"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Dapat Penawar Futur


Lagi seneng sama Bu Dewi. Sukaaa deh. Peri bangeet.
Sama juga kayak sahabat terbaik yang lain. Setiap kali ngobrol sering kali Allah turunkan keringanan untuk muncul endorphin. Jadi sukaa gitu senyum denger ceritanyaaa. Ah Ibu, idaman bangeeet.

Alhamdulillah, malam ini direlain, diringan-ringanin buat berangkat ke Rumah Sakit yang sebenarnya sedang turun jaga. Konsultasi sekitar jam 20.00 dan berakhir hampir jam 21.00 an. Alhamdulillah, jadi mikir hal yang bermanfaat lagi ini otak. Setelah beberapa waktu cukup sirkumtansial.

Qadarullahnya, Allah mempertemukan saya dengan Bu Dewi yang beliau begitu telaten membimbing stase manajemen kami. Ceritanya saya dapet bagian pembuatan SPO (Standar Prosedur Operasional) tindakan-tindakan keperawatan di bangsal THT dan Bedah Mulut RS Sardjito. Walhasil, setelah usai konsultasi sukalah saya kalau disuruh denger cerita inspiring gitu. Singkatnya, beliau yang lulusan Vokasi dan diamanahkan sebagai seroang ketua KFK (Semacam ketua penyusun beberapa draft SPO/SAK Rumah Sakit berdasarkan kategori keilmuwan yang khusus, duuuh lupaaa kepanjangannyaah) gitu cukup menjadi hal baru dan membuat beliau denial. Secara untuk keilmuwan Vokasional pastinya tidak lebih mendalam dibandingkan dengan S1. Namun penyusunan draft tersebut merupakan kinerja-kinerja teoritis banget. Alhasil beliau merupakan anggota tim termuda, dengan background pendidikan vokasional dan yang lain (mungkin) mayoritas S1. Terlebih pula beliau masih dalam posisi belum pegawai tetap/THL (Tenaga Harian Lepas. CMIIW)

Oooh maan, itu mirip-mirip dikit sama posisi saya di kadep media dulu :D berasa senasib Ibuu. Meski nggak segitunya siih. Yah, sama-sama harus belajar banyak gitu, kalau saya belajar dari awal bingits. Alasannya pun ya agak-agak mirip, karena nggak ada yang mau. Haha, entahlah, mirip atau samaa karena nggak ada yang lain. Yang jelas hal tersebut membuat beliau kuat, makin tangguh, dan makin berenergi buat belajar. Ah, seneng deh belajar dan dibimbing oleh Ibu. Udah murah senyum, telaten, rajin, baik, bersahabat, lembut yang tetap berkarakter.
Jadi pengen belajar juga, jadi orang yang berdedikasi dan lapang banget menerima masukaaan. Zzz, gregetan :D
*Saya berharap Ibu Dewi nggak baca tulisan di blog saya bagian postingan ini. Hehe

Semoga Allah kuatkan ya Ibu, In syaa Allah Ulfa ikhtiar buat bantuin Ibu dan belajar sama Ibu sepenuhnya. Nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih, buat mengerjakan yang terbaik buat bantuin Ibu, buat RS Sardjito. *cieeh

Stase manajemen kayak stase dewa, aduh berlebihan mungkin yak (keikut istilah yang sering di denger sih). Tapi Alhamdulillah jadi belajar berhubungan dan belajar dengan orang-orang penting di Sardjito. Dan awesomenyaaah, nyusun standar tindakan keperawatan buat bangsal buat dibukuiiin. Berasa expert -__- yang aaamiiin, semoga terus berbenah makin baik dan makin beneran expert.

Jadi sukaaa, karena jadi inget jaman-jaman semangat lomba, buat nyusun something new or innovation that make easier to others. Sukaa, karena musti nyari gimana caranya nyusun, dimana referensinya, mana aja yang dimasukin. *Padahal sebenernya dalam hati berkecamuk (aaaak. Gimana ini??? :D)
Semoga Allah mudahkan dan ringankan kerjanya. Aamiin

Finally, I’m fine :) Alhamdulillah..

