"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label spontan pikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spontan pikir. Tampilkan semua postingan

Rizki

Aku tahu rizkiku telah digariskan. Namun tak sedikit pun tahu dimana presisi keberadaannya.
Itulah mengapa, aku berikhtiar.
Aku tahu rizkiku telah tergaris perolehannya. Tapi tak sedikit pun tahu, bagaimana mampu cukup dan tak sekedar bernilai dunia.
Itulah mengapa, aku berdo'a agar dituntun dalam ikhtiar dan menuai keberkahan.

Cinta dan Alasan

Aku yakin, karena cinta selalu butuh alasan.

Termasuk dalam detail hal yang harus kamu tahu tentang ia, yang ingin kamu cintai.

Bukankah cinta itu salah satu bentuk rizki?
Maka dengannya butuh ikhtiar penjemputan tersendiri.
Termasuk bagaimana memunculkan segala bentuk kelapangan diri dan cahaya hati, agar setiap kebaikan menjadi alasan yang layak untuk kita lebih mudah mencintai.

Alasan yang layak disaksikan Allah sebagai cinta yang terlegalisasi atas-Nya. 

Rumit?
Sederhana. Cinta memang butuh alasan.

04/02/2016
1:08 a.m

Cinta itu Fluktuatif

Bismillah..

Alhamdulillah jika cinta itu fluktuatif,
Karena sebanding dengan istiqomah yang jelas berpahala secara kualitatif.

Alhamdulillah :)

9:21 p.m
30122015

Suara Kecil Praktikan Junior

2 pekan lebih terlampaui di stase keperawatan jiwa.

Maka dengan alamiahnya peristiwa ditendang pasien, dicium tangannya, disembur susu waktu nyuapin menjadi cermin masih banyaknya kerja-kerja alamiah di muka bumi.
Kerja alamiah yang berasas kemanusiaan. Yang tak akan terpikir memakan harta orang. Mana ada celah? Jika ada pun kebangetan punya naluri luhur sang manusia.

Sekali-kali visit ke RSJ atau bangsal perawatan yang merakyat juga boleh Pak, Bu :)

Ah, Bapak dan Ibu mah yang dipilih Allah untuk kami pastinya. Kami hanya ingin berbagi rasa syukur, yang sering kami rasakan sebagai praktikan junior. Supaya Bapak, Ibu sekalian makin semangat bekerja untuk rakyat. Karena setiap bilangan individu pasti meniriskan rasa harap, untuk kualitas setiap sector kehidupan.

Ada secercah keinginan perbaikan kualitas hidup, pasitinya, pada mereka, yang dapat diperjuangkan dengan peningkatan penjaminan kesehatan yang optimal untuk setiap individu di masyarakat dari segala golongan.


#SpontanPikir

Preambule implisit

"Teh tawar hangat, Ayah.. Lumayan lagi hujan."


"Iya, taruh aja di meja situ."

Aku meletakkannya di meja persis yang menjadi jembatan antara kami.

"Rumah sering hujan deres ya, Yah?"

"Lumayan.."

Ia masih tampak serius membaca buku bekal mengisi pengajian esok hari, dengan kaca mata dan jarak pandang yang lebih dekat dari normal.

Ia bukan lagi paruh baya, Ayah perlahan terus bertambah usia.

"Pekan kemarin Ayah ke rumah Simbah, In Syaa Allah simbah berangkat umroh tanggal 15 dari Jogja, ke Sumatra baru berangkat sama Om."

"Ooh.. iya, belum bisa ikut. Masih belum libur kemarin, Yah."

"Iya, nggak papa."

Senja itu hujan, namun suara kami masih terdengar tak nampak terkalahkan suara tetes hujan yang beriringan.

Aku menghela nafas..

"Ayah.. Diantara 5 syarat yang menjadikan terbuka lebarnya pintu syurga bagi wanita dari pintu manapun, ternyata 3 diantaranya belum sanggup aku raih ya, Yah?"

"Maksudnya?" Ia menoleh ke arahku, terlepas dari pandangan ke arah buku di tangannya.

"Puasa di bulan Ramadhan, sholat 5 waktu.. taat kepada suami, menyenangkan jika dipandang suami, dan menjaga kehormatan suami.."

"ooh,.."

