"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label refleksi diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi diri. Tampilkan semua postingan

Rizki

Aku tahu rizkiku telah digariskan. Namun tak sedikit pun tahu dimana presisi keberadaannya.
Itulah mengapa, aku berikhtiar.
Aku tahu rizkiku telah tergaris perolehannya. Tapi tak sedikit pun tahu, bagaimana mampu cukup dan tak sekedar bernilai dunia.
Itulah mengapa, aku berdo'a agar dituntun dalam ikhtiar dan menuai keberkahan.

Ukhuwah. Cinta. Pernikahan

Ukhuwah memang sesederhana cinta. Tapi pernikahan tidaklah sesederhana pengejawantahan atas nama cinta.

#AkumulasiKontemplasi

3/2/2016

Reminder by Accident

Bismillah..
Malam ini secara tidak sengaja, entah kronologinya seperti apa, newtab saat berselancar automatically masuk ke dalam sebuah hasil searching Mariana Ulfa di Yahoo.
Sesaat pandangan tertuju terhadap sebuah tulisan berbahasa inggris yang tertoreh nama Mariana Ulfa dan disandingkan dengan beberapa nama yang tak asing dikenal. Belum lama, satu pekan yang lalu.

Allahu Rabbi.. sesaat menunggu loading untuk masuk ke persinggahan sang pemilik tulisan, tak lain de Aya yang nulis. Actually, it's too pleonastic adek :'D
But highly aamiin to hear that. Thanks a lot for the lighter spirit. Instantly reminded with a big dream. Trying to strengthen myself that young soul should always be there :D



Printscreen terakhir belum bisa di upload.
Kelihatan kan adek ini oke gaya bahasanya :)
Setiap orang pasti punya karakteristik masing-masing. Adek tahsin selama beberapa periode nggak ganti-ganti pemandunya :D
Ukhuwah memang dahsyat ya, punya misteri dibalik saling mencintainya saudara seiman.

23 : 39
04092014
Sukoharjo

Keteladanan

"Satu teladan lebih baik dari seribu nasihat"

Masyaa Allah, sore ini saya kembali tumbuh benih cinta terhadap sepupu saya.
Ia mengajarkan saya banyak keteladanan yang akhirnya beberapa halnya baru dapat sedikit saya aplikasikan dewasa ini, setelah tahu segala hal fundamentalnya sembari menuntut ilmu agama semasa kuliah.

"Oh iya, ini tadi dari Bapakmu ada xx ribu, dan ini aku tambahin ya xx ribu."
"Masyaa Allah dek, nanti kamu pake apa?"
"hehe.. iya ngasihnya nggak bisa banyak juga fa.."

Tentang sebuah sedekah, yang terkadang luput karena kealpaan kita. 
Seringkali memang banyak tertegun dan terbalik pola akhlak saya seketika melihat langsung uswatun hasanah dari sahabat, saudara dan orang-orang sekitar.

Maka menjadi benar adanya saat teladan tersematkan pada diri seseorang, buahnya jauh lebih ranum dari ribuan nasihat yang terkadang kering tanpa ruh di dalamnya.

Midnight

Bismillah...
                In this midnight i just wanna say a much of thanksgiving to You Allah, for give me a lot of ni’mat that i accepted until now. Walk on a beautiful life among a great behaviour personal in my environment. Actually in this time i just want to compensated my time to do more benefit activity in my night. Because of my afternoon was ran out with more than enough sleep. Hah. With a big smile and sense of thanksgiving alhamdulillah i can do a lot of thing tonight.
                In short, in the middle of this activity, i have found my old archives copied from inspiring people for me (and maybe for a lot of students). Now, i become more relize that i still have a long journey to achieve my goal. And what is more, my knowledge still limited and very very limited. Oh Allah, strenghtened me to give my best ikhtiar to coming at bettermant.