Setelah beberapa saat pikiran sirkumtansial soal beberapa hal. Cenderung butuh asupan biar semangat. Alhamdulillah berkah waktu 1 jam konsultasi barusan membuahkan hasil. Utamanya soal kondisi ruh diri.

Yang jelas hal yang senantiasa terekam sebelum berangkat adalah, saat-saat dimana saya sesekali menjawab pertanyaan soal tips mengatasi semangat yang fluktuatif atau kondisi ruh yang futur. Baik saat ngisi acara kecil-kecilan maupun curhatan antar teman.

“Semangat kan naik turun ya, Kak. Kadang kala kita futur. Gimana cara kakak mengatasi futur?”

Futur is masa depan dek. Eh, future yak :P

Heheh, jadi kalo sampai detik ini masih ada pertanyaan gitu, saya gini jawabnya :

“Bergerak aja terus. Jangan berputus asa atas rahmat Allah. Bergerak terus sampai lelah itu lelah mengejarmu. Hidayah itu dijemput. Termasuk kondisi diri yang sedang bersemangat, itu merupakan rahmat Allah. Cara biar Allah karuniakan Rahmat-Nya? Banyak-banyak amal shalih :)”

Merupakan saripati dari sebuah hadits, “Bersemangatlah atas apa-apa yang terbaik bagimu, mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim

Alhamdulillah, meski 1 jam, dengan kondisi sebelumnya yang harus mendorong gerakan raga, Allah tumbuhkan ruh yang baik, jiwa yang bersemangat, kan?
_Mari Berkarya _

10 : 25
04012016
@GoBST !

Reference :
https://rumaysho.com/265-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat.html

Inspiring

Yeah, someone inspiring me for now is my little brader :)

"itu hari senin kemarin mba.. penyematan wing (tanda) naik pangkat dan rangking 1 :')"

lalu, setahun ini apa karyaku?

Thanks Allah for reminding :')

Ahsanul Lutfi
Jurusan Teknisi Pesawat Udara STPI 2013

Reminder by Accident

Bismillah..
Malam ini secara tidak sengaja, entah kronologinya seperti apa, newtab saat berselancar automatically masuk ke dalam sebuah hasil searching Mariana Ulfa di Yahoo.
Sesaat pandangan tertuju terhadap sebuah tulisan berbahasa inggris yang tertoreh nama Mariana Ulfa dan disandingkan dengan beberapa nama yang tak asing dikenal. Belum lama, satu pekan yang lalu.

Allahu Rabbi.. sesaat menunggu loading untuk masuk ke persinggahan sang pemilik tulisan, tak lain de Aya yang nulis. Actually, it's too pleonastic adek :'D
But highly aamiin to hear that. Thanks a lot for the lighter spirit. Instantly reminded with a big dream. Trying to strengthen myself that young soul should always be there :D



Printscreen terakhir belum bisa di upload.
Kelihatan kan adek ini oke gaya bahasanya :)
Setiap orang pasti punya karakteristik masing-masing. Adek tahsin selama beberapa periode nggak ganti-ganti pemandunya :D
Ukhuwah memang dahsyat ya, punya misteri dibalik saling mencintainya saudara seiman.

23 : 39
04092014
Sukoharjo

Character on Feeling

Sometimes in some forum or meeting or even in the first introduce or greeting, moreover if i can chat, listen and got discussion with someone in some minutes, I can indicate their character just with the way they bring their self. How people interest to others, how people use grammar to speak and give some opinion, how people give an attention, how they give a feed back of disagreement, how they give a pardon or forgiveness, etc. Yeah, it just a speculation that not all of my sense is absolutely right. Maybe this is the one of we call hikmah or ibrah that sentiment or feeling given more to woman than man. So that all of thing they have done or what they’re doing always obsess in their feeling. Eheheh

Just want to talk here.