Selepas penggalan itu, kontemplasi seorang ayah dan anak teruntut dalam irama nafas.
Time flies, putrinya telah tumbuh. Kewajiban ia telah tersentil, dalam kesadaran.

Cakap fiktif, dari sebuah inspirasi hujan senja.
12122015
6:01 p.m

Tafaqquh Fiddin

Masyaa Allah. Sedang spontan-spontan terbersit.

Kadang sepintas gemuruh untuk tafaqquh fiddin mengalami ekskalasi.
Melihat, merasakan, merasuklah perlahan kegigihan imam syafi'i, perjuangan imam ahmad, dan kewibawaan ilmu dari seorang imam maliki. Baru sebatas itu, dari yang hidup ribuan tahun setelah beliau.

Masyaa Allah. Sedang spontan-spontan terbersit.
Kadang gemuruh untuk tafaqquh fiddin mengalami ekskalasi.
Saat Allah merahmati, menyelami ilmu fiqh. meskipun masih mubtadiin.
Sedih. banyak nuansa ibadah yang masih kosong. Banyak amalan yang masih meraba ilmunya. Saat sadar ikhtiar ketidaktahuan di masa lampau tak terimbangi dengan gigihnya mencari dan mencari, hingga mantap terus terpatri.

tafaqquh fiddin terus berekskalasi, saat ruh ekspansi di luar diri melambai dan meninggi.
Di luar sana, terus berkembang, menumbuh ke negeri seberang.
Tapi aku tak ingin, sungguh, tidak ya Rabb. Sebelum Engkau mengizinkan, aku sanggup memikulnya, aku kuat mengembannya, sarat keberkahan dan manfaat.

Semoga tafaqquh fiddin terus berekskalasi, agar bersemayam rasa-rasa bodohnya diri.
Agar aku ya Rabb, semakin dekat dengan-Mu untuk memohon. Agar aku ya Rabb, semakin rindu mendekati-Mu.

Inspired by QS At Taubah : 122
17112014
16:26

Kembali menyelami Hasil dan Pembahasan
Bismillah, berkah :)

Buku Biografi 4 Imam Mazhab
from here

Kitab Fiqih Kehidupan
from here

SIMPLE HAPPINESS

Sometime u’ll find a beautiful flash just cz a simple memory. It can make your soul more strong, and our stand stacked. Actually, i just miss some of special random moment in my life. About DS, halaqah, campus, struggling, motivation and motivating, dreams, and inspiration to inspiring.

Happy august, 1st 2014 mujahidah :)
And u’ll be a mujahidah no matter ur foot standing there.


This is a time to burn your spirit up again, to save your life more feels life :’D

Character on Feeling

Sometimes in some forum or meeting or even in the first introduce or greeting, moreover if i can chat, listen and got discussion with someone in some minutes, I can indicate their character just with the way they bring their self. How people interest to others, how people use grammar to speak and give some opinion, how people give an attention, how they give a feed back of disagreement, how they give a pardon or forgiveness, etc. Yeah, it just a speculation that not all of my sense is absolutely right. Maybe this is the one of we call hikmah or ibrah that sentiment or feeling given more to woman than man. So that all of thing they have done or what they’re doing always obsess in their feeling. Eheheh

Just want to talk here.

22 : 32 p.m

04062014

#inspiring

tertarik dengan salah satu skripsi kakak tingkat.
terkadang sebuah karya itu menunjukkan karakter pula.
singkat, padat, jelas, tidak bertele-tele.
51 pages is enough, but excellent.

inspiring :)

Jenjang Selanjutnya

"Mohon do'anya, ammah masih belum tahu untuk setelah ini masih dapat kembali ke DS atau tidak."
/??&%@???
"Insyaa Allah akan menjajaki tingkatan maratibul amal yang selanjutnya..."

Terhitung undangan walimahan di bulan februari ini sekitar 4 orang sampai belum habis bulan, sekitar sampai pertengahan bulan. Itupun yang dikenal dekat, belum lagi yang saya tidak terlalu mengenalnya.

Om sama bulek di rumah sedang lumayan riweuh mempersiapkan walimahan sepupu saya.

Kakak dan temen yang mau nikah (pas banget ada saya) meminta beberapa taujih ke umi, sekaligus memberikan undangan kepada beliau dan kami.
Lagi-lagi, (pastinya) tetesan air mata dari beliau-beliau ini. Yang saya rasa banyak hal yang bercampur.