02/06/2014
00:33 a.m

Baiti jannati

Mbak Nggak Harus Tahu

U : "Ni, mbak semakin ngefans kan sama beliau.. tadi habis dapet cerita dari umi Nunung tuh"
M : (dengan gaya uniknya) "eh, enggak.. sekarang aku ngefansnya sama ammah anis :D"
A : "Plis deh, kayak nggak ada yang di atas aja di dunia ini.. :D"
U : " :D "
M : "hehe.. banyak kok yang aku fans. Ulfa juga, aku juga ngefans sama Ulfa. Jadi apa ya istilahnya ya? ngefans---in? :D" (dengan senyum antusias)
U : "apa mbak? ngefansnin?" #asal

Mbak, plis, meskipun aku tahu kalo ini bercanda, tapi Ulfa rasa mbak nggak harus tahu kalo setiap kata-kata mbak seringnya ngaruh banget buat hidup Ulfa. Refleksi dari akhlak mbak aja Ulfa udah ngerasa jauh banget. Allah sayang banget sama mbak :)

ulfa juga, sayang sama mbak.
dengan segala pengejawantahan laku dan sikap.
semoga tetap terus istiqomah karena Allah saja, sebagai bekal bertemu di syurga-Nya :')


semoga menjadi sunnah hasanah saja, biar pahalanya terus ngalir buat mbak.
Allah, sayangi ia, berkahi hidupnya, istiqomahkan ia, cukupkan ia mesra dengan-Mu saja ya Rabb, sudah cukup bahagia itu menjadi ringan terasa.

Tentang sebuah nilai (lagi)

Jika nilai itu adalah titipan.
Maka sama artinya dengan amanah.
Amanah pun merupakan ujian.

Masih ingat kah dengan kisah mubarok sang penjaga kebun anggur?
yang selama bertahun-tahun bahkan ia tak pernah tahu bagaimana ciri anggur yang manis dan mana yg tidak. Karena ia amanah hanya cukup menjaga kebun saja.

Kalau sebagai siswa/mahasiswa telah terpampang kredibilitas nilai kognitifnya di kertas atau di papan, selayaknya mampu mempertanggungjawabkan amanah ilmu kelak hingga barokah sampai akhir zaman.
Karena ia cukup dengan mempelajari dengan cara-cara yang berkah saja. Sesuai proses yang wajib ia tekuni dgn ruh kesungguhan.
Bukan untuk modal kerja, bukan untuk kebanggaan, atau niatan yang tanpa substansial.

Ilmu itu yang semakin mendekatkan, semakin membuat kita takut, takut akan Rabb Semesta Alam, yang dengan tinta sebanyak lautan bahkan masih ditambah pun tak sanggup melukiskan dengan penuh samudra ilmu-Nya.. :')

#refleksi
#refleksi
#refleksi

Tentang sebuah nilai (lagi)

Jika nilai itu adalah titipan.
Maka sama artinya dengan amanah.
Amanah pun merupakan ujian.

Masih ingat kah dengan kisah mubarok sang penjaga kebun anggur?
yang selama bertahun-tahun bahkan ia tak pernah tahu bagaimana ciri anggur yang manis dan mana yg tidak. Karena ia amanah hanya cukup menjaga kebun saja.

Kalau sebagai siswa/mahasiswa telah terpampang kredibilitas nilai kognitifnya di kertas atau di papan, selayaknya mampu mempertanggungjawabkan amanah ilmu kelak hingga barokah sampai akhir zaman.
Karena ia cukup dengan mempelajari dengan cara-cara yang berkah saja. Sesuai proses yang wajib ia tekuni dgn ruh kesungguhan.
Bukan untuk modal kerja, bukan untuk kebanggaan, atau niatan yang tanpa substansial.

Ilmu itu yang semakin mendekatkan, semakin membuat kita takut, takut akan Rabb Semesta Alam, yang dengan tinta sebanyak lautan bahkan masih ditambah pun tak sanggup melukiskan dengan penuh samudra ilmu-Nya.. :')

#refleksi
#refleksi
#refleksi

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Kembalilah

Orang tidak akan pernah peduli dan mau mengerti seberapa tuntas ibadahmu, seberapa nol koma nol sekian milimeter kedekatanmu dengan Rabbmu seketika itu, atau seberapa beres qur'an dan keadaan hatimu.

Yang mereka tahu, sikapmu di depan mata mereka, katamu yang spontan terucap refleksi akhlak, dan nilai hidup yang terejawantahkan setiap laku jasad..

