"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Ketika Galau terhadap Pencapaian


"Terkadang kita lupa tentang tugas kita. Yaitu ikhtiar seoptimal mungkin, bukan untuk berhasil... Tentunya diperkuat dengan do'a. Karena hanya Alloh Yang Maha Tahu yang terbaik bagi kita.. :)"


  • Semangat Al-Kahfi, semangat untuk tetap ikhtiar, meskipun belum tahu Alloh menakdirkan waktu khatam dan lancar.
  • Semangat melawan segala godaan di tengah, semangat untuk fokus dan Bismillah...^^
  • Semangat mencapai target liburan yang InsyaAlloh manfaat, semangatttt melawan kemalasan... Hus hussss... :D

Ingin Seperti Mereka


Mengingat orang yang dekat dengan Al Qur'an, sangat berbeda ya Alloh... Betapa setiap detik waktunya Engkau jaga dari hal yang sia-sia, betapa setiap indra nya Engkau jaga dari maksiat, setiap hatinya Engkau jaga dari segala hal yang mampu merusak amal... Rabb... sesungguhnya Engkau Maha Tahu, kuatkan setiap kelemahan hati kami... :')

Bukan Menjadi Mariana Ulfa Selama 6 Jam

Pukul 06.00-12.00 WIB, waktu 6 jam yang rasanya berjalan sangat lambat. Setiap 15 menit, bahkan kurang dari itu, sesekali saya melihat jam tangan...
Huuufff... kok masih 3 jam lagi ya?
Kok masih 1 setengah jam lagi ya?
Kok masih...
kok masih....???
Fiiiuuuh... semoga cepat berakhir....
Saya ingin segera cuci muka, membilasnya pake sabun hingga bersih... Risih memakai pakaian ini, apalagi make up ini, sandal yang membuatku lebih tinggi beberapa centimeter ini... Dan ironisnya, ya Alloh... orang yang lalu lalang tadi pagi !
Rasanya ingin mengusir jauh-jauh..
"Heeiii... Ngerti nggak sih? Sembarangan masuk aja, pergi dong... Jauh-jauh sana ! Nggak ngerti orang nggak sukaaa???"

Yaa... hati saya ingiiin sekali berteriak seperti itu kawan... Tapi ternyata saya terlalu lemah dan hanya bisa meremas-remas tangan tanda ngedumel.

Bukan saya, ini bukan saya... Ya Alloh... Ya Alloh... Saya tidak suka didandanin !
Apalagi yang kayak gini...

Sungguh, menjadi penunggu buku tamu menjadikan saya bukan menjadi diri saya, Mariana Ulfa, selama 6 jam !
#Saya merasa lebih cantik dandan sendiri daripada didandanin...#
Saya nggak perlu bulu mata, eyeshadow, merah-merah apaan tuh namanya, kebaya dan jarik yang bikin sesak napas itu, dan nggak perlu merah-merahan di bibir....
Bikin ngantuk tapi dipaksa ikhlas senyum... Masya Alloh...
Bagi saya, cantik itu bukan itu... bukan itu namanya cantik. Saya punya definisi cantik sendiri..!
Okelah, cukup sekali InsyaAlloh...

Ini oleh-olehnya :
#Tetep aja cari kesempatan koleksi


Dapat segini dari hasil meloby mbak catering.hehe

Si Putihnya anggun...^^

Coba deh lihat, si kuning malu-malu...^^

Saya suka bunga, dan suka capture segala sisi bunga... Coba deh amatin, dari manapu, dari sisi manapun bunga, tetep aja cantik, seger, anggun, imut, sholihah (maksudnya?) pokoknya subhanalloh deh.. :)

Nah, tahukah kawan? Wanita itu seperti bunga di atas bukan?
Seperti si putih yang dengan keanggungannya, meskipun ia tersembunyi (sebenarnya dia tidak terlalu terlihat dalam rangkaian susunannya) tapi ternyata, kalau kita dekatin... Subhanalloh... cantiiiik...^^
Seperti si kuning... yang meskipun ia tertutup daun (malu, jadinya sembunyi), eh ternyata setelah kita tilik dari sisi yang lain... Ya Alloh, betapa Engkau menampakkan ke elokan pada makhluk-makhluk-Mu yang membuat kita tak henti mengungkapkan kekaguman...
Aih, si kuning itu mempesona...^^
Nah... Wanita itu terlalu elok untuk dipertontonkan di khalayak umum. Pancarannya begitu mempesona... Biarkan saja ia bersemi keanggunannya untuk orang yang memang benar-benar terpercaya untuk menjaganya. :)
kecuali memang untuk hal yang memang mengharuskan untuk tampil di depan umum, asalkan tidak timbul fitnah. Seperti, presentasi, mengemukakan pendapat yang positif, dan hal bermanfaat lainnya. Ingat ! Bukan untuk pamer keindahan ! Heiii... percayalah kawan, tanpa kamu tunjukkan, semua orang sudah menyadari fitroh keindahan yang kita miliki...^^

Karena definisi cantik itu...
"Bukan cantik yang dengannya akan mendorong orang lain berbuat maksiat, namun
Ia cantik, karena dengan kecantikannya ia mampu mengingatkan orang lain kepada Alloh Subhanahu Wata'ala...."

