"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pinta

H : Trs kenapa si X pengen balikan lagi sama Y?
U : Uhm.. Ga tahu, mungkin dia sdh mulai merasa kehilangan.

Ia tampak berpikir, menghela nafas, lalu melanjutkan perbincangan.

H : Laki-laki itu fitrahnya memang bosenan. Dalam hal apapun. Misal saat dia suka dengan mobil X, lambat laun dia bakal bosen, ganti lagi ke mobil Y. Ya memang begitu fitrahnya bosenan.

Aku memandangnya..
Jika sudah fitrah, artinya, sebuah keniscayaan akan kamu alami, bukan? :"

H : Tapi masak iya itu akan dilakukan dalam sebuah pernikahan? Terus apa gunanya syariat? Ya kalau dalam sebuah pernikahan ga bisa seperti itu..

Sepertinya ia sedikit menggeleng.
Aku lega dengan closingnya.

H : Semoga Allah berikan ia hidayah.
U : Aamiin :)

Bincang sederhana soal sekelumit kasus sebuah rumah tangga, oleh sepasang suami istri newbie yg penuh harap dalam penjagaan-Nya.

Ya Rabb, jika ada sekian banyak skenario yg Engkau takdirkan dan ketahui dalam sebuah kehidupan berumah tangga, izinkan kami menjadi salah satu pembelajar di dalamnya, yg Engkau tunjukkan apa-apa yang mendekatkan bekal untuk akhirat kami ke depannya. Lalu bimbing kami dalam alpa, lapangkan kami dalam maaf lagi memaafkan, ringankan kami dalam memulai amal-amal kebaikan lagi semakin baik di dalamnya.

Jadikan kami insan yang makin saling mencinta, dan Engkau limpahkan semakin banyak pandangan2 baik nan indah antar kami.. Yang Engkau lindungi masing2 kelemahan kami dgn kelebihan dari sisi yang Engkau karuniakan.

Ya Allah, Rabbi. Jika Engkau izinkan kami meminta, jatuh cintakan kami berulang dan sering kali pada hamba-Mu yang sama.
Aku pada Ia suamiku, dan
Ia, suamiku kepadaku.

Kenapa, Ibu?

Aku baru sadar bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan lazim yang alamiyah terlontar dari lisan seorang anak gadis kepada Ibunya.

Seperti ketika itu, sebelum sholat berjama’ah di rumah dimulai. Seresah hati, seserasa itu pertanyaan yang harus turut aku klarifikasi.

Aku tertunduk, lalu memandang beliau di samping serasa tertuntun melisankan, “Ibu, kenapa dulu mau nikah sama Bapak?” Masih memandangnya setengah menanti jawaban.

Beliau memandangku seraya menjawab, “Ya panggilan hati..”

Terdengar adekku di ruang makan yang sedikit merespon jawaban Ibu, tapi aku tak peduli.

“Panggilan hati..” gumamku sembari mengalihkan pandangan ke depan gambar ka’bah.

“Ya Bapak agamanya bagus, orangnya sabar, sholatnya khusyu..” Ibu menguatkan alasannya.

“Lah, gimana bisa tau?” Masih saja aku penasaran seolah cari celah yang cukup meyakinkan.

“Ya kan dulu ngajarnya bareng.”

Tak lama Bapak datang, duduk di kursi, lalu sholat dimulai.


Panggilan Hati…

Lalu, bagaimana rasanya saat Allah karuniakan panggilan hati itu, Bu? Di Ulfa.

Skh, 17102016
06.49 p.m


Permintaan Spontan

Ba'da sholat maghrib, terkadang adek gw ngerasa terganggu kalo pas dia baca Qur'an, terus di ruangan yang sama gw juga lagi baca Qur'an. Terus alibinya biasanya gw disuruh sholat sunnah. wkwk


Kali ini tetiba dia terkesan mutung, habis itu malah request aneh. 
Baru buka mushaf terus nyeletuk, "Yaudah, baca surat Ar Rum ayat 21-22 !"
Spontan gw mandang dia agak heran. "Heh? Maksudnya apa? Kenapa dek Conny requestnya itu?"
Ngerasa innocent sambil jawab, "Yaudah, baca aja. Pura-pura nggak ngerti."
-__- oh My God, jahatnya. Kenapa tetiba dibuat baper sama adek gue sendiri, hiks

Akhirnya gue bacain beneran. Mulai dari ta'awudz, tasmiyah, 2 ayat itu sampe artinya. Biar dia puas. hhhzzz

Habis gitu masih komen, "Alah, dibagus-bagusin"
Elaaah, masih sensi ajaa (dalam hati). 

