"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Sebuah Pinta

H : Trs kenapa si X pengen balikan lagi sama Y?
U : Uhm.. Ga tahu, mungkin dia sdh mulai merasa kehilangan.

Ia tampak berpikir, menghela nafas, lalu melanjutkan perbincangan.

H : Laki-laki itu fitrahnya memang bosenan. Dalam hal apapun. Misal saat dia suka dengan mobil X, lambat laun dia bakal bosen, ganti lagi ke mobil Y. Ya memang begitu fitrahnya bosenan.

Aku memandangnya..
Jika sudah fitrah, artinya, sebuah keniscayaan akan kamu alami, bukan? :"

H : Tapi masak iya itu akan dilakukan dalam sebuah pernikahan? Terus apa gunanya syariat? Ya kalau dalam sebuah pernikahan ga bisa seperti itu..

Sepertinya ia sedikit menggeleng.
Aku lega dengan closingnya.

H : Semoga Allah berikan ia hidayah.
U : Aamiin :)

Bincang sederhana soal sekelumit kasus sebuah rumah tangga, oleh sepasang suami istri newbie yg penuh harap dalam penjagaan-Nya.

Ya Rabb, jika ada sekian banyak skenario yg Engkau takdirkan dan ketahui dalam sebuah kehidupan berumah tangga, izinkan kami menjadi salah satu pembelajar di dalamnya, yg Engkau tunjukkan apa-apa yang mendekatkan bekal untuk akhirat kami ke depannya. Lalu bimbing kami dalam alpa, lapangkan kami dalam maaf lagi memaafkan, ringankan kami dalam memulai amal-amal kebaikan lagi semakin baik di dalamnya.

Jadikan kami insan yang makin saling mencinta, dan Engkau limpahkan semakin banyak pandangan2 baik nan indah antar kami.. Yang Engkau lindungi masing2 kelemahan kami dgn kelebihan dari sisi yang Engkau karuniakan.

Ya Allah, Rabbi. Jika Engkau izinkan kami meminta, jatuh cintakan kami berulang dan sering kali pada hamba-Mu yang sama.
Aku pada Ia suamiku, dan
Ia, suamiku kepadaku.

Kenapa, Ibu?

Aku baru sadar bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan lazim yang alamiyah terlontar dari lisan seorang anak gadis kepada Ibunya.

Seperti ketika itu, sebelum sholat berjama’ah di rumah dimulai. Seresah hati, seserasa itu pertanyaan yang harus turut aku klarifikasi.

Aku tertunduk, lalu memandang beliau di samping serasa tertuntun melisankan, “Ibu, kenapa dulu mau nikah sama Bapak?” Masih memandangnya setengah menanti jawaban.

Beliau memandangku seraya menjawab, “Ya panggilan hati..”

Terdengar adekku di ruang makan yang sedikit merespon jawaban Ibu, tapi aku tak peduli.

“Panggilan hati..” gumamku sembari mengalihkan pandangan ke depan gambar ka’bah.

“Ya Bapak agamanya bagus, orangnya sabar, sholatnya khusyu..” Ibu menguatkan alasannya.

“Lah, gimana bisa tau?” Masih saja aku penasaran seolah cari celah yang cukup meyakinkan.

“Ya kan dulu ngajarnya bareng.”

Tak lama Bapak datang, duduk di kursi, lalu sholat dimulai.


Panggilan Hati…

Lalu, bagaimana rasanya saat Allah karuniakan panggilan hati itu, Bu? Di Ulfa.

