"Memilih sikap terbaik untuk hidup setelah kematian"
_faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah_Intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit
aqdaamakum
"....Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu." (QS Muhammad : 7)
Ibu Kue dan Kita
Seru Ibu Wiji yang tangguh itu. Kawan, dia ‘Ibu Kue’, sapaan akrabnya ketika belum tahu namanya.
Dengan sepeda onthel nya yang sudah tua, usianya yang tak lagi muda tetap saja menggerakkan kekokohan niatnya untuk berjualan kue. Sebenarnya bukan hanya kue yang beliau jual. Namun ada macam-macam makanan, seperti nasi pecel harga Rp2.500,00, bakwan udang, jajanan pasar (macam-macam kue kecil), donat, gorengan, nasi kuning di kotak plastik, nasi goreng, dan masih banyak lagi...
Pagi ini, DS (Darush Sholihat) asrama saya sepi, teman-teman yang notabene mahasiswi yang sekarang sedang mempunyai jatah liburan semester kebanyakan pulang ke rumah masing-masing. Al Fitri ke Lampung, Hanum dan mbak Anis ke Sumatra juga (tapi yang ini beda, bukan pulang kampung tapi acara walimahan kakaknya.hehe), Kiki ke JaBar, Mbak Antina dan Sa’diyah ke Jakarta, Mbak Tia ke Bantul, Sabil ke Depok, Desy ke Sukoharjo, dan sebagian yang lain tidak saya sebutkan serta sebagian yang lain juga sudah pergi pagi-pagi setelah kelas Bahasa Arab berakhir. Kelas berakhir pukul 06.00 WIB dan sebagian ada agenda pukul 06.30 WIB.
Pagi ini, saya beli sarapan di warung Bu Nongki, sebagian menenyebut Bu Nunung, dan spanduk warung bertuliskan “Mbok Nonong”. Entahlah, dari mana asalnya sebutan itu, yang jelas warungnya tetap sama. Nasi, sayur buncis tempe, sayur daun ketela, tahu bacem dan bakwan telah mengisi perut ku dan tiga orang teman se asrama. Alhamdulillah... Nikmat rasanya... syukur, syukur dan syukur..^^
Beberapa menit kemudian aku memang memutuskan untuk mencuci baju. Sejenak sebelum aku beranjak, ada seruan Ibu Wiji yang biasanya memang datang pagi-pagi sekitar pukul 07.30-08.00 WIB, itu perkiraanku. Beliau berjualan kue keliling...
“Kue kue.... Mbak... kue mbak, kue....”
Hampir sama persis setiap hari. Ya Alloh, lagi-lagi, sebenarnya terkadang merasa kasihan sama Ibu Wiji. Misalnya saya kali ini sudah sarapan, jadi tidak mungkin saya akan beli makanan lagi, karena akan sangat memboroskan. Apa boleh buat, lagi-lagi hanya menjawab,
“Mboten Bu.. “(Red : enggak bu) kemudian disusul jawaban Ibu Wiji,
“Mbote mbak? Nggih sampun, rencange mbak?”(Enggak mbak? Ya sudah, temannya mbak?) dan mbak Ika teman sekamar saya yang menjawab bahwa sebagian besar pulang.
Sewaktu saya mencuci di lantai 3, sekilas saya melihat Ibu Wiji mengelilingi kompleks untuk berseru kue dagangannya dengan sepeda onthel itu...
Kawan... Beliau usianya sudah tidak lagi muda, fisik nya sudah tidak lagi sekokoh kita yang bisa dengan cepat mengayuh sepeda, kesederhanaannya membuat ia tampak pribadi yang bersahaja, ketekunannya mampu membuka jalan pikiran saya bahwa memang setiap garis hidup yang Alloh takdirkan sekarang harus kita lalui dengan seoptimal mungkin kemampuan kita.
