"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Tampilkan postingan dengan label PSIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIK. Tampilkan semua postingan

Alhamdulillah

Alhamdulillah, waktu pun bergulir dengan pembelajaran yang amat luar biasa Allah karuniakan :)
Yang jelas kata move on selalu hadir dalam keadaan apapun agar manusia terus bergerak.
Allah, terima kasih. Ulfa ingin terus mendekat, ridhoi ya Rabb..


Combine from Pejuang Asyikin Aja, Al Balad and Al Fajr Halaqah

Jazakunnallah adek-adek, uhibukum fillah :)


Hal sementara yang menenangkan, mengais hal-hal yang mengingatkan akan kematian
Last moment, after the last exam, Dec 22th, 2014.
Perpus pusat, 05012014
4:23 PM

#tentangCinta

membuka lebar diatas meja 2 jilid tesis, 2 jilid skripsi dan menumpukkan 1 jilid skripsi.
mbak-mbak di depan saya,

"tesis atau disertasi mbak?"
"eh, iya?" spontan agak bingung
"tesis atau disertasi mbak?"
":D oh.. ini skripsi, kalau ini tesis.. em, kalau saya ini skripsi :D"
beliau geleng-geleng.

*mbak, life is about struggling, ini namanya ikhtiar :D
mensabotase meja semoga bukan sebuah kedzaliman :D

#cinta ini hanya untuk-Mu
*bening^^

Tentang sebuah nilai (lagi)

Jika nilai itu adalah titipan.
Maka sama artinya dengan amanah.
Amanah pun merupakan ujian.

Masih ingat kah dengan kisah mubarok sang penjaga kebun anggur?
yang selama bertahun-tahun bahkan ia tak pernah tahu bagaimana ciri anggur yang manis dan mana yg tidak. Karena ia amanah hanya cukup menjaga kebun saja.

Kalau sebagai siswa/mahasiswa telah terpampang kredibilitas nilai kognitifnya di kertas atau di papan, selayaknya mampu mempertanggungjawabkan amanah ilmu kelak hingga barokah sampai akhir zaman.
Karena ia cukup dengan mempelajari dengan cara-cara yang berkah saja. Sesuai proses yang wajib ia tekuni dgn ruh kesungguhan.
Bukan untuk modal kerja, bukan untuk kebanggaan, atau niatan yang tanpa substansial.

Ilmu itu yang semakin mendekatkan, semakin membuat kita takut, takut akan Rabb Semesta Alam, yang dengan tinta sebanyak lautan bahkan masih ditambah pun tak sanggup melukiskan dengan penuh samudra ilmu-Nya.. :')

#refleksi
#refleksi
#refleksi

Tentang sebuah nilai (lagi)

Jika nilai itu adalah titipan.
Maka sama artinya dengan amanah.
Amanah pun merupakan ujian.

Masih ingat kah dengan kisah mubarok sang penjaga kebun anggur?
yang selama bertahun-tahun bahkan ia tak pernah tahu bagaimana ciri anggur yang manis dan mana yg tidak. Karena ia amanah hanya cukup menjaga kebun saja.

Kalau sebagai siswa/mahasiswa telah terpampang kredibilitas nilai kognitifnya di kertas atau di papan, selayaknya mampu mempertanggungjawabkan amanah ilmu kelak hingga barokah sampai akhir zaman.
Karena ia cukup dengan mempelajari dengan cara-cara yang berkah saja. Sesuai proses yang wajib ia tekuni dgn ruh kesungguhan.
Bukan untuk modal kerja, bukan untuk kebanggaan, atau niatan yang tanpa substansial.

Ilmu itu yang semakin mendekatkan, semakin membuat kita takut, takut akan Rabb Semesta Alam, yang dengan tinta sebanyak lautan bahkan masih ditambah pun tak sanggup melukiskan dengan penuh samudra ilmu-Nya.. :')

#refleksi
#refleksi
#refleksi

Belajar dari Sang Dosen Hello Kitty



Perawakannya tinggi, modis, rambut yang bermodel unik menandakan ke khasan tersendiri kepribadian pemiliknya. Baju cerah penuh warna dan dominasi pink terbersit dalam pikiran saya bahwa dosen ini sanguinis.

“Ha? Hello Kitty?” Sekilas mendengar celetukan teman sebelah kanan saya.

Aji mumpung saya duduk di bangku depan, sejurus kemudian pandangan saya tertuju pada alas kaki alias sepatu hitam bagian belakang beliau. 