Kembalilah.. Pada sumber kehidupan hakiki, dengan penuh harap rindu dan dekapan syahdu atas sesak rintihnya..

Allah..

Tetaplah kami hamba dhaif-Mu yang terus terpaut dalam ketergantungan penuh untuk kekuatan dari-Mu..

06062013
9:40 p.m
@al baqarah

Jam Malam



“Eh, In.. Assalamu’alaykum.. :D” as ussual, berjabat tangan
“Ulfa.. Wa’alaykumussalam.. Dari mana? Habis rapat ya? :D”
“Oh.. ini baru mau rapat :)”
“Cie.. jam malemnya udah beda nih ceritanya :D”
Jlebbbb...
“Astaghfirullahal’adzim... :(“
Sambil berlalu..
“Aku langsung cabut In ntar, sebelum maghrib.. ane maghrib di DS -.-“ Pernyataan tegas tanda prihatin atas pernyataan yang munculnya tak terduga.

Sedih banget. Ketika itu memang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Wajar saja mengherankan kalau saya baru berangkat untuk mengikuti rapat lembaga. Sebenarnya dimulai pukul 4. Tapi sore itu baru selesai mengerjakan tugas sekitar setengah 5 lalu mengantar dek Hamas (putra bungsu Umi) ke Nurul Ashri. Atas dasar apapun, saya tetap sedih karena ‘seolah’ dikatakan jadi biasa pulang malam. Malu yang jelas. Pada diri sendiri di hadapan-Nya. Padahal saya tahu bahwa justifikasi ini muncul dari kawan yang terkadang saja saya temui, yang barangkali hanya menduga saja. Bagi kami, isya masih diluar saja sudah termasuk ‘bandel’. Dan seringnya membuat risih ketika tidak mengkompensasinya dengan  banyak istighfar. Atau nggak seharusnya jam murojaah tergantikan dengan layak di jalan. 

Isengnya lagi, ada akhwat yang bilang jam cinderela. Wah ini, justru keren dong :)

Semoga Allah menjaga nurani saya, untuk tetap prihatin dengan dinginnya malam yang menusuk setiap kali masih terhembus oleh pori tubuh. Sehingga kepekaan untuk menjaga izzah akan tetap melekat tak terlenakan oleh sentuhan kultur. Apalagi terlunturkan oleh loyalitas yang salah sasaran.
Waktu yang tinggal 2 bulan ini, waktu kewajaran bagi target 2 tahun kemarin untuk dipenuhi hak-haknya. Selamat berjuang (lagi) kawan, dan saya akan tetap berusaha jadi putri cinderela, yang bukan meninggalkan sepatu, tapi jejak kebaikan yang patut di tiru :)

Aamiin ya Rabb...

22 : 59 p.m
Rabu Mubarak, 29 Mei 2013
@Al Baqarah
_seven jump, istimrar_

Kehidupan Sesungguhnya

"Inilah kehidupan sesungguhnya fa :)"


Iya, na.. kampus terlalu nyaman dengan homogenitas pemikiran cendekiawan. Menjadi sebuah jihad tersendiri untuk menyampaikan sikap, perkataan, pesan dan sebuah ide dalam masyarakat.

Allah... thanksgiving over Ur admonition tonight :")

_Permata 14_
23 : 39 p.m

Cantikmu, Pahalamu :)



“Kecantikan itu ada dua. Yang pertama cantik yang ketika orang memandang membuat makhluk lain berkeinginan yang tak semestinya. Yang kedua cantik yang ketika memandangnya mengingatkan kita kepada Allah.”

Kita yang mana?

Suatu ketika ada seorang jamaah bertanya kepada seorang ustadz.

“Wanita yang berprestasi itu seperti apa?”

Sebuah jawaban yang membanting pola pikir kacau balau yang mendarah daging di benak para penginjak bumi Allah pada umumnya.