22 : 32 p.m

04062014

Pagi yang Hangat

Pagi ini hangat, sangat hangat.

Sangat terekam ketika itu, beberapa tahun silam.
Saat pagi begitu riuh dengan suara sana-sini. Sebelas dua belas dengan suasana adek-adek putra-putri umi yang kecil.

Bedanya mungkin di konflik dalam kasusnya.

Beberapa tahun yang telah lampau, saat yang satu ngantri kamar mandi dan nggak ada yang mau mengalah. Satunya lagi menyegerakan supaya nggak telat berangkat sekolah. Satu lagi dengan kata klisenya, “sudah berulang kali dikasih tahu, diulang lagi, di ulang lagi..”

Riweuh. Gedebag. Gedebug.

Ah.. ya Rabb.. ya Rabb..

Pagi ini, Allah dengan perantara waktu, alam, dan segala kehidupan yang dengan prosesnya kami lalui, menegaskan bahwa, segala hal ada masanya.

Saat dimana pagi ini begitu hangat, duduk membicarakan beberapa hal dengan babe selepas tilawah di ruang tamu, berbagi tugas dengan ibu, mencanangkan strategi ke depan, dan ternyata kamipun berada dalam lini yang sama. Menguatkan bawa negeri ini butuh renovasi dalam jiwa generasinya. Sebelum sistem terlanjur meremukredamkan cita-cita besar kemajuan. Pendidikan agama, sejak dini yang mengeruh dalam sanubari, kemudian terhujam dalam moral pelaku arah gerak bangsa.

Keluarga ini hangat, sangat hangat.

Saat kemudian terdengar damai lantunan bacaan Al Qur’an Muri Q* yang selalu terputar di sela istirahat di sekolah sebelah, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, yang dulu menjadi samudra ilmu yang sarat makna sewaktu kecil dulu. Terhitung sepuluhan lebih tahun silam.

Hingga aku tak sanggup lagi bertutur, kecuali.. “Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadziibaan..”

Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alallya wa’alaa wa lidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fii dzurriyyatii innii tubdu ilaika wa innii minal muslimiin..

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Al Ahqaf (46) : 15)

Baiti jannati :)
07 : 13 a.m
03022014

* Muri Q adalah sebuah terobosan pembelajaran membaca Al Qur’an dengan irama yang dibuat oleh Ustadz Muhammad Dzikron Al Hafidz (Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Ibdaurrahman Surakarta). Irama Al Qur’an ini yang kemudian sering di putar di sekolah adek saya, mantan sekolah saya dulu dan akhirnya cukup membuat para siswa-siswi MI ternuansa dengan tartil Al Qur’an di sela istirahatnya. Bahkan ketika di waktu luang pun, sesekali terdengar spontanitas melafadzkan sesuai dengan iramanya. Subhanallah.. semoga menjadi amal bagi beliau yang menggagas :)

Just information,
Dulu ketika zaman saya bersekolah di sini belum ada, bahkan saat sekolah di MI dulu gedungnya memprihatinkan. Pernah sesekali orang tua teman saya melarang putrinya untuk TPA sore hari yang saat itu hujan deras. Alasannya.. "takut bangunannya roboh" masyaa Allah..

Alhamdulillah sekarang sudah dirombak total semenjak beberapa tahun yang lalu. Tetap dengan kesederhanaannya, tidak lebih dari bangunan sekolah kota di kabupaten, atau bahkan di tingkat desa. Tidak lebih bagus, karena sekolah ini memang terletak di sebuah Dukuh. Dukuh Tanjung, Desa Bakalan, yang tidak banyak orang yang mengenalnya. Bahkan, saya pun termasuk orang yang bisa disebut orang desa di saat berada di ranah kabupaten.


  

     Belakangan, saya menyadari, sangat bersyukur dan bahkan tidak ada rasa kecil hati sedikitpun, ketika harus mengatakan saya dulu bersekolah di MI Muhammadiyyah Tanjung, yang bukan sekolah taraf anak kota, yang saat itu siswa di kelas saya awalanya 13 orang dan yang bertahan sampai kelas 6 hanya 11 orang. Perhatikan, 11 orang kawan, karena 1 orang berpindah ke daerah lain dan 1 lagi tidak naik kelas di tengah perjalanan pendidikan ketika itu. 