Skh, 17102016
06.49 p.m


Permintaan Spontan

Ba'da sholat maghrib, terkadang adek gw ngerasa terganggu kalo pas dia baca Qur'an, terus di ruangan yang sama gw juga lagi baca Qur'an. Terus alibinya biasanya gw disuruh sholat sunnah. wkwk


Kali ini tetiba dia terkesan mutung, habis itu malah request aneh. 
Baru buka mushaf terus nyeletuk, "Yaudah, baca surat Ar Rum ayat 21-22 !"
Spontan gw mandang dia agak heran. "Heh? Maksudnya apa? Kenapa dek Conny requestnya itu?"
Ngerasa innocent sambil jawab, "Yaudah, baca aja. Pura-pura nggak ngerti."
-__- oh My God, jahatnya. Kenapa tetiba dibuat baper sama adek gue sendiri, hiks

Akhirnya gue bacain beneran. Mulai dari ta'awudz, tasmiyah, 2 ayat itu sampe artinya. Biar dia puas. hhhzzz

Habis gitu masih komen, "Alah, dibagus-bagusin"
Elaaah, masih sensi ajaa (dalam hati). 

Sebenernya ngebatin juga sih. Semogaaa, semogaaa, dia nyuruh bukan karena liat tingkah gue aneh akhir-akhir ini dan merasa iba. zzz banget lah kalo iya.

Tapi anyway semasa SMP ga segitunya juga gue. Maa syaa Allah dek Conny. Mba harap adek akselerasi keshalihannya lebih cepet dibanding mba dulu. 

Intinya apa?
Iya, tentang QS Ar Rum : 21


Episode Epridai is Sandai

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Diberi kesempatan Allah sedang berjalan di stase yang serasa ‘epridai is sandai’. Berketepatan dengan beriringnya bulan mendekat jarak dengan Ramadhan Mubarak.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk bercengkerama dengan kehidupan Jogja, setelah itu belum lagi full sambut dan menjalani Ramadhan di kampung halaman.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk mengais jalan keberkahan ortu di Jogja lewat ilmu, setelah itu belum lagi bisa full berhari-hari dialog dan berbanyak quality time dengan orang tua.

Rasa-rasanya setelah beranjak dari kampung tahun 2010 untuk akhirnya tertaktdirkan belajar banyak hal di DS, setelah itu belum lagi bisa berurutan hari nagih adek setoran hafalan.

Rasa-rasanya, memang ini jalan terbaik yang Allah kasih atas bagian dari fase hidupku.

Agar kemudian aku berusaha bertahan baik dengan rasa syukur dan tak lengah dalam bersimpuh.

Agar kemudian, lagi-lagi aku selalu senyum dan terngiang, fabiayyi aalaa’I rabbikuma tukadzibaan :)

Rabu, 11052016

10:58 pm

Rizki

Aku tahu rizkiku telah digariskan. Namun tak sedikit pun tahu dimana presisi keberadaannya.
Itulah mengapa, aku berikhtiar.
Aku tahu rizkiku telah tergaris perolehannya. Tapi tak sedikit pun tahu, bagaimana mampu cukup dan tak sekedar bernilai dunia.
Itulah mengapa, aku berdo'a agar dituntun dalam ikhtiar dan menuai keberkahan.

Cinta dan Alasan

Aku yakin, karena cinta selalu butuh alasan.

Termasuk dalam detail hal yang harus kamu tahu tentang ia, yang ingin kamu cintai.

Bukankah cinta itu salah satu bentuk rizki?
Maka dengannya butuh ikhtiar penjemputan tersendiri.
Termasuk bagaimana memunculkan segala bentuk kelapangan diri dan cahaya hati, agar setiap kebaikan menjadi alasan yang layak untuk kita lebih mudah mencintai.

Alasan yang layak disaksikan Allah sebagai cinta yang terlegalisasi atas-Nya. 

Rumit?
Sederhana. Cinta memang butuh alasan.

04/02/2016
1:08 a.m

Ukhuwah. Cinta. Pernikahan

Ukhuwah memang sesederhana cinta. Tapi pernikahan tidaklah sesederhana pengejawantahan atas nama cinta.