Bandingkan, beliau mungkin usianya sudah lebih dari 50 tahun, kita? Yah, mungkin antara 17-25 tahun lah katakanlah.. Pernahkah kita seharian mengayuh sepeda untuk menghasilkan uang yang mungkin setiap kali berhenti hanya untuk sekitar Rp100,00 sampai Rp500,00???
Beliau berjualan naik sepeda onthel, kita? Naik motor sekolah, kuliah, atau bahkan ada yang di antar.. Naik angkot mungkin, ya kalau ada yang jalan nggak papalah, kan fisiknya masih kuat, atau bahkan naik mobil? Itu aja untuk hal yang memang jadi kewajiban kita kawan... kita sudah dibayari sekolah, kuliah... beliau untuk sekedar menyambung hidup harus lebih berjuang keras dari kita...
Beliau jarang sekali libur jualan, bahkan hujan deras sekalipun (bayangkan kalau nggak di jual? Hari ini makan apa?)...
Sedangkan kita? Hampir tidak pernah merasa kelaparan, kalaupun lapar sedikit langsung beli makan. Itu pun masih suka ngeluh males beli makan.... luar biasa memang manusia.
Instropeksi untuk diri saya juga. Bahwa setiap kemalasan, kelemahan, keluhan dan keprihatinan kita itu belum ada apa-apanya dengan orang-orang pilihan Alloh disana yang mereka berjuang lebih keras untuk hidup... Sedangkan tugas kita itu cuma satu men ! Melawan malas ! Seperti kata Umi Masbihah... Karena kalau sudah malas, segalanya akan dibawa susah... dan susah itu sumbernya adalah kita sendiri.
“Ketika kita merasa berat, maka ingatlah dan bukalah mata hati pada orang-orang pilihan Alloh yang masih menunjukkan ketegaran hidup untuk mencapai kemuliaan sabar, ikhlas dan tawakal indah yang berbuah syurga. Kalau belum menemukan, cari orang-orang sepeti itu, orang yang lebih keras berjuang daripada kita ! Kita hidup di dunia ini hakikatnya berlomba-lomba untuk mencapai syurga Alloh, maka kita harus mencari orang yang sedang berlari mengejar syurga, biar kita sadar bahwa sebenarnya kita masih jauuuh tertinggal... Kehidupan adalah sarana untuk akhirat dengan keikhlasan niat ibadah dalam setiap amal perbuatan..”
Ibu Wiji, semoga Alloh memudahkan rizkimu... ^^ Aamiin
12.57 | Label : hikmah |
Tulisan Sederhana
“Menuliskan setiap ilmu kesehatan yang aku ketahui dalam bahasa yang ‘bersahabat’ dan sederhana agar bisa dinikmati untuk khalayak umum...”
“Betapa bodohnya diri saya, yang setiap kali ada perkataan dari orang lain yang membangun justru tidak segera membangkitkan saya untuk segera bergerak. Bergerak, bergerak dan berkontribusi untuk produktivitas yang maksimal. Padahal, sepengenalan saya akan diri saya sendiri, masih sangat jauh dan jauuuh dari keterlibatan memperbaiki umat... Semua di mulai dari sendiri fa, belajar, belajar, berbenah menjadi pribadi yang lebih fleksible namun kuat, bersemangat beribadah dan belajar karena Alloh, peduli sekitar, peka terhadap saudara seperjuangan, selalu memperkokoh ruhani, berbuat untuk orang banyak dan menjadi contoh yang baik untuk sekitar...”
17.35 | Label : refleksi diri |
Untuk Adek Laki-laki
Semoga bermanfaat dan ini khususon tertuju untuk adek laki-lakiku yang sangat ku cintai karena Alloh...^^
Surat Seorang Ayah untuk Anaknya
Menjadi Asing
Nak, ayah sengaja bawa kamu ke sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di dpn kamu itu.
Nak, apa kamu pernah menerka kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV yang baru dibeli ibumu? Apa kamu
tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media mainstream yang gak islami.