Saya ingat, Bapak selalu mengatakan kepada masyarakat ketika memberikan sambutan entah di pengajian akbar atau di forum lainnya, untuk tetap menyekolahkan putra-putrinya di MI saat itu. Bapak benar-benar menegaskan bahwa pendidikan agama itu mutlak pentingnya bagi anak semenjak kecil. Biasanya diperkuat dengan beberapa prestasi beberapa muridnya ketika itu yang tak kalah dengan SD Negeri.

Sekali lagi, sekarang saya benar-benar menyadari. Bahwa, iya. Benar-benar bekal yang saya miliki saat bersekolah di MI lah yang justru mengantarkan saya hingga sekarang (masih baru seperti ini memang). Ilmu-ilmu yang mengajarkan tentang Baca Tulis Al Qur'an, yang saat kelas 4 dulu saya pernah dapat nilai 4, camkan, nilai 4 kawan. Karena benar-benar kesulitan menghafal belasan hukum mad, macam hurufnya, panjang bacaannya, entah mad wajib mutsaqal kalimi, mad iwad, mad harfi, mad silah thawilah, silah khasirah, dan lain sebagainya itu. Tapi justru itu, justru itu yang ternyata ketika keluar dari MI membekas di hati saya karena setidaknya telah mencicipi manisnya belajar ilmu agama. Rasa-rasanya pun selalu rindu untuk terus tahu lebih banyak di sela keterbatasan pelajaran agama ketika di SMP dan SMA Negeri. Belum lagi pelajaran fiqh, sejarah kebudayaan islam, al qur'an hadits, bahasa arab, dan lainnya lagi yang masih membekas hingga sekarang. Alhamdulillah positifnya terbawa pada semangat saya di pelajaran dan ulangan agama sewaktu SMP dan SMA (meskipun SMA sedikit tereduksi karena tidak terdukung dengan situasi pembelajaran yang kurang kondusif *seringKosong.red).

Ah, saat itu.. yang saya hanya terus bisa merindu, dan mengejar ketertinggalan selama sekian tahun dengan mereka yang terus menggeluti ilmu manis ini. Yang saya hanya mampu untuk memotivasi adek saya dan kelak mempersiapkan anak saya untuk bekal yang lebih baik dari saya. jauh lebih baik, jauh lebih sholih dan sholihah, jauh lebih dicintai Allah, jauh lebih bermanfaat dengan ilmunya, jauh lebih arif, lebih berakhlak mulia, lebih segalanya yang lebih membuat keridhoaan Allah melekat pada setiap tingkah laku kita.

   
    Tadi malam saya sempat memperlihatkan video profil Insan Cendekia Serpong ke adek saya yang kelas 5 SD. Alhamdulillah a little interest sudah tergambar. Semoga Allah ridho dengan yang kita ikhtiarkan untuk mencetak generasi sholih-sholihah di masa depan.. :) 

Betapa antusiasnya saya ketika tadi malam saya mendengarkan langsung, live dari tutur kata adek saya, melafadzkan hadits tentang taqwa dan diingatkan tentang hadits menyantuni anak yatim. Benar-benar seolah sedang mendengarkan ustadzah menyerukan hadits dan artinya dengan semangat membara. 

Ya Rabb.. kuatkan kami untuk senantiasa mencintai-Mu.. lebih dari semesta apapun ilusi di dunia ini... :')

MI Muhammadiyah Tanjung
it's mean, how close that school from my home :)

Sok Sibuk

Alhamdulillah hari ini saya mendapat amanah ilmu dari Ustadz Umarul faruq Abu Bakar, Lc Al Hafidz selepas dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ibnu Abbas Klaten.