#AkumulasiKontemplasi

3/2/2016

Tabayyun

Mungkin akan ada beberapa postingan sebelumnya yang dihapus dan tidak ditemukan di blog saya.
Sesuai dengan masukan dari sohib, beberapa postingan yang tampak serius dan tidak senada dengan refleksi, sengaja kembali saya tiadakan. Semoga tidak mengurangi esensi hikmah :)

Sekian, terima kasih :)
12 : 53 a.m
4/2/2016

Dapat Penawar Futur


Lagi seneng sama Bu Dewi. Sukaaa deh. Peri bangeet.
Sama juga kayak sahabat terbaik yang lain. Setiap kali ngobrol sering kali Allah turunkan keringanan untuk muncul endorphin. Jadi sukaa gitu senyum denger ceritanyaaa. Ah Ibu, idaman bangeeet.

Alhamdulillah, malam ini direlain, diringan-ringanin buat berangkat ke Rumah Sakit yang sebenarnya sedang turun jaga. Konsultasi sekitar jam 20.00 dan berakhir hampir jam 21.00 an. Alhamdulillah, jadi mikir hal yang bermanfaat lagi ini otak. Setelah beberapa waktu cukup sirkumtansial.

Qadarullahnya, Allah mempertemukan saya dengan Bu Dewi yang beliau begitu telaten membimbing stase manajemen kami. Ceritanya saya dapet bagian pembuatan SPO (Standar Prosedur Operasional) tindakan-tindakan keperawatan di bangsal THT dan Bedah Mulut RS Sardjito. Walhasil, setelah usai konsultasi sukalah saya kalau disuruh denger cerita inspiring gitu. Singkatnya, beliau yang lulusan Vokasi dan diamanahkan sebagai seroang ketua KFK (Semacam ketua penyusun beberapa draft SPO/SAK Rumah Sakit berdasarkan kategori keilmuwan yang khusus, duuuh lupaaa kepanjangannyaah) gitu cukup menjadi hal baru dan membuat beliau denial. Secara untuk keilmuwan Vokasional pastinya tidak lebih mendalam dibandingkan dengan S1. Namun penyusunan draft tersebut merupakan kinerja-kinerja teoritis banget. Alhasil beliau merupakan anggota tim termuda, dengan background pendidikan vokasional dan yang lain (mungkin) mayoritas S1. Terlebih pula beliau masih dalam posisi belum pegawai tetap/THL (Tenaga Harian Lepas. CMIIW)

Oooh maan, itu mirip-mirip dikit sama posisi saya di kadep media dulu :D berasa senasib Ibuu. Meski nggak segitunya siih. Yah, sama-sama harus belajar banyak gitu, kalau saya belajar dari awal bingits. Alasannya pun ya agak-agak mirip, karena nggak ada yang mau. Haha, entahlah, mirip atau samaa karena nggak ada yang lain. Yang jelas hal tersebut membuat beliau kuat, makin tangguh, dan makin berenergi buat belajar. Ah, seneng deh belajar dan dibimbing oleh Ibu. Udah murah senyum, telaten, rajin, baik, bersahabat, lembut yang tetap berkarakter.
Jadi pengen belajar juga, jadi orang yang berdedikasi dan lapang banget menerima masukaaan. Zzz, gregetan :D
*Saya berharap Ibu Dewi nggak baca tulisan di blog saya bagian postingan ini. Hehe

Semoga Allah kuatkan ya Ibu, In syaa Allah Ulfa ikhtiar buat bantuin Ibu dan belajar sama Ibu sepenuhnya. Nggak pengen menyia-nyiakan kesempatan yang Allah kasih, buat mengerjakan yang terbaik buat bantuin Ibu, buat RS Sardjito. *cieeh

Stase manajemen kayak stase dewa, aduh berlebihan mungkin yak (keikut istilah yang sering di denger sih). Tapi Alhamdulillah jadi belajar berhubungan dan belajar dengan orang-orang penting di Sardjito. Dan awesomenyaaah, nyusun standar tindakan keperawatan buat bangsal buat dibukuiiin. Berasa expert -__- yang aaamiiin, semoga terus berbenah makin baik dan makin beneran expert.

