"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label DS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DS. Tampilkan semua postingan

Bukan bekas, tapi lekat

Sejujurnya merindu, sangat.
Dengan sebuah miniatur peradaban, dimana pernah tertetes air mata tentang, "Adakah tempat yang lebih baik dari sini?" dalam sebuah perjalanan yang remang.

Sejujurnya merindu, yang belum sampai.. yang ingin sampai. Tentang ia sosok yang sangat berpengaruh. Abi dan Ummi.

Sejujurnya merindu yang dalam. Dengan suasana qur'an yang menurunkan sakinah, yang termanifestasikan sensitifitas yang tinggi atas serpihan rasa-rasa berdosa.
Ya Allah.. kami tahu pijakan kami masih dalam bumi terbaik-Mu. Kuatkan kami.

Selasar Jabal Tsur dalam 4 tahun mensejarah

Masih tersimpan ruh bahkan saat lewat
-Emosional kerinduan-

Kehidupan yang Sempat Hilang

“emaaak... “
Gerubuk.. dua bocil mungil nan dewasa dan shalihat mengerubung.
“apaa? Emak gue..”
Lalu mereka saling sinis.
“kan panggilannya beda-beda, satunya emak, satunyaaa... apa mah? Hehe”
-------
“pinjem pensil” senyum merekah
“iya pake aja” balas senyum
“itu senjata ‘ammah”
“iya mah, aku juga pake ini kalo ngafal. Nggak tahu kenapa ya.” Sedari tadi memang buletin beberapa similar kata di QS Al Baqarah
“yaudah beli aja”
“iya ni, kok enak pensilnya”
--------
“wannajmi idzaa hawa.. maa dholla shaahibukum wamaa ghawaa.. wamaa yantiqu ‘anil hawa.. in huwa illaa wahyuyyuhaa.. iya kan mah? :D” menirukan saat yang duduk di depan setoran
“Uhm.. iyaa.. iyaa.. :D” sahutnya sembari acting mikir
“kenapa mah manggil-manggil?”
“nggak papa, kangen aja :D”

Malam ini alhamdulillah, Allah berkahi waktu kami (lagi) untuk syuro. Masyaa Allah, berkah. Efektif menurut kaca mata kami. Tentunya berimbang dengan ikhtiar beberapa dari teman-teman yang mempersiapkan bahasan dengan matang. Tepat selesai sesuai prioritas bahasan, 3 dari 7 list to discuss. Jam 10 kholas-kholas.red- (selesai).

Bahagia, Allah.. terima kasih. Tadzkirah yang begitu jitu sedari tadi siang. Beralur, lembut, menusuk dan membuncahkan energi (lagi). Beberapa penggalan humanis malam ini terekam dengan penuh syukur.

Ummiya menyisipkan dinamika syuro dengan penggalan suplemen.

“ammah udah tahu kitab Al Muwwatha’?”
“Beluuum miii...”  spontan seruan kompak
“Ya, ummi ambilin yaa...”

Lalu kitab itu dikelilingkan diantara kami.

“Udah, pengang aja, sambil dibuka, terus bergeser”

Beragam ekspresi diantara kami, ada yang kemudian mencium, memeluk, berdecak ingin sanggup membacanya, dan ada yang monolong, “mari kita mulakan majelis ini dengan...” sambil membuka kitab lalu teriring renyah tawa yang lain. “aamiiin....” (berharap kelak mampu mengkaji langsung dari sang ustadz dengan arab gundulnya).
Kemudian Ummi menegaskan maksud mengeluarkan kitab tersebut beserta salah satu buku biografi Imam Malik.

“Makanya naaak, kita masih jauh (Qur’an masih jauh, baca kitab belum bisa *sedih)... Tiga hari itu harus ada targetan (dalam sebuah agenda yang kami rancang). Ketika Ummi baca buku tentang Imam Malik, beliau bilang bahwa nikmat itu harus dinampakkan mah (memotivasi termasuk target qur’an kalau yang saya tangkap). Makanya kalau beliau memakai pakaian yang bagus-bagus. Kalian orang-orang cerdas. Orang bisa kok skripsi sampai selesai, bisa kuliah. Udah, dibuat target mah... Kita ini masih jauh. Kisah di dalam buku ini sudah menjadi cerita menjelang tidurnya Hamas (putra ummi yang terakhir yang duduk di bangku kelas 3 SD). Artinya ammah sudah harus khatam kisah-kisah ini dari sekarang..” seru ummi dengan penuh ekspresi seperti biasanya. *redaksi tidak sama persis

Aaaaah... ummiiii. Plak plak T.T

Alhamdulillah rundown, kontrak kegiatan, jadwal aktivasi syuro sampai terpilihnya korlap oprec DS 9 khalas. Ah, masyaa Allah. Belajar banyak. Amanah memang akan sampai pada pundak yang Allah karuniakan kekuatan. Kuat ruhiyah, kapasitas dan jenjang kesesuaian.

