pastinya tak akan mungkin sanggup mengacuhkan satu pun ketika tak ada kabar padahal tidak hadir saat pertemuan keluarga besar. 

Rasa untuk terus ingin mengenal lebih dalam, menggali potensi optimal dan memperhatikan satu per satu tanpa ketimpangan sudah selayaknya tumbuh dan terpupuk dari hati yang terdalam. Segala manifestasinya tentu akan lebih hidup dan sampai pada setiap hati yang tersentuh atas ikhtiarnya. 

Institutional termaknai karena kita berada dalam sebuah lembaga. Artinya setiap bakat dan potensi anggota –yang diibaratkan anak- di sini harus teroptimalkan untuk kebermanfaatan di lembaga. Sebagaimana mampu potensi masing-masing individu tersebut menopang sendi-sendi untuk menegakkan tubuh visi dan misi lembaga kita. 

Dengan jujur, yang saya sadari sekarang, ternyata mempunyai anak banyak itu memang harus di rintis sejak belum terealisasikan. Salah satunya menjadi kadept lembaga :D
dulu ketika di MSC (Medical Science Club FK UGM), adek saya cukup 6 dan sungguh relatif sama. (sama-sama baiknya, sama-sama kompaknya, sama-sama alimnya, sama-sama jurusannya, sama-sama kompetensinya dikerahkan, dan mungkin hanya sedikit perbedaan). 

Sedangkan tantangan di posisi sekarang terasa lebih berwarna, mempunyai 1 staff ahli, 10 staff, dan 21 staff magang yang cukup variatif. (btw, pusing juga kalo punya banyak anak gini -.-) Dengan potensi yang berbeda, basic ilmu berbeda, peminatan spesifik media yang berbeda, dan semua harus mendapat perhatian ekstra optimal. Sebisa mungkin tak ada yang luput dari pemenuhan kompetensi di masing-masing ranahnya, dan harus kontribusi optimal dengan passionnya.
Pengakuan calon ibunda :D

Saya belum cukup kompeten mengurus banyak anak –untuk sekarang :p-. Karena masih saja keteteran balas sms saat situasi tertentu –entah di jalan, saat kuliah, rapat, kelas DS, dll. Yang akhirnya kelupaan-. Atau yang masih belum cukup banyak waktu mencurahkan sms satu per satu yang belum konfirmasi sms. Saya percaya, mungkin sedang sibuk, atau kelupaan, seperti saya. Sehingga menjadi penting untuk diingatkan atau di sapa satu per satu :)


Pasca 1st Meeting with 2012
Blue Print Media GC 2013
Menyayangi kalian adalah sebuah kelaziman yang bersumber dari Pemilik Muara Cinta, Allah ‘aza wajalla..

Semangat istiqomah untuk beramal di Media, hingga penghujung akhir husnul khatimah kawan semua ^^

Bergerak berkarya, untuk inspirasi dunia :)

Oh ya, satu lagi. Bersabarlah dengan triger deadline kerja sebentar lagi dari saya. :D haha
Semoga dikuatkan... :)

Ahad dini hari, dalam kesunyian Rumah Cahaya
14 April 2013
0 : 59 a.m

Tsunami Caring di Salto Absurd dan Ajang Kontemplasi



“ulfaa... kamuu... kenapa jempalitan di jalan???”
“(hah???) Bahasanyaaa... -.- iya yaaa :))”
“Mana aja yang sakit?”
“nggak kok cuma ini, ini, sama memar sini, terus bagian sini agak nahan... ada yang...” (nggak tahu ini rasa apa)
“nahan helm ya?”
“iya mungkin :D”

Berlangsunglah cerita seru salto di jalan pakem siang kemarin di selasar Jetsu (Jabal Tsur). Yah, jurus ketidaksadaran telah dikeluarkan untuk mencium ekor mobil absurd (karena nggak jelas nabrak mobil apa, warna apa, plat nomer berapa -___-). Akhirnya tangan kiri dan kanan saya kembali dihiasi dengan nuansa ‘pink’ penuh sensasi ketika tersentuh air :D

Oh Allah, cantik sekali kejadian ini. Field Trip kali ini terhiasi dengan suasana mengharu biru. Bukan karena saya menggelinding di jalan, tapi merasakan tsunami caring yang luar biasa :’)
Beberapa detik sebelum kejadian saya rasa masih “on” dengan diri saya sendiri. Bahkan masih sempat memikirkan suatu hal namun entahlah lupa. Nah, takdinyana, beberapa detik kemudian dikejutkan dengan suara benturan keras. 

“Innalillahi...”