Jadi sukaaa, karena jadi inget jaman-jaman semangat lomba, buat nyusun something new or innovation that make easier to others. Sukaa, karena musti nyari gimana caranya nyusun, dimana referensinya, mana aja yang dimasukin. *Padahal sebenernya dalam hati berkecamuk (aaaak. Gimana ini??? :D)
Semoga Allah mudahkan dan ringankan kerjanya. Aamiin

Finally, I’m fine :) Alhamdulillah..

Setelah beberapa saat pikiran sirkumtansial soal beberapa hal. Cenderung butuh asupan biar semangat. Alhamdulillah berkah waktu 1 jam konsultasi barusan membuahkan hasil. Utamanya soal kondisi ruh diri.

Yang jelas hal yang senantiasa terekam sebelum berangkat adalah, saat-saat dimana saya sesekali menjawab pertanyaan soal tips mengatasi semangat yang fluktuatif atau kondisi ruh yang futur. Baik saat ngisi acara kecil-kecilan maupun curhatan antar teman.

“Semangat kan naik turun ya, Kak. Kadang kala kita futur. Gimana cara kakak mengatasi futur?”

Futur is masa depan dek. Eh, future yak :P

Heheh, jadi kalo sampai detik ini masih ada pertanyaan gitu, saya gini jawabnya :

“Bergerak aja terus. Jangan berputus asa atas rahmat Allah. Bergerak terus sampai lelah itu lelah mengejarmu. Hidayah itu dijemput. Termasuk kondisi diri yang sedang bersemangat, itu merupakan rahmat Allah. Cara biar Allah karuniakan Rahmat-Nya? Banyak-banyak amal shalih :)”

Merupakan saripati dari sebuah hadits, “Bersemangatlah atas apa-apa yang terbaik bagimu, mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah”

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim

Alhamdulillah, meski 1 jam, dengan kondisi sebelumnya yang harus mendorong gerakan raga, Allah tumbuhkan ruh yang baik, jiwa yang bersemangat, kan?
_Mari Berkarya _

10 : 25
04012016
@GoBST !

Reference :
https://rumaysho.com/265-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat.html

Melankolisnya Anak Ilmy #Eh

“Orang-orang ilmy melankolis ya Ulfa?”

“mmkk..” tiba-tiba stagnan, bola mata berputar ke atas, tampak berpikir. Lalu berlanjut dengan pertanyaan, “Kok bisa mba?”

“Iyaa.. Biasanya gitu. Soalnya mereka cerdas kan.”

“eeemmm.. Gitu ya” Mencoba menelaah

Gimana yak. Saya orang ilmy sih (katanya). Melankolis? Iya.
Premis kedua, mungkin yang kurang tepat. Soal cerdas nggak bisa seketika diukur sih. Apalagi dengan labeling komunitas. Maksud saya ilmy sebagai salah satu wadah penampung saja, bagi individu yang berkeinginan atau berproses memberdayakan otak atau proses pikirnya lewat jalan diskusi keilmiahan.

Balik lagi. Sebenarnya saya cenderung pula sanguinis dan koleris. Analisis sepihak sih. Tapiii.. Emang selalu nggak bisa disangkal pernyataan gitu, “Anak ilmy melankolis”
Aduuuh -___-
Semoga saja tanda lembutnya hati, yang penempatannya selalu benar. Presisi. Sesuai dengan apa yang Allah inginkan.

Dinukil dari sebuah percakapan kemarin malam,
dengan seorang mahasiswi Pasca Sarjana Awardee LPDP yang sedang gigih ingin kembali mengabdi ke daerahnya.

9 : 31 pm

04012016

Terminasi Adek Terbaik 1


Ia duduk di kursi tengah, tepat di sampingku.