Beliau menghafal qur’an dengan lama waktu 1 tahun terhitung semenjak Oktober 2004 sampai Oktober 2005. Allah memudahkan beliau menghafal ketika berstatus menjadi mahasiswa di Al Azhar Kairo dengan tetap tidak meninggalkan amanahnya di organisasi. Tidak kurang dari 7 organisasi dari berbagai bidang (ICMI, publishing, dll *saya lupa).

Hingga kesimpulan yang dapat saya ambil saat ini adalah : Saya sok sibuk ! Terima kasih ustadz :’)
Al Qur’an bukan waktu sisa kita. Kalau kita memberikan waktu spesial untuk Qur’an, maka Al Qur’an pun akan memberikan yang spesial untuk kita. Kalau kita berikan waktu sisa, ya Al Qur’an pun juga hanya akan meberikan sisa-sisa saja. #jleb *tertampar dan tertunduk


Kemudian forum taujih ditutup dengan seruan spontan teman-teman ‘seperjuangan’ Rumah Kaca, “Baterai Full ! Baterai full.. “
“Iya, hati-hati, jangan dipake buat ngenet :D”
Yea, you know what i mean  :)
Lah ini?
Cuma pengen berbagi aja, cukup :)
Lagi-lagi bersyukur, Allah menginginkan kita hanya menjadi orang baik saja.
#TransferData
#KerjainDeadline


Repost 21:41 p.m
21012014

Mixed Feeling

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan seseungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [QS Al-Hijr: 9]
Mereka dan kita, sama-sama memiliki jumlah waktu 24 jam setiap harinya. Pembedanya yakni sikap kecintaannya pada Al-Qur’an, sehingga mereka optimalkan waktu dan potensi untuk mencapai cita-cita menjadi Hafidzul Qur’an.

Jatuh cinta sudah...
Saidov Nabiollah Muhammad
Rifdha Muhammad Rasyid
Djamil

Durasi yang dipercepat saat menonton "Koran By Heart" yang hanya bersumber semburat cahaya screen depan kelas tetap saja membekas dengan keheningan pasca kelas khataman Qur'an. Ini kali ke tujuh yang kami lalui. Samar terdengar isak tangis santri di sela keheningan. Lagi-lagi terpikir keanehan ulang. Sejak dulu tak semudah raga lain yang enteng meneteskan air mata di forum berjamaah. "Apa hati saya yang terlalu kotor?" Atau... yang lain-lain seiring menghantui untuk terevaluasi. Sementara sudah tak sepantasnya memfrekuensikan amalan yang sama like the day before.
Life choices has been running, and the soul must strengthen faith. Allah, forgive eyes, heart, and all sense of self. So heart feels so hard. :'(
Softened by Your power, Rabb... 

Belakangan menjadi less of passion abroad. Entah untuk conference, exchange, ikut leadership forum, etc. Maybe karena memang urusan di sini yang masih menumpuk untuk digarap. Atau PR diri yang belum sempat terjamah. Yang jelas, sempat disorientasi sesaat dari apa yang telah tercanangkan. But suddenly, qadarullah.. "Pengennya ke Mesir, atau ke Tajikistan lalu memeluk si sholih Nabiollah" Paling setelah itu, n*ng*s :))

In the end, I recommend to read a little synopsis of this documentary film :

“Koran By Heart”, Kisah Tiga Bocah Dalam Lomba Hafalan Al-Qur’an Internasional

 Ma'annajah, semoga bercahaya kembali ingatan yang sempat terpadam ^_^

_Rekonstruksi Ulang_
Rumah Cahaya
Ahad, 19052013
23 : 39 p.m

Cantikmu, Pahalamu :)



“Kecantikan itu ada dua. Yang pertama cantik yang ketika orang memandang membuat makhluk lain berkeinginan yang tak semestinya. Yang kedua cantik yang ketika memandangnya mengingatkan kita kepada Allah.”

Kita yang mana?

Suatu ketika ada seorang jamaah bertanya kepada seorang ustadz.

“Wanita yang berprestasi itu seperti apa?”