Pada umumnya mereka itu bikin kamu tahu dalam ketidaktahuan.
Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan.
Kamu dijejali dengan informasi- informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya di Food Court Pondok Indah Mal.
Tapi nak, kamu gak diajarin kamu harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa kriterianya.
Kamu jadi tahu batasan HAM tapi tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau paham, anakku?
Kamu nanti malah jadi bingung, di TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat?
Di TV diajarin makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.
Ayah paling takut kamu mengarah ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits karena gak logis menurut kamu.
Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s World, walaupun dia jadi best seller
internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran itu sudah jadi super best seller sesemesta selama belasan abad.
Kalau agama ini menuruti kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah
dikepung dari segala penjuru.
Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh? Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.
Kamu akan wudhu dengan membasuh duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya. Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.
Itu kenapa kamu harus mendalami Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan. Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari
ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.
Ayah cuma takut, kamu bisa menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal.
Ayah takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya “semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi gak hapal siapa saja mahrom kamu.
Ayah gak mau kamu bisa bedain processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran sel dan membran mitokondria, tapi
kamu gak bisa bedain halal- haram dan suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti hukum islam, nak.
Ayah gak kebayang, pascatiada nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi, “Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?”
Apa kamu berani jawab begini, “Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan, target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?
Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan.
Orang tahlilan kamu ikut tahlilan.
Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan.
Jangan jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya,
eh malah disampaikan. Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi kitab Muslim kamu.
Dalamilah ilmu agama, nak.
Malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu. Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat lebih dari itu, nak.
Setelah ilmumu kuat, aplikasikan, sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak.
Jangan takut cacian orang.
Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu dengan gigi geraham.
Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah tapi gak bisa aplikasikan agamamu.
Nak, dari dulu orang hebat itu selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti
kamu harus menjadi asing, nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu
besar kalau kamu bawa nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.
Anak muda seperti kamu punya tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini. Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak, karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15 tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.
Kamu tentu sering dengar Ali bin Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr, saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang
gemilang. Beliau yang membunuh Marhab, panglima besar Yahudi.
Semua dalam usia belia, anakku.
Imam Bukhori yang menyusun hadits tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih.
Kamu tahu apa yang terjadi pda Imam Bukhori, anakku?
Beliau diusir dari kampung dan menjadi musuh banyak org pda zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.
Slanjutnya giliran kamu yang mnruskan perjuangan. Slamat berjuang nak, luruskan niat,
ayah doakan.

Saya...
Kembali menorehkan mimpi, dalam kapasitas diri yang kecil...
Saya... Bukan lah sosok besar... Namun semua orang berhak untuk memimpikan suatu hal yang besar.
Saya, kembali bersyukur atas anugerah besar sebagai petunjuk jalan dari Alloh untuk transisi ke arah yang lebih besar...
Bermula dari tulisan di dinding kamar,
Mengikuti PKM dan LOLOS DIDANAI.
2012 -- PIMNAS
Alhamdulillah, bersyukur...
Bismillah... Apapun, hanya ingin memaksimalkan ikhtiar... :)
Untuk bisa menjadi seperti mereka... ^^
Metamorfosa Masa depan
Selasa, 29 September 2011
Akhir2 ini dan bahkan sampai tadi aku benar-benar merasakan seperti ini. Astaghfirullohal’adziim…
Bukan suatu kebetulan sms LENTERA HATI itu saya terima sangat tepat sebelum saya melihat pengumuman asli langsung sebuat tes masuk sekolah tinggi. Salah satu sekolah tinggi di Ibukota sana. Awalnya teman lama saya di SMP (yang juga ikut dalam tes itu) sempat mengirimkan sebuah sms pagi ini sekitar pukul 06.57 di HP ku.
Assalamu’alaykum…
Ulfa gimana **** ny?