Subhanallah, nuansa pink Hello Kitty menghiasi sepatu Dosen saya yang saya perkirakan berusia 40 tahunan ini. :D

Tak terelakkan pandangan saya kemudian tertuju pada tas laptop yang dibawanya, DORAEMON. :D Tersematkan dua cincin di jarinya, salah satunya sejauh pandangan saya, bentuknya Hello Kitty dan cukup besar terlihat. Beberapa pernak-pernik keperluan mengajarnya saya lihat begitu penuh nuansa Hello Kitty. Masya Allah.. :)

Apa yang berada di pikiran Anda sekalian?

Salam, prolog dan beberapa pengantar kuliah telah mengalir. Saya begitu enjoy menikmatinya. Subhanallah, materi tentang Keperawatan Jiwa akhir-akhir ini memang sempat mencuri hati saya.

Di sela perkuliahan beliau mengungkapkan bahwa, “Saya penyuka Hello Kitty (Beliau pun mempunyai banyak pernak-pernik Hello Kitty). Anda tahu kenapa saya suka dengan Hello Kitty? Karena Hello Kitty itu tidak punya mulut. (Lalu?) Itu menandakan bahwa dalam hidup kita ini kita cenderung dituntut untuk lebih sedikit berbicara. Saya ingin seperti Hello Kitty, saya ingin banyak mendengar daripada berbicara. Karena itulah peran kita sebagai konselor atau menjadi psikiatri, kita dituntut untuk lebih banyak mendengarkan pasien.”

Subhanallah subhanallah...

-Redaksinya tidak sama persis, ini perkuliahan beberapa pekan yang lalu.-

Inilah hikmahnya kenapa kita harus selalu khusnudzan ketika bertemu dengan orang dimanapun, siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Bisa dibayangkan ketika guru kita menunjukkan karakter sejatinya diluar ekspektasi sebelumnya. Tidak semua orang mampu merefleksikannya cukup sebagai karakter atau kepribadian seseorang tertentu saja dan malah kemudian memandang sinis.
Dengan tetap menatap tulus beliau dalam mengajar justru saya belajar banyak hal yang membangkitkan energi. Apa adanya beliau, ketulusan, ikhlas, semangat, keramahan, dan segala hal keterbukaan dalam membuka wawasan positif ini tidak semua orang mampu mengoptimalkan sebagai inspirasi bagi orang lain. Walhasil, atas bantuan beliau juga tulisan yang belum sempat terkoreksi itu terselesaikan. :)

Semoga dimudahkan dalam segala urusannya dr. Charla :)
Semoga terus dapat menginspirasi dengan keikhlasan tanpa batas ^^

Selasa, 16042013
23 : 26 p.m
Gambar from here

Tsunami Caring di Salto Absurd dan Ajang Kontemplasi



“ulfaa... kamuu... kenapa jempalitan di jalan???”
“(hah???) Bahasanyaaa... -.- iya yaaa :))”
“Mana aja yang sakit?”
“nggak kok cuma ini, ini, sama memar sini, terus bagian sini agak nahan... ada yang...” (nggak tahu ini rasa apa)
“nahan helm ya?”
“iya mungkin :D”

Berlangsunglah cerita seru salto di jalan pakem siang kemarin di selasar Jetsu (Jabal Tsur). Yah, jurus ketidaksadaran telah dikeluarkan untuk mencium ekor mobil absurd (karena nggak jelas nabrak mobil apa, warna apa, plat nomer berapa -___-). Akhirnya tangan kiri dan kanan saya kembali dihiasi dengan nuansa ‘pink’ penuh sensasi ketika tersentuh air :D

Oh Allah, cantik sekali kejadian ini. Field Trip kali ini terhiasi dengan suasana mengharu biru. Bukan karena saya menggelinding di jalan, tapi merasakan tsunami caring yang luar biasa :’)
Beberapa detik sebelum kejadian saya rasa masih “on” dengan diri saya sendiri. Bahkan masih sempat memikirkan suatu hal namun entahlah lupa. Nah, takdinyana, beberapa detik kemudian dikejutkan dengan suara benturan keras. 

“Innalillahi...”

Saya merasakan beberapa kali benturan di kepala, kaki saya tertindih motor dan tangan tertindih badan. Rasanya berat untuk bangkit, namun secara kesadaran bisalah dikatakan composmentis.
---“Oh aku jatuh ya...(hehe) tangan kananku...? (dulu sempat patah tulang)... insyaAllah nggak papa, tadi nggak buat menopang :) tunggu dulu, masih belum sadar penuh dan terasa berat”----
(ini jawaban kenapa saya tak langsung bangkit ketika itu)

Sementara riuhnya jalan mengkhawatirkan posisi saya sebagai korban yang tak kunjung berdiri. -mungkin dikira pingsan-.