"Tadi bangun jam berapa?" Tanyaku sambil memiringkan sandaran kepala. Sudah senja, cahaya di dalam mobil sudah mulai remang kegelapan.


"Jam setengah 6" Jawabnya masih sambil bersandar di kursi menatap ke depan.

"Sekarang waktu syuruk setengah 6. Tanda bahwa matahari sudah mulai terbit" Jelasku, masih sambil menatapnya.

Seperti biasa, nampak mimiknya tetap bertahan yang dulu-dulu, selalu itu yang dinasehatkan.

"Aku hari ini bangun telat, jam 4 baru bangun.. Harusnya sebelum subuh" sekilas aku lihat bibirnya tertahan, entahlah..

"Habis itu ikut kajian habis subuh, terus basket sama temen, pulang nyuci baju, berangkat jaga, selesai setengah 3, beres-beres, terus langsung balik"

Ia mengangguk beberapa kali, dengan ekspresi senyum tahanan bibir seraya berkata, "siip.. kuat, strong"

"Habis bangun setengah 6 tidur lagi?"

"Bangun lagi jam 6"

Tampaknya fisikku mulai lelah, hingga tak banyak merespon percakapan kala itu.. Hanya sekilas lalu hingga mendengar "Terus bangun lagi jam 10"

Kemudian terbersit dalam do'a, semoga kamu lebih baik dek. Mungkin ini masih dalam jalan proses menjadi baik. Terlalu akselerasi jika aku tautkan dengan kelak kau akan jadi imam. 

Lagi pula aku percaya di barak setidaknya kamu terbiasa bangun lebih pagi lagi.
Malam tadi hampir terlupa, aku tidur jam 1 dini hari karena keasikan baca-baca. 

Sebenernya ruh masih tumbuh, namun tersadar baru setelah nampak tak kuasa dan tak secerah suasana sebelumnya di percakapan sore ini, saat nganter kepulangan adek ke Jakarta, Tangerang sih tepatnya.


Sebenarnya muncul pula rasa 'gimana' karena bakal kembali lama tak bersua.

Kamu libur lagi kapan ya dek?


Seingetku libur lebaran. Sepertinya kita bakalan.udah sama-sama diwisuda. Aamiin, in syaa Allah.

Fii amanillah,  sholih :)

Makasih looh pekan lalu, yang udah nawarin mau kemana besok saat aku baru aja dijemput di stasiun, udah terdepan.bayarin tiket ke air terjun, jadi fotografer sukarela, bolak-balik jadi sopir sampe mobil mogok dan meski aku musti dorong -__-, dan masih nganter stasiun sorenya. Terbaik.


Baru nyadar bertiga pada kompak biru :D

21:07 pm
02012016

@BaitiJannati



Cinta itu Fluktuatif

Bismillah..

Alhamdulillah jika cinta itu fluktuatif,
Karena sebanding dengan istiqomah yang jelas berpahala secara kualitatif.

Alhamdulillah :)

9:21 p.m
30122015

Suara Kecil Praktikan Junior

2 pekan lebih terlampaui di stase keperawatan jiwa.

Maka dengan alamiahnya peristiwa ditendang pasien, dicium tangannya, disembur susu waktu nyuapin menjadi cermin masih banyaknya kerja-kerja alamiah di muka bumi.
Kerja alamiah yang berasas kemanusiaan. Yang tak akan terpikir memakan harta orang. Mana ada celah? Jika ada pun kebangetan punya naluri luhur sang manusia.

Sekali-kali visit ke RSJ atau bangsal perawatan yang merakyat juga boleh Pak, Bu :)

Ah, Bapak dan Ibu mah yang dipilih Allah untuk kami pastinya. Kami hanya ingin berbagi rasa syukur, yang sering kami rasakan sebagai praktikan junior. Supaya Bapak, Ibu sekalian makin semangat bekerja untuk rakyat. Karena setiap bilangan individu pasti meniriskan rasa harap, untuk kualitas setiap sector kehidupan.