Untuk teman sekamar :

Barakallah ukht, semoga Allah senantiasa memberkahi waktu kita. Semoga Allah memilih kita sebagai hamba yang pantas menikmati peningkatan amal lewat amanah yang Ia karuniakan. Kerja besar ini insyaa Allah menjadi pemberat amal kelak di akhirat. Sangat. Kamu sudah tahu lebih banyak ya. Hehe. Tapi sungguh, aku iri :’) Jiddiyahmu menginspirasi. Ubbudiyyah yang terlihat ringan setiap malamnya, kelapangan, etos kerja, dan segala halnya. Ah, ya Allah, pertemukan kami di syurga.

Aku tahu, mungkin ini pengejawantahan rasa khauf mu di hadapan Allah, “Nggak mau, aku nggak mau jadi imam. Kalo nggak aku mau sholat sendiri aja” spontan aku tertawa lucu

“Nanti kamu bakalan jadi imam di Riau (Kepulauan Riau sebenarnya). Kan persiapan pulang.”
“Itu beda ceritaaa.. pokoknya aku nggak mau..” muka ngambek nggak serius amat
Hingga akhirnya,
“Udah.. nggak usah cari-cari alasan..”
Terlihat berpikir dalam
“ammah mau melanjutkan S2 kan? Bisa sambil persiapan belajar”
“Uhm.. insyaa Allah kalau wisuda februari ya disuruh pulang.. hehe”
“Tuh kan.. karena ada amanah, biar bisa ada alasan untuk tetap disini :D”
“Iya lho mah... nanti kalo di Riau orang-orang yang bakalan ngaji ke kamu.”
“Aah.. yaudahlah.. nggak usah ngomongin itu. Iya, nggak papa.” Ngelus dada
Alhamdulillah... lalu tauris tertulispun tersampaikan.

Barakallah untuk teman sekamar yang guru saya :)

Ya Allah, izinkan kami menjadi hamba yang pandai memperbaiki diri dalam setiap mengemban amanah. Menjadi hamba yang terus meningkatkan kapasitas taqwa dan iman. Menjadikan diri terus ihsan dalam professionalitas dan tanggung jawab.

Pasca syuro

“Subhanallah ya.. ternyata kita satu kamar sama orang hebat. Korlap PSB DS 9 :D”
“Iyaa... korlap PSB DS 9 dan Koordinator Pemandu..”
“Eeeeh.. Koordinator tahsin juga kan ‘ammah...”

Masyaa Allah. Saat Allah turunkan nikmat belajar itu begitu dekat. Dari mereka yang banyak mencurahkan waktunya untuk umat. Fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzibaan...

Seringnya menjadi apa kita tidaklah penting. Karena amalan besar mampu rusak karena niat, dan amalan kecil mampu besar karena niat. Karena seringnya amanah bikin galau saat stagnan divacumin alias lama didiemin (kayak skripsi.heheh). Dan itu sakitnya dimana-mana, bukan hanya *disini. Gregetan. Karenanya bekerjalah, supaya Allah saja yang melihat pekerjaan kita :)

Alhamdulillah..

Kehidupan sakinah ini Allah karuniakan kembali. Setelah sekian lama berhibernasi. Bahkan sempat terpikir jadi orang terasing di belahan bumi (lebai sekali).

23 : 26 p.m
Selasa, 04112014
Allahumma shayyiban naafi’an
Hujan turun di Jogja, setelah sekian lama

Mbak Nggak Harus Tahu

U : "Ni, mbak semakin ngefans kan sama beliau.. tadi habis dapet cerita dari umi Nunung tuh"
M : (dengan gaya uniknya) "eh, enggak.. sekarang aku ngefansnya sama ammah anis :D"
A : "Plis deh, kayak nggak ada yang di atas aja di dunia ini.. :D"
U : " :D "
M : "hehe.. banyak kok yang aku fans. Ulfa juga, aku juga ngefans sama Ulfa. Jadi apa ya istilahnya ya? ngefans---in? :D" (dengan senyum antusias)
U : "apa mbak? ngefansnin?" #asal

Mbak, plis, meskipun aku tahu kalo ini bercanda, tapi Ulfa rasa mbak nggak harus tahu kalo setiap kata-kata mbak seringnya ngaruh banget buat hidup Ulfa. Refleksi dari akhlak mbak aja Ulfa udah ngerasa jauh banget. Allah sayang banget sama mbak :)

ulfa juga, sayang sama mbak.
dengan segala pengejawantahan laku dan sikap.
semoga tetap terus istiqomah karena Allah saja, sebagai bekal bertemu di syurga-Nya :')


semoga menjadi sunnah hasanah saja, biar pahalanya terus ngalir buat mbak.
Allah, sayangi ia, berkahi hidupnya, istiqomahkan ia, cukupkan ia mesra dengan-Mu saja ya Rabb, sudah cukup bahagia itu menjadi ringan terasa.