Dengan bantuan Mei, “fa, bisa berdiri?”

Keadaan saya masih shock, hanya menahan ada suatu yang memberatkan di kepala. Barangkali karena tas, helm dan motor yang masih sama-sama tersentuh di badan. Akhirnya mampu duduk, dengan tetap tak sanggup bersuara. Tertunduk kemudian, lalu teman-teman menyarankan agar kaki diluruskan.

“Kaki lurusin fa.. “
“Ke pinggir aja, ke pinggir....”
“fa, bisa berdiri?”

Dengan sedikit dibantu oleh salah satu teman, akhirnya saya terduduk di bahu jalan dengan kebanjiran care dari teman-teman PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan), atau bahkan tsunami caring kali ya. :D

“fa, mana yang sakit?”
“hm? Paling ini sih, sama bagian sini... (sedikit menahan)”
“Bentar ya fa... disiram dulu pakai air, biar kotorannya hilang...”
“iya Mei...”
“tahan ya fa...” tambah Ayu

Sementara saya masih berusaha menstabilkan shock dan tak tahu bagaimana bisa terjadi, sedikit banyak tergelitik dengan seruan teman-teman.

“Fa, ke rumah sakit dulu aja ya?”
“Hm? Mm.. bentar deh, coba istirahat dulu... (saya belum merasa tenang)”
“Fa, ke Grasia nggak papa?”
“(haha) :D ke Ghrasia...?”
Kemudian melihat dua sosok polisi datang menghampiri dan menanyakan keadaan saya.
“Gimana mbak tadi kejadiannya”
“Nggak tahu saya pak :D” jawab saya dengan entengnya
“Oh.. terus bagaimana keadaanya?”
“Nggak papa kok pak :)”
“Oh ya sudah kalau nggak papa.. di bawa ke tempat yang teduh..”

Rasanya masih ingin bertanya kepada diri sendiri, “kok bisa ya? Nggak sadar, tadi gimana bisa terjadi?”

“Ngantuk apa gimana sih fa?” tanya adis -yang saya bonceng- dengan spontan.

Saya tidak menjawab karena sedikit tidak fokus, akan tetapi seolah-olah saya menemukan kata kunci yang dahsyat, yah, sebelumnya saya sempat NGANTUK. Oh tidaaak... jangan-jangan saya tak tersadar karena sudah di alam lain sebelum jurus salto misterius itu terjadi -__-

“Mana fa yang sakit, coba dilihat..”
“Ulfa bisa duduk?”
“Minum dulu Fa..”
“Ulfa ke Puskesmas dulu aja po?”
Ayu masih dengan senyumnya mengurusi keadaan saya.
Dan yang lain terpikir bagaimana mobilisasi saya selanjutnya...
“Fa, kamu tak boncengin aja po?” Ternyata ada Agus juga di sini
“Kamu tak anter aja fa, mau lanjut atau ke rumah sakit?” Andre menawarkan solusi
“Udah Ulfa sama aku aja, biar nanti yang nungguin nggak papa..” Solusi bijak yang tersepakati muncul dari sohib sekaligus penasehat bagi saya, mbak Adin :D

-Percakapan ini mungkin redaksinya tidak persis, hanya gambaran umum seingat saya-

Entahlah, siapa saja yang ada pada waktu itu, banyak tangan-tangan malaikat dari calon garda pelayanan kesehatan terdepan untuk masyarakat kelak. Saya merasakan tsunami caring yang luar biasa dari temen-temen PSIK 2010. 

Banyak wajah-wajah yang saya saksikan ketika itu, adin-andre-muss-ayu-mei-nana-agus-angga-adis dan semua temen-temen PSIK yang sayang sekali saya tak dapat mendikte satu per satu saat itu karena keterbatasan fokus.