Ada secercah keinginan perbaikan kualitas hidup, pasitinya, pada mereka, yang dapat diperjuangkan dengan peningkatan penjaminan kesehatan yang optimal untuk setiap individu di masyarakat dari segala golongan.


#SpontanPikir

Preambule implisit

"Teh tawar hangat, Ayah.. Lumayan lagi hujan."


"Iya, taruh aja di meja situ."

Aku meletakkannya di meja persis yang menjadi jembatan antara kami.

"Rumah sering hujan deres ya, Yah?"

"Lumayan.."

Ia masih tampak serius membaca buku bekal mengisi pengajian esok hari, dengan kaca mata dan jarak pandang yang lebih dekat dari normal.

Ia bukan lagi paruh baya, Ayah perlahan terus bertambah usia.

"Pekan kemarin Ayah ke rumah Simbah, In Syaa Allah simbah berangkat umroh tanggal 15 dari Jogja, ke Sumatra baru berangkat sama Om."

"Ooh.. iya, belum bisa ikut. Masih belum libur kemarin, Yah."

"Iya, nggak papa."

Senja itu hujan, namun suara kami masih terdengar tak nampak terkalahkan suara tetes hujan yang beriringan.

Aku menghela nafas..

"Ayah.. Diantara 5 syarat yang menjadikan terbuka lebarnya pintu syurga bagi wanita dari pintu manapun, ternyata 3 diantaranya belum sanggup aku raih ya, Yah?"

"Maksudnya?" Ia menoleh ke arahku, terlepas dari pandangan ke arah buku di tangannya.

"Puasa di bulan Ramadhan, sholat 5 waktu.. taat kepada suami, menyenangkan jika dipandang suami, dan menjaga kehormatan suami.."

"ooh,.."

Selepas penggalan itu, kontemplasi seorang ayah dan anak teruntut dalam irama nafas.
Time flies, putrinya telah tumbuh. Kewajiban ia telah tersentil, dalam kesadaran.

Cakap fiktif, dari sebuah inspirasi hujan senja.
12122015
6:01 p.m

Pesan sang Guru

Suatu Kamis malam selepas Isya,

"Dalam suatu pertemuan saya pernah mengatakan, saya ingin kalian semua berjanji atas nama Allah, bahwa dari rahim kalian akan lahir anak-anak yang akan menjadi bagian dari pewaris dakwah Rasulullah.." 

Tidak tahu bagaimana persis mimik wajah guru kami, saat itu. Tatapanku lurus, nampak kosong dalam tembusan alam pikir.

Di tengah wajah tunduk duha kala itu, nasihat itu terlintas dan menggemuruh. Aku menghela nafas.
Ia begitu menyayangi kami, kami berhutang banyak dengan agama ini.

12122015
5 : 27 p.m

Terminasi sahabat terbaik

“Ke DS kan pekan depan? Soalnya Ulfa ke Banyumas pekan depan, jadi ya pas lah.”
Mendongak wajahnya ke arahku, terkejut nampaknya
“hah? Kapan?”
“mi minggu depan :)”
“berapa lama?”
“Satu minggu. Itu udah waktu paling pendek diantara stase yang lain :)”
Ia spontan menempelkan tangannya ke dada,
“kok aku merasa kehilangan tiba-tiba. Yaudah aku segera ke DS biar nggak kesepian nggak ada Ulfa” tampak senyum sedih keterpaksaan
“ :’) aku jugaa kookk..”
“Nanti nggak papa ya kalo sering aku telfon”
“iyaaa :’) dengan senang hati”
-sesekali pun sebenarnya merasakan hal yang sama, bahkan saat cuma ditinggal ke kantor-
Semoga rindu kita, rindu-rindu yang terpaut ke jannah.

