"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"

_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_
Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum

"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)

Noda

semakin dekat cahaya,
semakin silau memejamkan mata,
semakin terang cacatnya,
semakin menegaskan debu yang menodai...

semakin sesak,
semakin ingin terus menoreh garis penghubung yang tak lepas.

Allah, ampuni kami. Jadikan setiap fase ini adalah hikmah dari cara-Mu mendekatkan diri dengan-Mu, selalu, setiap hembusan nafas tanpa ada tanpa mengingat-Mu.. :')
13/10/2012
05 : 09 a.m

Kampung Cakrawala

Ibarat seorang anak kampung, yang terhipnotis dengan film ibu kota, yang konon katanya 'inilah film anak bangsa, memotivasi'. Terhanyut bukti ilmiah kehidupan. 8ahwa mereka ada, melingkupi anak kampung. Di sini, di persinggahan penuh benteng hakiki.

Ibarat seorang anak kampung, yang awal kisah hidupnya hampir tak pernah tersentuh polesan garis cakrawala. Hidupnya khusyu', hanya di satu ranah maritim, bahkan berjibaku dalam pulau satu. Seolah memang takdir, 'disinilah tempatmu' maka cucurkanlah keringatmu di sini.

Ibarat seorang anak kampung, yang menelusur kebenaran hakiki. Mempertemukan mindset kampung dan khatulistiwa, mindset kampung dan peradaban dunia.

Oh.. Betapa bersyukurnya anak kampung. Dalam zona prematurnya. Pusat sensoriknya mulai peka. Motoriknya mulai menerawang tangga bergerak. Bahwa kampungnya adalah kampung peradaban dunia.. Bebas memendarkan sinar, berkhusyu' ria dengan Yang Maha Besar, dan membuncahkan energi dalam karena umat..
from here
-Inspiring by all about motivation to study abroad :)-
@RSGM
29/09/2012
About 02.00 p.m

Do'a Keren

"Ya Allah, beri kami kekuatan untuk mencintai-Mu, dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu...
Berilah kami kekuatan untuk bersegera dalam amal, dan berikanlah kami aktivitas-aktivitas yang membuat kami dekat dengan-Mu.."

suplemen dari Jalasah Ruhy :)
yang seketika itu hanya mampu tersenyum haru, lalu.. :')
27/09/2012
23:20
@YunusJT2
 gambar dari sini

Bunga Perjumpaan

Jam kuliah yang harusnya terisi oleh materi Pemeriksaan Fisik Sistem Kardiovaskuler oleh ibu Mujiatun S.Kep.Ns dan skills lab yang harusnya saya telah mampu menelaah materi mengenai Fisioterapi Dada ternyata ikut melengkapi kekosongan kuliah sejak hari kemarin menjadi kosong 4 jadwal kuliah. Subhanallah ya, baru dua hari masuk awal kuliah, sudah 'aneh' saja jadwalnya. (kembali ke rutinitas dulu) Menyesuaikan lagi dengan jadwal tentunya :)

Mungkin dari sekelumit banyak hikmah yang Allah rahasiakan, salah satu puingnya saya dapatkan pagi ini. Yang seharusnya saya berada di ruang skills lab untuk menuntut ilmu meniti jalan untuk mewujudkan cita, perawat professional, kala tadi saya sedang berjalan menuju tempat parkir. Di DPR (Di bawah Pohon Rindang) tepatnya, saya bertemu dengan sosok yang mengagumkan dan membuat hati saya berbunga-bunga selepas bertemu dan menyapanya. (aih ^^)

Dari jauh, saya melihat senyumnya :)
semakin dekat, mulailah saya niatkan untuk menyapa sosok yang dulu sempat juga menjadi finalis pemilihan mahasiswa berprestasi perwakilan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) di Fakultas Kedokteran UGM tersebut...