Ak ga dtrima ukhti.. Mgkin Allah lbh mghendaki ak jadi bidan
Kemarin kami ikut tes bersama. Di Jogja, kota ‘impianku’ :’)
Di kota eksotik yang penuh samudra ilmu, penuh hikmah dan pintu hidayah bagi orang-orang yang bersedia membuka hatinya untuk belajar banyak hal disini.^^
Pagi tadi, sms itu aku baca di kamar (Jabal Tsur 2, Kamar Yunus). Setelah piket halaman di asrama. Entahlah, saya sebenarnya sudah mencanangkan sebuah ‘persiapan iman’ untuk hari yang mungkin akan sangat ‘menggalaukan’ ini. Mungkin… Namun ternyata, saya bangun sekitar pukul 03.18 WIB, karena tidak sholat, saya hanya berwudhu dan kemudian belajar untuk tutorial pagi ini. Sedikit, tak banyak saya membaca, dan entah kenapa sangat tidak menunjukkan pembelajar sejati. Yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam setiap step kesulitannya. Ya Alloh….
Kemudian saya datang kelas pagi di asrama. Materi akidah dari abi, yang sebelumnya ada lagi-lagi ‘suntikan semangat’ dari umi. Lagi-lagi sindiran bagi diri yang bejibun kekurangannya ini, yang minim amalan dan sedekahnya ini. Padahal gunungan dosanya belum ditebus dengan cicilan kebaikan-kebaikan untuk orang lain. Ya Robb, istiqomahkan kami dalam pertolongan-Mu.. -.-
Piket dan kemudian persiapan berangkat kuliah. Yang ada di feeling saya saat itu, kalau saya diterima pasti dia sudah memberikan ucapan selamat pada saya, sepertinya tidak mungkin kalau nggak tahu soalnya file pengumumannya dalam bentuk PDF yang pastinya semua bisa membaca. Apalagi di sms selanjutnya, setelah saya menanyakan apakah ada nama saya di situ dan berapa yang diterima, ia menjawab :
Lumayan fa, , ehm, ada mariyana tp ga ada ulfa ne. Tp ulfa nton dwe yoan, tar neg seumpama ak salah..
Ayo dadi perawat ma bidan ae ukhti…
:)
Semakin menguatkan, menurut saya, itu cara halus dari seorang sahabat seperti dia yang sangat menjaga perasaan orang-orang di dekatnya. Subhanalloh, terima kasih kawan.. :)
Tapi sayang, setelah itu pulsaku habis.
Dalam setiap aktivitas...
Lagi-lagi saya merasakan kejanggalan. Bukan kali pertama, bukan kali kedua, namun sering dan hampir setiap kali saya rasakan di suasana kota dan universitas impianku ini. Apa lagi sih yang kamu cari fa? Kepastian akan takdir? Masih ragu akan takdir istimewa yang Alloh anugerahkan?