Sebenernya ngebatin juga sih. Semogaaa, semogaaa, dia nyuruh bukan karena liat tingkah gue aneh akhir-akhir ini dan merasa iba. zzz banget lah kalo iya.

Tapi anyway semasa SMP ga segitunya juga gue. Maa syaa Allah dek Conny. Mba harap adek akselerasi keshalihannya lebih cepet dibanding mba dulu. 

Intinya apa?
Iya, tentang QS Ar Rum : 21


Terminasi Adek Terbaik 1


Ia duduk di kursi tengah, tepat di sampingku.


"Tadi bangun jam berapa?" Tanyaku sambil memiringkan sandaran kepala. Sudah senja, cahaya di dalam mobil sudah mulai remang kegelapan.


"Jam setengah 6" Jawabnya masih sambil bersandar di kursi menatap ke depan.

"Sekarang waktu syuruk setengah 6. Tanda bahwa matahari sudah mulai terbit" Jelasku, masih sambil menatapnya.

Seperti biasa, nampak mimiknya tetap bertahan yang dulu-dulu, selalu itu yang dinasehatkan.

"Aku hari ini bangun telat, jam 4 baru bangun.. Harusnya sebelum subuh" sekilas aku lihat bibirnya tertahan, entahlah..

"Habis itu ikut kajian habis subuh, terus basket sama temen, pulang nyuci baju, berangkat jaga, selesai setengah 3, beres-beres, terus langsung balik"

Ia mengangguk beberapa kali, dengan ekspresi senyum tahanan bibir seraya berkata, "siip.. kuat, strong"

"Habis bangun setengah 6 tidur lagi?"

"Bangun lagi jam 6"

Tampaknya fisikku mulai lelah, hingga tak banyak merespon percakapan kala itu.. Hanya sekilas lalu hingga mendengar "Terus bangun lagi jam 10"

Kemudian terbersit dalam do'a, semoga kamu lebih baik dek. Mungkin ini masih dalam jalan proses menjadi baik. Terlalu akselerasi jika aku tautkan dengan kelak kau akan jadi imam. 

Lagi pula aku percaya di barak setidaknya kamu terbiasa bangun lebih pagi lagi.
Malam tadi hampir terlupa, aku tidur jam 1 dini hari karena keasikan baca-baca. 

Sebenernya ruh masih tumbuh, namun tersadar baru setelah nampak tak kuasa dan tak secerah suasana sebelumnya di percakapan sore ini, saat nganter kepulangan adek ke Jakarta, Tangerang sih tepatnya.


Sebenarnya muncul pula rasa 'gimana' karena bakal kembali lama tak bersua.

Kamu libur lagi kapan ya dek?


Seingetku libur lebaran. Sepertinya kita bakalan.udah sama-sama diwisuda. Aamiin, in syaa Allah.

Fii amanillah,  sholih :)

Makasih looh pekan lalu, yang udah nawarin mau kemana besok saat aku baru aja dijemput di stasiun, udah terdepan.bayarin tiket ke air terjun, jadi fotografer sukarela, bolak-balik jadi sopir sampe mobil mogok dan meski aku musti dorong -__-, dan masih nganter stasiun sorenya. Terbaik.


Baru nyadar bertiga pada kompak biru :D

21:07 pm
02012016

@BaitiJannati



Cerdas dalam Bahasa Kaum

Sebagai seorang kakak, normally selalu muncul tendensi buat menanamkan nilai-nilai positif buat sang adek. Barusan gw diingatkan dengan sebuah sentilan buat terus belajar.

Singkat cerita pas buka line di hp adek gw (yang duduk di bangku SMP) nemu jejak di timeline tentang perjuangan dokter di Indonesia yang isinya 4 buah video bersambung refleksi perjuangan seorang dokter. Perjalanan panjang yang memang belakangan juga gw sadari dengan dalam live report di depan mata semasa profesi.