Setelah menyapanya, terbukalah sebuah cengkerama yang begitu ayu, dan membuat hati saya berbunga tentunya ^^


S = Saya

B = Beliau

(saya lupa, tadi pakai salam atau tidak.. :D)

S = Mbak B... Mohon maaf lahir dan batin ya.. ^^ (senyum sambil setengah merem. Kami bersalaman dan cipika-cipiki) --> saya juga lupa ini siapa duluan yang bilang. hehe. pura2nya saya aja ya readers..
B = eh, iya dek... sama-sama... :)
S = wah, mbak B... tambah cantik aja nih...^^
B = ah.. kamu ni... (malu-malu, sambil memegang gamis  hijau saya bagian lateral/samping).. Aku pengen lho pakai kayak gini juga... ;) (tersipu)
S = wah... subhanallah... boleh-boleh.. iya mbak, pasti tambah cantik mbak B...^^ (tulus banget ini, nggak di buat-buat)
B = tapi masih canggung gitu... (agak menunduk dan malu-malu lucu)
S = eh.. nggak papa mbak B...^^ (menguatkan)
B = iya nih.. nyicil dulu ya.. pakai rok dulu... ;) (berbicara lebih pelan)
S = subhanallah, iya-iya mbak.. sip-sip...^^ (sambil mbak B meninggalkan saya) cantik mbak, ditunggu ya.. :) suka banget sama roknya, matching :)

Subhanallah... inilah yang saya sebut bunga perjumpaan. Hati saya berbunga ketika mendengar kabar bahwa ia ingin memakai pakaian yang lebih menutup aurat dengan sempurna. Namanya Lina Annisa Nasution, mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2009 yang termasuk mahasiswa muda yang IPK nya saya ketahui hampir summa cumlaude mungkin ya. Setahu saya, terakhir beliau mengatakan kesedihannya karena saat tahun kedua dulu nilainya turun ke 3,6 sekian. Artinya kemarin-kemarin? yah, bisa ditebak lah berapa. Kandidat mapres fakultas gitu :))

Pengutaraan langsung dari beliau yang menginginkan perubahan mulia itu membuat saya terenyuh. MasyaAllah... Segala kebaikan itu memang sebuah proses. Meskipun sebuah perubahan kecil. Kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, jangan terlalu 'ngoyo' untuk ingin segera ini, ingin segera itu. Karena Allah mempunyai waktu yang lebih tepat untuk menjadikan apa-apa kita kehendaki.


Untuk saya dan untuk mbak Lina, semoga senantiasa istiqomah untuk mendayung di kapal perbaikan diri.. semoga kita sampai di pelabuhan syurga-Nya :) Aamiin ya Rabb... ^^

Menyempatkan diri untuk menulis, karena sebuah inspirasi tidak boleh di tunda :)
@DS JT 2, Yunus, dalam kesejukan beranjak sholat dhuhur.
Selasa, 04/09/2012
11:55

gambar diambil dari sini

Menyempatkan untuk Membalas

Dalam dekapan nuansa syawalan Keluarga Fakultas Kedokteran FK UGM. Menilik gawanan kecil dalam genggaman.. Subhanallah... about 3,5 hours ago, she has been posting about “something” becoming hot issues one week ago.  Kalem, it just between us, guys.. :) Sang Pengejar Matahari..^^

I don’t know what i want to say..


Kawan, Sobat, Teman, Saudariku... Ah, bingung saya memanggilnya...
Terlalu sederhana sepertinya kata-kata itu. Karena dia lebih dari segala makna yang tersirat dari sebutan di atas. Namun InsyaAllah lebih terikat dengan kata saudariku (yang Ulfa cintai karena Allah, InsyaAllah ^^).

“Saudariku, sungguh.. setelah membaca apa yang jemarimu gerakkan di atas tuts bersejarahmu itu, hampir pikiran ini buntu untuk sedikit menelisik arah. Aku sebut bersejarah karena sungguh penuh perjuangan untuk meluangkan dan menyusun si kata hati yang sejujurnya itu..“
MasyaAllah... sungguh saya sangat mengerti alur ia berpikir. Sangat mengerti. Hanya saja ketika disuruh mengurutkan alurnya, itu begitu rumit. Bahkan lebih rumit menurut saya, jika dibandingkan dengan bagaimana saya mengurutkan mata angin di tempat yang baru (ya, karena saya suka sedikit buta arah di tempat yang baru). 