Terkenang



Ketika menulis ini, barangkali ada someone feels, “thats me” :D

Sesekali saya sekilas membuka lembaran layar yang tergores tinta-tinta risau bahagia seorang anak. Uhm, tepatnya adek :) Adek santri, adek kampus, dan adek seperjuangan ‘cinta’, di jalan syurga.
Raut muka sendu bahagia dalam tulisannya menggambarkan suatu hal.

“Itu saya, ketika menjadi santri” :’)

Seketika saya teringat jauh melesat. Dan kemudian berbalut bahagia penuh syukur. Lagi-lagi penuh syukur yang buncahan rasanya tak tertahankan terkecuali dengan segenap ingin menumpahkannya dengan rasa tangis haru yang merindu menghadap  kelak disyurga-Nya, dalam hening, hanya seorang hamba dengan-Nya. Cukup, hanya itu.

 Menjadi sebuah rasa yang mendalam ketika saya diberikan takdir terbaik menjadi seorang santri. Menjadi santri di sebuah pondok pesantren mahasiswi di Yogyakarta, dua setengah tahun silam, dalam realita harap cemas ketika mendaftar. Hal itu yang mengantarkan saya sekarang menjadi sosok yang jauh berani. Untuk memutuskan sebuah pilihan hidup beserta konsekuensinya.

Saat itu, saat perjalanan nol menuai turning pointnya.

23 : 12 pm
13012014

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Bias Bumi dan Kayangan

“Ibaratnya kita ini memang hidup di kayangan..”
“Cerita kita ini sejenak menengok jendela keluar..”
“Iya, layaknya saudari kita ketika itu, Husnul Khatimah itu seperti dunia mimpi, dan ini baru kenyataannya. Dunia mimpi memang selalu lebih menyenangkan”

 Rumah Cahaya, kayangan.

===o0o===                                

Melongo. Masya Allah. Geleng-geleng. Seperti itu kondisi sekitar kita? Selama ini kita?
Hampir tiga tahun terakhir seras hidup di kayangan. Banyak senyum bertebaran. Nasihat menyejukkan. Pengertian meneduhkan. Sakinah yang abadi.

Sedangkan di luar sana?

Shock. Pusing. Tertegun. Tiba-tiba tersentak dengan cerita masih adanya kawan yang atheis, yang islam KTP, bangga dengan duniawinya, berbaur tanpa batasan, melebur dengan nafsu tak kenal malu, atau bahkan tak sampai tanggap menyongsong akhir hidup.
Ini sekitar kita. Bumi tempat kita berpijak. Tanah wadah menetes peluh. Sedangkan kayangan masih melambai dalam kenyamanan.
Kami sayang dengan kalian, rindu terikat menyatu, sakinah dalam mahabbah yang menggetarkan rindu.
“-----------------“

23 : 03 p.m
14052013
_Lepas berbincang_

Buat si Libas



Sedikit menghaturkan suguhan terima kasih kepada seseorang yang tiba-tiba mengkontak hati saya tadi malam. Heran, salut, terharu, super akhwat yang bikin saya banyak berkaca. Ya Rabbi, sedetail itu beliau memperhatikan saya. Sedangkan saya yakin urusan beliau lebih bejibun pastinya.


“Oke bil, gue ngerti sekarang. Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Semuanya pasti ada porsi standarnya. Orang-orang sekeliling Ulfa juga banyak hak yang harus terpenuhi. Menjalankan peran multiple bukanlah dalih untuk menanggakan prioritas satu persatu dengan tinggakatan persen.  Segalanya harus total 100% karena setiap kita berpijak pasti makhluk di sisi ada hak yang harus terpenuhi. Gw endapin dulu ya nasihatnya, sambil sedikit menelisik target lebih dalam yang bisa gw lakuin. Btw, udah dirintis pagi ini nih, emang, ‘mereka asik kok, bisa buat gw lebih muda, emang bener, gw butuh refresing :D’. Ini nih yang bikin mikir lebih dalem. Oh Allah, jangan-jangan belum tawazun...”