 Babe sempat mengisyaratkan tentang akad nikah itu nanti yang sederhana saja. (ini sekilas lalu saja, #lupakan)

Belakangan ini jadi tahu entah dari mana beberapa history takdir jodohnya beberapa pasangan. #KanJadiMikir

Beberapa kali tausiyah dari umi jadi sebagian besar mengarah 'kesana', bahkan wejangan untuk calon mempelai disekaliankan untuk kami -.-

Selepas liqo pekan ini, bahasannya itu lagi.

Silaturrahim ke Umi Nunung sore tadi penawarnya, bahasannya (lagi-lagi) tentang pra nikah. #tapiSerius

Masyaa Allah...
hingga klimaksnya muncul, "hentikan pembicaraan tentang itu !"

:D haha, ternyata saat ini saya sedang berkelit dengan 'pengayaan' salah satu materi ini. Setelah itu agaknya sedikit menafikkan diri dengan realita nuansa di usia yang ada. (mungkin kepikiran si *cinta yang belum usai)

sudahlah, lupakan pengantar saya yang panjang.
yang jelas, saya teringat dengan sebuah wejangan dari teman, barusan tadi sore.

"Ujian keimanan seseorang itu setara dengan semakin beralihnya tingkatan amanahnya."

mau jadi mahasiswa, jadi guru, jadi dokter, perawat, jadi tukang sapu, jadi kakak, jadi adek, jadi istri pejabat, jadi istri ustadz, jadi santri, jadi pemandu, jadi komikus, jadi penulis, seniman, politikus, de el el yang banyak tak terhitung nan tersebut satu-satu itu tetep profesi kita bakalan jadi da'i. Dalam kondisi apapun, tentunya amanah utama untuk berdakwah kita harap nggak akan pernah lepas dari ruh-ruh terdalam kita kan.

Berjuang di ranah dakwah manapun semoga bernilai jihad. Dimanapun, dengan cara masing-masing.


Lalu hubungannya sama yang di atas?

ya gw cuma sempet terlintas aja, sepertinya kesiapan buat menempuh status baru itu sebanding dengan jiddiyah kita menjemputnya dengan amalan sholih. Sama halnya dengan amanah, yang kita sendiri pun nggak pernah sadar sebelumnya (biasanya) semenjak kapan diri kita dirasa pantas oleh orang lain hingga tiba-tiba menumpukkannya di bahu yang rapuh dan lemah milik kita.

tapi memang itu cara Allah, cara Allah mengukur dan melimpahkan sayang untuk menjadikan kualitas kita lebih baik ke depannya.

So, mau melangkah sejauh apapun, yang penting jangan sampe gagal fokus bahwa tujuan utama selalu bermuara pada kebaikan dakwah untuk amar ma'ruf nahi munkar. Tentu saja tahapnya harus kita lalui dulu yang dimulai dari mensholihkan diri. Karena mau jadi apapun kita, tetap profesi utama adalah da'i. nahnu du'at qabla kulli syai'.

Saya hanya yakin, setiap apapun yang kita lampaui di depan mata, tak terlepas dari kesiapan dalam setiap perjalanannya. Hingga saatnya kita sendiri pun menjadi tak sadar bahwa ternyata sudah banyak kerikil yang kita singkirkan, banyak pengalaman pahit menjadi bekal, mendapat banyak tabungan pemecahan masalah, dan sampai semua ringan serasa segala hal perlahan tahu konsekuensinya.

Terus saja berlaku baik, bukan untuk sebuah janji, tapi cukup supaya lebih dekat dengan-Nya, Allah lebih ridho atas hidup kita, pilihan-pilihan kita, ikhtiar kita, urusan kita yang memang dirasa banyak, dan berkah hingga akhir hayatnya.
Sampai saatnya, jika takdir terbaik kita masih diamanahkan beramal dengan usia hidup di dunia, Allah mempertemukan dengan yang terus istiqomah bergandengan tangan menjemput kemuliaan di syurga-Nya kelak.

Pesan umi satu, "Jangan terlalu mencintai suami, hingga mengalahkan cinta kepada Allah. Jaga suami dengan terus menjaga kualitas ibadah kita. Sholatnya, dan lain hal.."
Redaksi yang tidak sama persis, mungkin nuansanya belumlah sampai ke ruh saya yang masih bocil.