Sudahkah kita seperti itu kawan? ^^
InsyaAlloh berproses ya... Semangat Syurga ! :)

Mau Syurga Nggak???

Repost : Note di FB

Kita tak akan pernah tahu apa yang orang lain dapatkan dari keikhlasan amal yang kita ikhtiarkan untuk orang lain. Meskipun kecil.. :)

Subhanalloh, pagi ini tadi ada kejadian simple yang insyaAlloh hikmahnya besar.
Kuliah ba'da subuh dengan Abi Syatori, Al Imamah (Menjadi Imam dalam Kehidupan) sangat mengena. Semoga Alloh memberikan kesempatan saya untuk menuliskannya di lain waktu. Aamiin

Rasa kantuk yang tak terelakkan ternyata sempat membumbuhi di awal perkuliahan. Padahal saya sudah berusaha berdiri sebentar, bergerak-gerak, tetap mencatat, dan ikhtiar kecil lainnya. Masya Alloh, ngantuk memang anugerah, bukan aib, tapi disaat hadir dalam keadaan yang mengharuskan menunaikan ibadah wajib (menuntut ilmu) yang prioritas memang harus di lawan.
Eh, tapi tetap saja mata lama-lama sayu. Lama-lama menunduk, dan... tangan perlahan berhenti menulis yang sebelumnya diiringi goresan font tulisan berseni yang berliuk-liuk untuk kemudian terhenti dengan garis yang semakin tipis..
Pikiran yang semula tertuntun dengan apa perkataan abi, lama-lama hanya mendengar samar-samar, lalu tertutup di alam bawah sadar...
Yah, sempat ketiduran..

Kebiasaan kami ketika ada yang ngantuk saat kuliah adalah, berusaha menyentuh dengan kasih sayang supaya saudara kami terbangun dan kemudian kembali menyerap ilmu berharga. Karena kami di sini bersama, menjadi sosok pembelajar bersama, dan menjadi pandai dalam ilmu dan amal yang sama. Meskipun keberhasilannya belum bisa terprediksi. Entah beliau nanti kembali sayu, atau kembali berkonsentrasi dan kembali mencatat dalam dokumentasi perkuliahan miliknya. Tergantung bagaimana cara membangunkan, motivasi, toleransi tubuh, dan lingkungan yang mendukung (hehe).

Termasuk juga saya. Ternyata juga beberapa kali terjangkit VKSS (Virus Kantuk Setelah Subuh). Entahlah, bisa dibilang beberapa kali atau sering. Hehe
Nah, dahsyatnya (subhanalloh) ketika saya biasanya dibangunkan dengan sentuhan biasa pada umumnya, tapi hal yang menarik dan membuat mata saya langsung terbuka adalah cara membangunkan saya oleh orang di samping saya. Apa kawan dia bilang?
Saat saya mulai menundukkan kepala tanda sayu. Lalu sentuhan di tangan dengan pertanyaan retoris yang pelan namun tegas ia lontarkan, "Hei, mau syurga nggak??"
Subhanalloh, langsung terbuka mata saya, dan refleks langsung menatap dia, Tia teman sekamarku. "Hm? Iya.. Mau.." langsung tangan saya menyentuh bolpoin dan menggoreskannya di atas buku di depan saya..

Setelah kejadian ini saya berpikir, subhanalloh.. Ketika manusia diingatkan tentang syurga, betapa kecilnya ikhtiar kita saat ini. Padahal syurga itu bukan untuk orang yang terkantuk-kantuk saat menjalankan amalan, bukan untuk orang yang setengah-setengah dalam berikhtiar. Ya Alloh, hamba bersyukur dalam komunitas yang senantiasa fastabiqul khoirot.. Pertemukan kami fil jannah.. Aamiin ya Robb.. :)

Ibu Kue dan Kita

“Kue kue.... Mbak... kue mbak, kue....”

Seru Ibu Wiji yang tangguh itu. Kawan, dia ‘Ibu Kue’, sapaan akrabnya ketika belum tahu namanya.

Dengan sepeda onthel nya yang sudah tua, usianya yang tak lagi muda tetap saja menggerakkan kekokohan niatnya untuk berjualan kue. Sebenarnya bukan hanya kue yang beliau jual. Namun ada macam-macam makanan, seperti nasi pecel harga Rp2.500,00, bakwan udang, jajanan pasar (macam-macam kue kecil), donat, gorengan, nasi kuning di kotak plastik, nasi goreng, dan masih banyak lagi...

