"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"
_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum
"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)
One dream come true :')
Subhanallah... Walhamdulillah.... ^^
PIMNAS.... Semoga emas untuk UGM.. :)
Rabb.. mudahkan jika memang ikhtiar yang kami lakukan adalah hal yang terbaik untuk kami... aamiin... :')
22.07 | Label : dreams |
Aturan Gerbong Wanita, Hijab dan Lelaki
Sekali aturan tetap aturan.
Saya sepakat dengan tindakan tegas petugas di kereta ini.
Indonesia, yang mungkin sering di kenal dengan "peraturan dibuat untuk di langgar", kali ini ada setitik usaha perbaikan dari bawah.
Pawakan tubuhnya tinggi, berseragam biru muda, bertopi dan berlangkah tegap. Ia segang sigap menarik beberapa laki-laki yang masih singgah di gerbong khusus perempuan. Bagi mereka yang tersadar mungkin tidak masalah untuk "menunjukkan merahnya" langsung pindah di gerbong yang lain. Namun untuk beberapa yang masih belum mantap gambaran dirinya mungkin butuh sedikit penegasan dan beberapa waktu untuk memergikan alias mengusir ke gerbong depan.
Ada seorang bapak yang berpawakan sedikit gemuk duduk di kursi samping pintu sambul memegang koper yang ia taruh di bawah. Bapak yang berkaos dan berpeci ini ternyata harus sedikit diberi penegasan oleh petugas..
"Bapak, bapak nggak kasihan sama mbak2nya yang berdiri disana? Bapak kan laki2??" Tanya petugas menyindir..
kemudian ia mempersilakan untuk pindah ke gerbong depan..
Masih diam di tempat duduk dan sedikit berbicara apa saya tidak mendengar. Lalu petugas bertanya lagi hal yang sama.
"Bapak tidak kasihan? Bapak kan laki-laki?"
Belum lagi..
(Sambil mengetukkan jarinya dengan tegas di sebuah tulisan di dinding kereta, sang petugas kembali memberi penegasan) "Pak, ini gerbong khusus perempuan.. Ini khusus perempuan, pak.."
Yah, baru berespon untuk berdiri dari duduk.
Gerbong khusus perempuan memang sangat menguntungkan untuk wanita. Kebebasan untuk melaksanakan hak-haknya untuk beraktivitas akan lebih leluasa ketika tidak ada laki-laki. Misalnya seperti ibu di samping saya, beliau menyusui anaknya di gerbong khusus wanita, yang lain, mereka yang masih 'merasa nyaman' dengan pakaian mininya saya kira sedikit ada perasaan 'save' ketika berada di sini. Saya percaya ini akan lebih menjaga, khususnya menjaga maksiat tersembunyi. Mereka yang ingin melakikan hal lainnya pun mungkin juga akan lebih bisa merasa nyaman. Indahnya jika hijab di seluruh aspek kehidupan... ;)
Dibalik perasaan lega dan bahagianya saya karena ini..
Ternyata, meskipun gerbong khusus wanita dengan penjagaan yang baik di awal.. Oh, tetap saja di ujung sana ada 2 laki-laki yang masih singgah dan bercengkerama. Meskipun ia bersama istri dan anaknya, saya tetap sedikit tidak sepakat. Kenapa saya katakan sedikit? Karena belum tahu persis alasannya. Takutnya su'udzon.
Masih ada juga petugas kebersihan yang ternyata standbynya juga di sini. Mereka juga laki-laki kan. Ah, sama aja.. Ada juga 2 anak muda yang meskipun mepet ke pintu gerbong sebelah, tetap saja statusnya di gerbong ini. Barusan saya lihat lagi bapak-lewat di depan saya.
Yah, sebenarnya saya menulis ini, karena saya mengharapkan jiwa-jiwa yang selalu "menunjukkan merahnya" dari pihak laki-laki.
Krisis kesadaran dan kepekaan pada laki-laki saya rasa masih sering ditemui di negeri ini.
Saya percaya kawan, laki-laki yang baik justru akan lebih memilih untuk ada di tempat lain untuk mengutamakan kenyamanan dan keamanan wanita daripada mengikuti nafsu dan egonya. Dia cerdas memilih karena akan lebih mengutamakan kemuliaan wanita dan menghindari kemaksiatan yang intermiten timbul karena wanita.
In conclussion, the points i want to share are...
HIJAB's application in the way of life will give a lot of benefit.
Namun, plis, sekali aturan tetaplah aturan dan siapapun mohon dengan kesadaran pribadi untuk menaatinya. (ini juga trigger bagi saya)
And the last..