Ini masalah klise, sangat klise... Sudah ada sejak berpuluh tahun yang lalu mungkin ya.. Makanya saya baru tersadar betapa pentingnya kita berdo’a untuk senantiasa istiqomah di dalam kekhusyuan cinta-Nya.. yang rasa romantisnya selalu ingin meneteskan air mata kerinduan atas nikmatnya balasan syurga dan kehidupan terbaik kelak. Yang rasa cemburunya sangat membuat gemuruh jiwa tak mampu menahan lagi untuk mengatakan bahwa diri ini masih perlu banyak perbaikan karena masih banyak orang yang lebih dicintai-Nya, tak lain karena mereka lebih dekat, lebih banyak merayu lewat do’a, dan banyak melakukan hal-hal kecil sampai hal besar yang membuat Yang Maha Pemurah itu menunjukkan kemurahann-Nya..

“Saudariku, ketika aku disuruh dengan kata-kata yang engkau tulis terakhir ‘..tolong aku kawan..’ hampir di benak ini hanya terlintas : *m**, turuti kata hati nuranimu...”
Wait... Ya Rabb... T.T jangan-jangan karena saya terlarut saja dalam tulisannya dan apa yang ia ungkapkan. Sedangkan kewajiban saya adalah memberi nasihat jika diminta.
“Saudariku... Aku tidak ingin memberi nasihat, karena aku yakin semua ilmu itu sudah ada di dalam benak pikirmu yang sejak dulu teranalisis, baik hukumnya maupun rasionalisasinya. Apapun itu, pasti kamu tahu. Ya, aku tahu itu, sangat yakin. Namun masalahnya, memang benar adanya, Umi Masbihah di DS pernah berkata, ‘Nak, ilmu agama itu larinya sangaaat cepat... yang saking cepatnya, melebihi kencangnya lari kuda... bayangkan larinya kuda secepat apa?’ ya... itu susahnya saudariku, menerapkan ilmu setelah kita punya. Apalagi yang berkaitan dengan hablum minannas. Yang hubungan antar sesama manusia itu lebih berat daripada hubungan dengan Allah. Karena ketika kita berhubungan dengan manusia masih saja ada rasa-rasa iri, dengki, hasad, sombong, kecewa, cemburu... ah, masih banyak... sedangkan kita belum konsisten menerapkan keikhlasan, ketawadhukan, dan keterikatan hati dengan Allah dalam setiap aktifitas.
Saudariku... mungkin aku hanya ingin sedikit mengambil cuplikan berharga dari orang-orang luar biasa yang betapa beruntungnya seorang ulfa yang ‘kayak gini’ lagi-lagi merasakan Pengasih dan Pemurahnya Allah untuk bertemu dengan kawan-kawan yang senantiasa mengingatkan saat berada dalam kefuturan."
Mungkin redaksinya sedikit berbeda, InsyaAllah tidak mengurangi esensinya :)
Salah satu kawanku bilang saudariku, 
“....subhanallah.... kamu mungkin bisa bilang fah, tanyakan saja pada beliau... apa yang menghalanginya untuk mengambil sebuah keputusan? Barang kali ada rasa takut yang itu yang membuat dia untuk membuat keputusan. Dianalisis kembali rasa takut itu karena apa...” Lagi-lagi terhanyut dengan kebijaksanaannya...
Ulfa sedikit berpikir... ^^
Saudariku.. yah, rasa takut itulah yang mungkin masih menjadi bayanganmu muntuk melangkah. Melangkahkan untuk satu step keputusan yang kamu yakini kebenarannya. Aku tidak khawatir jika rasa takutmu itu karena Allah. Tapi rasanya... untuk memutuskan sebuah keputusan yang karena perintah Allah pula, pastilah hal yang bertentangan. Ulfa yakin atas suatu peringatan dari kakak tingkat yang mengatakan sesuatu yang sama-sama baik kemudian berjalan secara bersamaan, tidak akan merugikan satu sama lain dek :)...Saudariku, sobatku... barangkali kekhawatiranmu itu bukan karena Allah, tapi apa yang kamu nikmati, yang kata sang hati adalah sebuah kebermanjaan yang mumpung, karena itu tidak akan muncul secara instan. Ketika setiap hari disiram oleh kebermanjaan yang menyenangkan namun palsu itu, sang hati baru tersentil untuk berkata ‘mumpung’... Namun nurani sebenarnya tahu, bahwa itu BUKAN kamu, BUKAN kamu yang tahu akan ilmunya.
Lalu apa yang engkau takutkan saudariku?
Apa yang engkau khawatirkan?
Takut ketika Allah kelak tidak menakdirkan yang kualitasnya tidak lebih dari beliau?
Takut akan meneteskan air mata?
Takut akan mengecewakannya?
Takut untuk dianggap oleh diri sendiri tidak menghargai orang lain dan tidak tahu terima kasih atas kebaikan seseorang?
Takut untuk TIDAK BISA?
Oh Allah..... betapa indah rencana-Mu untuk menjadikan kami hamba-Mu yang lebih kuat... T.T
Saudariku... jika memang iya, (namun aku berharap tidak)... kemudian dimana posisi rasa takut terhadap Allah itu kita letakkan? T.T
Suatu ketika, pasti engkau akan merasakan sesaknya ketika menelaah siapa Yang Maha Besar dan patut untuk diutamakan ini.
Kawanku lalu melanjutkan, “Rasa takut itu memang kecil fa sebenarnya. Tapi dia itu garam. Yang hanya dengan sedikitnya itu, bisa menjadikan air yang bening kemudian asin. Merusak apa yang sudah jernih sebelumnya... Iya, meskipun hanya sedikit rasa takut itu...”
Uhm... mencoba menelaah dan menemukan koneksi yang mudah diterima oleh logika.
Kemudian saya mencoba menimpali, “Oh, jadi misalnya gini kali ya ras. (mencoba meyakinkan dan menjelaskan ke diri sendiri) Ibaratnya air itu adalah hati... Dan garam itu adalah rasa takut (mungkin bisa berupa bisikan syetan yang menjerumuskan ke hal-hal yang berbau maksiat), kemudian sang garam yang sedikit tadi sudah terlanjur mencampuri kejernihan air dalam gelas... Salah satu cara mengatasi dampaknya adalah mencoba melakukan suatu hal yang akan membuat air tadi menjadi normal (tawar, jernih) kembali. Saat ia sudah mulai dirasa asin oleh garam yang sedikit tadi, artinya kita bisa menambah volume airnya supaya lebih banyak lagi...”
“iya... dan lama-lama jadi tawar kan?” ia mengangguk
Ah, Laras memang selalu bisa kalau berfilosofi.