“Bagi saya, wanita yang berprestasi adalah wanita yang hanya suaminya lah satu-satunya yang pernah mengungkapkan sayang kepadanya setelah menikah. Dan tidak ada yang lain. Karena ia telah sanggup membuat dirinya tidak mengundang seorang lelaki tertarik dan mengungkapkan hal yang tidak dihalalkan (persepsi saya, sama artinya membuat orang lain berpeluang berbuat dosa). Laki-laki yang menge’tag’ wanita atau meminta untuk ditunggu artinya sama hal nya dengan berkata, ‘aku bernafsu padamu’..”

Na’udzubillahimindzalik...

Mari merenung, berefleksi diri, mari perkuat Qur’an, mari bersemangat menimba ilmu, mari lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dan mari mendekat dan terus merapat dengan-Nya untuk senantiasa dikuatkan.

Ini hanya sekedar menumpahkan diskusi ringan nasihat ustadz dari dua asrama akhwat yang berbeda, di sisi Taman Medika tempo hari. Yang menyadarkan saya bahwa justru saat ini di benak ini masih dipenuhi dengan urusan-urusan jangka pendek. Entah ungkapan, “Masih ingin banyak berkarya, masih ingin belajar membina banyak mutiara, masih ingin menopang bahu lembut adek-adek, masih ingin belajar banyak ilmu, masih ingin banyak ngafalin dulu, masih ingin meringankan beban Ayah untuk adek, masih ingin berbuat banyak buat yang di rumah, masih ingin hal banyak yang belum mensyaratkan kapasitas ideal seorang muslimah.”

Di tambah lagi justru rasa-rasa risih dan males membahas tentang itu sering kali termunculkan karena terbiasa dengan suasana yang membentengi menelisik masalah ini lebih dalam. Karena kecenderungan yang biasa muncul lebih ke arah superfisial ikatan, bukan makna seutuhnya yang mendalami ke arah pembinaan di lingkup madrasah terkecil. Tidak salah kan, toh juga nanti Allah menumpahkan kebahagiaan tiada tara di penghujungnya. Menikmati proses menguras kotornya hati dan berpentas di panggung biah sholihah rasanya lebih menarik untuk dinikmati. Yang jelas PR kita masih banyak, beresin dulu lah urusan kita, penuhi dulu kewajiban kita, telisik lagi list-list hak sekitar yang belum terpenuhi dan segera berbenah. 

Kemudian sekelumit tadi membuat saya lebih terlintas kata ‘bodho amat’ sama hal-hal yang beresonansi dengan hal itu. Atau bahkan sedikit banyak menunjukkan afek acuh yang berhubungan dengan setiap sikap diri. Karena idealisme di titik dalam yang terungkap terekam ‘cukup berbuat yang terbaik untuk Allah, jaga diri, jaga hati, ingat Allah, dan lupakan apa yang akan terjadi pasca skenario telah terputar di pentas ini.'

Yang jelas justru kali ini saya malah diingatkan untuk kembali memfokuskan penjagaan tentang hal itu. Yang akhir-akhir ini justru enggan melirik masalah koridor. Karena saya lebih tertarik membahas mengenai pembinaan calon penghuni rahim. Fokus ini membuat saya menafikkan hal yang memang itu bukan ranah saya.

Awalnya saya hanya sering iseng membentengi sohib-sohib saya yang ‘enticing’ alias ‘nice-looking’. Yang lebih cantik pake slayer atau pakai pakaian yang tak membuat silau. Dan bahkan iseng nyaranin buat cepet nikah dengan dalih kasihan. Tapi kalau di pikir saya kasihan juga ya, sedangkan sekarang anginnya lebih kencang berhembus dari segala sumber. Bersyukurnya, DS selalu mampu menjadi humus dan pupuk yang terus mengokohkan akar-akar pohon dalam proses tumbuh kembangnya. Banyak guru, banyak alarm, banyak benteng, banyak tongkat buat mukul diri sendiri saat lalai atau bandel dari marka jalan. 

Semoga Allah menjaga kita, dengan penjagaan-Nya yang tak pernah runtuh dari kasih sayang. Semoga hati kita tetap murni dengan rasa cinta terhadap-Nya yang menciutkan rasa-rasa aneh yang kadarnya cukup sepele dan memalukan untuk ukuran hamba yang dhaif ini. 

