"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Terkenang



Ketika menulis ini, barangkali ada someone feels, “thats me” :D

Sesekali saya sekilas membuka lembaran layar yang tergores tinta-tinta risau bahagia seorang anak. Uhm, tepatnya adek :) Adek santri, adek kampus, dan adek seperjuangan ‘cinta’, di jalan syurga.
Raut muka sendu bahagia dalam tulisannya menggambarkan suatu hal.

“Itu saya, ketika menjadi santri” :’)

Seketika saya teringat jauh melesat. Dan kemudian berbalut bahagia penuh syukur. Lagi-lagi penuh syukur yang buncahan rasanya tak tertahankan terkecuali dengan segenap ingin menumpahkannya dengan rasa tangis haru yang merindu menghadap  kelak disyurga-Nya, dalam hening, hanya seorang hamba dengan-Nya. Cukup, hanya itu.

 Menjadi sebuah rasa yang mendalam ketika saya diberikan takdir terbaik menjadi seorang santri. Menjadi santri di sebuah pondok pesantren mahasiswi di Yogyakarta, dua setengah tahun silam, dalam realita harap cemas ketika mendaftar. Hal itu yang mengantarkan saya sekarang menjadi sosok yang jauh berani. Untuk memutuskan sebuah pilihan hidup beserta konsekuensinya.

Saat itu, saat perjalanan nol menuai turning pointnya.

23 : 12 pm
13012014

Spontanitas insan Sholihah



Si adek satu ini sering menggelitik akhir-akhir ini. Jangan merasa aneh. Karena ia justru menggelitik diri kita untuk mengorek habis koreksi iman diri. 

First
“Ammah, maafkan aku. Aku lagi futur”
Oh Allah, memang futurnya anak sholihah. Tetap saja lakunya ada hal yang menggetarkan. Terbersit beberapa peristiwa dengannya tempo hari. 

Second
X : “Ammah, ayuk bangun sholat isya..” (tertidur di masjid)
Belum juga berkutik saat itu,
X : “Ammah fulanah, ayuk sholat isya..”
Y : “Hm.. beda surat.. beda surat..”
X : “hahaha.. ammah fulanah lucu banget, ngelindurnya subhanallah..”
Z : “hm? Iya kah? Coba-coba.. Ammah fulanah, lanjutkan ayat berikut :D Illal musholliin...”
Y : “Alladzinahum.. hm? (terilihat linglung)”
A : “bener mah?”
Z : “Iya.. itu surat al ma’arij” :D
Kemudian sekitar masjid beberapa spontan tertawa.

Third
Ketika intensif tahsin untuk menyempurnakan makharijul huruf, sang pemandu tahsinnya tertawa kecil dalam hati dan senyumnya spontan terkembang. Bagaimana tidak?
Karena ia tak perlu repot mencari tadriibat (contoh untuk latihan) untuk melafadzkan huruf, lisannya saja spontan menangkap kata-kata dari Al-Qur’an yang ia hafalkan. Sesekali ia sendiri lupa termasuk dalam surat apa yang ia bacakan.
Kemudian satu dua kali, nampak sang pemandu dan santri itu bercengkerama di tengah intensif tahsin hingga lepas pukul 22.00 itu :)

Masyaa Allah, alam tidak sadar orang sholih/ah, yang bibir dan hatinya terbasahi lantunan dan muatan qur’an, dalam keadaan apapun, hanya Allah dan firman-Nya yang tersemat dalam spontanitas.
Ya. Karena memang hafalannya sudah banyak. Bahkan pernah sekali, langsung Umi yang meminta agar beliau langsung yang turun tangan untuk menerima setoran.

Iri, sangat iri T.T

Malam maulid Nabi, after OSCE clear :)
13012013 mubarok :)
22 : 55 p.m

Notes

Cepatlah pulang, anak muda. Jika dirasa silaturrahim akan tersambung via sapaan di jalanan, percayalah, keberkahan do'a yang terkasih di rumah akan jauh lebih hakiki kenikmatannya, bahkan tanpa batas, bahkan hingga ujung usia kita.

Percayalah, bukan itu cara kita menikmati hidup. Tapi keridhoan merekalah yang membuat hidup kita nikmat.

Cobalah berpikir ulang, berpikir ulang, dan terus ditimbang keberadaan manfaat dan mudharatnya. Terus diulang, setiap kali memutuskan. Perlahan dewasa menghampiri dengan sendirinya, lembut menyapa.

Terkadang menjadi muda itu memang menghanyutkan. Semoga dayungnya kokoh untuk diajak mengayuh ketertinggalan :)

Power

Life is hard man, so that u must study hard.

#LulusCepet !

Esensi Menghafal Qur'an

"Karena sesungguhnya bukan untuk gelar hafidzah kita menghafal, bukan agar kita disebut banyak hafalannya, bukan 'ammah... bukan.. tapi bagaimana bisa setiap bertambahnya 1 juz, 2 juz, 3 juz kita... semakin membuat kita dekat dengan Allah.. :') iya.. semakin bertambah taqarrub ilallah dalam setiap bertambahnya hafalan kita.."

suara lembut menggetarkan di depan kelas ketika itu,
kemudian membuat tahanan isak tangis hingga sesak,
di balik kegengsian teriakan perihnya hati yang teriris-iris.

Semoga hati kita kuat setegar karang. Pantang rapuh atas terpaan ombak permainan dunia. Aamiin yaa Rabb :')

0:04 a.m
08122013
JM

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..