Tapi semoga Allah terus meringankan kita beramal sholih :)
Aamiin yaa Rabb..

Barakallah untuk mba Yurisa, mba Tari, mba Wiwi, Fatin, semoga Allah menguatkan ikatannya, menegakkan cintanya dan melindungi jalan-jalannya dalam menjemput amalan terbaik setelah amanah agungnya :)
Uhibuki fillah..^^

Terakhir, saya menemukan video ini dan cukup asik untuk ditonton :)



0 : 11 a.m
08022014
picture here

IP, IPK, Prestasi

Menurut saya IP itu akumulasi nilai #yaEmang

Tapi akumulasi berapa nilai investasi Al-Qur'an dan perjuangan untuk agama Allah untuk semester yang bersangkutan.

Sedangkan IPK itu akumulasi IP #tentu

Tentu saja akumulasi amal dakwah dan waktu spesial kita untuk mengaji dan mengkaji kalamullah selama bilangan semeser terlampaui.

dan prestasi itu bonus semata di sela prosesnya :)
Substansinya adalah, beramal yang Allah ridhoi saja. Yang membuat Ia semakin sayang dengan kita ^^

14 : 53 p.m
02022014

#Imagination1

Pernah terbayangkan?
Saat liburan, atau saat kuliah penat, sedang tidak rajin (not malas) belajar dan butuh inovasi baru dalam mencintai ilmu?

Padahal tanggungan pemahaman yang belum tuntas masih banyak.
otomatis tak pantas berlama-lama stagnan kan ya.
tiba-tiba terlintas,


ada EduHealth Tourism,
tempatnya di puncak atau daerah pegunungan, asri, dan nyaman.
kita masuk, tiba-tiba disambut dengan fisiologi tubuh manusia yang tergambar lewat dimensi-dimensi alat dan tempat yang kita lalui.
Jalannya berbentuk esofagus, kita masuk ke sebuah pintu, dan  ternyata itu katup epiglotis. mau masuk lewat pintu mana?
satunya ke arah wahana permainan udara dan satunya baling-baling makanan #apaini?
saat kita masuk ke masing-masingnya tergambar oleh kita seolah sedang berperan menjadi makanan, atau udara.
kita masuk ke dalam kerongkongan, lalu melewati pintu yang disitu tertera gaster lalu diputer-puter, tapi anehnya ada sensasi diremas di ruangan, dan bergiliran masuk ke pintu selanjutnya. Di depan tertera lajur ke duodenum dan usus halus, disana ada yang berkenalan orangnya kecil, tapi unik dan macem-macem bentuknya, namanya enzim.. haha...
dan seterusnya.. sampai akhirnya tiba-tiba kita keluar dengan disuruh pakai baju jubah berwarna kuning.

aaa.. asik banget wisatanya.
ternyata kita termakan oleh tubuh manekin organ raksasa.
dan tiba-tiba nilai ujian fisiologi anatomi pencernaan bernilai A. haha :D

Berbeda lagi ceritanya saat masuk ke pintu tenggorokan. Ibarat angin, diputer-puter, dituker-tuker di alveolus, lalu beredar bersama si merah yang katanya darah terus masuk ke setiap jaringan di tubuh orang besar.
 ahaaa...

#Mimpi #Imajinasi

Rindu Berjuang

Sudah lama tidak merasakan perantauan untuk sebuah perjuangan.
Ternyata cukup merindu. Jakarta, Batam.
Tak banyak menyimpannya dalam sebuah sketsa, tapi selalu terbayang abstrak tentang lukisan kekuatan ghiroh yang menutup celah pesimisme, saat itu.

dan insyaa Allah akan terulang lagi, nanti.
biidznillah..

entah seperti keberuntungan di bandung, optimisme di Jakarta atau inspiring learning di Batam.
ternyata nggak banyak, Allah hanya sedang membiarkan kita mengejar kesempatan mengentas kebodohan dalam diri dengan banyak mencari jalan dan peluang pilihan hidup yang lebih baik.

ya, demi dan hanya untuk proses menanamkan semangat kebermanfaatan dan peningkatan tingkat kepekaan.