Sebuah jawaban yang membanting pola pikir kacau balau yang mendarah daging di benak para penginjak bumi Allah pada umumnya.

“Bagi saya, wanita yang berprestasi adalah wanita yang hanya suaminya lah satu-satunya yang pernah mengungkapkan sayang kepadanya setelah menikah. Dan tidak ada yang lain. Karena ia telah sanggup membuat dirinya tidak mengundang seorang lelaki tertarik dan mengungkapkan hal yang tidak dihalalkan (persepsi saya, sama artinya membuat orang lain berpeluang berbuat dosa). Laki-laki yang menge’tag’ wanita atau meminta untuk ditunggu artinya sama hal nya dengan berkata, ‘aku bernafsu padamu’..”

Na’udzubillahimindzalik...

Mari merenung, berefleksi diri, mari perkuat Qur’an, mari bersemangat menimba ilmu, mari lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dan mari mendekat dan terus merapat dengan-Nya untuk senantiasa dikuatkan.

Ini hanya sekedar menumpahkan diskusi ringan nasihat ustadz dari dua asrama akhwat yang berbeda, di sisi Taman Medika tempo hari. Yang menyadarkan saya bahwa justru saat ini di benak ini masih dipenuhi dengan urusan-urusan jangka pendek. Entah ungkapan, “Masih ingin banyak berkarya, masih ingin belajar membina banyak mutiara, masih ingin menopang bahu lembut adek-adek, masih ingin belajar banyak ilmu, masih ingin banyak ngafalin dulu, masih ingin meringankan beban Ayah untuk adek, masih ingin berbuat banyak buat yang di rumah, masih ingin hal banyak yang belum mensyaratkan kapasitas ideal seorang muslimah.”

Di tambah lagi justru rasa-rasa risih dan males membahas tentang itu sering kali termunculkan karena terbiasa dengan suasana yang membentengi menelisik masalah ini lebih dalam. Karena kecenderungan yang biasa muncul lebih ke arah superfisial ikatan, bukan makna seutuhnya yang mendalami ke arah pembinaan di lingkup madrasah terkecil. Tidak salah kan, toh juga nanti Allah menumpahkan kebahagiaan tiada tara di penghujungnya. Menikmati proses menguras kotornya hati dan berpentas di panggung biah sholihah rasanya lebih menarik untuk dinikmati. Yang jelas PR kita masih banyak, beresin dulu lah urusan kita, penuhi dulu kewajiban kita, telisik lagi list-list hak sekitar yang belum terpenuhi dan segera berbenah. 

Kemudian sekelumit tadi membuat saya lebih terlintas kata ‘bodho amat’ sama hal-hal yang beresonansi dengan hal itu. Atau bahkan sedikit banyak menunjukkan afek acuh yang berhubungan dengan setiap sikap diri. Karena idealisme di titik dalam yang terungkap terekam ‘cukup berbuat yang terbaik untuk Allah, jaga diri, jaga hati, ingat Allah, dan lupakan apa yang akan terjadi pasca skenario telah terputar di pentas ini.'

Yang jelas justru kali ini saya malah diingatkan untuk kembali memfokuskan penjagaan tentang hal itu. Yang akhir-akhir ini justru enggan melirik masalah koridor. Karena saya lebih tertarik membahas mengenai pembinaan calon penghuni rahim. Fokus ini membuat saya menafikkan hal yang memang itu bukan ranah saya.

Awalnya saya hanya sering iseng membentengi sohib-sohib saya yang ‘enticing’ alias ‘nice-looking’. Yang lebih cantik pake slayer atau pakai pakaian yang tak membuat silau. Dan bahkan iseng nyaranin buat cepet nikah dengan dalih kasihan. Tapi kalau di pikir saya kasihan juga ya, sedangkan sekarang anginnya lebih kencang berhembus dari segala sumber. Bersyukurnya, DS selalu mampu menjadi humus dan pupuk yang terus mengokohkan akar-akar pohon dalam proses tumbuh kembangnya. Banyak guru, banyak alarm, banyak benteng, banyak tongkat buat mukul diri sendiri saat lalai atau bandel dari marka jalan. 