Coba kamu ingat lagi, dulu, setahun silam.. kamu menginjakkan kaki di Universitas terbaik yang ada di benakmu ini, yah… Penuh rasa syukur yang mendalam ketika itu, ketika menerima sms dari teman yang menyatakan aku diterima di universitas ini. Sedangkan sebelumnya kamu sudah punya pegangan 2 yang karena kehendak Alloh memudahkan saat itu. Oke… Bagus, kamu bersyukur akan hal itu. Dan sudah sepantasnya banyak mengucapkan dan beramal kebaikan setelah datangnya nikmat itu. Namun perlahan ternyata ada yang ingin Alloh tunjukkan padamu fa, yaitu tentang syukur, keikhlasan, kesabaran dan pengorbanan… :)
Jadi orang itu jangan hanya terfokus pada apa yang terbaik yang ingin kamu tunjukkan ke orang tua. Namun kamu juga harus berpikir realistis, jangan bawa-bawa idealisme kakumu itu. Yes, kamu memang memimpikan di Universitas ini. Tapi nggak ada salahnya pula kamu mencoba apa yang diinginkan orang tuamu. Sebagi pembuktian bahwa kamu bisa menunjukkan apa yang mereka inginkan. Dalam hal ini sebenarnya kamu salah persepsi mengartikannya. “Menjadi apa yang mereka inginkan itu bukan hanya dengan menjadi apa yang mereka mau. Tapi dibalik itu semua, menjadi yang terbaik di mata Alloh untuk kedua orang tua itu jaaauuuh lebih berarti buat mereka.” Mungkin secara kasat mata keadaan dan status dunia terasa lebih nikmat untuk dipandang jasmaniyah. Padahal sebenarnya kamu itu harus menyadari bahwa ketenangan dan kebahagiaan hakiki itu justru akan mereka rasakan ketika kamu di sini menjadi yang terbaik untuk mereka karena Alloh. Percaya nggak? Alloh sendiri yang akan menyampaikan ke hati kedua orang tuamu bahwa disini, di kota perantauan study pilihanmu, di kota yang penuh barokah untuk orang-orang yang diliputi hikmah ini, kamu sedang berjuang untuk mereka. Kamu sedang memperjuangkan syurga mereka lewat titipan yang Alloh titipkan pada mereka, kamu… Kamu anak pertama yang selama 11 tahun dinanti yang di dalam do’a mereka dengan penuh harap akan menjadi sosok yang besar pembangun peradaban dunia dan penanam pahala untuk mereka selamat di akhirat. Berbuatlah terbaik di sini fa… Beramallah semaksimal di di sini, berkontribusilah untuk mereka di sini… Karena secara tidak langsung kamu telah menunjukkan bukti kecintaan aslimu karena Alloh untuk mereka..”
Oke, cukup untuk saya bergalau ria di saat kuliah. Dan asal Anda tahu, terkadang ada beberapa titik fokus di pikiran saya yang saya rasakan ketika kuliah. Sangat tidak efektif. Memang, dan itu adalah fokus utama saya untuk diubah.
Terakhir, inti dari kenangan indah yang bisa saya petik hikmahnya hari ini :
Tidak tercantumnya nama saya di dalam file PDF yang kedua kalinya ini, di pengumuman itu. Yang setiap kali setelah sholat fardhu saya ingat untuk berdo’a akannya itu, InsyaAlloh tidak akan memupuskan semangat saya untuk berkontribusi bagi orang lain dengan semaksimal mungkin. Justru ini adalah suatu awal langkah semangat baru yang memotivasi saya dalam menemukan diri saya yang terbaik yang sebenarnya. Semaksimal saya, InsyaAlloh..
Saya juga semakin tenang karena kegundahan ini sudah terpecahkan oleh takdir terbaik Alloh yang Alloh tunjukkan lewat berbagai rangkaian peristiwa dalam periode setahun silam. Yang jelas tidak ada suatu kata terlambat untuk memulai sebuah tekad baru dalam konsistensi dan keutuhan semangat dalam perjuangan. ALLOH AKAN MEMUDAHKAN SETIAP LANGKAH KEBAIKAN, Isya Alloh… Tak ada kata terlambat untuk meluruskan niat. Masih banyak target yang tertempel di dinding kamar yang harus di perjuangkan. Waktu satu tahun saya rasa harus kudu wajib dicukupkan sebagai preadaptasi bagi orang yang unadaptable shortly seperti saya. InsyaAlloh bisa atas kehendak Alloh. Innalloha ma’ana…^^
Terakhir, injeksi semangat aku terima lagi dari bapak, dari balasan smsnya setelah aku mengabarkan bahwa belum diterima tes…
“Ya wis rasah gela memang Allah memilihkan di UGM”
-Ya sudah nggak usah kecewa memang Alloh memilihkan di UGM-
Oke, clear… Alhamdulillah, ini sudah selesai masa penguatan tekad untuk fokus masa depan yang terarah. Lewat rangkaian peristiwa ini saya yakin, InsyaAlloh bapak sudah mantap dan ridho dengan lebih mantap bahwa jalan terbaik saya di Program Studi Ilmu Keperawatan-Fakultas Kedokteran FK UGM.