Ending point dari kisah ini pada saat saya dibawa ke RS Panti Nugroho Jl. Kaliurang KM 17. Sedikit lama saya ditangani di UGD -mungkin karena prioritas penanganan- ini. Justru dalam penantian ini ruang kontemplasi saya mulai terpancing. Pagi ini begitu unik, keterlambatan 15 menit di tutorial masih saja membuat saya tersenyum meskipun mendegradasi angka 92, 94 menjadi batas garis 75. Allah selalu punya cara untuk menyegarkan hati hamba-Nya dengan matematis alam, dari hanya sekedar eksakta logika. Wallahu'alam, feedback  maladaptif terhadap diri sendiri untuk melihat senyum sohib terdekat sebelumnya malah lebih saya sukai meski menyusutkan angka-angka menggiurkan itu. Hanya saja saya yang harus mengatur komponen fikriyah agar tak terkungkung dalam sesal yang juga absurd.

Lukisan kecantikan yang tergores pagi itu pula...

Oh Allah... :')
Saya sempat berdo'a sebelum tidur di motor. Mungkin sebagian orang berkata bahwa ini konyol. Tapi ilmu ini saya dapat dari sebuah dauroh.
Kesimpulan praktis yang bermakna saya resume dari nasihat seorang trainer, "Ketika bepergian dengan kendaraan, bacalah do'a bepergian dan do'a mau tidur. Karena jika kita nanti ngantuk di jalan, kemudian Allah berkehendak mencabut nyawa kita saat itu, entah dengan kecelakaan atau hal yang tidak kita sadari, setidaknya kita meninggal dalam keadaan baik, husnul khatimah..."
"Mbak adin, aku sempat baca do'a mau tidur di jalan tadi sepertinya... :') Ilmu waktu dauroh.."
":)"
"Qadarullah..."

Jika qadarullah saya memang harus kecelakaan saat itu, menidurkan adalah cara termanis yang Allah ulurkan agar saya cukup merasakan layaknya jatuh dari kasur. Betapa nikmatnya :)
Pantas saja seorang dengan ringan tersenyum saat ajal menyapa, padahal sakitnya tergambar begitu menggetarkan. Pasti hati, raga dan fikriyahnya sangat banyak tersayat demi kecintaan-Nya. Sedangkan merasakan terseok di jalan saat tak sadar, dan dalam keaadaan masih ada wudhu saja seperti tersiram kesegaran dari kemurahan-Nya. Selalu ada rasa untuk sedekah ringan yang merekah, senyum penuh menelisik segala hikmah kehidupan.

Setelah perawat datang, seperti pada umumnya -yang juga kami praktekkan-, menikmati cek nadi, tekanan darah, pernafasan, dan alhamdulillah normal. Kalau dilihat masih sedikit takikardi mungkin. Dilanjutkan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan penanganan luka oleh suster yang lain.

Di UGD tersebut saya merasa senang karena ada peluang untuk berkontlemplasi. Mulai dari rona peristiwa yang sarat hikmah hingga menerawang keprofesian ini lebih dalam, meresapi keanggunan niatan setiap pelakunya, dan harapan masyarakat luas untuk keberadaan profesi kami.

Ya, saya merasakan bagaimana kehadiran perawat sangat dinanti oleh pasien. Bahkan senyum dan pertanyaan secuilpun akan sangat berharga untuk menambal hati harap cemas pada pasien. Belum lagi keramah-tamahan, sentuhan tulus dan nasihat teduh yang terlukis. Wah, ini saja yang dari tadi menunggu sedikit lama. Kalau saya membayangkan banyak pasien ditangani seperti halnya teman-teman memperlakukan saya tadi,  barangkali tidak akan banyak pasien yang bertahan dengan sakitnya dan penuh semangat untuk sembuh.

Terima kasih malaikat-malaikat salto absurd Ulfa, terima kasih atas tsunami caring yang membanjiri di terik siangnya... Semoga kelak kita akan menjadi pionir perubahan sistem kesehatan di negeri ini, dengan ketulusan yang jujur di hadapan-Nya, dan segenap ikhtiar yang teroptimalkan dari sekarang. Saya masih tak ada apa-apanya dibandingkan kalian semua, yang masih belum banyak berpeluh seperti apa yang kalian suguhkan demi perubahan yang terbaik nantinya. Saling mengingatkan ya, maaf atas segala khilaf. Terkadang saya terusik dengan ketidakmampuan mengungkapkan rasa sayang kepada kalian, calon perawat yang hebat.. Semoga Allah membalas dengan segala hal yang lebih baik... :’) Aamiin Ya Rabb...