Niatnya mau meneteskan sisi-sisi perjuangan dalam kehidupan pada si adek, ternyata disentil dengan pernyataan yang menyadarkan bahwa si adek sudah cukup kritis untuk berpikir.
“Eh, dek mau aku liatin video ga? Tentang perjuangan seorang dokter”
“Ngga mau ah, itu buat orang-orang gede kok mesti. Anak kecil bukan kayak gitu tontonannya.”
“???? Ha? Iya yaa? Haha”

Well, sometimes kita nggak nyadar kalau apa yang pengen kita sampaikan ke orang lain itu kurang tepat sasaran #notetomyself. That’s oke purposenya baik, tapi musti tepat. Sering kali setiap kesempatan di jogja dapet free wifi access gw nyempetin nge-yutub buat download video edukasi buat anak-anak kecil, itung-itung bawa bekal ke rumah. Tapi pekan-pekan lalu entah kenapa nge-yutub nya lagi suka sama beberapa hal khusus, jadi ga kepikiran juga buat donwload something new buat adek.

At least dengan pernyataan si adek gw jadi seneng dan tertohok juga sebenarnya. Jarang-jarang si adek mengungkapkan isi hatinya (termasuk kekecewaannya nunggu lama di jemput karena gw ketiduran.haha). Pernyataan itu sebuah reminding buat gw kalau bisa jadi ternyata preparedness gw buat menyampaikan sebuah dakwah *cieh*, or mean simply sebuah value kebaikan bisa jadi kadang kurang tepat buat objek sasaran. 

Selama ini mungkin beberapa kali diamanahkan ummi di sanlat SMA sewaktu di DS. Artinya beberapa metode pendekatan ke anak SMA ‘seharusnya’ gw udah punya bekal. Belum merasa pantas dan easy going penuh juga (masih banyak harus belajar.red) ke anak SMA, malahan jadi lebih sadar lagi kalau pendekatan ke anak SMP juga nggak mudah. Sampe bener-bener si do’i ngerasa deket sama kita, cerita sepenuhnya, curhat dengan lapang and trust. Serius, nggak mudah. Karena urusan orang dewasa *sok banget* kadang begitu ribet di kepala kalo belum kelar kali ya. Padahal seusia puber mereka sangat butuh perhatian penuh.

Rasulullah menganjurkan kita buat menyampaikan dakwah sesuai dengan bahasa kaumnya. Hal ini penting untuk keterikatan yang lekat dengan hati objek penyampaian, cerdas dalam bahasa kaum. Nasihat itu baik, maka penyampaiannya pun juga harus dengan cara yang baik.

Dan yang terpenting lagi, seorang agen penyampainya (agen dakwah.red) yang harus lebih-lebih memiliki cara yang baik untuk terus mendengar, belajar dan berlomba terhadap amal-amal baik, yang Allah suka. Supaya makin deket hatinya sama Allah, kemudian Allah bikin keterikatan dengan mereka objek dakwah yang Allah dan kita sayangi :)

#ntms
Bagi anak gaul jaman sekarang, orang dewasa yang serius itu ngebosenin kali ya. Haha
Ditulis H2 kedatangan sahabat hebat Bekasi, yang masih terngiang cara ia bercerita :)

Skh, 13112015

Pagi yang Hangat

Pagi ini hangat, sangat hangat.

Sangat terekam ketika itu, beberapa tahun silam.
Saat pagi begitu riuh dengan suara sana-sini. Sebelas dua belas dengan suasana adek-adek putra-putri umi yang kecil.

Bedanya mungkin di konflik dalam kasusnya.

Beberapa tahun yang telah lampau, saat yang satu ngantri kamar mandi dan nggak ada yang mau mengalah. Satunya lagi menyegerakan supaya nggak telat berangkat sekolah. Satu lagi dengan kata klisenya, “sudah berulang kali dikasih tahu, diulang lagi, di ulang lagi..”

Riweuh. Gedebag. Gedebug.

Ah.. ya Rabb.. ya Rabb..

Pagi ini, Allah dengan perantara waktu, alam, dan segala kehidupan yang dengan prosesnya kami lalui, menegaskan bahwa, segala hal ada masanya.