Sebulan berlalu, tampak seperti akumulasi perkuliahan beberapa tahun kedekatan dengan sahabat terbaik.
Hanya terkadang saat hari itu semakin dekat, apakah aku masih berkesempatan berkhidmat dengan hikmah atas kebersamaan denganmu, yang bukan hanya secara virtual?
Sedih, tapi aku berdo’a untuk yang terbaik atas kalian. Aku bahagia, sungguh.
Saling member syafaat ya, kelak :)

11122015

12:59 p.m

Kamu, kalian

Alhamdulillah Allah karuniakan Ulfa bertemu dengan kalian. Mengais banyak bulir hikmah dan kebaikan.
Alhamdulillah Allah mengingatkan banyak tentang akhlaqul karimah. Tadzkirah yang tersusun dalam rahmat.

Terima kasih sabil, renita, amik, al fitri, dan semua sahabat terbaik yang In syaa Allah membekas amalan baiknya :)

Bukan bekas, tapi lekat

Sejujurnya merindu, sangat.
Dengan sebuah miniatur peradaban, dimana pernah tertetes air mata tentang, "Adakah tempat yang lebih baik dari sini?" dalam sebuah perjalanan yang remang.

Sejujurnya merindu, yang belum sampai.. yang ingin sampai. Tentang ia sosok yang sangat berpengaruh. Abi dan Ummi.

Sejujurnya merindu yang dalam. Dengan suasana qur'an yang menurunkan sakinah, yang termanifestasikan sensitifitas yang tinggi atas serpihan rasa-rasa berdosa.
Ya Allah.. kami tahu pijakan kami masih dalam bumi terbaik-Mu. Kuatkan kami.

Selasar Jabal Tsur dalam 4 tahun mensejarah

Masih tersimpan ruh bahkan saat lewat
-Emosional kerinduan-

Cerdas dalam Bahasa Kaum

Sebagai seorang kakak, normally selalu muncul tendensi buat menanamkan nilai-nilai positif buat sang adek. Barusan gw diingatkan dengan sebuah sentilan buat terus belajar.

Singkat cerita pas buka line di hp adek gw (yang duduk di bangku SMP) nemu jejak di timeline tentang perjuangan dokter di Indonesia yang isinya 4 buah video bersambung refleksi perjuangan seorang dokter. Perjalanan panjang yang memang belakangan juga gw sadari dengan dalam live report di depan mata semasa profesi.

Niatnya mau meneteskan sisi-sisi perjuangan dalam kehidupan pada si adek, ternyata disentil dengan pernyataan yang menyadarkan bahwa si adek sudah cukup kritis untuk berpikir.
“Eh, dek mau aku liatin video ga? Tentang perjuangan seorang dokter”
“Ngga mau ah, itu buat orang-orang gede kok mesti. Anak kecil bukan kayak gitu tontonannya.”
“???? Ha? Iya yaa? Haha”

Well, sometimes kita nggak nyadar kalau apa yang pengen kita sampaikan ke orang lain itu kurang tepat sasaran #notetomyself. That’s oke purposenya baik, tapi musti tepat. Sering kali setiap kesempatan di jogja dapet free wifi access gw nyempetin nge-yutub buat download video edukasi buat anak-anak kecil, itung-itung bawa bekal ke rumah. Tapi pekan-pekan lalu entah kenapa nge-yutub nya lagi suka sama beberapa hal khusus, jadi ga kepikiran juga buat donwload something new buat adek.

At least dengan pernyataan si adek gw jadi seneng dan tertohok juga sebenarnya. Jarang-jarang si adek mengungkapkan isi hatinya (termasuk kekecewaannya nunggu lama di jemput karena gw ketiduran.haha). Pernyataan itu sebuah reminding buat gw kalau bisa jadi ternyata preparedness gw buat menyampaikan sebuah dakwah *cieh*, or mean simply sebuah value kebaikan bisa jadi kadang kurang tepat buat objek sasaran. 