NB :
Cuman elu yang tega ketawa kalo gw mulai berkaca kayak mau nangis, puas banget kayaknya. >.<
Atau nggak ketawa saat gw mau dikit so sweet, atau bahkan suka ngetawain gw padahal nggak ada tingkah. Aneh. Yah, apapun lah, ente emang Sabil yang selalu dengan apa adanya buat Ulfa nyaman, seolah konselor ulung. Elu sih, melankolis :P
Cuman elu yang tega ngorek hal-hal kecil yang luput dari prioritas gw. Padahal pas lagi carut marutnya segala urusan, eh ni apaan lagi diingetin hal yang sempat berhasil ternafikkan. -__-
Tapi akhirnya bersyukur juga, barangkali mereka bakal jadi transquilizer alamiah yang barokah, jadi nggak musti gangguan mental emosional sampe bermanja dengan psikotropika saat kalut (haha, nggak segitunya juga sih)
Banyak belajar Bil.. Semoga usianya berkah untuk siapapun dan dimanapun berada :)

Karena Iseng, Kena Efek Melankolis

"Amah.. siapa yang mau cabut gigi..? gratis nih.. lagi ada coas.." seru teman di depan kamar...
"Kenapa Sulas? ;)" #ngetes
"Ulfa mau cabut gigi? gratis, lagi ada coas :)"
"Kalau masalah cabut gigi gampanglah nanti, yang susah itu nyabut namamu di hatiku ;)"
"?@$%^&()!..... amah ulfaaa..."
_kembali masuk kamar dan tak tahu apa yang terjadi_

malam itu, saya kembali ditemani si Ochi di meja selasar JT (Jabal Tsur) untuk mengerjakan garapan yang belum terselesaikan, tiba-tiba si 'korban' yang kena tadi melayangkan sepucuk kertas binder yang dilipat dan telah tergores beberapa paragraf didalamnya..

"ini buat amah ulfa.."
"??? apa ini?"

Setelah membacanya tersenyum, meski sebenarnya tidak sepenuhnya faham maksud yang tersirat. hehe

Belakangan saya berpikir bahwa hidup saya sepertinya selalu dilingkupi orang-orang melankolis :D
Pertanyaan berbaliknya, "Kamu fa yang mulai.." :p
eh, tapi enggak.. karena mereka levelnya lebih tinggi :) kalah saya mah..

Manusia itu unik, Allah mendekatkan saya dengan banyak karakter orang, banyak belajar, banyak bercermin. Bahkan terkadang saya berpikir kalau saya begitu curang. Terus mencuri kebaikan orang lain tanpa mengetahui secara pasti sedekah amal dan akhlak apa yang bisa ditiru. Hal ini pula yang sering kali membuat saya berkaca, lalu meneteslah air mata.

Manusia itu aneh, sering kali orang bilang, "kamu tuh melankolis banget..."
"so, why....?"
Sebenarnya pernyataan itu juga terkadang saya lontarkan kepada orang lain. Tapi saya melontarkannya dengan kesadaran penuh. Dengan sadar untuk mengakui bahwa setiap diri seseorang pasti ada sisi kelembutan. Yang setiap waktu, spontan bisa saja merasa hanyut dalam suasana. #bukanGalau
Hanya saja sisi-sisi melankolisnya ada yang menonjol dan ada yang terpendam. Keduanya sama saja, tak usah dipermasalahkan, ini hanya masalah karakter dan cara kita mendewasakan sikap bagaimana  harus menghadapi perbedaan setiap individu.

Kalau belajar dari orang melankolis dominan, kecenderungannya akan sangat banyak hal yang membuat ia tersenyum. Karena selalu hati yang terbawa untuk menghadapi setiap peristiwa. Percayalah, mereka adalah orang yang justru paling sering bahagia. Karena pada umumnya orang melankolis itu romantis, sisi keromantisannya itulah yang sering menjadikan orang lain terenyuh dalam keharuan. Saya salah satu orang yang sering terkena dampak orang-orang melankolis di dekat saya. hehe
Cukup mendengarkan, cukup banyak memberi senyuman atas ceritanya, mentransfer kebahagiaan di setiap ekspresi kisah, ujungnya kita sendiri yang akan banyak belajar, asalkan ikhlas dan lapang menyikapinya. Di balik di sisi kebagaiaan yang kita rasakan karenanya, saya percaya, justru mereka yang lebih bahagia :)

Karena mempunyai sejuta cara untuk menyentuh hati orang itu jauh lebih dalam bahagianya daripada tersentuh hatinya oleh orang lain :)

Jazakumullah khairan katsir untuk semua orang yang dengan ikhlas menjadi cermin bagi saya :)

_senja begerimis yang merindu rumah sederhana_
#nggak jadi pulang :'(
Meja Jihad Al Baqarah
Jum'at mubarak, 29 Maret 2013
17 : 29 p.m

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..