NB : Pelajaran kali ini, jangan sok kuat bisa nyetir motor saat ngantuk menyerang. Akui kelemahan dan jangan menunggu salto di jalan :)

Gedung Radio Poetro FK UGM
Selasa, 2 April 2013
10 : 29 a.m
_Menikmati kekakuan badan dengan memar-memar yang mengharukan :D_

Bunga Perjumpaan

Jam kuliah yang harusnya terisi oleh materi Pemeriksaan Fisik Sistem Kardiovaskuler oleh ibu Mujiatun S.Kep.Ns dan skills lab yang harusnya saya telah mampu menelaah materi mengenai Fisioterapi Dada ternyata ikut melengkapi kekosongan kuliah sejak hari kemarin menjadi kosong 4 jadwal kuliah. Subhanallah ya, baru dua hari masuk awal kuliah, sudah 'aneh' saja jadwalnya. (kembali ke rutinitas dulu) Menyesuaikan lagi dengan jadwal tentunya :)

Mungkin dari sekelumit banyak hikmah yang Allah rahasiakan, salah satu puingnya saya dapatkan pagi ini. Yang seharusnya saya berada di ruang skills lab untuk menuntut ilmu meniti jalan untuk mewujudkan cita, perawat professional, kala tadi saya sedang berjalan menuju tempat parkir. Di DPR (Di bawah Pohon Rindang) tepatnya, saya bertemu dengan sosok yang mengagumkan dan membuat hati saya berbunga-bunga selepas bertemu dan menyapanya. (aih ^^)

Dari jauh, saya melihat senyumnya :)
semakin dekat, mulailah saya niatkan untuk menyapa sosok yang dulu sempat juga menjadi finalis pemilihan mahasiswa berprestasi perwakilan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) di Fakultas Kedokteran UGM tersebut...

Setelah menyapanya, terbukalah sebuah cengkerama yang begitu ayu, dan membuat hati saya berbunga tentunya ^^


S = Saya

B = Beliau

(saya lupa, tadi pakai salam atau tidak.. :D)

S = Mbak B... Mohon maaf lahir dan batin ya.. ^^ (senyum sambil setengah merem. Kami bersalaman dan cipika-cipiki) --> saya juga lupa ini siapa duluan yang bilang. hehe. pura2nya saya aja ya readers..
B = eh, iya dek... sama-sama... :)
S = wah, mbak B... tambah cantik aja nih...^^
B = ah.. kamu ni... (malu-malu, sambil memegang gamis  hijau saya bagian lateral/samping).. Aku pengen lho pakai kayak gini juga... ;) (tersipu)
S = wah... subhanallah... boleh-boleh.. iya mbak, pasti tambah cantik mbak B...^^ (tulus banget ini, nggak di buat-buat)
B = tapi masih canggung gitu... (agak menunduk dan malu-malu lucu)
S = eh.. nggak papa mbak B...^^ (menguatkan)
B = iya nih.. nyicil dulu ya.. pakai rok dulu... ;) (berbicara lebih pelan)
S = subhanallah, iya-iya mbak.. sip-sip...^^ (sambil mbak B meninggalkan saya) cantik mbak, ditunggu ya.. :) suka banget sama roknya, matching :)

Subhanallah... inilah yang saya sebut bunga perjumpaan. Hati saya berbunga ketika mendengar kabar bahwa ia ingin memakai pakaian yang lebih menutup aurat dengan sempurna. Namanya Lina Annisa Nasution, mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2009 yang termasuk mahasiswa muda yang IPK nya saya ketahui hampir summa cumlaude mungkin ya. Setahu saya, terakhir beliau mengatakan kesedihannya karena saat tahun kedua dulu nilainya turun ke 3,6 sekian. Artinya kemarin-kemarin? yah, bisa ditebak lah berapa. Kandidat mapres fakultas gitu :))

Pengutaraan langsung dari beliau yang menginginkan perubahan mulia itu membuat saya terenyuh. MasyaAllah... Segala kebaikan itu memang sebuah proses. Meskipun sebuah perubahan kecil. Kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, jangan terlalu 'ngoyo' untuk ingin segera ini, ingin segera itu. Karena Allah mempunyai waktu yang lebih tepat untuk menjadikan apa-apa kita kehendaki.


Untuk saya dan untuk mbak Lina, semoga senantiasa istiqomah untuk mendayung di kapal perbaikan diri.. semoga kita sampai di pelabuhan syurga-Nya :) Aamiin ya Rabb... ^^

Menyempatkan diri untuk menulis, karena sebuah inspirasi tidak boleh di tunda :)
@DS JT 2, Yunus, dalam kesejukan beranjak sholat dhuhur.
Selasa, 04/09/2012
11:55

gambar diambil dari sini

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..