Saat dimana pagi ini begitu hangat, duduk membicarakan beberapa hal dengan babe selepas tilawah di ruang tamu, berbagi tugas dengan ibu, mencanangkan strategi ke depan, dan ternyata kamipun berada dalam lini yang sama. Menguatkan bawa negeri ini butuh renovasi dalam jiwa generasinya. Sebelum sistem terlanjur meremukredamkan cita-cita besar kemajuan. Pendidikan agama, sejak dini yang mengeruh dalam sanubari, kemudian terhujam dalam moral pelaku arah gerak bangsa.

Keluarga ini hangat, sangat hangat.

Saat kemudian terdengar damai lantunan bacaan Al Qur’an Muri Q* yang selalu terputar di sela istirahat di sekolah sebelah, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, yang dulu menjadi samudra ilmu yang sarat makna sewaktu kecil dulu. Terhitung sepuluhan lebih tahun silam.

Hingga aku tak sanggup lagi bertutur, kecuali.. “Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadziibaan..”

Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alallya wa’alaa wa lidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fii dzurriyyatii innii tubdu ilaika wa innii minal muslimiin..

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Al Ahqaf (46) : 15)

Baiti jannati :)
07 : 13 a.m
03022014

* Muri Q adalah sebuah terobosan pembelajaran membaca Al Qur’an dengan irama yang dibuat oleh Ustadz Muhammad Dzikron Al Hafidz (Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Ibdaurrahman Surakarta). Irama Al Qur’an ini yang kemudian sering di putar di sekolah adek saya, mantan sekolah saya dulu dan akhirnya cukup membuat para siswa-siswi MI ternuansa dengan tartil Al Qur’an di sela istirahatnya. Bahkan ketika di waktu luang pun, sesekali terdengar spontanitas melafadzkan sesuai dengan iramanya. Subhanallah.. semoga menjadi amal bagi beliau yang menggagas :)

Just information,
Dulu ketika zaman saya bersekolah di sini belum ada, bahkan saat sekolah di MI dulu gedungnya memprihatinkan. Pernah sesekali orang tua teman saya melarang putrinya untuk TPA sore hari yang saat itu hujan deras. Alasannya.. "takut bangunannya roboh" masyaa Allah..

Alhamdulillah sekarang sudah dirombak total semenjak beberapa tahun yang lalu. Tetap dengan kesederhanaannya, tidak lebih dari bangunan sekolah kota di kabupaten, atau bahkan di tingkat desa. Tidak lebih bagus, karena sekolah ini memang terletak di sebuah Dukuh. Dukuh Tanjung, Desa Bakalan, yang tidak banyak orang yang mengenalnya. Bahkan, saya pun termasuk orang yang bisa disebut orang desa di saat berada di ranah kabupaten.


  

     Belakangan, saya menyadari, sangat bersyukur dan bahkan tidak ada rasa kecil hati sedikitpun, ketika harus mengatakan saya dulu bersekolah di MI Muhammadiyyah Tanjung, yang bukan sekolah taraf anak kota, yang saat itu siswa di kelas saya awalanya 13 orang dan yang bertahan sampai kelas 6 hanya 11 orang. Perhatikan, 11 orang kawan, karena 1 orang berpindah ke daerah lain dan 1 lagi tidak naik kelas di tengah perjalanan pendidikan ketika itu. 

Saya ingat, Bapak selalu mengatakan kepada masyarakat ketika memberikan sambutan entah di pengajian akbar atau di forum lainnya, untuk tetap menyekolahkan putra-putrinya di MI saat itu. Bapak benar-benar menegaskan bahwa pendidikan agama itu mutlak pentingnya bagi anak semenjak kecil. Biasanya diperkuat dengan beberapa prestasi beberapa muridnya ketika itu yang tak kalah dengan SD Negeri.