Jadikan cantikmu sebagai pahalamu yang tiada habisnya, hingga Allah mengizinkan engkau dengan lapang hati secara halal mempersembahkan dengan rasa syukur karunia keindahan yang Ia berikan untukmu :)

Ma’annajah ukhty, semoga barokah cantiknya. Jadikan cantik berpahala, jadikan aktivitas menjadi penguat iman. Cantikmu, pahalamu dengan cara penjagaanmu. 

Selamat dan semangat berjuang, dimanapun berada, di bumi Allah yang hangat dengan Rahman dan Rahim-Nya :)

_Atas nama ukhuwah yang tertegur untuk saling bercermin_
Kamis Mubarak, 180412013
11 : 05 a.m
picture here

Refleksi Prioritas



“Masalah prioritas itu memang kita butuh ilmu. Ilmu tentang fiqh aulawiyat. Sehingga setiap keputusannya merupakan prioritas yang tepat untuk kita utamakan. Akan tetapi terkadang memang ada kalanya kita belum cukup ilmu untuk menentukan mana yang harus diutamakan. Untuk memilih yang baik di antara yang baik. Oleh karena itu menjadi penting bagi kita meminta bimbingan Allah untuk memutuskan suatu hal yang baik mana yang harus kita pilih diutamakan. Sehingga keputusannya memang yang terbaik untuk Allah. Saat kita benar-benar tidak mengetahui mana di antara yang baik yang harus di dahulukan, maka mintalah petunjuk Allah untuk jalan yang terbaik...”

Nasihat Ustadz Riyadhus Shalihin ketika itu masih terngiang malam ini. Sepanjang perjalanan dari masjid Al Karim setelah membaca kutipan membangkitkan pusat kesadaran di gadget ini. Oh Allah... mungkin seketika itu hamba sedang tak penuh kesadaran untuk lebih ekstra memompa tenaga dalam mengefektivitaskan waktu, atau hamba terlalu lemah dalam memenuhi hak semua makhluk-Mu, atau setiap raga ini memang ada keterbatasan.

Hari ini begitu terasa setiap nafas penghargaan untuk orang lain. Penghargaan keberadaan setiap makhluk sekeliling Ulfa. Berusaha belajar kembali memenuhi setiap kewajiban terhadap saudara. Memenuhi setiap haknya, menghargai waktunya, menempa kembali dalam tarbiyah diri atas muamalat yang begitu berharga, semata-mata mendamaikan parameter keimanan. Ruh-ruh terhujamkan dalam berbagai cabang pikiran yang terdistorsi sementara, terkalutkan, dan perlahan terkadang memudar, bangkit lagi, berelevasi dan cukup menjadi bahan ajaib berkontemplasi dalam keheningan syahdu dan merindu dengan-Nya.

Maraton, lalu merasa berdosa jika mata terpejam dalam siang yang berseling barokah di setiap sudutnya. Peluang jihad, lagi, peluang amal, lagi, peluang aliran murni sungai pahala syurgawi... Kali ini terfilmkan wajah sang pendewasa kehidupan yang di rumah. Allah... Yang menjadikan tak layak raga ini terpaksa tersungkur dalam satu kata dalih ‘lelah’. Terlebih hamba yang dhaif ini belumlah cukup mampu mengungkapkan seribu alasan untuk pantas berucap kata antipati ini.

Terkadang dalam segala hal yang telah direkonstruksikan demi kebaikan. Segala bentuk prioritas yang tertata untuk pemenuhan hak-hak pribadi dan orang lain, masih ada kemungkinan dzalim yang tak tersengaja. Khusnudzannya, ini masalah tempaan dari Al Hakim yang menuntun saya menjadi lebih adil atas semua makhluk. Yang masih saja timpang barangkali untuk sekedar mana yang disebut optimal kapasitas pribadi dan ‘kelelahan ruh’ yang termanifestasi pada optimalisasi ikhtiar jasad.

Rabbighfirli, Rabbighfirli... 

Ihdinasshiraatal mustaqiim, ihdinasshiraatal mustaqiim...

Semoga Allah mengampuni saya :’)
Menata, meniti, mengendapkan
Jetsu 1 Rumah Cahaya
Selasa, 16042013
22 : 11 p.m
gambar from here

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..