Semoga Allah menjaga kita, dengan penjagaan-Nya yang tak pernah runtuh dari kasih sayang. Semoga hati kita tetap murni dengan rasa cinta terhadap-Nya yang menciutkan rasa-rasa aneh yang kadarnya cukup sepele dan memalukan untuk ukuran hamba yang dhaif ini. 

Jadikan cantikmu sebagai pahalamu yang tiada habisnya, hingga Allah mengizinkan engkau dengan lapang hati secara halal mempersembahkan dengan rasa syukur karunia keindahan yang Ia berikan untukmu :)

Ma’annajah ukhty, semoga barokah cantiknya. Jadikan cantik berpahala, jadikan aktivitas menjadi penguat iman. Cantikmu, pahalamu dengan cara penjagaanmu. 

Selamat dan semangat berjuang, dimanapun berada, di bumi Allah yang hangat dengan Rahman dan Rahim-Nya :)

_Atas nama ukhuwah yang tertegur untuk saling bercermin_
Kamis Mubarak, 180412013
11 : 05 a.m
picture here

Belajar dari Sang Dosen Hello Kitty



Perawakannya tinggi, modis, rambut yang bermodel unik menandakan ke khasan tersendiri kepribadian pemiliknya. Baju cerah penuh warna dan dominasi pink terbersit dalam pikiran saya bahwa dosen ini sanguinis.

“Ha? Hello Kitty?” Sekilas mendengar celetukan teman sebelah kanan saya.

Aji mumpung saya duduk di bangku depan, sejurus kemudian pandangan saya tertuju pada alas kaki alias sepatu hitam bagian belakang beliau. 

Subhanallah, nuansa pink Hello Kitty menghiasi sepatu Dosen saya yang saya perkirakan berusia 40 tahunan ini. :D

Tak terelakkan pandangan saya kemudian tertuju pada tas laptop yang dibawanya, DORAEMON. :D Tersematkan dua cincin di jarinya, salah satunya sejauh pandangan saya, bentuknya Hello Kitty dan cukup besar terlihat. Beberapa pernak-pernik keperluan mengajarnya saya lihat begitu penuh nuansa Hello Kitty. Masya Allah.. :)

Apa yang berada di pikiran Anda sekalian?

Salam, prolog dan beberapa pengantar kuliah telah mengalir. Saya begitu enjoy menikmatinya. Subhanallah, materi tentang Keperawatan Jiwa akhir-akhir ini memang sempat mencuri hati saya.

Di sela perkuliahan beliau mengungkapkan bahwa, “Saya penyuka Hello Kitty (Beliau pun mempunyai banyak pernak-pernik Hello Kitty). Anda tahu kenapa saya suka dengan Hello Kitty? Karena Hello Kitty itu tidak punya mulut. (Lalu?) Itu menandakan bahwa dalam hidup kita ini kita cenderung dituntut untuk lebih sedikit berbicara. Saya ingin seperti Hello Kitty, saya ingin banyak mendengar daripada berbicara. Karena itulah peran kita sebagai konselor atau menjadi psikiatri, kita dituntut untuk lebih banyak mendengarkan pasien.”

Subhanallah subhanallah...

-Redaksinya tidak sama persis, ini perkuliahan beberapa pekan yang lalu.-

Inilah hikmahnya kenapa kita harus selalu khusnudzan ketika bertemu dengan orang dimanapun, siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Bisa dibayangkan ketika guru kita menunjukkan karakter sejatinya diluar ekspektasi sebelumnya. Tidak semua orang mampu merefleksikannya cukup sebagai karakter atau kepribadian seseorang tertentu saja dan malah kemudian memandang sinis.
Dengan tetap menatap tulus beliau dalam mengajar justru saya belajar banyak hal yang membangkitkan energi. Apa adanya beliau, ketulusan, ikhlas, semangat, keramahan, dan segala hal keterbukaan dalam membuka wawasan positif ini tidak semua orang mampu mengoptimalkan sebagai inspirasi bagi orang lain. Walhasil, atas bantuan beliau juga tulisan yang belum sempat terkoreksi itu terselesaikan. :)