Para lelaki yang budiman dan beriman, ar rijalu qowwamuna 'alannisa... Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dan sebaik-baik pemimpin adalah ia yang mampu mengutamakan kehormatan, keadilan, perlindungan, dan kepentingan siapa yang di pimpinnya. Don't just focuse on ur self.. :)
Karena impactnya akan datang ke anda sendiri, yaitu anda akan menjadi insan yang jauh lebih mulia karena memuliakan orang lain. Apalagi di hadapan Allah..^^

Tulisan tak terarah, sedikit mengisi waktu di tengah perjalanan ke kota pelajar.
-Semoga bermanfaat-
Dalam duduk tenang, cahaya kuning dan proteksi dinding-dinding kereta prameks.
Otw solo-jogja, 15 April 2012
18.41 p.m
gambar diambil dari sini
22.16 | Label : hikmah |
Setidaknya
Setidaknya beribu syukur terlintas kembali...Tidak akan ada kata “saya bukan apa-apa” yang sering muncul ketika saya tidak di DS, ketika saya tidak bertemu dengan mereka..Setidaknya.. Lebih sering muncul kata “saya masih jauuuh dikatakan sebagai pribadi yang baik” ketika saya ditakdirkan dengan orang mulia seperti mereka....Setidaknya... saya menjadi sadar bahwa titik perbaikan pada diri manusia tidaklah terfokus pada satu. Namun segala aspek dalam jasmani dan ruhy...Dan setidaknya pula... saya menjadi lebih peka terhadap kekurangan saya.Terima kasih Darush Sholihat, terima kasih ammah, dan terutama paling utama... Terima kasih Allah, terima kasih atas keagungan hikmah ini... ;)-Karpet hijau tersejarah-Ahad, 15 April 20122:18 a.m
02.20 | Label : hikmah |
Somalia...
Ia menyodorkan sebuah leaflet.. Bertuliskan “Somalia Negeri yang lapar akan bantuan”
Isu dunia yang begitu acuhnya saya ternyata sempat terlupa dalam periode yang lama.
Sang pejuang itu, seraya jarinya bergerak menghitung nominal uang yang ia tumpuk, sembari ia berkata, “Kita belum bisa memberi yang lebih ul, tapi setidaknya kita bisa melakukan sesuatu..”
Subhanallah... malu saya ! Asal perlu diketahui, dia adalah orang yang terkadang menunda makan dan menahan lapar karena ikhlas dan zuhud atas yang ia punya. Rela ngelesin anak sekolah dengan sepedanya, mengayuh dengan peluh, demi bertahan dalam hidup yang selalu mengajarkannya tentang arti perjuangan.
Ukhti, jazakillah khoir atas tauladan yang engkau ajarkan. Untuk saya yang sedang belajar, bercermin tentang zuhud, ikhlas dan sabar... Semoga aktivitas esokmu senantiasa barokah di setiap detiknya.. Aamiin ya Rabb.. :)
JT 2, Yunus 22:43 p.m
11/04/2012
23.10 | Label : refleksi diri |
Siapkan Hikmah di Hari Kita
Kelas tahfidz malam ini sedikit menelisik kesadaran saya tentang suatu hal yang mungkin sering terlupa. Tentang hikmah kehidupan dan tentang instropeksi diri, bisa disebut muhasabah.
Ketika teh Eulis (pemandu tahsin saya) mempersilakan untuk kultum (rutinitas yang lama terlupakan di kelompok kami), sempat satu dengan yang lain di antara kami saling memandang. What it means? Ya, saling mempersilakan. Mungkin maksudnya itu...
“Ulfa, ayo fa.. biasanya share dari yang udah didapat di FB..” ;) Mbak Ajeng menunjukku
“Hm..? dari FB mbak?” (thinking)
“Iya, dulu waktu kita sekelompok...” (maksud ia sewaktu kami sekelompok dengan Ammah Anis)
“Uhm... monggo mbak Ajeng aja.. ;) Atau Kiki deh...” (Dengan tangan mempersilakan)
Padahal sebenarnya karena saya tidak ada bayangan mau menyampaikan apa.
Teh Eulis berharap kami akan berbagi tentang ilmu yang didapat dari kajian atau dari kehidupan saat ini.
Dan acara tunjuk menunjuk masih berlangsung...
Terlintas di pikiran saya saat itu... Masya Allah... Seharusnya ini tidak pantas untuk terjadi dari seseorang yang mempunyai karakter muslimah yang sesungguhnya. Seharusnya setiap hari yang kita lalui adalah hari yang penuh hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Nikmat Allah begitu luas untuk dijabarkan dari setiap hembusan nafas yang kita nikmati. Tinggal seberapa pandai orang yang beriman berpikir akan hikmah yang ia dapat hasil dari tafakur setiap sesion kehidupannya. Jangankan dalam periode 24 jam atau satu hari. Dalam satu detik dan menit kehidupan kita pun sebenarnya sangat banyak hal yang bisa kita petik jika keadaan iman kita saat itu mampu mengantarkan ketrampilan berpikir yang hanif.