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Tunggu postingan saya kelak suatu saat, entah hikmah dan kejuatan indah apalagi yang Alloh rencanakan bagi saya setelah hal indah yang saya terima kali ini. InsyaAlloh… :)
Karena sesuatu itu pasti ada hikmahnya dan pasti atas kehendak Alloh..^^
InsyaAlloh, suatu saat aku akan kesana, mungkin bukan sebagai mahasiswa, tp tamu yang istimewa.. InsyaAlloh.. Amiin.. :')

15.35 | Label : dreams |
- Akselerasi Punya Cerita
- amanah
- Anugerah
- Berbagi
- Biah Sholihah
- cerita cinta
- cinta
- Curhat
- dakwah
- dreams
- DS
- Dunia Akselku
- GC
- hikmah
- inspiring
- keluarga
- Mata Cahaya
- MSC
- muhasabah
- muslimah
- Ners Muda
- Proud of Islam
- PSIK
- QA
- quotes
- refleksi diri
- Romance
- Sepenggal Kisah
- Share
- spontan pikir
- Syair
- syukur
- Terima Kasih
- ukhuwah
Catatanku Hari Ini
-
▼
2018
(1)
- ▼ April 2018 (1)
-
►
2016
(10)
- ► Oktober 2016 (2)
- ► Februari 2016 (4)
- ► Januari 2016 (3)
-
►
2015
(11)
- ► Desember 2015 (7)
- ► November 2015 (1)
- ► September 2015 (2)
- ► Januari 2015 (1)
-
►
2014
(38)
- ► Desember 2014 (1)
- ► November 2014 (3)
- ► Oktober 2014 (2)
- ► September 2014 (3)
- ► Agustus 2014 (2)
- ► April 2014 (1)
- ► Maret 2014 (2)
- ► Februari 2014 (12)
- ► Januari 2014 (6)
-
►
2013
(56)
- ► Desember 2013 (3)
- ► November 2013 (2)
- ► Oktober 2013 (4)
- ► September 2013 (2)
- ► April 2013 (9)
- ► Maret 2013 (10)
- ► Februari 2013 (11)
-
►
2012
(28)
- ► Desember 2012 (2)
- ► November 2012 (3)
- ► September 2012 (3)
- ► Agustus 2012 (5)
- ► April 2012 (3)
- ► Maret 2012 (1)
- ► Februari 2012 (4)
- ► Januari 2012 (6)
-
►
2011
(4)
- ► September 2011 (1)
- ► Maret 2011 (2)
-
►
2010
(2)
- ► September 2010 (1)
- ► Februari 2010 (1)
-
►
2009
(10)
- ► Desember 2009 (1)
- ► Oktober 2009 (4)
- ► September 2009 (5)
Quotes
“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya”
( Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)
Total Pengunjung
Followers
My Account Facebook
Mengenai Saya
- Mariana Ulfa
- Pembelajar Sepanjang Hayat yang telah tunai menyelami program studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada. Tertakdirkan semenjak tahun 2010 hingga lulus program profesi Ners 2016. Pasca dibelajarkan dalam mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang khalifah di madrasah kepemanduan dan organisasi kampus, kini sedang belajar untuk mempertanggungjawabkan hidup dan kehidupan sebagai seorang professional clinical ners di sebuah Rumah Sakit yang berpayung di sebuah Perguruan Tinggi Pemerintahan. Bermimpi menjadi insan pecinta ilmu dari buaian sampai liang lahat, hingga tunduk dan meneduh di keridho'an Al Fatah Ar Rahman Ar Rahim..