Semoga dimudahkan dalam segala urusannya dr. Charla :)
Semoga terus dapat menginspirasi dengan keikhlasan tanpa batas ^^

Selasa, 16042013
23 : 26 p.m
Gambar from here

Refleksi Prioritas



“Masalah prioritas itu memang kita butuh ilmu. Ilmu tentang fiqh aulawiyat. Sehingga setiap keputusannya merupakan prioritas yang tepat untuk kita utamakan. Akan tetapi terkadang memang ada kalanya kita belum cukup ilmu untuk menentukan mana yang harus diutamakan. Untuk memilih yang baik di antara yang baik. Oleh karena itu menjadi penting bagi kita meminta bimbingan Allah untuk memutuskan suatu hal yang baik mana yang harus kita pilih diutamakan. Sehingga keputusannya memang yang terbaik untuk Allah. Saat kita benar-benar tidak mengetahui mana di antara yang baik yang harus di dahulukan, maka mintalah petunjuk Allah untuk jalan yang terbaik...”

Nasihat Ustadz Riyadhus Shalihin ketika itu masih terngiang malam ini. Sepanjang perjalanan dari masjid Al Karim setelah membaca kutipan membangkitkan pusat kesadaran di gadget ini. Oh Allah... mungkin seketika itu hamba sedang tak penuh kesadaran untuk lebih ekstra memompa tenaga dalam mengefektivitaskan waktu, atau hamba terlalu lemah dalam memenuhi hak semua makhluk-Mu, atau setiap raga ini memang ada keterbatasan.

Hari ini begitu terasa setiap nafas penghargaan untuk orang lain. Penghargaan keberadaan setiap makhluk sekeliling Ulfa. Berusaha belajar kembali memenuhi setiap kewajiban terhadap saudara. Memenuhi setiap haknya, menghargai waktunya, menempa kembali dalam tarbiyah diri atas muamalat yang begitu berharga, semata-mata mendamaikan parameter keimanan. Ruh-ruh terhujamkan dalam berbagai cabang pikiran yang terdistorsi sementara, terkalutkan, dan perlahan terkadang memudar, bangkit lagi, berelevasi dan cukup menjadi bahan ajaib berkontemplasi dalam keheningan syahdu dan merindu dengan-Nya.

Maraton, lalu merasa berdosa jika mata terpejam dalam siang yang berseling barokah di setiap sudutnya. Peluang jihad, lagi, peluang amal, lagi, peluang aliran murni sungai pahala syurgawi... Kali ini terfilmkan wajah sang pendewasa kehidupan yang di rumah. Allah... Yang menjadikan tak layak raga ini terpaksa tersungkur dalam satu kata dalih ‘lelah’. Terlebih hamba yang dhaif ini belumlah cukup mampu mengungkapkan seribu alasan untuk pantas berucap kata antipati ini.

Terkadang dalam segala hal yang telah direkonstruksikan demi kebaikan. Segala bentuk prioritas yang tertata untuk pemenuhan hak-hak pribadi dan orang lain, masih ada kemungkinan dzalim yang tak tersengaja. Khusnudzannya, ini masalah tempaan dari Al Hakim yang menuntun saya menjadi lebih adil atas semua makhluk. Yang masih saja timpang barangkali untuk sekedar mana yang disebut optimal kapasitas pribadi dan ‘kelelahan ruh’ yang termanifestasi pada optimalisasi ikhtiar jasad.

Rabbighfirli, Rabbighfirli... 

Ihdinasshiraatal mustaqiim, ihdinasshiraatal mustaqiim...

Semoga Allah mengampuni saya :’)
Menata, meniti, mengendapkan
Jetsu 1 Rumah Cahaya
Selasa, 16042013
22 : 11 p.m
gambar from here

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..