Pagi ini, DS (Darush Sholihat) asrama saya sepi, teman-teman yang notabene mahasiswi yang sekarang sedang mempunyai jatah liburan semester kebanyakan pulang ke rumah masing-masing. Al Fitri ke Lampung, Hanum dan mbak Anis ke Sumatra juga (tapi yang ini beda, bukan pulang kampung tapi acara walimahan kakaknya.hehe), Kiki ke JaBar, Mbak Antina dan Sa’diyah ke Jakarta, Mbak Tia ke Bantul, Sabil ke Depok, Desy ke Sukoharjo, dan sebagian yang lain tidak saya sebutkan serta sebagian yang lain juga sudah pergi pagi-pagi setelah kelas Bahasa Arab berakhir. Kelas berakhir pukul 06.00 WIB dan sebagian ada agenda pukul 06.30 WIB.

Pagi ini, saya beli sarapan di warung Bu Nongki, sebagian menenyebut Bu Nunung, dan spanduk warung bertuliskan “Mbok Nonong”. Entahlah, dari mana asalnya sebutan itu, yang jelas warungnya tetap sama. Nasi, sayur buncis tempe, sayur daun ketela, tahu bacem dan bakwan telah mengisi perut ku dan tiga orang teman se asrama. Alhamdulillah... Nikmat rasanya... syukur, syukur dan syukur..^^

Beberapa menit kemudian aku memang memutuskan untuk mencuci baju. Sejenak sebelum aku beranjak, ada seruan Ibu Wiji yang biasanya memang datang pagi-pagi sekitar pukul 07.30-08.00 WIB, itu perkiraanku. Beliau berjualan kue keliling...

“Kue kue.... Mbak... kue mbak, kue....”

Hampir sama persis setiap hari. Ya Alloh, lagi-lagi, sebenarnya terkadang merasa kasihan sama Ibu Wiji. Misalnya saya kali ini sudah sarapan, jadi tidak mungkin saya akan beli makanan lagi, karena akan sangat memboroskan. Apa boleh buat, lagi-lagi hanya menjawab,

“Mboten Bu.. “
(Red : enggak bu) kemudian disusul jawaban Ibu Wiji,

“Mbote mbak? Nggih sampun, rencange mbak?”
(Enggak mbak? Ya sudah, temannya mbak?) dan mbak Ika teman sekamar saya yang menjawab bahwa sebagian besar pulang.

Sewaktu saya mencuci di lantai 3, sekilas saya melihat Ibu Wiji mengelilingi kompleks untuk berseru kue dagangannya dengan sepeda onthel itu...

Kawan... Beliau usianya sudah tidak lagi muda, fisik nya sudah tidak lagi sekokoh kita yang bisa dengan cepat mengayuh sepeda, kesederhanaannya membuat ia tampak pribadi yang bersahaja, ketekunannya mampu membuka jalan pikiran saya bahwa memang setiap garis hidup yang Alloh takdirkan sekarang harus kita lalui dengan seoptimal mungkin kemampuan kita.

Bandingkan, beliau mungkin usianya sudah lebih dari 50 tahun, kita? Yah, mungkin antara 17-25 tahun lah katakanlah.. Pernahkah kita seharian mengayuh sepeda untuk menghasilkan uang yang mungkin setiap kali berhenti hanya untuk sekitar Rp100,00 sampai Rp500,00???

Beliau berjualan naik sepeda onthel, kita? Naik motor sekolah, kuliah, atau bahkan ada yang di antar.. Naik angkot mungkin, ya kalau ada yang jalan nggak papalah, kan fisiknya masih kuat, atau bahkan naik mobil? Itu aja untuk hal yang memang jadi kewajiban kita kawan... kita sudah dibayari sekolah, kuliah... beliau untuk sekedar menyambung hidup harus lebih berjuang keras dari kita...

Beliau jarang sekali libur jualan, bahkan hujan deras sekalipun (bayangkan kalau nggak di jual? Hari ini makan apa?)...

Sedangkan kita? Hampir tidak pernah merasa kelaparan, kalaupun lapar sedikit langsung beli makan. Itu pun masih suka ngeluh males beli makan.... luar biasa memang manusia.

Instropeksi untuk diri saya juga. Bahwa setiap kemalasan, kelemahan, keluhan dan keprihatinan kita itu belum ada apa-apanya dengan orang-orang pilihan Alloh disana yang mereka berjuang lebih keras untuk hidup... Sedangkan tugas kita itu cuma satu men ! Melawan malas ! Seperti kata Umi Masbihah... Karena kalau sudah malas, segalanya akan dibawa susah... dan susah itu sumbernya adalah kita sendiri.

“Ketika kita merasa berat, maka ingatlah dan bukalah mata hati pada orang-orang pilihan Alloh yang masih menunjukkan ketegaran hidup untuk mencapai kemuliaan sabar, ikhlas dan tawakal indah yang berbuah syurga. Kalau belum menemukan, cari orang-orang sepeti itu, orang yang lebih keras berjuang daripada kita ! Kita hidup di dunia ini hakikatnya berlomba-lomba untuk mencapai syurga Alloh, maka kita harus mencari orang yang sedang berlari mengejar syurga, biar kita sadar bahwa sebenarnya kita masih jauuuh tertinggal... Kehidupan adalah sarana untuk akhirat dengan keikhlasan niat ibadah dalam setiap amal perbuatan..”

Ibu Wiji, semoga Alloh memudahkan rizkimu... ^^ Aamiin


Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..