Saya merasakan beberapa kali benturan di kepala, kaki saya tertindih motor dan tangan tertindih badan. Rasanya berat untuk bangkit, namun secara kesadaran bisalah dikatakan composmentis.
---“Oh aku jatuh ya...(hehe) tangan kananku...? (dulu sempat patah tulang)... insyaAllah nggak papa, tadi nggak buat menopang :) tunggu dulu, masih belum sadar penuh dan terasa berat”----
(ini jawaban kenapa saya tak langsung bangkit ketika itu)

Sementara riuhnya jalan mengkhawatirkan posisi saya sebagai korban yang tak kunjung berdiri. -mungkin dikira pingsan-.

Dengan bantuan Mei, “fa, bisa berdiri?”

Keadaan saya masih shock, hanya menahan ada suatu yang memberatkan di kepala. Barangkali karena tas, helm dan motor yang masih sama-sama tersentuh di badan. Akhirnya mampu duduk, dengan tetap tak sanggup bersuara. Tertunduk kemudian, lalu teman-teman menyarankan agar kaki diluruskan.

“Kaki lurusin fa.. “
“Ke pinggir aja, ke pinggir....”
“fa, bisa berdiri?”

Dengan sedikit dibantu oleh salah satu teman, akhirnya saya terduduk di bahu jalan dengan kebanjiran care dari teman-teman PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan), atau bahkan tsunami caring kali ya. :D

“fa, mana yang sakit?”
“hm? Paling ini sih, sama bagian sini... (sedikit menahan)”
“Bentar ya fa... disiram dulu pakai air, biar kotorannya hilang...”
“iya Mei...”
“tahan ya fa...” tambah Ayu

Sementara saya masih berusaha menstabilkan shock dan tak tahu bagaimana bisa terjadi, sedikit banyak tergelitik dengan seruan teman-teman.

“Fa, ke rumah sakit dulu aja ya?”
“Hm? Mm.. bentar deh, coba istirahat dulu... (saya belum merasa tenang)”
“Fa, ke Grasia nggak papa?”
“(haha) :D ke Ghrasia...?”
Kemudian melihat dua sosok polisi datang menghampiri dan menanyakan keadaan saya.
“Gimana mbak tadi kejadiannya”
“Nggak tahu saya pak :D” jawab saya dengan entengnya
“Oh.. terus bagaimana keadaanya?”
“Nggak papa kok pak :)”
“Oh ya sudah kalau nggak papa.. di bawa ke tempat yang teduh..”

Rasanya masih ingin bertanya kepada diri sendiri, “kok bisa ya? Nggak sadar, tadi gimana bisa terjadi?”

“Ngantuk apa gimana sih fa?” tanya adis -yang saya bonceng- dengan spontan.

Saya tidak menjawab karena sedikit tidak fokus, akan tetapi seolah-olah saya menemukan kata kunci yang dahsyat, yah, sebelumnya saya sempat NGANTUK. Oh tidaaak... jangan-jangan saya tak tersadar karena sudah di alam lain sebelum jurus salto misterius itu terjadi -__-

“Mana fa yang sakit, coba dilihat..”
“Ulfa bisa duduk?”
“Minum dulu Fa..”
“Ulfa ke Puskesmas dulu aja po?”
Ayu masih dengan senyumnya mengurusi keadaan saya.
Dan yang lain terpikir bagaimana mobilisasi saya selanjutnya...
“Fa, kamu tak boncengin aja po?” Ternyata ada Agus juga di sini
“Kamu tak anter aja fa, mau lanjut atau ke rumah sakit?” Andre menawarkan solusi
“Udah Ulfa sama aku aja, biar nanti yang nungguin nggak papa..” Solusi bijak yang tersepakati muncul dari sohib sekaligus penasehat bagi saya, mbak Adin :D

-Percakapan ini mungkin redaksinya tidak persis, hanya gambaran umum seingat saya-

Entahlah, siapa saja yang ada pada waktu itu, banyak tangan-tangan malaikat dari calon garda pelayanan kesehatan terdepan untuk masyarakat kelak. Saya merasakan tsunami caring yang luar biasa dari temen-temen PSIK 2010. 

Banyak wajah-wajah yang saya saksikan ketika itu, adin-andre-muss-ayu-mei-nana-agus-angga-adis dan semua temen-temen PSIK yang sayang sekali saya tak dapat mendikte satu per satu saat itu karena keterbatasan fokus.