            Saudariku, jika air di dalam gelas itu adalah hati kita, maka Allah telah menakdirkan bahwa hati ini selalu dalam keadaan hanif, lurus dan menyukai kebaikan. Jika garam itu adalah bentuk yang tidak disukai Allah, entah maksiat sekecil apapun, barang kali ia adalah salah satu penghambat kita untuk mencintai hal yang dicintai Allah... Wallahu’alam
Terkadang aku takut saudariku, apa-apa yang belum aku lakukan secara maksimal itu disebabkan karena masih ada noda-noda yang entah secara sengaja aku ceburkan ke beceknya lumpur atau sekedar terkena percikan.

Itulah hati... terkadang kita harus peka, karena barang kali sesuatu yang awalnya tidak membuat kita terlena, yang merasa kita masih tetap kuat di awal, jika di biarkan terus, akan menjadi bumerang yang menjadikan sulit untuk membuat keputusan. Hanya menggantungkan diri sendiri, untuk menarik atau mengulur. Semua butuh ketegasan, karena Allah bukan layangan yang mudah di ulur atau ditarik.

Jika rasa takutmu itu karena takdir Allah kelak suatu saat, keadilan Allah itu jauh lebih adil daripada yang kita bayangkan saudariku...
Jika ketakutanmu karena air mata yang akan jatuh, sungguh, jatuhnya air mata jika ditujukan karena Allah akan jauh lebih nikmat...
Jika takut akan mengecewakannya, Allah lebih kecewa...
Jika takut untuk dianggap oleh diri sendiri tidak menghargai orang lain dan tidak tahu terima kasih atas kebaikan seseorang, “Fabiayyi aalaairabbikuma tukadziban?”^^
Ulfa uhibuki fillah.. :’)

Semoga dikuatkan untuk memilih jalan yang Allah suka...^^ Aamiin ya Rabb... T.T
Ulfa bisa, dulu juga karena engkau, saudariku... :))

Quotes

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Total Pengunjung

Followers

My Account Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..