Sekali lagi, sekarang saya benar-benar menyadari. Bahwa, iya. Benar-benar bekal yang saya miliki saat bersekolah di MI lah yang justru mengantarkan saya hingga sekarang (masih baru seperti ini memang). Ilmu-ilmu yang mengajarkan tentang Baca Tulis Al Qur'an, yang saat kelas 4 dulu saya pernah dapat nilai 4, camkan, nilai 4 kawan. Karena benar-benar kesulitan menghafal belasan hukum mad, macam hurufnya, panjang bacaannya, entah mad wajib mutsaqal kalimi, mad iwad, mad harfi, mad silah thawilah, silah khasirah, dan lain sebagainya itu. Tapi justru itu, justru itu yang ternyata ketika keluar dari MI membekas di hati saya karena setidaknya telah mencicipi manisnya belajar ilmu agama. Rasa-rasanya pun selalu rindu untuk terus tahu lebih banyak di sela keterbatasan pelajaran agama ketika di SMP dan SMA Negeri. Belum lagi pelajaran fiqh, sejarah kebudayaan islam, al qur'an hadits, bahasa arab, dan lainnya lagi yang masih membekas hingga sekarang. Alhamdulillah positifnya terbawa pada semangat saya di pelajaran dan ulangan agama sewaktu SMP dan SMA (meskipun SMA sedikit tereduksi karena tidak terdukung dengan situasi pembelajaran yang kurang kondusif *seringKosong.red).

Ah, saat itu.. yang saya hanya terus bisa merindu, dan mengejar ketertinggalan selama sekian tahun dengan mereka yang terus menggeluti ilmu manis ini. Yang saya hanya mampu untuk memotivasi adek saya dan kelak mempersiapkan anak saya untuk bekal yang lebih baik dari saya. jauh lebih baik, jauh lebih sholih dan sholihah, jauh lebih dicintai Allah, jauh lebih bermanfaat dengan ilmunya, jauh lebih arif, lebih berakhlak mulia, lebih segalanya yang lebih membuat keridhoaan Allah melekat pada setiap tingkah laku kita.

   
    Tadi malam saya sempat memperlihatkan video profil Insan Cendekia Serpong ke adek saya yang kelas 5 SD. Alhamdulillah a little interest sudah tergambar. Semoga Allah ridho dengan yang kita ikhtiarkan untuk mencetak generasi sholih-sholihah di masa depan.. :) 

Betapa antusiasnya saya ketika tadi malam saya mendengarkan langsung, live dari tutur kata adek saya, melafadzkan hadits tentang taqwa dan diingatkan tentang hadits menyantuni anak yatim. Benar-benar seolah sedang mendengarkan ustadzah menyerukan hadits dan artinya dengan semangat membara. 

Ya Rabb.. kuatkan kami untuk senantiasa mencintai-Mu.. lebih dari semesta apapun ilusi di dunia ini... :')

MI Muhammadiyah Tanjung
it's mean, how close that school from my home :)

Si Boy



Scene 1
*teman sekelas PSIK
“Adekmu yang ganteng itu fa?”
“??? -.-a kapan lihatnya?”
“Kan waktu itu ada di foto dompetmu..”
“Oh, yang foto SMP itu..”

Scene 2
*shohib di asrama
“Ghodul Bashor kalau ke rumah Ulfa.. bahaya, ada adeknya :D”
“??? -.-a Astaghfirullah ukhti...”
Scene 3
*adek sekamar
“Mah, adeknya amah ganteng ya mah?”
“hm??? Lihat dimana? Di foto itu?”
“Bukan mah, kalao di foto itu nggak terlalu kelihatan.”
“Terus?”
“Amah Uswah tadi bilang katanya adeknya amah Ulfa kayak artis”
“-.-a??? (tambah aneh aja)”
“Bahaya, kamu masih SMA dek. Jangan lihat.”
“1 tahun doang kan mah selisihnya..”
“Zzzzz.. >.<”
Scene 4
*temen DS
“ya emang ganteng sih fa..”
“biasa aja ah mbak, udah sering lihat” hehe
“ya lumayan lah..”
Scene 5
*Percakapan di mobil
“Ni adekmu kemarin dipuji ganteng sama temennya bapak”
“oo...”