Semangat berjuang Ulfa :)

Ruhiyah Online

Terkadang saya pun terbersit satu dua hal sebelum memutuskan untuk online.
Takut-takut jika ruhiyah belum siap menghadapi gejolak dunia maya.
-berlebihan, tapi seringnya sinkron dengan yang terejawantahkan dengan laku berselancar-

semoga proses kita untuk haritsun 'ala waktihi terus terotomatisasi dalam akhlak :)

Istirahatku

Apa yang salah dari sistem?
Jika banyak yang rancu, ya kita yang harus beres.
Jika terlalu rumit dan berkelit, ya kita yang sabar.
Segalanya tak bisa di tuntut ideal, makanya bersabarlah.
Apalagi kekeuh idealis, ya nggak bisa. Makanya jangan berlebihan. Noted !

Memang salah kalau diambil alih?
Tidak, hanya saja mungkin lebih sedikit telaten lagi.
Komunikasi, pemahaman, kerja nyata, terus kerjakan, terus kerjakan, terus kerjakan...
terus saja, terus, terus kerjakan, beralih, dan kerjakan lagi...
apapun.. apapun kerjakan itu.. mana yang belum..

nampaknya asal tubruk.

bukan.. bukan seperti itu juga..

itulah kenapa, manusia bukan mesin !
asal pakai saja, sampai usang, sampai kering tak berasap.
Tapi rasa, jiwa, energi yang membuncah jiwa.
Di sini ada pundi, pundi-pundi ruh yang melucutkan gempuran peluru amal.

yah, amal... amal ya Allah... amalan...
tapi sudahkah ini bertuan?
Bertuan?
Iya, hanya untuk-Nya..
bukti menjadi hamba, hamba dina, tak berdaya tanpa sentuh rahman dan rahim-Nya

ya, prioritas amal !
Belajar lagi, terus belajar terus, terus...
sampai lelah.. terus lelah.. dan belajar lagi..
terus...
sampai semua nikmat..
sampai semua tak terasa..
kapan waktu berjalan..
hingga semua terasa..
semua begitu masuk merasuk terfahamkan.
akan hakikat hidup dan kehidupan.

itu.. yang dicari.. keridhoan..
yang murni setiap langkah
yang teduh mengiringi
yang basah menghujam ke sanubari

terefleksi dalam akhlak
tertuangkan dalam kerja nyata
lillah fillah billah...
Allahu akbar !

Allahu ghayyatuna..

belum sanggup berjihad di medan nyata
sekarang, cukupkan tabungan dulu saja di medan juang yang ada.
sambil berpeluh, bedo'a, memohon yang benar-benar benar di mata-Nya.
untuk sebuah titian jalan..
kemudahan ikhtiar hingga shiratal mustaqim.

jannah..

-Refleksi cinta-
Jabal Masjid, 22:16 p.m
22102013

 alhamdulillah sedikit bernafas.
next, skenario komik !

Gading pun Menyambut



Sore kemarin saya ke sebuah swalayan yang cukup menjadi rujukan mahasiswa yang berdomisili di sekitar jalan Kaliurang km 5, Gading Mas. Saat itu mulai membenamkan sinar surya. Tak banyak bersapa dengan suasana di sana, hanya biasa dengan tangan yang tergerak mengambil keranjang untuk beberapa keperluan yang mulai menyusut. 

“Allahu Akbar Allahu Akbar....” sayup adzan mulai terdengar disusul dengan sahutan dari seberang yang lain.

Selepas tangan menyahut keranjang merah yang kemudian tersemat di lengan bawah, terpantik untuk menengok seorang perempuan berjilbab yang menyapa saya.

“Mbak, silakan berbuka :)” sembari menawarkan sebuah air mineral gelasan.

MasyaAllah... senyumnya, tulus nian. Menjadikan berbalas reflek senyum pula.

“Oh.. iya mbak, terima kasih.. kebetulan sedang tidak berpuasa. Nggak papa, ndak usah..” :)

Ia mengangguk dan kemudian sapaan ini berakhir dengan pemenuhan hak di amal masing-masing.
(maksudnya saya belanja dan mbaknya berbuka :D)

Adeeem rasanyaaa... saya tak meng-ekspektasikan apapun sebelumnya, bahkan hampir terlupa kalau alam, mulai dari makhluk hidup, benda mati, bahkan atmosfir pun mengagungkan bulan suci ini.