Coba kalau saat itu langsung terbersit petikan-petikan hikmah dalam setiap fase hidup saya. Betapa banyak hal yang bisa saya sampaikan, yang barang kali bisa diambil pelajaran dari orang lain. Yang barang kali dengan itu saya bisa tertular pahala jika ternyata berhasil memotivasi atau mengingatkan dalam kebaikan pada orang lain, belum lagi kalau itu juga ditularkan ke orang lain dan orang lain lagi... Masya Allah... Mungkin ini sedikit banyak terlupa...
Jika coba saya telaah, betapa meruginya saya dalam keseharian. Ini baru di tes ketika awal kelas tahfidz. Ternyata saya tidak terbayang keagungan hikmah dalam setiap aktivitas saya hari ini. Padahal hari ini saya rasa adalah hari yang cukup padat dan punya banyak cerita. Tapi... Ya Allah... dimana kerangka pola pikir saya saat aktivitas itu saya lakukan? Sudahkah lepas dari rangkaian benang yang menghubungkan dengan indahnya untaian kata di Al-hadits dan dari Al-Kariim? Atau karena saya belum faham? Karena saya masih miskin ilmu? Sehingga saya pun tak mengerti apa korelasinya dengan kekuatan spiritual yang ada di dalamnya...
Maksud saya, barangkali dari aktivitas saya saya bisa mengambil satu hikmah tentang syukur, waktu yang barokah, indahnya tawakal yang itu nanti bisa saya hubungkan dengan yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits...
Terbukti sudah, masih banyak kelemahan yang saya punya. InsyaAllah bertahap. Kuncinya adalah kesadaran, kemauan, keikhlasan dan kesabaran. Selalu bersama dengan orang-orang yang saling berlomba dalam kebaikan, sekali lagi, memang membuat kita peka bahwa istilah ‘no body is perfect’ sepertinya masih terlalu baik untuk disebut untuk diri saya. Karena bahkan menilik kelebihan pun masih ada saja kekurangan dalam kelebihannya.
Bukankah Allah menyukai orang yang senantiasa mensucikan diri? It means, termasuk orang yang senantiasa memperbaiki diri...^^ Keep struggling ;)
Bismillah...
-Semoga bermanfaat-
Kamar Yunus JT2
21:47
14/03/2012
22.03 | Label : hikmah |
- Akselerasi Punya Cerita
- amanah
- Anugerah
- Berbagi
- Biah Sholihah
- cerita cinta
- cinta
- Curhat
- dakwah
- dreams
- DS
- Dunia Akselku
- GC
- hikmah
- inspiring
- keluarga
- Mata Cahaya
- MSC
- muhasabah
- muslimah
- Ners Muda
- Proud of Islam
- PSIK
- QA
- quotes
- refleksi diri
- Romance
- Sepenggal Kisah
- Share
- spontan pikir
- Syair
- syukur
- Terima Kasih
- ukhuwah
Catatanku Hari Ini
-
▼
2018
(1)
- ▼ April 2018 (1)
-
►
2016
(10)
- ► Oktober 2016 (2)
- ► Februari 2016 (4)
- ► Januari 2016 (3)
-
►
2015
(11)
- ► Desember 2015 (7)
- ► November 2015 (1)
- ► September 2015 (2)
- ► Januari 2015 (1)
-
►
2014
(38)
- ► Desember 2014 (1)
- ► November 2014 (3)
- ► Oktober 2014 (2)
- ► September 2014 (3)
- ► Agustus 2014 (2)
- ► April 2014 (1)
- ► Maret 2014 (2)
- ► Februari 2014 (12)
- ► Januari 2014 (6)
-
►
2013
(56)
- ► Desember 2013 (3)
- ► November 2013 (2)
- ► Oktober 2013 (4)
- ► September 2013 (2)
- ► April 2013 (9)
- ► Maret 2013 (10)
- ► Februari 2013 (11)
-
►
2012
(28)
- ► Desember 2012 (2)
- ► November 2012 (3)
- ► September 2012 (3)
- ► Agustus 2012 (5)
- ► April 2012 (3)
- ► Maret 2012 (1)
- ► Februari 2012 (4)
- ► Januari 2012 (6)
-
►
2011
(4)
- ► September 2011 (1)
- ► Maret 2011 (2)
-
►
2010
(2)
- ► September 2010 (1)
- ► Februari 2010 (1)
-
►
2009
(10)
- ► Desember 2009 (1)
- ► Oktober 2009 (4)
- ► September 2009 (5)
Quotes
“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)
Total Pengunjung
Followers
My Account Facebook
Mengenai Saya
- Mariana Ulfa
- Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..