Dari kelima premis, kesimpulannya :
Adek saya itu : SHOLIH :’)
Bukan ganteng yang kian mengkeriput, tapi sholih yang tak termakan proses degeneratif.
Betapa banyak orang termakan kelenaan dunia di depan mata, tanpa sadar kebahagiaan di hari tua tak selamanya bersanding dengan awetnya paras yang dulu meremaja.
Setiap terbersit nasyid ini inget si boy yang di rumah..

tante dan si boy
Kini Kau Telah Dewasa
Kini kau telah dewasa
Hadapi problema di dunia

Tak kuasa diri ini
Jalani hidup penuh godaan
Tapi waktu terus berganti
Hadapi selalu harap ridhanya

Oh adikku
Janganlah kau ragu
Berkarya dengan citamu
Tuk jadi generasi harapan

Kini kamu telah dewasa
Tuk hadapi problema yang ada
Kini kamu telah dewasa
Tuk hadapi cobaan di dunia

Tak kuasa diri ini
Jalani hidup penuh godaan
Tapi waktu terus berganti
Hadapi selalu harap ridhanya

Oh adikku
Jangan kau ragu
Berkarya dengan citamu
Tuk jadi generasi harapan

Kini kamu telah dewasa
Tuk hadapi problema yang ada
Kini kamu telah dewasa
Tuk hadapi cobaan di dunia

#18 tahun itu, cukup, untuk belajar arif dalam setiap menentukan pilihan, boy
U choose, U life :)
@Kantor DS
22 : 49 p.m
07062013

Selamat Berjuang Adekku



Selamat berjuang adekku :)

Semoga perjalanan malam ini barokah dan berhiaskan sakinah dari-Nya..
Selamat menikmati manisnya ikhtiar dan merapat untuk mendapat uluran kemudahan Sang Maha Rahim.
Semoga dimanapun nanti Allah menempatkan, disitulah pijakan tangga yang membuatmu semakin dekat dengan-Nya. ‘ala kulli hal, cinta kami hanya mampu terejawantahkan dalam kidung do’a yang merintih mengharap. 

_Ya Rabb, hamba serahkan penjagaannya di tangan-Mu_

Ahsanul Lutfi Al Hafidz :’) Aamiin ya Rabb...

Selisih kami hanya 2 tahun. Representasinya seperti saya dengan adek 2012 di kampus (normalnya). Tapi rasanya seperti beliau binaan saya. Atau bahkan anak saya. Di tengah ikhtiarnya menjadi tempat menuntut ilmu di jenjang mahasiswa ini mau tidak mau dan dengan spontanitas hati, ikut juga terpikirkan di setiap selang waktu. Nikmat, ketika kita tertunduk untuk berharap atas puncak ikhtiar terbaik bagi adek, apalagi nanti ketika nanti dari rahim kita sendiri.

_Tangerang Mubarak, tetap lah menjadi da’i sebelum jadi Teknisi Pesawat Terbang_
23 : 44 p.m
29052013
@al Baqarah

Ruang Kerinduan



“Adek sholihah, besok kita baca kisah lagi di buku dongeng sebelum tidur ya. Tentang sahabat yang rindu meninggal karena rasa cinta kepada-Nya, tentang seorang yang sombong dan akhir buruknya, tentang akhir hidup orang yang melalaikan sholat, dan nonton video anak penghafal qur’an (lagi)... Do’akan kakak dikuatkan untuk berluang banyak waktu lagi untuk berbagi denganmu di rumah :’)”

“Adek sholih, maaf atas segala keegoisan dalam siratan tuntutan. Semoga terus bersabar dalam berjihad sesaknya nafas juang. Semoga pula indra telinga kita terus berbasah dengan hangatnya nasihat. Do’akan kakakmu dikuatkan terus berproses memupuk ketauladanan... :)”

“Ayah, jikalau sepertiga malam kala itu aku mampu lebih teguh untuk lebih lama di sampingmu. Saat ini ingin aku penuhi meskipun hanya sanggup sedikit mengelus kaki mengurangi sakitmu. Saat makna keberadaan putri sulung, ku ketahui sangat berharga, meski hanya atmosfir yang terasa keberadaannya. Do’akan anakmu, semoga harapan menjadi tauladan tertoreh atas kuasa Rahmat-Nya... :’)”

“Ibu... do’akaaan di sepertiga malam terakhirmu, di sela keterjagaan waktu sholatmu, agar sanggup menjadi jalan syurga bagimu, bagi Ayah... :’)”

Syurga... rindukan kami berkumpul di ruang kemuliaamu :’)

04052913
9 : 48 a.m
_Dhuha mubarok_

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..