Ending point dari kisah ini pada saat saya dibawa ke RS Panti Nugroho Jl. Kaliurang KM 17. Sedikit lama saya ditangani di UGD -mungkin karena prioritas penanganan- ini. Justru dalam penantian ini ruang kontemplasi saya mulai terpancing. Pagi ini begitu unik, keterlambatan 15 menit di tutorial masih saja membuat saya tersenyum meskipun mendegradasi angka 92, 94 menjadi batas garis 75. Allah selalu punya cara untuk menyegarkan hati hamba-Nya dengan matematis alam, dari hanya sekedar eksakta logika. Wallahu'alam, feedback  maladaptif terhadap diri sendiri untuk melihat senyum sohib terdekat sebelumnya malah lebih saya sukai meski menyusutkan angka-angka menggiurkan itu. Hanya saja saya yang harus mengatur komponen fikriyah agar tak terkungkung dalam sesal yang juga absurd.

Lukisan kecantikan yang tergores pagi itu pula...

Oh Allah... :')
Saya sempat berdo'a sebelum tidur di motor. Mungkin sebagian orang berkata bahwa ini konyol. Tapi ilmu ini saya dapat dari sebuah dauroh.
Kesimpulan praktis yang bermakna saya resume dari nasihat seorang trainer, "Ketika bepergian dengan kendaraan, bacalah do'a bepergian dan do'a mau tidur. Karena jika kita nanti ngantuk di jalan, kemudian Allah berkehendak mencabut nyawa kita saat itu, entah dengan kecelakaan atau hal yang tidak kita sadari, setidaknya kita meninggal dalam keadaan baik, husnul khatimah..."
"Mbak adin, aku sempat baca do'a mau tidur di jalan tadi sepertinya... :') Ilmu waktu dauroh.."
":)"
"Qadarullah..."

Jika qadarullah saya memang harus kecelakaan saat itu, menidurkan adalah cara termanis yang Allah ulurkan agar saya cukup merasakan layaknya jatuh dari kasur. Betapa nikmatnya :)
Pantas saja seorang dengan ringan tersenyum saat ajal menyapa, padahal sakitnya tergambar begitu menggetarkan. Pasti hati, raga dan fikriyahnya sangat banyak tersayat demi kecintaan-Nya. Sedangkan merasakan terseok di jalan saat tak sadar, dan dalam keaadaan masih ada wudhu saja seperti tersiram kesegaran dari kemurahan-Nya. Selalu ada rasa untuk sedekah ringan yang merekah, senyum penuh menelisik segala hikmah kehidupan.

Setelah perawat datang, seperti pada umumnya -yang juga kami praktekkan-, menikmati cek nadi, tekanan darah, pernafasan, dan alhamdulillah normal. Kalau dilihat masih sedikit takikardi mungkin. Dilanjutkan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan penanganan luka oleh suster yang lain.

Di UGD tersebut saya merasa senang karena ada peluang untuk berkontlemplasi. Mulai dari rona peristiwa yang sarat hikmah hingga menerawang keprofesian ini lebih dalam, meresapi keanggunan niatan setiap pelakunya, dan harapan masyarakat luas untuk keberadaan profesi kami.

Ya, saya merasakan bagaimana kehadiran perawat sangat dinanti oleh pasien. Bahkan senyum dan pertanyaan secuilpun akan sangat berharga untuk menambal hati harap cemas pada pasien. Belum lagi keramah-tamahan, sentuhan tulus dan nasihat teduh yang terlukis. Wah, ini saja yang dari tadi menunggu sedikit lama. Kalau saya membayangkan banyak pasien ditangani seperti halnya teman-teman memperlakukan saya tadi,  barangkali tidak akan banyak pasien yang bertahan dengan sakitnya dan penuh semangat untuk sembuh.

Terima kasih malaikat-malaikat salto absurd Ulfa, terima kasih atas tsunami caring yang membanjiri di terik siangnya... Semoga kelak kita akan menjadi pionir perubahan sistem kesehatan di negeri ini, dengan ketulusan yang jujur di hadapan-Nya, dan segenap ikhtiar yang teroptimalkan dari sekarang. Saya masih tak ada apa-apanya dibandingkan kalian semua, yang masih belum banyak berpeluh seperti apa yang kalian suguhkan demi perubahan yang terbaik nantinya. Saling mengingatkan ya, maaf atas segala khilaf. Terkadang saya terusik dengan ketidakmampuan mengungkapkan rasa sayang kepada kalian, calon perawat yang hebat.. Semoga Allah membalas dengan segala hal yang lebih baik... :’) Aamiin Ya Rabb...

NB : Pelajaran kali ini, jangan sok kuat bisa nyetir motor saat ngantuk menyerang. Akui kelemahan dan jangan menunggu salto di jalan :)

Gedung Radio Poetro FK UGM
Selasa, 2 April 2013
10 : 29 a.m
_Menikmati kekakuan badan dengan memar-memar yang mengharukan :D_

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..