Selama ini mungkin beberapa kali diamanahkan ummi di sanlat SMA sewaktu di DS. Artinya beberapa metode pendekatan ke anak SMA ‘seharusnya’ gw udah punya bekal. Belum merasa pantas dan easy going penuh juga (masih banyak harus belajar.red) ke anak SMA, malahan jadi lebih sadar lagi kalau pendekatan ke anak SMP juga nggak mudah. Sampe bener-bener si do’i ngerasa deket sama kita, cerita sepenuhnya, curhat dengan lapang and trust. Serius, nggak mudah. Karena urusan orang dewasa *sok banget* kadang begitu ribet di kepala kalo belum kelar kali ya. Padahal seusia puber mereka sangat butuh perhatian penuh.

Rasulullah menganjurkan kita buat menyampaikan dakwah sesuai dengan bahasa kaumnya. Hal ini penting untuk keterikatan yang lekat dengan hati objek penyampaian, cerdas dalam bahasa kaum. Nasihat itu baik, maka penyampaiannya pun juga harus dengan cara yang baik.

Dan yang terpenting lagi, seorang agen penyampainya (agen dakwah.red) yang harus lebih-lebih memiliki cara yang baik untuk terus mendengar, belajar dan berlomba terhadap amal-amal baik, yang Allah suka. Supaya makin deket hatinya sama Allah, kemudian Allah bikin keterikatan dengan mereka objek dakwah yang Allah dan kita sayangi :)

#ntms
Bagi anak gaul jaman sekarang, orang dewasa yang serius itu ngebosenin kali ya. Haha
Ditulis H2 kedatangan sahabat hebat Bekasi, yang masih terngiang cara ia bercerita :)

Skh, 13112015

Tentang Cita

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Bicara soal mimpi. Saya punya masa dimana sebuah cita berbuah menjadi ruh yang menggerakkan.
Seolah setiap detik masa yang terlewati menjadi sebuah kerinduan yang akan berlabuh pada kenikmatan, pada suaan hangat dengan level pencapaian yang Allah hadiahkan.
Sering, bahkan terus menjadi candu.
Memang nikmat saat itu, saat-saat dimana hati menjadi selalu ingin terpaut dengan-Nya, menjemput keberkahan, menuai amal yang mengantar pada sebuah washilah keberhasilan.

Setelah semua selesai, setelah semua tercapai.. Ada sebuah titik dimana segala hikmah berserak atas hasil peluh perjuangan.
Yang ada tentu rasa syukur, dimana sebuah stage dalam episode kehidupan terlampaui dengan value terbaik yang Allah karuniakan.

Lambat laun, saya berpikir, setelah itu, seberapa jauh orang terdekat merasa tenang karena terbantu atas keberadaan kita?
Atas ketercapaian yang tertoreh, atas mimpi yang tercanang.
Bukankah kemuliaan manusia terletak pada ketaqwaan? Yang termanifestasikan pada sebuah keshalihan pribadi dan keshalihan sosial?

Hingga pada suatu titik, idealisme bergeser pada sebuah prinsip yang berharap ini akan lebih baik.
Untuk menjadi manusia mulia, yang menjadi sumber keberkahan dimanapun berada.
Menjadi sumber kebaikan yang meringankan kesulitan seorang muslim yang lain.
Menjadi pribadi yang terus berbenah diri, agar ambang kepekaan terhadap dosa menjadi dangkal dan memiliki sensitifitas yang tinggi.

Hingga kelak semua cita saya, cita makhluk yang Allah cintai dan mencintai-Nya berlabuh pada sebuah muara yang sama. Di syurga, untuk bertemu dengan-Nya, dan menatap-Nya dengan luapan rindu dan cinta.

_Refleksi di tengah stase maternitas_
Banyumas, 23092015
05 : 22 p.m

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..