---Semenjak 2 tahun yang lalu, setelah saya di DS, Ramadhan hampir tidak jauh berbeda suasananya dengan sehari-hari. Lhoh, kok? Yang menjadi beda tentunya bertambahnya targetan amalan dan ghiroh setiap suasananya, itu pasti. Apalagi saat orientasi santri baru. Saking tersuasanakannya setiap hari sholat jamaah di masjid, targetan tilawah, bangun sholat malam, dan atmosfir Qur’an yang menghujam di jabal manapun, di kelas, di masjid, bahkan ini sudah melebihi suasana Ramadhan saat dulu saya di rumah. ---

Semenjak 2 tahun yang lalu pula, menjadi asing untuk pergi malam hari, dan seolah jadi peri. Hehe
Terlindung dan menjaga dari kejahatan malam itu menyenangkan, dan menenangkan tentunya.

Selama memilah barang (padahal cuma 2 jenis), bersitan bayangan tadi yang tervisualkan. Yang membuat senyum-senyum sendiri atas hujaman rasa syukur. Ternyata bayangkan, hanya karena SENYUM mbak-mbak yang berjilbab tadi, qadarullah SEMANGAT RAMADHAN saya bertambah. Subhanallah... jariyah banget... Bisa kan? Sedekah membawa jariyah :)

Tertangkap oleh mata saya beberapa pegawai yang berpakaian rapih dengan batik dan peci. Sekilas mencari mbak-mbak yang lain ternyata tersuasanakan dengan jilbabnya. MasyaAllah... adeeem... Hanya beberapa saja yang menjaga saat itu, barangkali yang lain berbuka atau sholat.

Allah... Gading pun ternyata menyambut :)

Dan saya tetap mengidamkan dan memvisualisasikan kedamaian...
Madaninya negeri ini, yang setiap sektor berisikan nafas islam.
Madaninya negeri ini, yang setiap harinya serasa Ramadhan.
Madaninya negeri ini, yang rakyatnya menjaga nafsu dan amarah di siangnya, dan ramai beribadah saat malam nan khusyu’nya.
Madaninya negeri ini, yang rakyatnya selalu berlomba untuk amalan sebanyak mungkin.
Madaninya negeri ini, yang siang malam menjadi ajang untuk memberantas segala kemaksiatan.
Madaninya negeri ini, yang setiap waktu dan tempat tersebar segala gudang ilmu pengetahuan.
Madaninya negeri ini, yang tertanam akhlaqul karimah pada jati diri setiap insan.
Madaninya negeri ini... madaninya negeri ini... madaninya negeri ini...
T.T
Yang terus mengharu biru dalam mimpi besar kami...
Kuatkanlah hati-hati yang terus menghujamkan ghirohnya untuk senantiasa memperbaiki diri, memperbaiki umat, berfastabiqul khairat, dan merintis bibit-bibit peradaban.
13072013
7:16 a.m
_ba’da kelas pagi_

Pasca Sarjana

"Al, lulus S1 planningnya mau lanjut kemana?"
"Oh.. aku berencara ke Madinah fa. Mau fokus Qur'an, sambil belajar banyak lagi tentang-Nya, tentang cinta-Nya.." ^^
*jlebbb ..
"T_T huaaa... terus ilmu psikologinya?"
"Oh.. kalau ilmu psikologi basicnya sebenarnya berkaitan kok fa" (ia belajar banyak korelasi dengan keislaman)
"Terus sama siapa nanti?"
"uhm.. sama mahram, InsyaAllah"
"Aamiin.. kalau misal belum ada mahram, terus?"
"Ya intinya, di sini dulu sambil menguatkan Qur'an, banyak murajaah, sambil memperkuat bahasa arab :)"


Hff.. oke al..
Sedangkan saya masih berkontemplasi panjang.
19062013
10 : 12 a.m

Sakinah

Terkadang semua tampak hanyut, tenang sendiri dalam aliran air.

Ketika hidup tampak mudah,
yang cukup selalu merasa dengan Allah,
bergantung penuh pada-Nya,
tak merasa ada musuh satu pun,
dengan khusnudzon atas semua peristiwa, makhluk di depan mata, dan segala ketetapan yang tersematkan...

 mungkin, batu nisan akan merindu dengan senyuman.

_semoga gersang segera terbasahkan dengan harumnya_

al haqqu mirrabbik

00:00
26052013

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..